Menemukan Cahaya Unik di Balik Diversitas Manusia (Foto: Istimewa)

Refleksi Hari Pendidikan Internasional 2026, Menemukan Cahaya Unik di Balik Diversitas Manusia

Hari Pendidikan Internasional 2026 hadir sebagai alarm keras bagi dunia pendidikan untuk segera mengakhiri era standarisasi manusia. Di tengah kemajuan kecerdasan artifisial yang mampu menggantikan kemampuan kognitif rata-rata, pendidikan dituntut melakukan lompatan paradigmatik. Kearifan klasik Islam telah lama memberi peringatan yang relevan lintas zaman: “La tahtaqir man dunaka, fa inna likulli syai’in maziyyah” jangan meremehkan siapa pun, karena pada setiap diri terdapat keistimewaan.

Ungkapan ini kini bertransformasi menjadi sebuah Manifesto Pedagogis. Jika sekolah masih mendidik murid untuk sekadar menjadi rata-rata, maka cepat atau lambat peran mereka akan digantikan oleh mesin. Tantangan guru abad ke-21 bukan lagi sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan menjadi penemu keunikan menggali maziyyah yang membuat setiap murid tak tergantikan.

Konsep demokrasi kecerdasan menjadi keniscayaan untuk meruntuhkan kasta intelektual yang selama ini memuja satu standar tunggal. Teori Multiple Intelligences dari Howard Gardner telah lama membongkar mitos kecerdasan tunggal. Meremehkan murid yang tidak unggul secara akademik bukan sekadar kesalahan pedagogis, melainkan kekeliruan epistemologis yang fatal.

Fenomena global tentang neurodiversity semakin menegaskan hal ini. Anak dengan disleksia, ADHD, atau spektrum autisme justru kerap menunjukkan human signature yang luar biasa: kemampuan visual, kreativitas spasial, empati mendalam, hingga pola pikir visioner yang tidak dapat direplikasi oleh algoritma. Jangan meremehkan mereka yang sulit mengeja, sebab bisa jadi merekalah arsitek masa depan atau pemimpin inovatif dengan cara berpikir yang melampaui kelaziman.

Dalam konteks inilah, pedagogi berdiferensiasi pada tahun 2026 bukan lagi pilihan metodologis, melainkan bentuk penghormatan tertinggi terhadap martabat manusia. Carol Ann Tomlinson menegaskan bahwa keadilan di ruang kelas bukanlah memberi perlakuan yang sama, tetapi memberi dukungan yang tepat sesuai kebutuhan dan potensi masing-masing murid. Di era hyper-personalized learning, homogenisasi pembelajaran justru menjadi bentuk ketidakadilan.

Ketika guru berani mendiferensiasi konten, proses, dan produk pembelajaran, sejatinya ia sedang mempraktikkan keadilan sosial dalam bentuk paling konkret. Setiap murid diberi jembatan yang sesuai untuk menyeberang dari keterbatasan menuju aktualisasi diri. Inilah pendidikan yang memerdekakan, bukan menyingkirkan.

Lebih jauh, menuntun kodrat murid hari ini berarti membekali mereka dengan Human Flourishing Skills kemampuan untuk tetap bermakna di tengah dominasi mesin. Filosofi Ki Hadjar Dewantara tentang guru sebagai pamong kembali menemukan relevansinya, terutama saat dunia menghadapi krisis kesehatan mental remaja secara global. Murid yang terus-menerus diremehkan karena nilai akademik sering kali kehilangan kepercayaan diri, bahkan kehilangan makna hidup.

Guru masa kini adalah kurator bakat. Seperti petani yang bijaksana, ia merawat padi agar tumbuh menjadi padi unggul tanpa pernah memaksanya menjadi jagung. Menghargai keistimewaan anak bukan sekadar soal prestasi, melainkan tentang menjaga nyala api potensi agar tidak padam di tengah disrupsi zaman.

Pesan penutup dari refleksi ini adalah pentingnya kerendahan hati intelektual dalam dunia pendidikan. Sikap meremehkan lahir dari pola pikir kaku (fixed mindset), sementara pengakuan atas maziyyah tumbuh dari visi masa depan yang memahami bahwa diversitas bukan ancaman, melainkan sumber stabilitas. Dalam ekonomi kolaborasi 2026, keberhasilan tidak ditentukan oleh siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling mampu berharmoni dengan beragam jenis kecerdasan.

Mari jadikan ruang kelas sebagai panggung simfoni, tempat setiap instrumen kecerdasan memainkan perannya. Jangan biarkan satu pun cahaya murid padam hanya karena kita gagal mengenalinya.

Penulis: Achmad Wahyudi, S.Pd.I., M.Pd.

Wakil Rektor I UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., saat memberikan penghargaan kepada Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional dan Internasional (Foto: Humas UNUSIDA)

Momen Mujahadah, UNUSIDA Berikan Apresiasi kepada Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional dan Internasional

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memberikan apresiasi dan penghargaan kepada mahasiswa berprestasi yang telah mengharumkan nama institusi di tingkat nasional maupun internasional. Pemberian apresiasi tersebut dilaksanakan bertepatan dengan kegiatan Mujahadah Jumat Kliwon di Masjid K.H. M. Hasyim Asy’ari UNUSIDA, Jumat (23/1/2026).

Apresiasi diberikan secara langsung oleh Wakil Rektor I UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., dan Wakil Rektor II UNUSIDA, Dr. Ana Christanti, S.Pd., M.Pd., sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi, kerja keras, serta prestasi gemilang mahasiswa dan dosen pembimbing dalam berbagai ajang kompetisi bergengsi.

Adapun mahasiswa dan dosen pembimbing yang menerima apresiasi antara lain:

  1. Dr. Arda Surya Editia, M.T. beserta mahasiswa peraih Juara 1 Innovation Design Startup Competition,

  2. Jeziano Rizkita Boyas, M.M. beserta mahasiswa peraih Juara 2 World Entrepreneurial Case Competition (WECC),

  3. Jeziano Rizkita Boyas, M.M. beserta mahasiswa peraih Juara 3 International Business Plan Competition,

  4. Anggay Luri Pramana, M.Kom. beserta mahasiswa peraih Juara 1 National Applied Science Project Olympiad,

  5. M. Fathir Firmansyah – Juara 2 Nasional Kompetisi Fotografi,

  6. Lailatul Ma’rifah – Juara 3 Lomba Esai Nasional FORPIMAWA 2025,

  7. Indah Dwi Cahyani – Lomba Poster Nasional THEORIST 2025.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor I UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menyampaikan bahwa capaian prestasi ini merupakan bukti nyata kualitas sumber daya manusia UNUSIDA yang mampu bersaing di level nasional dan internasional. Selaras dengan suasana Mujahadah Jumat Kliwon, pemberian penghargaan kali ini sekaligus menjadi refleksi spiritual atas capaian prestasi yang diraih serta menginspirasi mahasiswa lain.

“Prestasi ini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga kebanggaan institusi. UNUSIDA akan terus mendorong dan memfasilitasi mahasiswa untuk berani berkompetisi dan berinovasi,” ujarnya.

Ia menegaskan komitmen universitas dalam mendukung pengembangan potensi mahasiswa melalui pembinaan akademik, riset, dan inovasi. UNUSIDA sebagai perguruan tinggi tidak hanya menjadi kampus unggul secara akademik, tetapi juga konsisten dalam membangun budaya prestasi, inovasi, dan karakter mahasiswa yang berdaya saing global.

“Kami berharap apresiasi ini menjadi motivasi bagi seluruh mahasiswa UNUSIDA untuk terus berprestasi dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat dan bangsa,” tuturnya.

FAI UNUSIDA Launching Program Pembiasaan Amaliyah Aswaja (P2A) (Foto: Humas UNUSIDA)

Cetak Pemimpin Keagamaan Muda, FAI UNUSIDA Launching Program Pembiasaan Amaliyah Aswaja

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) secara resmi meluncurkan Program Pembiasaan Amaliyah Aswaja (P2A) sebagai ikhtiar strategis dalam membentuk karakter mahasiswa yang religius, berakhlak, serta siap menjadi pemimpin kegiatan keagamaan di tengah masyarakat. Kegiatan tersebut dipusatkan di Hall Kampus 2 Gedung A, Lantai 5 UNUSIDA, Jum’at (23/1/2026).

Launching program ini disampaikan langsung oleh Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I., yang menegaskan bahwa pelaksanaan P2A telah dipertimbangkan secara matang agar tidak mengganggu aktivitas akademik mahasiswa, khususnya di awal semester ganjil.

“Kami melaporkan kepada Bapak Rektor dan memilih waktu yang tepat agar program ini tidak mengganggu perkuliahan. P2A ini adalah inisiatif dosen-dosen FAI untuk memfasilitasi mahasiswa mempersiapkan diri menjadi pemimpin di masyarakat, tanpa harus menunggu lulus,” ujarnya.

Tujuh Amaliyah Aswaja Dibiasakan Secara Terstruktur
Feri menyebutkan bahwa program P2A dirancang dengan tujuh bentuk amaliyah Aswaja yang akan dibiasakan secara berkelanjutan, meliputi pembukaan acara, pembacaan tawassul, Yasin, istighotsah, tahlil, doa, hingga sambutan. Seluruh rangkaian ini dikemas menyerupai tradisi keagamaan di pesantren dan masyarakat Nahdlatul Ulama.

Pada tahap awal, mahasiswa tidak dituntut untuk menghafal, melainkan membaca sesuai pedoman yang telah disiapkan fakultas. Mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil beranggotakan 10–11 orang dan didampingi oleh Dosen Wali Aswaja. Setiap pertemuan, peran mahasiswa akan diputar agar seluruh peserta memperoleh pengalaman memimpin seluruh rangkaian amaliyah.

“Target kami, mahasiswa bukan hanya bisa mengikuti, tetapi mampu memimpin. Hafal istighotsah, berani tampil, dan siap memimpin kegiatan keagamaan di lingkungannya,” tegasnya.

Merangkul Mahasiswa Beragam Latar Belakang
Ia mengungkapkan, program ini dirancang inklusif bagi mahasiswa yang berlatar belakang pesantren maupun non-pesantren. Mahasiswa yang belum terbiasa dengan amaliyah Aswaja tidak perlu khawatir, karena seluruh proses dilakukan bertahap dengan pendampingan intensif.

“FAI ini lengkap. Ada yang dari pesantren, ada yang bukan. Justru P2A menjadi kawah candradimuka untuk membekali yang belum terbiasa sekaligus memperkuat yang sudah memiliki dasar,” imbuhnya.

Sementara itu, Rektor UNUSIDA, Prof. Dr. H. Fatkul Anam, M.Si. dalam sambutannya menyampaikan bahwa nilai-nilai dalam pembiasaan amaliyah Aswaja sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang cepat.

Menurutnya, pembiasaan ini bukan hanya membentuk kecakapan spiritual, tetapi juga memperkuat karakter, akhlak, kecintaan terhadap tradisi, serta rasa tanggung jawab sosial mahasiswa.

“Nilai-nilai Aswaja ini menjadi pondasi penting agar mahasiswa tetap kokoh dalam akidah, berakhlak mulia, dan cinta tanah air. Ini perlu dimonitor dan dievaluasi agar menjadi budaya akademik yang berkelanjutan,” terangnya.

Ia berharap menjadi keunggulan khas FAI UNUSIDA, sekaligus identitas lulusan yang matang secara intelektual, spiritual, dan sosial. Ke depan, P2A akan dilaksanakan secara rutin setiap Jumat tanpa perkuliahan, terpusat, dan dievaluasi secara berkala. Selain itu, program ini akan menjadi pilot project bagi seluruh prodi dan fakultas di UNUSIDA.

“Melalui Program Pembiasaan Amaliyah Aswaja, kami optimistis UNUSIDA mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga siap hadir, memimpin, dan mengabdi di tengah masyarakat dengan nilai-nilai ke-NU-an yang kokoh dan relevan sepanjang zaman,” pungkasnya.

Alumni UNUSIDA Kak Maulidia Nur Rachmah Bagikan Tips Menyeimbangkan Akademik dan Organisasi dalam Latihan Rutin UKM Pramuka Khatulistiwa UNUSIDA (Foto: UKM Pramuka)

UKM Pramuka Khatulistiwa UNUSIDA Gelar Latihan Rutin Bahas Struktur Organisasi

SIDOARJO — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka Khatulistiwa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar latihan rutin, Ahad (18/01/2026), di lingkungan Kampus UNUSIDA. Kegiatan ini diikuti oleh anggota aktif serta calon anggota baru.

Pada pertemuan kali ini, peserta mendapatkan materi tentang struktur organisasi Pramuka Khatulistiwa yang disampaikan oleh Kak Maulidia Nur Rachmah, S.Pd. Materi tersebut difokuskan pada pengenalan peran, tugas, serta alur koordinasi dalam organisasi, baik pada level pengurus inti maupun unsur pendukung lainnya.

Dalam pemaparannya, Kak Maulidia menjelaskan susunan organisasi yang meliputi Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, Dewan Racana, Pembina, serta beberapa bidang teknis yang berperan dalam pelaksanaan kegiatan kepramukaan. Penjelasan ini bertujuan agar peserta memahami hubungan fungsional antarbagian serta pentingnya pola komunikasi organisasi yang efektif.

“Struktur organisasi tidak hanya menunjukkan susunan jabatan, tetapi juga sistem kerja yang mengatur koordinasi antaranggota. Pemahaman ini penting agar organisasi dapat berjalan tertib, efisien, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Para peserta tampak antusias mengajukan pertanyaan seputar teknis organisasi, pembagian tugas, serta mekanisme komunikasi internal. Diskusi berlangsung dinamis dan menjadi ruang pembelajaran bersama bagi anggota aktif maupun calon anggota baru.

Sebagai alumni yang pernah aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, Kak Maulidia menegaskan bahwa akademik tetap harus menjadi prioritas utama, tanpa harus mengesampingkan peran organisasi sebagai ruang pengembangan diri.

Menurutnya, menjalani perkuliahan sambil aktif berorganisasi kerap menjadi tantangan bagi mahasiswa. Akan tetapi, keduanya justru dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan apabila dikelola dengan manajemen waktu dan prioritas yang tepat.

“Kuliah adalah tanggung jawab utama mahasiswa. Organisasi hadir sebagai sarana belajar kepemimpinan, komunikasi, dan manajemen diri yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas,” ungkapnya.

Ia menekankan pentingnya menentukan skala prioritas sejak awal semester. Mahasiswa perlu memetakan jadwal kuliah, tugas akademik, serta agenda organisasi agar tidak saling berbenturan. Sebab, penggunaan agenda harian atau kalender digital dapat membantu mahasiswa mengelola waktu secara lebih teratur dan disiplin.

Selain itu, Kak Maulidia menyarankan mahasiswa untuk berani berkata jujur pada diri sendiri mengenai kemampuan dan batasan. Tidak semua kegiatan harus diikuti, dan tidak semua jabatan harus diambil. Ia berharap, kegiatan ini dapat memperkuat kapasitas anggota dalam pengelolaan organisasi, sekaligus meningkatkan kualitas keanggotaan serta kaderisasi Pramuka di lingkungan kampus.

“Aktif organisasi bukan soal banyaknya kegiatan, tetapi tentang konsistensi, komitmen, dan tanggung jawab terhadap amanah yang diemban,” tuturnya.

Alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) juga menilai bahwa organisasi justru dapat mendukung prestasi akademik apabila dijalani dengan benar. Keterampilan seperti kerja tim, komunikasi, kepemimpinan, dan pemecahan masalah yang diperoleh di organisasi akan sangat membantu mahasiswa dalam menyelesaikan tugas perkuliahan maupun menghadapi tantangan di dunia kerja.

Ia mengajak mahasiswa UNUSIDA untuk menjadikan masa kuliah sebagai fase pembelajaran yang seimbang antara ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter. “Ketika akademik dan organisasi dijalani dengan niat belajar dan pengelolaan waktu yang baik, keduanya akan saling melengkapi dan menjadi bekal berharga untuk masa depan,” pungkasnya.

Mahasiswa UNUSIDA Dikukuhkan sebagai Relawan Pajak (RENJANI) Tahun 2026 (Foto: Putri Nely/ Humas UNUSIDA)

34 Mahasiswa UNUSIDA Dikukuhkan sebagai Relawan Pajak Renjani Tahun 2026

SIDOARJO – Sebanyak 34 mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) resmi dikukuhkan sebagai Relawan Pajak (RENJANI) Tahun 2026 oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kantor Wilayah Jawa Timur II. Kegiatan pengukuhan tersebut dilaksanakan di Kantor Kanwil DJP Jawa Timur II, Senin (19/01/2026).

Pengukuhan Relawan Pajak ini dihadiri oleh perwakilan perguruan tinggi mitra yang tergabung dalam program DJP Kanwil Jawa Timur II. Melalui pengukuhan ini, para mahasiswa yang telah dinyatakan lulus seleksi resmi mendapatkan mandat untuk bertugas membantu edukasi, asistensi, dan pelayanan perpajakan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Program Relawan Pajak merupakan salah satu inisiatif Direktorat Jenderal Pajak dalam rangka meningkatkan literasi dan kepatuhan perpajakan masyarakat, sekaligus memberikan ruang pembelajaran praktis bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pelayanan publik di bidang perpajakan.

Ketua Tax Center UNUSIDA, Chairil Anwar, S.P., M.Ak., menegaskan komitmen UNUSIDA dalam mendukung penuh program pemerintah, khususnya Direktorat Jenderal Pajak (DJP), melalui keterlibatan aktif mahasiswa dalam program Relawan Pajak (RENJANI) Tahun 2026.

Selain itu, pihaknya juga mendukung penguatan kapasitas dan kompetensi mahasiswa di bidang perpajakan. Selain itu, program ini menjadi wujud kontribusi nyata UNUSIDA dalam mendukung pembangunan nasional melalui peningkatan kesadaran dan kepatuhan pajak di masyarakat.

Menurutnya, program Relawan Pajak merupakan bentuk sinergi strategis antara dunia pendidikan tinggi dan pemerintah dalam upaya meningkatkan literasi serta kepatuhan perpajakan masyarakat.

“Kami di UNUSIDA, melalui Tax Center, selalu berkomitmen mendukung program-program pemerintah, khususnya DJP. Relawan Pajak ini bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi bagian dari upaya nyata membangun kesadaran pajak sejak dini melalui peran mahasiswa,” ungkap Dosen Akuntansi tersebut.

Ia menjelaskan, keterlibatan mahasiswa dalam program Relawan Pajak memberikan pengalaman langsung dalam pelayanan publik, sekaligus menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang tidak hanya mengasah kompetensi akademik, tetapi juga membentuk tanggung jawab sosial dan etika profesional.

Dari total 34 Relawan Pajak UNUSIDA yang tergabung dalam RENJANI Tahun 2026, sebanyak 11 mahasiswa hadir sebagai perwakilan dalam kegiatan pengukuhan. Perwakilan tersebut terdiri dari 10 mahasiswa Program Studi Akuntansi dan 1 mahasiswa Program Studi Informatika.

“Perpajakan hari ini tidak bisa dilepaskan dari aspek teknologi dan sistem informasi. Keterlibatan lintas program studi ini mencerminkan kolaborasi multidisipliner dalam mendukung pelaksanaan edukasi dan asistensi perpajakan yang lebih efektif. Oleh karena itu, kehadiran mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu menjadi nilai tambah dalam mendukung kinerja DJP di lapangan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia berharap para Relawan Pajak UNUSIDA yang ditempatkan di berbagai KPP wilayah Jawa Timur II dapat menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, menjaga integritas, serta menjadi duta literasi pajak yang baik di tengah masyarakat.

“Kami berharap mahasiswa mampu menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam memberikan edukasi perpajakan yang humanis, mudah dipahami, dan tetap sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tambahnya.

Adapun penempatan Relawan Pajak UNUSIDA pada tahun 2026 tersebar di beberapa unit kerja DJP wilayah Jawa Timur II, yakni 6 mahasiswa bertugas di KPP Madya, 18 mahasiswa di KPP Utara, dan 10 mahasiswa di KPP Barat. Penempatan tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan peran relawan pajak, khususnya dalam mendukung pelayanan wajib pajak pada masa pelaporan dan kegiatan edukasi perpajakan.

Campus Roadshow Future Talent Hub di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Rektor UNUSIDA Tekankan Pentingnya Kompetensi Digital Bagi Mahasiswa dalam Campus Roadshow Future Talent Hub

SIDOARJO – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menjadi tuan rumah kegiatan Campus Roadshow Future Talent Hub yang diselenggarakan pada Kamis (22/01/2026) di Hall Lt. 5 Kampus 2 UNUSIDA. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Future Talent Hub by Pijar Foundation bersama Temasek Foundation, yang bertujuan meningkatkan kompetensi industri mahasiswa di era ekonomi digital.

Kegiatan tersebut menghadirkan Rektor UNUSIDA, Prof. Dr. H. Fatkul Anam, M.Si., sebagai keynote speaker, serta Titus Aldi Nata W, Curriculum & Program Lead Future Skills Pijar Foundation, sebagai pemateri utama. Acara ini diikuti dengan antusias oleh ratusan mahasiswa dari berbagai program studi.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. H. Fatkul Anam menegaskan bahwa perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan besar akibat pesatnya perkembangan transformasi digital, kecerdasan buatan, ekonomi kreatif, serta tuntutan dunia kerja global. Oleh karena itu, menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya melahirkan lulusan yang cakap secara akademik, tetapi juga harus kreatif, berkarakter, dan memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

“Perguruan tinggi harus menyiapkan mahasiswa dengan kompetensi abad ke-21. Salah satunya adalah penguasaan keterampilan digital dan pemahaman terhadap ekosistem industri, termasuk bidang teknologi dan ekonomi kreatif,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kehadiran Future Talent Hub menjadi sangat strategis karena program ini tidak hanya berupa pelatihan semata, melainkan sebuah ekosistem pengembangan talenta muda yang menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan industri. Melalui program ini, mahasiswa diharapkan mampu mengenali potensi diri, mengasah kompetensi, serta membangun pengalaman yang menjadi bekal penting di dunia kerja.

Sebagai perguruan tinggi berbasis nilai-nilai keislaman dan kebangsaan, UNUSIDA terus mendorong kolaborasi dengan mitra strategis. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga seperti Pijar Foundation merupakan kunci dalam menyiapkan generasi unggul, berdaya saing global, dan berdampak bagi bangsa dan negara.

“Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Jangan takut belajar hal baru dan keluar dari zona nyaman. Masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang berhenti belajar,” pesan Rektor kepada para mahasiswa.

Sementara itu, perwakilan Future Talent Hub, Titus Aldi Nata W, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang komprehensif, mulai dari pembelajaran berbasis video, pre-test, hingga proses seleksi untuk mengikuti program internship baik secara daring maupun luring.

Pada tahun 2026, Future Talent Hub menargetkan jumlah peserta yang lebih besar dengan keterlibatan industri yang lebih luas. Mahasiswa yang terdaftar akan mendapatkan akses kelas pembelajaran, pendampingan proyek, hingga kesempatan magang selama beberapa bulan sebagai bentuk penerapan langsung kompetensi yang telah dipelajari.

“Melalui kegiatan Campus Roadshow ini, kami berharap dapat semakin banyak menjangkau kalangan mahasiswa, khususnya di kampys UNUSIDA semakin siap menghadapi tantangan dunia kerja masa depan dan mampu menjadi talenta unggul yang adaptif di era digital,” pungkasnya.

HMTI UNUSIDA Gelar PESONA 3.0 “Industrial Integrity Vol. 3”, Siapkan Engineer Muda Profesional dan Berdaya Saing (Foto: Aisyah Widayani/Humas UNUSIDA)

HMTI UNUSIDA Gelar PESONA 3.0, Siapkan Engineer Muda Profesional dan Berdaya Saing

SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan kegiatan orientasi Program Studi bertajuk Pengenalan dan Sosialisasi Organisasi Mahasiswa (PESONA) 3.0  dengan mengusung tema ‘Industrial Integrity Vol. 3: Menyiapkan Engineer Muda Profesional, Etis, dan Kompetitif’. Kegiatan ini dipusatkan di Kampus 2 UNUSIDA, Sabtu-Ahad (17-18/1/2026).

Ketua HMTI UNUSIDA, Abdee Alifio menjelaskan, kgiatan ini merupakan rangkaian awal pembinaan bagi mahasiswa baru Program Studi Teknik Industri, yang bertujuan memperkenalkan lingkungan akademik, budaya perkuliahan, serta nilai-nilai dasar keorganisasian di lingkungan kampus.

Melalui PESONA 3.0, HMTI UNUSIDA berupaya menanamkan sikap profesionalisme, integritas, dan etika sejak dini kepada mahasiswa baru sebagai bekal utama dalam membentuk karakter calon engineer muda yang siap menghadapi tantangan dunia industri yang semakin dinamis dan kompetitif.

“Sebagai mahasiswa Teknik Industri sangat penting mengenal budaya akademik di kampus dalam menumbuhkan rasa semangat dan percaya diri. Oleh karena itu, orientasi ini kita kemas dengan menyenangkan dan inspiratif untuk menumbuhkan daya inovasi dan kritis,” terangnya.

Selain pengenalan akademik, Abdee menekankan bahwa kegiatan ini juga dirancang sebagai sarana untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas antar mahasiswa, membentuk sikap tanggung jawab dan disiplin, dan mempersiapkan mental serta kesiapan mahasiswa dalam menjalani aktivitas akademik maupun organisasi selama masa perkuliahan.

Berbagai materi pengenalan program studi, dinamika organisasi, serta nilai-nilai keinsinyuran menjadi materi utama dalam kegiatan ini. Hal ini ditujukan untuk memberikan pemahaman komprehensif kepada mahasiswa baru tentang peran dan tanggung jawab sebagai bagian dari civitas akademika Teknik Industri UNUSIDA.

Ia berharap mahasiswa baru tidak hanya mampu beradaptasi dengan lingkungan kampus, tetapi juga memiliki karakter unggul, etis, dan berdaya saing tinggi, sejalan dengan visi mencetak lulusan Teknik Industri yang profesional dan berkontribusi nyata bagi masyarakat dan dunia industri.

“Mahasiswa UNUSIDA harus memiliki karakter dan integritas. Hal itu yang nantinya akan menjadi identitas tersendiri sebagai kader muda NU dalam belajar, menciptakan inovasi untuk melahirkan solusi dan mengabdi di tengah masyarakat dalam menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” pungkasnya.

Penulis: Aisyah Widayani (MY)

Penyerahan Penghargaan Unit Kerja Terbaik Berdasarkan AMINA 2025 dan Capaian Prestasi (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Berikan Penghargaan Kepada Unit Kerja Terbaik dalam Raker 2025–2026

SITUBONDO — Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memberikan Penghargaan Unit Kerja Terbaik dalam Audit Mutu Internal Non Akademik (AMINA) pada Rapat Kerja (Raker) UNUSIDA Tahun Akademik 2025–2026 di Utama Raya Cottage, Situbondo, pada Kamis (15/1/2026).

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Rektor UNUSIDA Dr. H. Fatkul Anam, M.Si., dalam rangkaian Raker yang berlangsung sebagai bentuk apresiasi atas kinerja unit kerja dalam membangun tata kelola institusi yang akuntabel, profesional, dan berkelanjutan.

Berdasarkan hasil AMINA 2025, unit kerja terbaik yang meraih penghargaan adalah:

  1. UPT Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) UNUSIDA,

  2. Biro Humas dan Kerja Sama,

  3. Lembaga Sumber Daya Manusia (SDM) UNUSIDA.

Penghargaan ini menjadi bukti komitmen UNUSIDA dalam memperkuat budaya mutu dan evaluasi berkelanjutan di seluruh unit kerja non akademik.

“Penghargaan ini menegaskan komitmen UNUSIDA untuk terus memperkuat tata kelola institusi, meningkatkan mutu layanan akademik dan non akademik, serta mendorong prestasi mahasiswa dan dosen di tingkat nasional maupun internasional, sejalan dengan visi UNUSIDA Unggul dan Berdampak,” ungkapnya.

Selain penghargaan AMINA, UNUSIDA juga memberikan apresiasi khusus kepada unit kerja yang berhasil menorehkan prestasi nasional dan internasional.

Salah satunya adalah Biro Kemahasiswaan dan Alumni UNUSIDA, yang berhasil mengantarkan UNUSIDA meraih predikat “Baik Sekali” dalam SIMKATMAWA 2025 (Sistem Informasi dan Tata Kelola Kemahasiswaan) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Capaian tersebut menunjukkan tata kelola kemahasiswaan UNUSIDA yang kuat, akuntabel, dan berdaya saing, dengan aktivitas kemahasiswaan yang sangat dinamis dan terstruktur. UNUSIDA memiliki beragam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang aktif dan berprestasi, di antaranya di bidang olahraga Futsal dan Pencak Silat Pagar Nusa, bidang seni Teater SAE, Tari Samita, dan Paduan Suara, bidang religi dan sosial terdapat UKM Religi Nahdlatul Syubban, Magana (Mahasiswa Tanggap Bencana), KSR PMI UNUSIDA, hingga di bidang kepemimpinan terdapat UKM Mahasiswa Unggul, Pramuka Khatulistiwa.

Selain itu, pengembangan organisasi mahasiswa juga diperkuat melalui program seperti Latihan Kepemimpinan Mahasiswa Manajemen Tingkat Menengah (LKMM-TM) UNUSIDA sebagai upaya membangun sinergi strategis dengan Organisasi Mahasiswa (Ormawa).

Selain itu, Unit Kerja lain yang mengantarkan prestasi yaitu Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNUSIDA, atas keberhasilan mengawal publikasi jurnal dan program pengabdian, sehingga mengantarkan UNUSIDA meraih Gold Winner Anugerah Riset dan Pengabdian Diktisaintek 2025 kategori Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA Award).

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNUSIDA, yang dihadiri oleh Ketua BPP UNUSIDA, Drs. H. Arli Fauzi, M.H., Sekretaris BPP UNUSIDA, Dr. H. Sholehuddin, M.Pd.I., dan Muhammad Sururi Arumbani, S.Sos.

Ketua BPP UNUSIDA, Drs. H. Arli Fauzi, M.H saat menyampaikan arahan dalam Raker UNUSIDA Tahun Akademika 2025-2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Rapat Kerja UNUSIDA 2025–2026: Ketua BPP Tekankan Kesungguhan dan Kolaborasi sebagai Kunci Keberhasilan

SITUBONDO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Rapat Kerja (Raker) Tahun Akademik 2025–2026 di Utama Raya Cottage, Situbondo, pada Kamis–Jumat (15–16/1/2026). Kegiatan ini diikuti oleh jajaran Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi (BPP), pimpinan universitas, fakultas, lembaga, dan unit kerja sebagai forum strategis dalam merumuskan arah kebijakan dan program kerja UNUSIDA selama satu tahun ke depan.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Badan Pelaksana dan Pengelola (BPP) UNUSIDA, Drs. H. Arli Fauzi, M.H., menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya kesungguhan, ketelatenan, dan kolaborasi dalam mengelola perguruan tinggi. Ia menegaskan bahwa tidak ada hasil maksimal yang lahir dari sikap setengah-setengah.

“Dalam hidup ini, kalau kita setengah-setengah, hasilnya juga setengah. Tidak pernah ada hasil maksimal dari ketidaksungguhan. Kalau ingin hasil yang baik, maka harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh,” tegasnya.

Kesungguhan sebagai Filosofi Kerja
Kiai Arli mengibaratkan kesungguhan dalam bekerja seperti menggali sumur. Jika penggalian dihentikan di kedalaman dangkal karena air belum keluar, maka yang muncul justru genangan air kotor yang merugikan dan menimbulkan masalah. Sebaliknya, jika penggalian diteruskan hingga dalam, maka air yang dihasilkan akan semakin jernih dan melimpah.

“Kalau satu meter, dua meter belum keluar air, ya teruskan. Semakin dalam kita menggali, semakin besar dan bersih air yang keluar. Begitu pula dalam mengelola perguruan tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, kesungguhan memiliki beberapa indikator utama, yakni serius dalam bekerja, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, dibekali ilmu pengetahuan dan teori yang tepat, serta tidak berhenti sebelum tujuan tercapai. Hal ini menjadi sangat penting karena pengelolaan perguruan tinggi berkaitan langsung dengan amanah besar, yakni masa depan mahasiswa dan kepercayaan masyarakat.

Melayani Mahasiswa dengan Tuntas
Dalam konteks pelayanan, Ketua BPP juga menekankan agar seluruh sivitas akademika menghindari pola kerja yang “tengah-tengah”, termasuk dalam urusan penerimaan mahasiswa dan layanan administrasi.

“Kalau melayani orang tua atau calon mahasiswa, layani sampai tuntas. Jangan berhenti di tengah jalan. Kesungguhan itu ditunjukkan sampai mahasiswa benar-benar terdaftar dan jelas statusnya,” pesannya.

Ia meyakini bahwa setiap kesungguhan dan kebaikan yang dilakukan dengan niat melayani akan bernilai ibadah dan tidak akan sia-sia. “Tidak ada kebaikan yang tidak dicatat oleh Allah,” tambahnya.

Kolaborasi sebagai Keniscayaan
Selain kesungguhan, kolaborasi menjadi pesan penting yang disampaikan Ketua BPP. Ia mengaitkan nilai kolaborasi dengan kisah Nabi Adam dan Hawa, bahwa manusia secara kodrati diciptakan untuk saling melengkapi dan bekerja sama.

“Tidak ada yang bisa berjalan sendiri. Kolaborasi adalah fitrah. Kalau merasa paling benar dan paling sempurna sendiri, justru akan jatuh,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa keberhasilan besar justru lahir dari kerja sama, saling melengkapi, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan bersama. Perguruan tinggi yang ingin maju tidak cukup hanya mengandalkan individu, melainkan membutuhkan sinergi seluruh elemen.

Lebih lanjut, Kiai Arli mengajak agar menjadikan Rapat Kerja UNUSIDA Tahun Akademik 2025–2026 menjadi momentum penting untuk menyatukan visi, menyamakan langkah, serta memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan UNUSIDA yang unggul dan berdampak.

“Saya harap seluruh sivitas akademica UNUSIDA mampu menerjemahkan nilai kesungguhan dan kolaborasi tersebut ke dalam program kerja yang nyata, terukur, dan berkelanjutan. Mari terus bergerak maju dengan kerja kolektif, penuh keseriusan, serta semangat saling menguatkan demi memberikan manfaat yang lebih luas bagi mahasiswa, masyarakat, dan Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.

UNUSIDA Gelar Rapat Kerja Tahun Akademik 2025–2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Gelar Rapat Kerja Tahun Akademik 2025–2026, Perkuat Akselerasi Transformasi dan Kolaborasi Kampus Unggul Berdampak

SITUBONDO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Rapat Kerja (Raker) Tahun Akademik 2025–2026 di Utama Raya Cottage, Situbondo, pada Kamis–Jumat (15–16/1/2026). Kegiatan ini diikuti oleh jajaran pimpinan universitas, fakultas, lembaga, serta unit kerja sebagai forum strategis untuk menyatukan arah kebijakan dan program kerja UNUSIDA selama satu tahun ke depan.

Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa Rapat Kerja bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan momentum strategis untuk memperkuat tata kelola kelembagaan dan meneguhkan komitmen UNUSIDA di tengah dinamika pendidikan tinggi yang terus bergerak cepat.

“Rapat kerja ini adalah momentum strategis untuk menyatukan arah dan langkah kita bersama, memperkuat tata kelola, serta meneguhkan komitmen kelembagaan UNUSIDA di tengah transformasi dunia pendidikan tinggi yang sangat cepat,” tegasnya.

Akselerasi, Transformasi, dan Kolaborasi
Dalam Raker tersebut, Rektor menyampaikan bahwa dunia pendidikan tinggi saat ini menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari digitalisasi pendidikan, disrupsi teknologi, persaingan antarperguruan tinggi yang semakin ketat, hingga tuntutan mutu dan akuntabilitas publik yang semakin tinggi. Di sisi lain, ekspektasi masyarakat dan Nahdlatul Ulama terhadap UNUSIDA juga semakin besar, tidak hanya sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai pusat manfaat, pengabdian, dan pencetak kader-kader unggul.

Berangkat dari tantangan tersebut, Raker UNUSIDA 2026 mengusung tema besar ‘Akselerasi Transformasi dan Kolaborasi untuk UNUSIDA Unggul dan Berdampak’. Tema ini menegaskan tiga kata kunci utama, yakni akselerasi, transformasi, dan kolaborasi.

Pada aspek akselerasi, UNUSIDA menargetkan percepatan peningkatan mutu, termasuk akselerasi akreditasi program studi dan institusi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), peningkatan layanan akademik dan nonakademik, serta percepatan inovasi pembelajaran. Rektor menyebutkan bahwa dalam waktu dekat terdapat program studi yang ditargetkan meraih akreditasi unggul, dan pada tahun 2027 institusi serta beberapa program studi diharapkan masuk kategori akreditasi unggul.

Sementara pada aspek transformasi, Rektor menekankan bahwa perubahan tidak hanya berkaitan dengan digitalisasi sistem, tetapi juga transformasi tata kelola dan perubahan pola pikir.

“Perguruan tinggi yang bertahan bukanlah yang terbesar, melainkan yang paling adaptif terhadap perubahan,” ujarnya.

Transformasi ini mencakup penguatan sistem akademik digital, budaya kerja, mindset SDM, serta tata relasi institusional yang lebih efektif dan responsif terhadap perkembangan zaman.

Adapun aspek kolaborasi menjadi penegas bahwa tidak ada universitas unggul yang berdiri sendiri. UNUSIDA berkomitmen memperkuat jejaring dengan pemerintah, dunia usaha dan industri, sekolah dan madrasah, pondok pesantren, serta perguruan tinggi nasional dan internasional.

“Kita adalah satu kesatuan UNUSIDA. Tidak ada unit yang berjalan sendiri, semuanya harus bergerak dalam semangat kolaborasi,” tambahnya.

Unggul dan Berdampak sebagai Identitas UNUSIDA
Tema Raker juga menegaskan dua tujuan besar UNUSIDA, yakni unggul dan berdampak. Unggul dimaknai sebagai keunggulan dalam aspek akademik, tata kelola, SDM, mutu pembelajaran, penelitian, pengabdian, dan inovasi. Sementara berdampak berarti keberadaan UNUSIDA harus memberikan manfaat nyata bagi umat, masyarakat, daerah, dan Nahdlatul Ulama.

“Keunggulan tanpa dampak akan menjadikan kampus eksklusif dan tidak membumi. Sebaliknya, dampak tanpa keunggulan akan membuat kampus kehilangan daya saing. Keduanya harus hadir bersama sebagai identitas UNUSIDA,” tegasnya.

Dalam Raker tersebut, sejumlah agenda strategis turut dirumuskan, antara lain penguatan tata kelola dan akreditasi program studi serta institusi, peningkatan kualitas dosen dan tenaga kependidikan melalui pelatihan, percepatan jabatan fungsional dan studi lanjut S3, penguatan pembelajaran dan layanan akademik berbasis digital, perluasan kemitraan strategis, serta penguatan riset, inovasi, dan publikasi ilmiah.

Selain itu, pihaknya juga menegaskan komitmen pengabdian masyarakat berbasis keunggulan lokal dan budaya NU, yang pada tahun 2025 mencatatkan capaian pengabdian masyarakat dalam jumlah signifikan.

“Melalui Rapat Kerja ini, mari kembali meneguhkan komitmen untuk terus tumbuh sebagai kampus yang tidak hanya dikenal, tetapi juga dibutuhkan, tidak hanya bertahan, tetapi memberi kontribusi nyata bagi masyarakat luas,” pungkasnya.