Mahasiswa Kelompok KKN dan PLP FKIP UNUSIDA di Sanggar Belajar Pantai Dalam Malaysia (Foto: Humas UNUSIDA)

Tumbuhkan Semangat Kartini: Mahasiswa UNUSIDA Padukan Karakter, Nasionalisme, dan Budaya di Sanggar Belajar Malaysia

KUALA LUMPUR — Semangat Hari Kartini menyeberangi batas negara dan menemukan wujud nyatanya di tengah aktivitas Sanggar Belajar Pantai Dalam Malaysia. Di ruang belajar sederhana itu, mahasiswa peserta program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) Internasional dari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menginisiasi rangkaian kegiatan yang memadukan pendidikan karakter, nasionalisme, dan pelestarian budaya bagi anak-anak Indonesia di perantauan.

Kelompok KKN dan PLP Internasional Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNUSIDA tersebut terdiri dari M. Ainur Rofik, Muhammad Firman Firdaus, M. Adani Maulidan, dan Ahmad Isroki Kholilurrohman bersama dosen pembimbing lapangan, Wahyu Maulida Lestari, M.Pd.

Bagi M. Ainur Rofik, peringatan Kartini di luar negeri bukan sekadar seremonial. Ia memaknai Habis Gelap Terbitlah Terang sebagai simbol perjuangan melawan keterbatasan. Bukan hanya akses sekolah, tetapi keberanian untuk bermimpi dan berdaya meski jauh dari tanah air.

“Cahaya terang itu sudah ada, sudah menyinari ruang kelas di sanggar belajar ini. Namun, tugas kita bukan sekadar menikmati terangnya, melainkan menjadi penyambung cahaya tersebut,” ungkapnya di sela kegiatan, Jumat (24/4/2026).

Rangkaian program yang disusun meliputi upacara bendera untuk menumbuhkan jiwa nasionalis, seminar anti-bullying demi menciptakan lingkungan belajar yang aman, serta workshop membatik eco-print untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia. Melalui seminar, ia ingin menghapus kegelapan berupa krisis empati dan tekanan sosial di kalangan siswa; melalui batik, ia mengajak mereka bangga pada identitas bangsanya.

Tantangan di lapangan terutama keragaman kemampuan belajar siswa menjadi pengingat bahwa terang adalah proses berkelanjutan. Baginya, menjadi guru bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi hadir sebagai teman, pendengar, dan pembimbing.

“Tidak ada yang langsung mahir menjadi guru. Murid akan tumbuh, begitu juga dengan dirimu,” tambahnya.

Baca juga:  Pemilu Raya ORMAWA UNUSIDA, Wujudkan Demokrasi Kampus yang Partisipatif dan Berintegritas

Menurutnya, pengalaman KKN dan PLP Internasional ini, sangat relevan dengan teori yang dipelajari di bangku kuliah seperti Manajemen Pendidikan dan Bimbingan Konseling, yang kini dipraktikkan sebagai bentuk nyata pengabdian.

Ia berharap langkah kecil yang dilakukan dapat memicu para siswa menjadi kartini-kartini kecil yang berani bermimpi dan berusaha meraih cita-cita. Sekecil apa pun jejak kebaikan, diyakininya, adalah bagian dari upaya memastikan cahaya pendidikan Indonesia terus berpendar hingga ke sudut-sudut terjauh.

“Menjadi perempuan adalah fitrah, tetapi menjadi tangguh dan mandiri adalah pilihan. Mari terus menyalakan cahaya bagi masa depan generasi penerus bangsa,” pungkasnya.