INFORMASI WISUDA IX UNUSIDA 2025

Dengan hormat, bersama ini kami sampaikan informasi pelaksanaan Wisuda IX Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Tahun 2025 sebagai berikut:

💰 Biaya Pendaftaran
Rp 2.000.000,-

🎓 Fasilitas yang Didapatkan
* Baju toga wisuda dan atribut kelengkapan toga
* Snack untuk wisudawan
* Snack dan makan untuk orang tua wisudawan
* Foto prosesi pelantikan wisuda

📅 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari/Tanggal: Sabtu, 06 September 2025
Pukul: 07.00 WIB – Selesai
Tempat: Dyandra Convention Center
Jl. Basuki Rahmat No.93-105, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya, Jawa Timur 60271

📅 Gladi Bersih dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal: Jum’at, 05 September 2025
Pukul: 13.00 WIB – Selesai
Tempat: Dyandra Convention Center
Jl. Basuki Rahmat No.93-105, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya, Jawa Timur 60271

Catatan: Pembagian Undangan Wali Akan Dibagikan Saat Gladi Bersih

Nb: Peserta WAJIB hadir 06.30 WIB (30 Menit Sebelum Acara Dimulai)

Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan. Mohon kepada seluruh calon wisudawan untuk memperhatikan informasi tersebut. Atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan terima kasih.

KKN Kelompok 14 UNUSIDA Gelar Seminar Digitalisasi UMKM, Dorong Warga Desa Kepatihan Melek Media Sosial Marketing (Foto: Daniel Achmad Farizki)

KKN Kelompok 14 UNUSIDA Gelar Seminar Digitalisasi UMKM, Dorong Warga Desa Kepatihan Melek Media Sosial Marketing

SIDOARJO — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, branding digital kini menjadi salah satu kunci utama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk dapat bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Kelompok 14 sukses menyelenggarakan seminar bertajuk ‘Strategi Media Sosial Marketing untuk UMKM Naik Kelas’. Kegiatan ini merupakan program kerja utama KKN di Desa Kepatihan RT 2 RW 4, Kecamatan Tulangan, pada Ahad (10/08/2025) lalu.

Materi utama seminar disampaikan oleh Laily Muzdalifah, S.Pd., MM, Kepala Divisi Ekonomi dan Bisnis UPT Pusat Studi UNUSIDA. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya memahami target pasar, memilih platform yang sesuai, serta menjaga konsistensi dalam pembuatan konten berkualitas.

Ia memberikan materi mengenai dasar-dasar pemasaran digital, pembuatan konten menarik, hingga tips menjaga konsistensi branding. Peserta juga diajak praktik langsung membuat akun bisnis dan mencoba memasarkan produk mereka melalui media sosial.

“Media sosial kini telah menjadi sarana pemasaran yang sangat efektif karena dapat diakses oleh semua kalangan. Platform seperti WhatsApp, Instagram, hingga TikTok membuka peluang besar bagi UMKM untuk mengenalkan produk mereka secara luas. Namun, kunci keberhasilan terletak pada strategi, interaksi aktif dengan konsumen, dan konsistensi branding,” jelasnya.

Acara yang dihadiri sekitar 20 peserta, terdiri dari pelaku UMKM dan warga yang tertarik mengembangkan usahanya masing-masing. Seminar tampak berlangsung interaktif, ditandai dengan banyaknya pertanyaan dan diskusi dari peserta terkait tantangan pemasaran digital yang mereka hadapi. Antusiasme ini menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital dalam mendukung usaha mereka.

Sementara itu, Ketua KKN 14, Daniel Achmad Farizki mengatakan, seminar ini berangkat dari kebutuhan UMKM Desa Kepatihan yang masih terbatas dalam memanfaatkan teknologi digital. Oleh karena itu, kegiatan ini sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan usaha mikro di era digital.

Program seminar ini lahir dari hasil survei yang dilakukan oleh tim KKN 14, yang menemukan bahwa sebagian besar pelaku UMKM di Desa Kepatihan masih belum menyadari potensi besar dari branding digital, serta minim keterampilan dalam memanfaatkan media sosial secara optimal. Oleh karena itu, kegiatan ini digagas untuk memberikan edukasi praktis sekaligus strategi efektif dalam menggunakan media sosial sebagai alat pemasaran.

“Tema ini kami angkat karena kami menyadari bahwa di era digital saat ini, media sosial bukan hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga menjadi alat pemasaran yang sangat efektif dan terjangkau bagi pelaku UMKM,” ungkapnya, Kamis (4/9/2025).

Melalui seminar ini, ia berharap para pelaku UMKM di Desa Kepatihan dapat memperoleh wawasan praktis tentang bagaimana mengoptimalkan media sosial, mulai dari membuat konten menarik, memahami perilaku konsumen digital, hingga memanfaatkan fitur pemasaran di berbagai platform.

“Banyak UMKM di sini yang produknya bagus, tetapi jangkauannya masih terbatas. Dengan pelatihan ini, kami berharap mereka bisa memanfaatkan media sosial seperti Instagram, Facebook, hingga marketplace untuk memperluas pasar,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Daniel menyebutkan, seminar ini menjadi salah satu program unggulan KKN 14 UNUSIDA di Desa Kepatihan, selain kegiatan sosial, edukasi, dan penguatan karakter masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya berkontribusi bagi masyarakat, tetapi juga belajar langsung mengenai dinamika UMKM lokal dan pentingnya literasi digital di era modern.

“Setelah ini UMKM Desa Kepatihan semakin siap menghadapi era digital, mampu mengelola branding usahanya secara profesional, serta meningkatkan daya saing produk melalui strategi pemasaran berbasis media sosial,” pungkasnya. (MY)

Penandatanganan MoU UNWAHA dengan UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

UNWAHA dan UNUSIDA Teken MoU: Perkuat Kolaborasi Digitalisasi, Publikasi, dan Prestasi Internasional

SIDOARJO — Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang dan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada Rabu (3/9/2025). Penandatanganan ini menjadi rangkaian kegiatan benchmarking yang dilaksanakan di Kampus 2 UNUSIDA ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat sinergi antarperguruan tinggi Nahdlatul Ulama, khususnya dalam bidang digitalisasi sistem akademik, riset dan publikasi ilmiah, serta peningkatan prestasi mahasiswa di tingkat nasional maupun internasional.

Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkhul Anam, M.Si., menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam menghadapi era digital dan persaingan global. Pihaknya bertekad mencetak generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat internasional

“Di UNUSIDA, sistem informasi telah kita lakukan digitalisasi di 26 layanan penting. Hal ini tidak hanya menghemat SDM, tetapi juga membangun budaya tertib. Selain itu, dengan sistem SIPOMA 500, mahasiswa terdorong untuk terus berprestasi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti capaian UNUSIDA dalam bidang riset dan publikasi. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, ia mendorong dosen agar aktif dalam penelitian dan pengabdian. Hasilnya, saat ini UNUSIDA masuk 245 besar seluruh PTN/PTS se-Indonesia untuk SINTA indeks. Tak hanya itu, UNUSIDA saat ini memiliki 15 doktor aktif, serta 24 dosen yang sedang menempuh studi lanjut.

“Target kami jelas: percepatan publikasi nasional dan internasional, pencapaian HKI, dan fokus pada prestasi mahasiswa internasional. MoU ini adalah langkah nyata untuk mempercepat pencapaian target tersebut,” tambahnya.

Output yang diharapkan dari MoU ini antara lain lahirnya program kolaboratif seperti penelitian bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga penguatan sistem digitalisasi untuk mendukung tata kelola modern.

Direktur Pascasarjana UNWAHA, Dr. H. Saihul Atho Alaul Huda, M.Pd.I., menyampaikan optimisme dalam menjadi kerja sama dengan UNUSIDA selanjutnya. Ia yakin sinergi ini akan memberi manfaat besar, tidak hanya bagi kedua kampus, tetapi juga untuk masyarakat luas.

“Kami melihat MoU ini sebagai jembatan untuk memperluas cakrawala akademik dan memperkuat kapasitas kelembagaan. UNWAHA siap berkolaborasi dengan UNUSIDA, khususnya dalam penelitian, publikasi, dan inovasi teknologi pendidikan,” ungkapnya.

MoU ini menjadi awal dari program kerja sama yang lebih konkret dan berkelanjutan. Kedua universitas sepakat menjadikan kolaborasi ini sebagai model sinergi antarperguruan tinggi berbasis nilai-nilai Nahdlatul Ulama. Dengan semangat kebersamaan, UNWAHA dan UNUSIDA optimis dapat mencetak lulusan berdaya saing global, menghasilkan riset berkualitas, serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat.

UNWAHA Benchmarking di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

UNWAHA Benchmarking ke UNUSIDA: Sinergi Tingkatkan Digitalisasi, Riset, dan Prestasi Mahasiswa

SIDOARJO — Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang melaksanakan kegiatan benchmarking ke Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) pada Rabu (3/9/2025) pagi. UNWAHA tertarik untuk mempelajari praktik terbaik dalam tata kelola perguruan tinggi, penguatan digitalisasi sistem akademik, serta strategi peningkatan riset dan prestasi mahasiswa.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkhul Anam, M.Si., menyambut rombongan UNWAHA dengan penuh antusias. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa benchmarking merupakan langkah penting untuk saling belajar dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi modern.

“Di UNUSIDA, kami telah melakukan digitalisasi sistem informasi di 26 titik layanan. Dengan digitalisasi ini, kami mampu menghemat sumber daya manusia sekaligus membangun budaya tertib dalam pelayanan. Tidak hanya itu, kami juga memiliki sistem SIPOMA 500 yang mendorong mahasiswa berlomba meraih prestasi akademik maupun non-akademik. Budaya kompetitif ini kami harapkan mampu mengantarkan mahasiswa unggul tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional,” jelasnya.

Selain digitalisasi, ia juga menegaskan komitmen kampus dalam memperkuat riset dan publikasi ilmiah. Pihaknya selalu mendorong dosen maupun mahasiswa untuk aktif melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, dengan memanfaatkan program hibah dari pemerintah.

“Kami terus mendorong dosen untuk aktif melakukan penelitian dan pengabdian. Saat ini UNUSIDA berada di peringkat 245 besar dari seluruh PTN/PTS di Indonesia untuk indeks SINTA. Kami memiliki 15 doktor aktif berkarya serta 24 dosen yang sedang studi lanjut. Target kami adalah percepatan publikasi nasional maupun internasional, pencapaian HKI, serta lahirnya mahasiswa berprestasi di level global,” tambahnya.

Direktur Pascasarjana UNWAHA, Dr. H. Saihul Atho Alaul Huda, M.Pd.I., menyampaikan apresiasi tinggi atas keterbukaan UNUSIDA dalam berbagi pengalaman. Menurutnya, perkembangan UNUSIDA selama ini sangat menarik perhatian oleh perguruan tinggi lainnya. Sebab, sebagai kampus yang tergolong baru berdiri mampu mengalami akselerasi yang cukup signifikan dalam waktu singkat.

“Benchmarking ini memberi inspirasi bagi kami di UNWAHA untuk memperkuat digitalisasi, meningkatkan kualitas penelitian, dan menciptakan atmosfer akademik yang kompetitif. Banyak hal yang bisa kami adopsi, terutama dalam pengelolaan prestasi mahasiswa dan dorongan publikasi ilmiah. Harapannya, kegiatan ini berlanjut pada kerja sama nyata yang saling menguntungkan,” ungkapnya.

Kegiatan tampak dihadiri jajaran pimpinan, dosen, dan perwakilan unit kerja strategis dari kedua belah pihak yang diwarnai diskusi interaktif. UNWAHA dan UNUSIDA berkomitmen menjalin sinergi lebih erat demi kemajuan perguruan tinggi berbasis Nahdlatul Ulama, sekaligus memperkuat kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Mahasiswa KKN 15 UNUSIDA Berhasil Bangun Gapura Selamat Datang di Perumahan Puri Sampurno, Kalitengah, Tanggulangin (Foto: Devandra)

KKN 15 UNUSIDA Bangun Gapura Selamat Datang di Perumahan Puri Sampurno Desa Kalitengah Tanggulangin

SIDOARJO – Dengan semangat kebersamaan dan pengabdian masyarakat, Kelompok 15 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses merealisasikan pembangunan Gapura Selamat Datang di Perumahan Puri Sampurno, RT 03 RW 11, Desa Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin. Gapura yang berdiri kokoh di pintu masuk perumahan tersebut diresmikan bersama pengurus RT, serta warga setempat, Ahad (31/8/2025) lalu.

Ketua RT 03, Pak Anas, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya atas inisiatif tersebut. Ia sangat mengapresiasi program ini menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam memperindah lingkungan sekaligus memperkuat identitas kawasan.

Ia yakin, hadirnya gapura ini dapat memberikan kesan positif bagi setiap tamu maupun penduduk yang memasuki kawasan Puri Sampurno.

“Gapura ini membuat lingkungan kami terlihat lebih rapi dan hidup. Terima kasih untuk adik-adik mahasiswa UNUSIDA yang sudah berinisiatif dan bekerja keras bersama kami,” katanya.

Gapura yang dibangun tidak hanya berfungsi sebagai penanda masuk kawasan perumahan, tetapi juga menjadi simbol kekompakan, gotong royong, serta wujud nyata kontribusi mahasiswa UNUSIDA terhadap masyarakat. Dengan desain sederhana namun tetap estetik, gapura tersebut diharapkan mampu memberikan kesan positif bagi warga maupun tamu yang memasuki lingkungan RT 03 RW 11.

Selain mahasiswa, warga RT 03 RW 11 juga turut terlibat dalam proses pembangunan. Mereka ikut membantu mulai dari persiapan material, pengecatan, hingga pemasangan. Sinergi antara mahasiswa dan masyarakat menjadi bukti nyata semangat gotong royong yang masih terjaga kuat, khususnya di Perumahan Puri Sampurno.

Ketua Kelompok 15 KKN UNUSIDA, Bintang menyampaikan bahwa pembangunan gapura ini merupakan hasil diskusi bersama perangkat desa dan warga sekitar. Ia menyebutkan pembangunan gapura menjadi salah satu program kerja unggulan KKN Reguler UNUSIDA di bidang sosial budaya.

“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang bermanfaat jangka panjang bagi masyarakat. Gapura ini menjadi bentuk kenang-kenangan dari kami sekaligus memperindah lingkungan,” ujarnya.

Melalui program kerja ini, Kelompok 15 KKN UNUSIDA berharap masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari kehadiran mahasiswa sekaligus mempererat hubungan antara dunia kampus dan masyarakat desa.

Selain pembangunan gapura, kelompok 15 KKN UNUSIDA juga melaksanakan berbagai program lain yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat, pendidikan, serta kebersihan lingkungan. Dengan semangat kolaborasi dan gotong royong, mahasiswa berharap program ini bisa menjadi kenangan manis sekaligus memberikan dampak positif jangka panjang bagi warga Puri Sampurno.

“Gapura Selamat Datang Puri Sampurno kini berdiri sebagai hasil kolaborasi yang penuh makna, meninggalkan jejak positif bagi lingkungan dan menjadi kenangan indah dari kegiatan KKN Reguler 2025,” pungkasnya.

Penulis: Devandra (MY)

Yudisium Ke-1 FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium Perdana Fakultas Agama Islam UNUSIDA: Cetak Lulusan yang Siap Mengabdi dan Menginspirasi

SIDOARJO – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) untuk pertama kalinya menggelar Yudisium Ke-1 pada bulan Agustus lalu. Momen bersejarah ini melibatkan dua program studi, yakni Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dengan 39 mahasiswa dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) dengan 23 mahasiswa.

Acara yudisium ini menjadi tonggak baru bagi FAI UNUSIDA dalam melahirkan sarjana pendidikan Islam yang siap berkontribusi di masyarakat dengan bekal ilmu, akhlak, serta nilai spiritual.

Sementara itu, Rektor UNUSIDA, H. Fatkul Anam, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan yudisium perdana ini. Menurutnya, momen ini menjadi catatan sejarah penting bagi Fakultas Agama Islam UNUSIDA.

“Ini adalah tonggak sejarah bagi FAI UNUSIDA. Lulusan pertama ini menjadi bukti perjuangan mahasiswa yang telah menuntaskan studinya dan dedikasi dosen yang dengan sabar membimbing. Saya sangat mengapresiasi, terlebih bagi mereka yang sambil bekerja tetap berkomitmen menyelesaikan pendidikan S1,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa lulusan FAI harus menjadi cerminan kualitas dan integritas, sekaligus tidak pernah berhenti untuk belajar sepanjang hayat.

“Sebagai lulusan pertama, kalian akan menjadi duta FAI di tengah masyarakat. Jangan puas dengan pencapaian saat ini, karena masih ada tahapan berikutnya. Lulusan FAI bukan hanya dituntut cerdas, tetapi juga harus matang secara spiritual, sehingga mampu menginspirasi dan memberi manfaat bagi sesama,” pesannya.

Dekan FAI UNUSIDA, Fery Kuswanto, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjadi pribadi adaptif dan rendah hati ketika kembali ke tengah masyarakat.

“Setelah kembali ke rumah masing-masing, kalian harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ilmu yang didapatkan harus membawa manfaat, bukan justru menjadikan tinggi hati karena telah meraih gelar S1. Jadilah bagian dari masyarakat yang terbaik, sebagaimana pesan Rasulullah: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi lingkungannya,” tuturnya.

Fery juga berharap para lulusan terus mengembangkan ilmu yang telah diperoleh, tidak berhenti pada jenjang sarjana, dan bahkan melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi.

Dengan diselenggarakannya Yudisium Ke-1 ini, Fakultas Agama Islam UNUSIDA resmi menorehkan sejarah baru. Ia berharap para lulusan dapat membawa nama baik almamater sekaligus berperan aktif dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya guna bagi bangsa dan agama.

“Syukur-syukur jika ada yang melanjutkan ke S2. Semoga gelar ini menjadi langkah awal untuk membawa citra kampus tercinta dan menjadikan kalian insan-insan mulia di masyarakat,” pungkasnya. (MY)

KKN Desa Binaan FE UNUSIDA Hidupkan Kembali Tradisi Jimpitan (Foto: Ainur Rokhmah)

Mahasiswa KKN Binaan Fakultas Ekonomi UNUSIDA Hidupkan Kembali Tradisi Jimpitan di Desa Gempol Klutuk

SIDOARJO – Tradisi jimpitan, sebuah budaya gotong royong yang sempat terlupakan, kini kembali menghidupkan semangat kebersamaan di Desa Gempol Klutuk, Kecamatan Tarik, Sidoarjo. Inisiatif ini digagas oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Binaan Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) 2025 dengan mengadaptasi jimpitan sebagai program penggalangan dana masjid yang modern dan transparan.

Dalam kurun waktu dua minggu, mahasiswa KKN berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 6,8 juta melalui jimpitan rutin tiap pekan. Masing-masing warga menyumbang ‘sejimpit’, kontribusi kecil yang jika dikumpulkan bersama mampu menghadirkan dampak besar.

Ketua Kelompok KKN Desa Binaan Fakultas Ekonomi 2025, Ainur Rokhmah menuturkan bahwa program ini lahir dari keresahan melihat tradisi kebaikan yang mulai ditinggalkan. “Kami ingin menghadirkan kembali budaya lokal yang sarat nilai kebersamaan, sekaligus membantu kebutuhan nyata masyarakat, yaitu pembangunan masjid,” ujarnya, Selasa (2/9/2025).

Ainur menjelaskan bahwa ia dan tim juga memperkenalkan sistem pencatatan keuangan yang jelas serta laporan berkala kepada warga. Hal ini bertujuan untuk memastikan kepercayaan masyarakat terhadap hasil jimpitan yang terkumpul.

Masjid Al-Hikmah, satu-satunya masjid di desa dengan luas tanah 404 m² dan bangunan utama sekitar 300 m², selama ini menghadapi keterbatasan ruang. Pada hari Jumat maupun perayaan hari besar Islam, banyak jamaah terpaksa melaksanakan ibadah di halaman hingga pinggir jalan. Kondisi ini diperparah dengan masalah banjir yang menyebabkan kesulitan air bersih serta ketiadaan lahan parkir memadai.

“Sejimpit dari warga, jika dijumlahkan akan menjadi kontribusi besar. Ini bukan hanya soal dana, tapi juga semangat kebersamaan yang ingin kami hidupkan kembali di Desa Gempol Klutuk,” tuturnya.

Program jimpitan yang digagas mahasiswa UNUSIDA ini membuktikan bahwa tradisi lama dapat diadaptasi menjadi solusi modern yang berdampak nyata. Lebih dari sekadar mengumpulkan dana, gerakan ini mempererat persaudaraan, menumbuhkan rasa memiliki, dan memberdayakan warga desa secara kolektif.

Hasil dari jimpitan yang terkumpul dalam beberapa pekan pertama menunjukkan respon positif masyarakat. Dana yang terkumpul terus bertambah, menandakan antusiasme warga untuk ikut berpartisipasi.

Dosen pembimbing lapangan Fakultas Ekonomi UNUSIDA, Chairil Anwar, S.P., M.Ak menekankan bahwa program ini menjadi bukti nyata bahwa gerakan kecil dapat memberi dampak besar. Selain bernilai sosial-ekonomi, kegiatan ini juga mengajarkan mahasiswa tentang pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan lokal.

Dengan adanya program ini, mahasiswa KKN berharap jimpitan tidak hanya berhenti pada pembangunan Masjid Al-Hikmah, tetapi dapat berlanjut sebagai budaya kolektif warga dalam menyelesaikan berbagai kebutuhan desa ke depan.

“Dengan semangat gotong royong, kami bersama warga Gempol Klutuk optimistis pembangunan Masjid Al-Hikmah dapat segera terwujud, sekaligus menjadikan jimpitan sebagai warisan budaya yang relevan dengan kebutuhan zaman,” pungkasnya.

Kepala UPT PIK UNUSIDA, H. Arisy Karomy Ulas Skala Prioritas dalam Beragama (Foto: Humas UNUSIDA)

Gus Arisy Ulas Skala Prioritas dalam Beragama, Jaga Sholat Saat Karnaval

Bulan Agustus selalu identik dengan perayaan kemerdekaan bangsa. Tahun 2025 ini, Indonesia genap berusia 80 tahun. Euforia peringatan diwujudkan dengan berbagai acara rakyat, salah satunya karnaval. Konvoi kreatif penuh warna ini berjalan berjam-jam menyusuri rute panjang dengan aneka tampilan kostum, hiasan, dan atraksi budaya.

Namun, di balik kemeriahan karnaval, ada satu hal penting yang kerap terabaikan: shalat wajib. Tidak jarang, durasi karnaval memakan waktu lebih dari dua waktu shalat fardlu, biasanya Dhuhur dan Ashar. Pertanyaannya, bagaimana peserta karnaval bisa menjaga shalat tetap tepat waktu?

Jama’ Shalat: Solusi atau Sekadar Alasan?

Sebagian peserta yang sadar akan kewajiban shalat mencoba mencari solusi dengan jama’ shalat, baik jama’ taqdim (menggabungkan Dhuhur dan Ashar di waktu Dhuhur) maupun jama’ ta’khir (menggabungkan keduanya di waktu Ashar).

Namun, perlu diingat: shalat adalah rukun Islam kedua, ibadah paling utama setelah syahadat. Nabi Muhammad SAW menegaskan, amalan pertama yang dihisab di akhirat adalah shalat. Syarat utama sahnya shalat adalah dikerjakan tepat waktu. Menjama’ shalat berarti melanggar syarat waktu, kecuali ada udzur syar’i yang membolehkannya.

Dalam fikih, rukhsah jama’ shalat diperbolehkan karena beberapa sebab: safar, sakit, hujan lebat, keadaan darurat, atau hajat mendesak yang tak bisa dihindari. Pertanyaannya, apakah karnaval termasuk udzur syar’i?

Keterangan Ulama dan Fatwa Ormas

NU Online pernah memuat kajian fikih bahwa jama’ shalat boleh dilakukan pada kondisi tertentu di luar safar. Sayyid Sabiq dalam Fiqh al-Sunnah menyebut lima alasan: haji di Arafah dan Muzdalifah, safar, hujan, sakit, dan kebutuhan mendesak.

Karnaval adalah kegiatan yang dilakukan dengan perasaan gembira, menghibur, dan tanpa paksaan. Dengan kata lain, tingkat kesulitan dalam melaksanakan shalat bagi setiap orang yang ikut karnaval bisa berbeda-beda, atau bahkan mungkin tidak ada kesulitan sama sekali.

Oleh karena itu, karnaval tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang mengikat atau memaksa pesertanya. Karnaval tidak termasuk dalam kategori kondisi yang mendapatkan rukhshah. Dalam pandangan ushul fiqh, karnaval tidak bisa dijadikan ‘illat (alasan) atau udzur syar’i yang membolehkan menjamak shalat.

Begitu pula Fatwa Tarjih Muhammadiyah (2004) memperbolehkan jama’ shalat bagi non-musafir karena hajat penting, tetapi dengan catatan tidak menjadi kebiasaan.

Masalahnya, karnaval bukanlah hajat penting. Karnaval adalah hiburan, ekspresi budaya yang bersifat mubah. Ia tidak bisa dikategorikan sebagai keadaan darurat atau kondisi mendesak. Dengan demikian, menjama’ shalat hanya karena karnaval tidak bisa dibenarkan secara syar’i.

Antara Karnaval dan Tanggung Jawab Ibadah

Meski begitu, peserta yang masih memikirkan shalat patut diapresiasi. Lebih baik daripada mereka yang sama sekali tidak menaruh perhatian pada kewajiban shalat. Jika benar-benar terjebak dalam situasi sulit, solusi terakhir adalah mengqadha shalat setelah karnaval, sambil memperbanyak istighfar.

Yang juga perlu disorot adalah tanggung jawab panitia karnaval. Penyelenggara seharusnya menyiapkan jadwal yang ramah ibadah, baik bagi umat Islam yang wajib shalat, maupun umat agama lain yang juga punya kewajiban ritual. Jangan sampai kemeriahan budaya justru mengorbankan kewajiban agama.

Tips Praktis menjaga Shalat saat Karnaval:

  1. Shalat sebelum acara dimulai bila waktu sudah masuk.

  2. Manfaatkan masjid/mushala di sepanjang rute.

  3. Bawa perlengkapan wudhu praktis seperti botol air kecil.

  4. Pilih kostum yang fleksibel agar mudah dipakai shalat.

  5. Panitia harus menyediakan waktu jeda shalat, bukan hanya fokus pada kelancaran arak-arakan.

Skala Prioritas dalam Beragama

Dalam hukum Islam, ada lima tingkatan hukum: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Wajib selalu di atas segalanya. Tidak boleh mengorbankan yang wajib demi yang mubah.

Karnaval adalah mubah, boleh dikerjakan, boleh ditinggalkan. Sedangkan shalat adalah wajib. Maka, jelaslah skala prioritasnya: menjaga shalat lebih utama daripada karnaval. Bahkan, sesuatu yang mubah bisa berubah menjadi haram bila menghalangi kewajiban.

Sebaliknya, hal mubah bisa bernilai sunnah bila membantu kewajiban. Misalnya, makan dan tidur diniatkan agar kuat beribadah.

Menurut Gus Arisy, karnaval adalah ekspresi budaya yang patut disyukuri dalam semangat kemerdekaan. Namun, jangan sampai euforia kebangsaan membuat kita lalai terhadap kewajiban ilahiah.

“Ketika harus memilih antara karnaval atau menjaga shalat, jawabannya sangat jelas dalam kacamata agama: shalat tidak boleh dikorbankan. Karnaval hanyalah mubah, sementara shalat adalah tiang agama,” jelasnya.

Penulis: Kepala UPT Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) H. Arisy Kuswanto, S.T, M.Pd.I.

Surat Pemberitahuan Pengambilan Toga dan Undangan

Melalui surat pemberitahuan ini, kami ingin menyampaikan beberapa informasi terkait
proses pengambilan toga dan undangan untuk wali wisudawan.

  1. Toga dan undangan wali dapat diambil jika telah menyelesaikan administrasi Wisuda IX
  2. Pengambilan toga dilaksanakan mulai hari Selasa, tanggal 02 September 2024 hingga hari Kamis, tanggal 04 September 2025 di fakultas masing-masing
  3. Pengambilan undangan wali wisudawan dan undangan tambahan dilaksanakan setelah proses gladi bersih, pada hari Jumat, 05 September 2025 di Dyandra Convention Center, Jl. Basuki Rahmat No. 93-105 Surabaya

Kelompok KKN 22 UNUSIDA di Desa Wedoro, Waru, Sidoarjo (Foto: Moch Rafli M)

KKN 22 UNUSIDA Dorong UMKM Lokal dan Ikut Mengajar di MINU Wedoro

SIDOARJO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 22 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang beranggotakan 16 mahasiswa sukses melaksanakan program pengabdian masyarakat di Desa Wedoro, Kecamatan Waru. Program KKN kali ini berfokus pada dua kegiatan utama, yaitu pendampingan UMKM lokal dan membantu proses belajar mengajar di MINU Wedoro.

Dalam bidang pemberdayaan ekonomi, mahasiswa KKN memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM terkait strategi pemasaran, pengelolaan keuangan sederhana, hingga pemanfaatan media sosial untuk promosi produk. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing UMKM Desa Wedoro di tengah ketatnya persaingan era digital.

Ketua Kelompok KKN 22 UNUSIDA, Moch Rafli Muchibbin, menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Menurutnya, momentum KKN menjadi kesempatan dalam mengimplementasikan ilmu yang sudah dipelajari di bangku kuliah.

Seluruh kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa UNUSIDA dalam mendukung pemberdayaan ekonomi lokal sekaligus peningkatan kualitas pendidikan di Desa Wedoro.

“Kami ingin hadir dan memberikan kontribusi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Senin (1/9/2025).

Melalui sosialisasi dan praktik sederhana, mahasiswa membantu warga memahami strategi pemasaran, pengelolaan keuangan, hingga pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan daya saing produk lokal.

“UMKM adalah tulang punggung perekonomian desa. Kami berharap dengan pendampingan ini, usaha warga dapat semakin maju dan mampu membuka peluang ekonomi yang lebih luas,” jelasnya.

Antusiasme warga tampak sepanjang kegiatan. Salah satu pelaku UMKM, Bu Mawik, penjual klepon, mengaku sangat terbantu dengan adanya pendampingan dari mahasiswa.

“Alhamdulillah, saya jadi lebih paham cara memasarkan dagangan, terutama lewat media sosial. Semoga usaha saya bisa lebih maju,” tuturnya.

Selain fokus pada pemberdayaan UMKM, mahasiswa KKN UNUSIDA juga melaksanakan kegiatan pendampingan belajar di MINU Wedoro. Hal tersebut mendapat sambutan hangat dari Kepala Sekolah MINU Wedoro, Pak Gholib, sangat mengapresiasi peran serta mahasiswa UNUSIDA dalam membantu proses belajar mengajar.

Kehadiran mahasiswa tidak hanya memberikan materi pelajaran, tetapi juga menghadirkan metode pembelajaran kreatif yang lebih menyenangkan.

“Kami sangat terbantu dengan kehadiran mahasiswa KKN. Mereka memberi semangat baru bagi siswa sekaligus mendukung guru dalam pembelajaran,” ungkapnya.

Dengan mengusung semangat pengabdian, KKN 22 UNUSIDA berkomitmen menghadirkan program yang berdampak langsung bagi masyarakat, baik dalam peningkatan kapasitas ekonomi maupun kualitas pendidikan. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi langkah kecil menuju desa yang lebih mandiri, berdaya saing, dan memiliki generasi penerus yang unggul.

Penulis: Moch Rafli M (MY)