Tri Maharani, Mahasiswi Manajemen UNUSIDA Raih Juara 2 Nasional Pencak Silat "Malang Championship 5" 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Tri Maharani, Mahasiswi UNUSIDA Raih Juara 2 Nasional Pencak Silat ‘Malang Championship 5’ 2025

Sidoarjo – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Kali ini, Tri Maharani, mahasiswi Program Studi Manajemen angkatan 2024, berhasil meraih Juara 2 Nasional dalam ajang Kejuaraan Pencak Silat ‘Malang Championship 5’ Tahun 2025 yang memperebutkan Piala KEMENDIKBUD RI dan Wali Kota Malang.

Kejuaraan tingkat nasional tersebut diikuti oleh ratusan pesilat dari berbagai provinsi di Indonesia. Tri Maharani menunjukkan performa luar biasa hingga mencapai partai final dan meraih juara 2. Ia mengaku merasa bangga dan bersyukur atas pencapaiannya.

“Sudah pasti saya merasa bangga dan bersyukur karena masih bisa mendapatkan juara 2, walaupun belum bisa meraih posisi juara 1,” ungkapnya, Selasa (29/7/2025).

Rani sapaan akrabnya menjelaskan bahwa motivasi terbesarnya dalam mengikuti kejuaraan ini adalah keinginan untuk menguji kemampuan diri, serta membuktikan bahwa ia mampu bersaing di tingkat nasional dan membanggakan orang tua.

Mengawali perjalanan di dunia pencak silat sejak masih duduk di bangku SMK, Rani terus menunjukkan konsistensinya. Ia mengaku jatuh cinta pada olahraga bela diri tradisional ini karena mampu membentuk kedisiplinan dan meningkatkan rasa percaya dirinya.

“Saya sangat menyukai pencak silat. Selain menjaga kesehatan dan kebugaran, pencak silat juga mendidik kita untuk disiplin dan percaya diri,” tambahnya.

Dalam mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan, Rani menjalani latihan intensif selama 6 bulan dengan jadwal padat, yakni empat kali seminggu. Namun, perjuangannya tidak berjalan mulus. Ia sempat mengalami cedera beberapa minggu sebelum pertandingan.

“Tantangan terbesar saya adalah cedera. Tapi alhamdulillah, saya bisa pulih dan siap bertanding,” ujarnya.

Salah satu momen paling berkesan bagi Rani adalah ketika berhasil mengalahkan lawan tangguh dari provinsi lain di babak semifinal, pengalaman yang ia sebut sebagai pembuktian nyata atas kerja kerasnya selama ini.

Rani juga menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menjaga dan melestarikan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa. Ia berharap mahasiswa tidak hanya fokus pada dunia akademik, tetapi juga aktif di bidang non-akademik sebagai bentuk pengembangan diri.

“Mahasiswa bisa menjadi agen pelestari budaya. Pencak silat bukan hanya olahraga, tapi juga bagian dari identitas bangsa yang harus kita jaga bersama,” tegasnya.

Lebih lanjut, Rani memberikan semangat kepada rekan-rekan mahasiswa UNUSIDA untuk terus berani mencoba, menggali potensi, dan jangan pernah takut gagal.

“Jangan ragu untuk mencoba hal-hal baru. Teruslah mengembangkan diri dan jadilah versi terbaik dari dirimu, baik di bidang akademik maupun non-akademik,” tuturnya.

Ke depan, Tri menargetkan untuk berkompetisi di ajang internasional dan menorehkan prestasi yang lebih tinggi. Ia berkomitmen untuk terus meningkatkan kemampuan dan membawa nama baik kampus serta bangsa di kancah global.

Prestasi Tri Maharani ini menambah deretan mahasiswa berprestasi UNUSIDA dan menjadi bukti bahwa semangat juang, latihan yang konsisten, dan dukungan penuh dari lingkungan sekitar adalah kunci keberhasilan menuju podium kemenangan. (MY)

Malinda Dwi Harjani Setyo, Mahasiswi Manajemen UNUSIDA peraih Juara 3 Nasional Kejuaraan Pencak Silat “Malang Championship 5” Tahun 2025 (Foto: Istimewa)

Cerita Inspiratif Malinda, Mahasiswi UNUSIDA Peraih Juara 3 Nasional Pencak Silat 2025

Sidoarjo – Malinda Dwi Hanjani Setyo, mahasiswi Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) angkatan 2024, berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara 3 Nasional dalam ajang Kejuaraan Pencak Silat Malang Championship 5 Tahun 2025, memperebutkan Piala KEMENDIKBUD RI dan Piala Wali Kota Malang.

Dalam wawancara, Malinda mengungkapkan perasaan haru dan bangganya atas capaian tersebut. “Perasaan saya sungguh sangat senang dan bangga pada diri sendiri karena sudah mau berjuang sampai di titik ini,” ujarnya, Selasa (29/7/2025).

Motivasi Tak Pernah Padam

Sejak duduk di bangku kelas 8 SMP pada tahun 2018, Malinda telah menaruh minat besar terhadap dunia pencak silat. Berawal dari kejuaraan tingkat pondok pesantren se-Jawa dan Bali, ia terus mengasah kemampuan dan mengikuti berbagai kompetisi, dari tingkat provinsi hingga nasional. Meski kerap menemui kegagalan, ia tak pernah menyerah.

“Motivasi yang selalu saya tanamkan adalah, jika orang lain bisa, maka saya juga harus bisa,” tegasnya.

Pernah mengalami kegagalan karena kelebihan berat badan, bahkan kecelakaan parah yang membuatnya gagal ikut seleksi Porprov, tak membuat semangat Malinda padam. Sebaliknya, semua itu ia jadikan batu loncatan untuk terus membuktikan diri, termasuk kepada keluarganya yang sempat meragukan pilihannya menekuni dunia persilatan.

Perjalanan Panjang Penuh Cerita

Sebelum sukses di Malang Championship 5, Malinda sempat mengikuti berbagai kejuaraan, mulai dari O2SN, Kejurkab, Kejurda, hingga PORSENI NU tingkat nasional di Solo. Ia juga aktif dalam berbagai kategori, mulai dari tanding individu, jurus tunggal, hingga beregu bersama rekan satu kampusnya, Tri Maharani.

Tantangan pun tak hanya datang di arena pertandingan. Ketika hendak mengikuti kejuaraan di Malang, ia dan Tri Maharani bahkan hampir membatalkan keberangkatan karena kendala biaya. Berkat dukungan dari dari teman seperjuangan, serta restu orang tua dan pelatih, mereka akhirnya bisa berangkat dan pulang membawa prestasi.

“Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Dengan effort besar, mulai dari waktu, pikiran, hingga materi, semua akhirnya terbayar lunas dengan kemenangan ini,” ucap Malinda penuh haru.

Persiapan Kilat dan Mental Tangguh

Dengan waktu persiapan yang hanya empat hari, Malinda berlatih keras untuk menghadapi kejuaraan nasional ini. Meskipun latihan berlangsung singkat, fokus dan determinasi membuatnya tetap percaya diri. Ia mengakui bahwa tantangan terberat justru saat menjelang pertandingan, ketika rasa gugup mulai muncul.

“Grogi itu manusiawi. Tapi saya punya cara sendiri untuk mengatasi, salah satunya dengan bercanda bersama teman dan tidak mencari tahu siapa lawan saya. Fokus saja pada yang saya bawa ke atas matras,” jelasnya.

Momen Tak Terlupakan dan Pandangan tentang Pencak Silat

Bagi Malinda, momen paling berkesan dalam kejuaraan ini bukan hanya saat menerima medali, tapi kebersamaan bersama tim: tidur bersama di satu tempat, latihan bareng, panik bersama, dan tentu saja saling menyemangati.

“Pencak silat bukan hanya olahraga, tapi juga budaya dan karakter. Mahasiswa punya peran besar dalam melestarikannya dan menyebarkan nilai-nilai seperti disiplin, kerja sama, dan cinta tanah air,” ungkapnya.

Pesan dan Harapan

Malinda menegaskan pentingnya semangat pantang menyerah dalam meraih mimpi. “Jangan pernah takut mencoba meski hasilnya tak sesuai harapan. Habiskan masa sulitmu di masa muda, dan nikmati suksesmu di masa tua. Jangan malas berusaha dan libatkan Tuhan, orang tua, pelatih, dan orang terdekatmu dalam setiap langkahmu,” tuturnya.

Target ke depan, Malinda ingin terus berprestasi dan menorehkan pencapaian yang lebih tinggi lagi di dunia persilatan. Prestasi ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tapi juga ia persembahkan membanggakan almamater UNUSIDA, yang senantiasa mendorong mahasiswa untuk aktif, berprestasi, dan melestarikan budaya bangsa melalui berbagai jalur, termasuk pencak silat.

“Saya ingin terus melangkah lebih jauh. Semua ini bukan hanya tentang kejuaraan, tapi juga tentang membuktikan kepada diri sendiri dan keluarga bahwa saya bisa. Ini baru awal dari perjalanan panjang saya,” pungkasnya. (MY)

Flyer M. Fathir Firmansyah, Mahasiswa Manajemen UNUSIDA Raih Juara 2 Nasional Kompetisi Fotografi Arsitektur (Foto: Humas UNUSIDA)

Fathir Firmansyah, Mahasiswa Manajemen UNUSIDA Raih Juara 2 Nasional Kompetisi Fotografi Arsitektur

Sidoarjo – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Muhammad Fathir Firmansyah, mahasiswa Program Studi Manajemen angkatan 2024, berhasil meraih Juara 2 Nasional dalam Kompetisi Fotografi bertema ‘Architecture Photography’ yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Informatika UPN Veteran Jawa Timur.

Fathir sapaan akrabnya, mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya saat diumumkan sebagai pemenang dalam ajang bergengsi tingkat nasional ini. Ia mengaku sebelumnya hanya pernah menjuarai kompetisi fotografi di tingkat provinsi.

“Perasaan saya sungguh sangat bahagia ketika dinyatakan sebagai pemenang lomba fotografi tingkat nasional ini. Sebelumnya saya hanya memenangkan perlombaan di tingkat provinsi, dan kali ini saya ingin mengetes kemampuan saya, ternyata bisa bersaing dan menang di tingkat nasional,” ungkapnya.

Sebagai alumni SMKN 1 Jabon jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), kecintaan Fathir terhadap dunia fotografi telah tertanam sejak lama. Ia memilih mengikuti lomba ini karena tertarik dengan tema arsitektur, dan kemudian memutuskan untuk memotret bangunan-bangunan bersejarah peninggalan Belanda di kawasan Kota Lama Surabaya.

“Saya memotret bangunan lama peninggalan Belanda, seperti bank, hotel, dan aula. Melalui foto itu, saya ingin menyampaikan pesan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi pusat pemerintahan kolonial di masa lampau,” jelas Fathir.

Dalam proses kreatifnya, Fathir tidak serta merta mengambil gambar tanpa persiapan. Ia melakukan riset lokasi terlebih dahulu, merancang konsep pemotretan, menjelajahi beberapa titik untuk mendapatkan angle terbaik, hingga proses editing yang menghasilkan nuansa vintage khas masa lalu.

Namun, perjalanan Fathir dalam mengikuti lomba ini tidak berjalan mulus. Ia sempat mengalami cobaan berat saat kakeknya meninggal dunia tepat pada hari ia hendak ke Surabaya untuk mengambil gambar.

“Saya naik kereta dari Porong ke Surabaya, tapi saat sampai di Stasiun Gedangan, saya dikabari bahwa kakek saya wafat. Saya pun langsung turun dan naik ojek online ke RSUD Sidoarjo. Tiket kereta saya hangus, tapi beberapa hari setelah suasana mulai membaik, saya kembali berangkat sendirian untuk mengambil gambar,” kenangnya.

Meski harus melalui tantangan emosional dan logistik, perjuangan Fathir terbayar lunas dengan prestasi gemilang. Ia merasa bangga bisa mengharumkan nama kampus UNUSIDA di kancah nasional.

“Effort yang saya keluarkan, baik dari segi waktu, pikiran, maupun materi, akhirnya terbayar. Saya sangat bangga sebagai mahasiswa UNUSIDA bisa ikut berpartisipasi dan membawa nama kampus ke tingkat nasional,” ujar Fathir.

Lebih lanjut, Fathir memberikan motivasi kepada mahasiswa lain untuk tidak ragu mengeksplorasi potensi diri, termasuk melalui hobi.

“Cobalah hal baru. Tidak semua orang harus unggul di akademik. Bisa jadi, prestasi datang dari hobi atau minat yang ditekuni. Itu bisa jadi awal untuk mengembangkan diri,” pesannya.

Ke depan, Fathir berencana mengikuti kembali kompetisi fotografi, dengan tema yang berbeda. Meski fotografi bukan aktivitas utama dalam kesehariannya, ia tetap ingin menjadikannya sebagai ruang untuk berkarya dan mengekspresikan diri di tengah kesibukan kuliah. (MY)

Flyer Romaldi Jabbar, Juara 3 Kejuaraan Pencak Silat Bela Negara Cup 2025 Tingkat Jawa Timur (Foto: istimewa)

Romaldi Jabbar, Mahasiswa Manajemen UNUSIDA Raih Juara 3 Kejuaraan Pencak Silat Bela Negara Cup 2025 Tingkat Jawa Timur

Sidoarjo – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Romaldi Jabbar Rohmansyah, mahasiswa Program Studi Manajemen angkatan 2023, berhasil meraih Juara 3 dalam ajang Kejuaraan Pencak Silat Bela Negara Cup 2025 tingkat Provinsi Jawa Timur.

Kejuaraan bergengsi yang diikuti oleh peserta dari berbagai daerah ini menjadi tantangan tersendiri bagi Jabbar, sapaan akrabnya. Meski bersyukur atas pencapaian tersebut, ia tidak menampik adanya rasa kecewa karena belum berhasil meraih juara pertama.

“Perasaannya pasti senang, tapi juga ada sedihnya karena belum bisa top satu. Tapi ini jadi motivasi buat lebih baik lagi ke depan,” ungkapnya, Jum’at (25/7/2025).

Jabbar mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam kejuaraan ini bukan semata-mata untuk mengejar gelar juara, tetapi lebih kepada menambah jam terbang di dunia non-akademik, terutama dalam bela diri yang telah ditekuninya sejak SMP. Sebelumnya, ia juga pernah meraih Juara 1 dan Juara 3 dalam kejuaraan saat duduk di bangku SMA.

Ketua Himpunan Mahasiswa (Hima) Prodi Manajemen tersebut mengaku persiapan menuju kejuaraan ini diakuinya cukup berat. Banyak peserta merupakan perwakilan dari institusi besar, termasuk dari jajaran kepolisian.

“Yang ikut kebanyakan dari Kapolda, jadi persaingan ketat banget. Tapi saya terus berusaha, yakin, dan yang penting nggak lupa berdoa,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan salah satu momen paling berkesan baginya adalah suasana kekeluargaan yang terasa meski sedang berlaga di atas gelanggang.

“Yang paling berkesan itu ketika di atas gelanggang kita jadi lawan, tapi setelah selesai pertandingan, kita saling bersahabat. Itu nilai yang keren dari pencak silat,” tutur Jabbar.

Sebagai mahasiswa, Jabbar meyakini bahwa peran generasi muda sangat penting dalam melestarikan budaya bela diri tradisional seperti pencak silat.

“Caranya dengan terus ikut event dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya silat. Bukan hanya soal bertanding, tapi juga menjaga identitas budaya bangsa,” jelasnya.

Jabbar berpesan agar terus semangat menjalani proses. Menurutnya, mahasiswa UNUSIDA juga memiliki potensi dan peluang yang sama untuk bersaing meraih prestasi. Capaiannya kali ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UNUSIDA tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu berkontribusi di ranah budaya dan olahraga, khususnya dalam melestarikan seni bela diri pencak silat di tingkat regional maupun nasional.

“Jalan untuk berkembang itu luas. Nggak harus jadi juara dulu, yang penting terus berproses dan semangat,” tuturnya.

Ke depan, ia bertekad masih ingin terus mengikuti kejuaraan-kejuaraan lainnya. Namun, keterbatasan ekonomi kadang menjadi kendala yang harus ia hadapi. Meski begitu, semangatnya tak surut.

“Keinginan ikut event itu selalu ada, tapi kadang terhalang biaya. Tapi saya akan terus cari cara dan jalan supaya tetap bisa ikut dan berkembang,” pungkasnya. (MY)

Prof. Dr. Ir. Hamdani, S.T., M.Cs., IPM, saat menjadi narasumber dalam Kuliah Tamu Teknik Informatika UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Teknik Informatika UNUSIDA Gelar Kuliah Tamu, Angkat Peran Kecerdasan Buatan dalam Solusi Lingkungan

Sidoarjo – Program Studi Teknik Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar kuliah tamu dengan mengangkat tema ‘Sustainable AI: Solusi Lingkungan dan Teknologi Pintar’. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari seorang Guru Besar Besar Fakultas Teknik Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur Prof. Dr. Ir. Hamdani, S.T., M.Cs., IPM. yang juga merupakan pakar teknologi kecerdasan buatan.

Kegiatan ini mendapatkan apresiasi khusus dari Wakil Rektor 1 UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd.I saat membuka acara secara langsung di Hall Lantai 4 Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Jum’at (25/7/2025). Menurutnya, kuliah tamu ini dapat memperluas wawasan mahasiswa tentang pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga berdampak positif terhadap lingkungan.

Dalam pemaparannya, Prof. Hamdani mengajak mahasiswa untuk melihat AI sebagai solusi nyata dalam menghadapi tantangan global, terutama dalam sektor pertanian dan lingkungan. Ia membagikan pengalamannya sebagai peneliti yang banyak mengangkat tema kelapa sawit dalam riset-risetnya. Salah satu penelitian unggulannya adalah sistem pendeteksi tingkat kematangan buah kelapa sawit berdasarkan bentuk dan warna, yang telah dipublikasikan di jurnal internasional dan menjadi salah satu kontribusi penting yang mengantarkannya meraih gelar guru besar.

“Hal yang terlihat sepele seperti mendeteksi kematangan buah, ternyata bisa sangat berguna jika dikembangkan dengan pendekatan teknologi yang tepat. Penelitian itu tidak harus jauh-jauh, cukup dari lingkungan sekitar kita,” ungkapnya saat menyampaikan materi.

Ia menjelaskan bahwa transformasi pertanian dengan AI adalah bagian dari revolusi industri 5.0 yang kini berjalan berdampingan dengan kecerdasan buatan. Melalui pendekatan ini, pekerjaan manusia menjadi lebih mudah dan efisien, termasuk dalam sektor-sektor yang selama ini dianggap tradisional seperti pertanian dan perkebunan.

Selain berbagi pengalaman teknis, Prof. Hamdani juga memberikan motivasi kepada para peserta kuliah tamu. Ia menekankan pentingnya melakukan riset secara konsisten bagi siapa pun yang bercita-cita menjadi akademisi maupun praktisi teknologi yang berpengaruh.

“Kalau mau jadi guru besar, harus rajin meneliti. Yang penting, penelitian itu bermanfaat, dibaca, dan bisa dijadikan referensi oleh banyak orang. Dari situ, kontribusi kita terhadap dunia akan terlihat,” jelasnya.

Ia juga membahas metodologi penelitian yang tepat, pentingnya memilih topik yang relevan, serta bagaimana hasil riset dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Acara berlangsung dengan antusias dan interaktif, diikuti oleh mahasiswa dan dosen dari Fakultas Ilmu Komputer UNUSIDA. Para peserta mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana AI dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dan solutif, tidak hanya di dunia industri, tetapi juga dalam konteks sosial dan lingkungan. (MY)

Penampilan Tari Dewi Sekardadu oleh Dosen dan Mahasiswa PIAUD UNUSIDA saat Pembukaan dan Pelepasan KKN UNUSIDA BERDAYA 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Mengenal Tari Dewi Sekardadu Karya Dosen PIAUD UNUSIDA, Berikut Makna dan Filosofinya

Sidoarjo – Tari Dewi Sekardadu karya dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Rif’atul Anita, M.Pd, telah resmi mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Tari yang mengangkat kearifan lokal melalui sosok legendaris Dewi Sekardadu ini resmi dikenalkan pertama kali dalam acara Pembukaan dan Pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unusida Berdaya 2025 di Pendopo Delta Wibawa, Sidoarjo, Rabu (23/7/2025) lalu.

Anita tercatat sebagai pencipta utama Tari Dewi Sekardadu dalam surat pencatatan penciptaan dengan nomor dengan nomor EC002025092599, tanggal 18 Juli 2025 yang dikeluarkan oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia.

Ia mengungkapkan bahwa penciptaan Tari Dewi Sekardadu merupakan bagian dari inovasi pembelajaran yang digagas dalam mata kuliah Pembelajaran Seni Tari. Karya ini menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran di perguruan tinggi dapat menghasilkan produk kreatif yang bernilai budaya, edukatif, dan dapat diadopsi oleh masyarakat luas.

“Saya ingin mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu menghasilkan produk nyata yang membumi, dan dapat menjadi kontribusi nyata dalam pelestarian budaya lokal,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Jum’at (24/7/2025).

Kepala Prodi PIAUD UNSUDA tersebut menerangkan, Tari Dewi Sekardadu digarap secara kolaboratif oleh tim tari mahasiswa yang diketuai oleh Dewi Asmara Sari, dengan dukungan dari dosen dan pihak kampus. Proses kreatifnya melibatkan berbagai tahapan mulai dari studi literatur hingga eksplorasi gerak dan pembuatan musik iringan.

“Tarian ini terinspirasi dari sosok legendaris Dewi Sekardadu, ibu dari Sunan Giri, yang dikenal sebagai perempuan tangguh, anggun, dan penuh pengorbanan. Nilai-nilai itu kami angkat sebagai pesan moral dalam tarian,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan bahwa makna mendalam tarian ini merupakan refleksi dari tiga pilar utama: perjuangan, kekuatan perempuan, dan nilai-nilai spiritual. Ia menekankan bahwa penciptaan tarian ini lahir dari keinginan kuat untuk memperkenalkan kembali tokoh legendaris Dewi Sekardadu sebagai simbol perempuan yang mulia dalam sejarah islam di Pulau Jawa.

“Tari ini menggambarkan sosok Dewi Sekardadu sebagai ibu yang rela berkorban demi keselamatan anaknya, Raden Paku atau Sunan Giri. Ia menghadapi tekanan sosial dan penderitaan dengan penuh keteguhan demi menyelamatkan buah hatinya,” jelasnya.

Tarian ini tak hanya menonjolkan keindahan gerak, tetapi juga sarat makna dan filosofi yang mendalam. Gerakan dan alunan musik pengiring terinspirasi oleh pengorbanan Dewi Sekardadu yang menjadi representasi dari cinta seorang ibu yang tak terhingga, yang patut dijadikan teladan bagi generasi muda, khususnya dalam menumbuhkan rasa hormat dan kasih sayang terhadap orang tua.

Tari Dewi Sekardadu juga mengangkat potret perempuan sebagai sosok yang kuat dan penuh kebijaksanaan. Meski gerakannya lemah gemulai, di dalamnya tersembunyi kekuatan emosional dan spiritual.

“Kami ingin menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya simbol keindahan, tapi juga sumber kekuatan dan ketabahan. Dewi Sekardadu adalah dewi yang anggun, namun memiliki kekuatan magis dan karakter yang tangguh,” tambahnya.

Lebih dari sekadar ekspresi budaya, tari ini memuat nilai-nilai spiritual dan religius. Melalui simbol-simbol dalam gerakan, penonton diajak untuk merenungi kebesaran Sang Pencipta, serta pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.

“Tari Dewi Sekardadu bukan hanya tentang keindahan, tapi juga pesan spiritual untuk menjaga keseimbangan dalam hidup,” ujarnya.

Dalam proses produksi musik pengiring, tim kreatif berupaya menghadirkan nuansa Islamic Java Modern. Musiknya merupakan kolaborasi unik antara instrumen tradisional Jawa seperti seruling dan woodwind, dengan instrumen modern seperti drum, keyboard, bass, dan gitar. Genre musik yang dipilih adalah Melayu Islami, mencerminkan karakter khas Nahdlatul Ulama.

Lebih lanjut, Anita menegaskan bahwa Tari Dewi Sekardadu ini merupakan karya orisinil dari dosen dan mahasiswa PIAUD Unusida, tanpa bantuan unsur dari luar. Sebab, ia sendiri yang menggarap musik pengiringnya, serta untuk konsep gerak merupakan hasil kolaborasi dari tim tari PIAUD Unusida.

“Kami sangat senang dan bangga akhirnya hasil dari proses kreatif yang banyak mengorbankan waktu dan tenaga ini di bayar dengan penghargaan yang sangat luar biasa, sertifikat HKI merupakan simbol bahwa karya tari ini layak untuk di abadikan,” imbuhnya.

Ia berharap Tari Dewi Sekardadu dapat terus berkembang, menjadi inspirasi bagi masyarakat serta memperkuat peran Unusida dalam menghidupkan budaya lokal Islami di era modern. Tak hanya itu, ia berkomitmen untuk mengenalkan Tari Dewi Sekardadu agar dapat tampil tidak hanya dalam kegiatan internal kampus, tetapi juga meramaikan panggung-panggung budaya, pendidikan, dan keagamaan di luar daerah.

“Harapannya, Tari Dewi Sekardadu dapat menjadi bagian dari identitas seni khas Sidoarjo, dan lebih luas lagi menjadi tarian Islami Nusantara yang dikenal masyarakat baik di tingkat nasional maupun global. Karya ini adalah wujud kontribusi akademik dalam pelestarian budaya islami berbasis lokal,” harapnya.

Penciptaan tarian ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk Kepala Unit Pelaksana Teknik (UPT) Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UNUSIDA, Ahmad Wahyudi, S.Pd.I., M.Pd., yang turut berperan sebagai fasilitator publikasi dan promosi karya.

Menurutnya, Tari Dewi Sekardadu kini bukan hanya menjadi hasil tugas kuliah, tetapi telah bertransformasi menjadi karya seni yang bermakna, dan menegaskan komitmen UNUSIDA dalam mendidik generasi muda yang kreatif, religius, dan cinta budaya.

“Kami mendukung penuh karya-karya mahasiswa yang bernilai edukatif dan budaya seperti ini. Dengan HKI yang telah terbit, kami berharap Tari Dewi Sekardadu bisa menjadi ikon lokal yang menginspirasi banyak pihak,” pungkasnya. (MY)

Pembukaan dan Pelepasan KKN UNUSIDA BERDAYA 2025 di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Pembukaan dan Pelepasan Peserta KKN UNUSIDA BERDAYA 2025, Ratusan Mahasiswa Siap Mengabdi di RT

Sidoarjo – Sebanyak 28 kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) resmi dilepas oleh Bupati Sidoarjo, H. Subandi, S.H., M.Kn., dalam sebuah seremoni khidmat yang berlangsung di Pendopo Delta Wibawa, Rabu (23/7/2025). Acara ini menjadi penanda dimulainya pengabdian 492 mahasiswa yang akan terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Sidoarjo.

KKN UNUSIDA BERDAYA 2025 kali ini mengusung tema ‘Rukun Tetangga Membangun Desa’ yang menjadi momentum untuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat. Para peserta yang berasal dari lima fakultas di UNUSIDA akan menyebar ke 23 Rukun Tetangga (RT) di berbagai pelosok Sidoarjo, satu kelompok KKN tematik dari Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), satu kelompok di Desa Binaan UNUSIDA, serta tiga pondok pesantren mitra.

Dalam sambutannya, Bupati Sidoarjo, H. Subandi menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap kegiatan KKN yang digagas UNUSIDA. Ia menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam membangun masyarakat berbasis potensi lokal.

“Saya bangga dengan semangat mahasiswa UNUSIDA yang siap hadir dan berkontribusi langsung di tengah masyarakat. Ini adalah langkah nyata dalam mendukung pembangunan berbasis pemberdayaan,” ujarnya.

Subandi berharap para mahasiswa tidak sekadar menjadi pelengkap program desa, namun mampu menghadirkan semangat kolaborasi yang membangun. Ia mengajak seluruh peserta untuk menjadi teladan dalam sikap dan tindakan, serta menjaga nama baik almamater selama menjalankan tugas pengabdian.

Tak lupa, ia juga menyampaikan terima kasih kepada para dosen pembimbing yang telah memberikan arahan serta bimbingan kepada para mahasiswa.

“Meskipun hanya berlangsung beberapa minggu, percayalah bahwa tindakan kecil yang tulus akan berdampak besar dalam jangka panjang. Berbaurlah dengan bijak, pulanglah dengan pengalaman berharga,” tuturya.

Sementara itu, Rektor UNUSIDA, H. Fatkul Anam, M.Si., menegaskan bahwa KKN bukan hanya program akademik rutin, melainkan juga wahana pengasahan karakter, kepedulian sosial, dan inovasi mahasiswa.

“Melalui KKN BERDAYA, mahasiswa harus mampu membawa solusi nyata, menjalin kerja sama dengan masyarakat, serta memperkuat semangat gotong royong di setiap titik pengabdian,” jelasnya.

Ia berharap, para mahasiswa dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya membawa nilai-nilai Pancasila, ilmu pengetahuan, semangat ekonomi kerakyatan, serta memperkuat kepercayaan dan hubungan sosial di lingkungan tempat mereka mengabdi.

“Jadilah duta perubahan yang tidak hanya membawa ilmu dari kampus, tetapi juga mampu menghidupkan nilai-nilai luhur bangsa di masyarakat,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian UNUSIDA dalam dua tahun terakhir. Pada tahun 2024, UNUSIDA meraih penghargaan atas kontribusinya dalam pengabdian masyarakat, di tahun yang sama, mahasiswa juga berhasil mencatatkan sejumlah karya intelektual melalui perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai hasil dari kegiatan-kegiatan KKN.

“Pengabdian yang kita lakukan bukan hanya berhenti pada aktivitas lapangan, tapi harus terdokumentasi dan diwariskan menjadi pengetahuan berharga. Ini adalah organisasi sosial akademik yang harus dipertahankan dan diwariskan dari tahun ke tahun. Dan itu adalah tugas kalian,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia sangat berterima kasih kepada seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah, dosen pembimbing lapangan, tokoh masyarakat, serta seluruh stakeholder yang telah mendukung terlaksananya program KKN tahun ini. Ia mengajak seluruh mahasiswa untuk menjalankan tugas ini dengan penuh tanggung jawab, semangat, dan keikhlasan.

“Selamat bekerja dan menjalankan KKN. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan, kesabaran, dan kelancaran dalam setiap langkah kalian. Jadikan momen ini sebagai bekal berharga untuk masa depan,” pungkasnya. (MY)

Benchmarking ITSNU Pekalongan di UNU Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Benchmarking ITSNU Pekalongan ke UNU Sidoarjo: Sinergi Penguatan Tata Kelola Kelembagaan

Sidoarjo – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menerima kunjungan benchmarking dari Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pekalongan, Senin (21/7/2025). Kunjungan ini menjadi sarana silaturahmi dan saling belajar antar perguruan tinggi Nahdlatul Ulama dalam rangka penguatan tata kelola kelembagaan dan peningkatan mutu pendidikan tinggi berbasis nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo, KH Zainal Abidin, dalam sambutannya menyampaikan pesan penting bahwa UNUSIDA harus selalu menjadi lebih maju dan terdepan dibandingkan perguruan tinggi lain di Sidoarjo. Hal ini, menurutnya, bukan hanya menjadi cita-cita, tetapi sebuah amanah yang harus diwujudkan dengan kerja nyata dan semangat khidmat.

“Menurut penelitian yang dilakukan PCNU Sidoarjo, sebanyak 67% warga Sidoarjo adalah bagian dari Nahdlatul Ulama. Maka NU harus menjadi pelopor dalam bidang kesehatan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. UNUSIDA sebagai lembaga pendidikan tinggi NU harus mengambil peran strategis dalam misi besar ini,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya menata dan menyepakati arah gerak organisasi melalui statuta yang jelas. Berbagai organ di UNUSIDA, baik akademik maupun non-akademik harus memainkan peran secara proporsional. Dalam hal ini, Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNUSIDA yang terdiri dari banyak praktisi profesional turut mengambil peran penting dalam membangun tata kelola perguruan tinggi yang kuat dan berdaya saing.

“Melalui komunikasi dan sinergi baik dari praktisi berpengalaman, dapat mampu menjadi motor penggerak pembangunan perguruan tinggi yang unggul,” katanya.

Dalam forum tersebut, turut dibahas pentingnya memperkuat komunikasi dan koordinasi antara BPP, Rektorat UNUSIDA, dan seluruh stakeholder lainnya, seperti PCNU Sidoarjo, PC Muslimat NU Sidoarjo, bahkan sampai dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Prinsip musyawarah menjadi landasan utama dalam pengambilan keputusan strategis, dengan menjunjung tinggi kolaborasi dan pelibatan semua pihak.

“Dengan semangat khidmat dan niat untuk menyebarkan kebaikan, UNUSIDA terus melangkah untuk mewujudkan pendidikan tinggi NU yang unggul, inklusif, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan umat dan bangsa,” imbuhnya.

Rektor UNUSIDA, H Fatkul Anam menyampaikan apresiasi atas kehadiran ITSNU Pekalongan. Ia menyebutkan bahwa pihaknya sangat terbuka untuk berbagi pengalaman, termasuk sistem tata kelola kampus yang telah diterapkan dan dikembangkan selama ini.

“Kegiatan benchmarking ini sangat penting untuk saling bertukar gagasan dan praktik baik. Kami terbuka terhadap berbagai masukan demi kemajuan UNUSIDA dan siap berkontribusi lebih besar untuk NU dan masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Sementara itu, Rektor ITSNU Pekalongan H Ali Imron juga menyampaikan kekaguman terhadap tata kelola UNUSIDA yang dinilai sudah cukup matang dan memiliki arah strategis yang jelas. Mereka berharap kunjungan ini menjadi awal dari sinergi yang lebih erat antar kampus NU di seluruh Indonesia.

“Terima kasih atas sambutan hangat dan kesempatan belajar yang diberikan. Kami menilai UNUSIDA telah menunjukkan kematangan dalam sistem pengelolaan yang patut dijadikan inspirasi,” ungkapnya. (MY)

Flyer Ucapan Prestasi Juara 1 Funtaxtic 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Bangga! 2 Mahasiswi Prodi Akuntansi UNUSIDA Raih Juara 1 Lomba Poster Funtaxtic 2025

Sidoarjo – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Kali ini dua mahasiswi Program Studi (Prodi) Akuntansi, Chusnul Khotimah dan Reni Sagita, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Poster tingkat perguruan tinggi pada ajang Funtaxtic 2025, yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Timur II.

Kompetisi tahunan yang mengusung tema ‘Pajak Kuat, Indonesia Maju’ ini bertujuan untuk meningkatkan literasi pajak di kalangan generasi muda. Melalui berbagai kategori lomba, termasuk desain poster, DJP Jatim II mengajak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk menyampaikan pesan-pesan penting tentang pajak secara kreatif dan komunikatif.

Poster karya Chusnul dan Reni berjudul ‘Pahlawan di Era Modern dengan Bayar Pajak untuk Indonesia Emas’, sukses mencuri perhatian dewan juri. Lewat visual yang bersih, modern, dan penuh makna, mereka menyampaikan pesan bahwa membayar pajak adalah bentuk kontribusi nyata dan heroik dari warga negara dalam pembangunan bangsa.

“Kami ingin mengubah persepsi bahwa pajak itu membosankan dan hanya soal kewajiban,” ujarnya.

Chusnul menjelaskan, partisipasinya kali ini menjadi sarana mengedukasi masyarakat tentang pajak. Ia menilai lomba ini sebagai wadah untuk menyuarakan pentingnya pajak secara kreatif. Sebab, penggunaan media poster dinilai sangat strategis dalam menyampaikan pesan pajak kepada generasi digital.

“Lewat poster ini, kami ingin menunjukkan bahwa pajak adalah bentuk partisipasi aktif kita membangun masa depan bersama. Setiap kontribusi kecil bisa menjadi bagian dari perubahan besar,” katanya.

Dalam posternya, mereka menggunakan analogi menarik:

  • Pahlawan modern = Warga negara yang taat membayar pajak

  • Perjuangan pahlawan = Membayar pajak demi kemajuan negara

  • Keuntungan pajak = Ekonomi stabil, masyarakat sejahtera, dan fasilitas publik membaik

Sementara itu, Reni Sagita menambahkan bahwa kesuksesan poster mereka adalah hasil dari proses riset mendalam dan kolaborasi yang solid.

“Kami benar-benar ingin poster ini bisa dipahami semua kalangan, bahkan yang tidak punya latar belakang akuntansi. Pesannya harus relatable, desainnya menarik, tapi tetap akurat secara data,” jelasnya.

Kreativitas dan pesan yang kuat dalam poster tersebut dinilai unggul oleh tim juri, yang terdiri dari perwakilan DJP dan praktisi desain kreatif. Kriteria penilaian mencakup orisinalitas ide, relevansi pesan, estetika visual, dan kekuatan komunikasi.

Kemenangan ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Akuntansi UNUSIDA tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kemampuan komunikasi visual yang kuat. Program Studi Akuntansi terus mendorong mahasiswanya untuk aktif berpartisipasi dalam berbagai kompetisi bertema isu-isu nasional seperti literasi finansial dan pajak.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa edukasi pajak bisa disampaikan dengan cara yang kreatif, menyenangkan, dan tetap berdampak,” imbuhnya.

DJP Jatim II juga menyampaikan apresiasi atas antusiasme mahasiswa dan kualitas karya yang ditampilkan dalam Funtaxtic 2025. Menurut mereka, karya-karya seperti ini sangat efektif dalam menjangkau generasi Z dan milenial, kelompok yang menjadi kunci dalam transformasi budaya taat pajak di Indonesia.

Ke depan, ia berharap semakin banyak kolaborasi antara akademisi dan praktisi pajak untuk menumbuhkan kesadaran pajak yang lebih luas dan berkelanjutan.

“Semoga prestasi ini menjadi contoh nyata bagaimana generasi muda bisa menjadi agen perubahan melalui karya yang edukatif, inspiratif, dan penuh makna,” pungkasnya. (MY)

Seminar Nasional Gen-Z Preneur 2025 HIMA Manajemen UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

HIMA Manajemen UNUSIDA Gelar Seminar Nasional GEN-Z PRENEUR 2025: Cetak Generasi Tangguh di Era Digital dan Masyarakat 5.0

Sidoarjo – Himpunan Mahasiswa (HIMA) Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menggelar Seminar Nasional Gen-Z Preneur 2025 dengan mengusung tema ‘Membangun Mindset Entrepreneurial Generasi Z untuk Sukses di Era Digital dan Masyarakat 5.0′. Seminar yang diadakan secara hybrid ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan mahasiswa dan pelajar yang mengikuti kegiatan secara langsung dan zoom meeting, Sabtu (19/7/2025).

Acara ini menghadirkan dua narasumber inspiratif yang sudah dikenal luas di dunia kewirausahaan muda Jawa Timur, yaitu: Adinda Bunga Aprilia, Influencer UMKM Jawa Timur sekaligus penggerak kreatif usaha lokal di kalangan Gen-Z, dan Bima Ramadhan Winner Duta UMKM Jawa Timur yang dikenal aktif dalam membina komunitas bisnis pemula.

Ketua HIMA Prodi Manajemen UNUSIDA, Romaldi Jabbar menyampaikan bahwa Gen-Z harus mampu keluar dari zona nyaman dan mulai menatap masa depan dengan mental wirausaha. Oleh karena itu, kegiatan ini dapat menjadi wadah inspiratif bagi generasi muda untuk membekali diri dengan pola pikir kewirausahaan yang adaptif, strategis, dan visioner.

“Jangan hanya cukup sudah bilang pengen usaha, saatnya mulai dari nol, kelola waktu dan budget tanpa drama, serta bangun strategi dan mental bisnis yang tahan banting di era digital ini,” tegasnya.

Ia mengatakan, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bentuk kontribusi nyata untuk membekali mahasiswa dengan mindset entrepreneurship, agar mereka siap menghadapi dunia kerja maupun membangun bisnis sendiri di era persaingan global.

Seminar ini juga membahas berbagai topik penting seperti cara memulai usaha dengan modal minim namun berdampak besar, mengelola waktu, keuangan, dan tim dalam dunia bisnis digital, membangun personal branding sebagai aset utama wirausahawan masa kini, serta studi kasus kisah sukses entrepreneur muda di era 5.0.

“Peran aktif mahasiswa sebagai Gen Z saat ini tidak hanya tentang melek teknologi, tapi juga siap bersaing dan menciptakan solusi inovatif melalui jalur wirausaha,” ungkapnya.

Suasana forum dikemas dinamis, interaktif, dan relatable dengan dunia Gen Z. Mulai dari sesi tanya jawab, diskusi kelompok, hingga mini challenge yang mendorong peserta untuk berpikir kritis dan kreatif.

Dalam pemaparannya, Adinda Bunga Aprilia menekankan pentingnya membangun personal branding dan memanfaatkan media sosial untuk mendorong pertumbuhan usaha kecil.

“Era digital sudah di tangan kalian, tinggal keberanian untuk ‘action’ yang harus ditumbuhkan. Jangan tunggu sempurna, mulai saja dulu,” ujarnya.

Menurutnya, Gen Z saat ini sangat diuntungkan dengan perkembangan zaman yang serba digital. Mudahnya akses informasi menjadi peluang tersendiri bagi siapapun untuk memulai sebuah usaha.

“Gen Z punya semua modal untuk sukses sudah tersedia, mulai dari teknologi, akses informasi, dan kreativitas. Tinggal bagaimana kita membuka mindset bahwa usaha bukan harus besar dulu, tapi dimulai dari langkah kecil yang konsisten,” terangnya.

Sementara itu, Bima Ramadhan berbagi kisah perjalanannya dari nol hingga berhasil menjadi Duta UMKM Jatim. Ia menekankan bahwa setiap mahasiswa memiliki potensi untuk sukses asal memiliki mental tahan banting dan kemauan belajar tanpa henti.

“Jangan cuma jadi Gen-Z yang rebahan. Jadilah Gen-Z yang cuan-in peluang dan berkontribusi untuk masyarakat,” pungkasnya. (MY)