Pos

Diklatsar II MAPANUSIDA di Lembah Madu Pandaan (Foto: Humas UNUSIDA)

Diklatsar II MAPANUSIDA Jadi Momentum Meneguhkan Kembali Nilai Khitah Gerakan Intelektual Soe Hok Gie

PASURUAN — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Alam Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (MAPANUSIDA) kembali meneguhkan komitmennya dalam membangun karakter mahasiswa melalui pelaksanaan Diklatsar II yang dilaksanakan di Lembah Madu, Pandaan, Sabtu-Ahad (20-21/6/2026).

Ketua UKM MAPANUSIDA, Muhammad Reza Sujali menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda regenerasi organisasi, tetapi juga sebagai ruang transformasi nilai untuk membentuk pribadi yang tangguh, kritis, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan realitas sosial.

Semangat tersebut berangkat dari pemikiran Soe Hok Gie, tokoh yang dikenal sebagai penggagas lahirnya organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) di Indonesia. Gie mendirikan Mapala sebagai bentuk kegelisahannya terhadap kondisi mahasiswa yang dinilai terlalu larut dalam politik praktis dan kehilangan independensi berpikir. Menurutnya, kampus harus menjadi ruang lahirnya manusia merdeka yang kritis, bukan sekadar perpanjangan kepentingan tertentu.

“Diklatsar bukan sekadar gerbang masuk organisasi, melainkan ruang transformasi manusia. Dari proses ini, kami berharap lahir kader-kader yang tidak hanya kuat di medan alam, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, kemampuan berpikir kritis, dan kesadaran untuk berkontribusi bagi masyarakat,” jelasnya.

Melalui Mapala, Gie menghadirkan ruang yang inklusif dan nonpolitik, tempat mahasiswa dari berbagai latar belakang dapat belajar bersama tanpa sekat kepentingan. Alam dipilih sebagai media pembelajaran karena dianggap sebagai ruang paling jujur untuk memahami kehidupan. Di alam, manusia dituntut untuk mengandalkan kemampuan diri, menjunjung solidaritas, serta menjaga kejujuran dalam menghadapi berbagai tantangan.

Nilai-nilai tersebut kini terus dihidupkan oleh MAPANUSIDA. Bagi organisasi ini, mendaki gunung, menjelajah alam, maupun mengikuti kegiatan lapangan bukan sekadar aktivitas rekreasi, melainkan cara untuk membaca realitas kehidupan secara lebih autentik. Setiap perjalanan, rasa lelah, hingga proses bertahan dalam situasi sulit menjadi bagian dari pendidikan karakter yang membentuk ketahanan mental dan kesadaran kritis.

Di tengah era modern, organisasi pecinta alam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari anggapan sebagai organisasi yang kurang diminati, stigma aktivitas berisiko, hingga pandangan bahwa kegiatan Mapala tidak memiliki kontribusi akademik yang signifikan. Padahal, di balik setiap prosesnya, terdapat pembelajaran penting tentang disiplin, kepemimpinan, solidaritas, manajemen risiko, serta kepedulian terhadap lingkungan.

Ia menegaskan bahwa organisasi pecinta alam merupakan ruang pembelajaran yang mampu membentuk karakter, mental, dan kepemimpinan mahasiswa melalui berbagai pengalaman nyata di lapangan. Menurutnya, setiap kegiatan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada eksplorasi alam, tetapi juga menjadi proses pembelajaran yang membangun nilai-nilai kehidupan.

Oleh karena itu, melalui Diklatsar II ini, MAPANUSIDA berupaya menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan proses kaderisasi yang berorientasi pada transfer nilai. Peserta tidak hanya ditempa secara fisik, tetapi juga diajak memahami makna dari setiap proses yang dijalani. Ketahanan fisik dipadukan dengan pembentukan mental, sehingga melahirkan pribadi yang mampu menghadapi dinamika kehidupan dengan lebih matang.

“MAPANUSIDA bukan hanya tempat berkumpulnya mahasiswa yang memiliki minat terhadap alam bebas. Lebih dari itu, organisasi ini menjadi laboratorium kehidupan yang mengajarkan tentang tanggung jawab, kerja sama, kepedulian sosial, kedisiplinan, hingga kemampuan mengambil keputusan dalam berbagai situasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa aktivitas di alam terbuka memberikan pengalaman yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas. Berhadapan langsung dengan berbagai kondisi alam menuntut setiap anggota untuk mampu beradaptasi, berpikir cepat, dan bekerja sama dalam menyelesaikan tantangan yang dihadapi.

Melalui proses tersebut, mahasiswa belajar memahami arti penting kepemimpinan, solidaritas, serta rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun kelompok. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal berharga yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun saat terjun ke masyarakat.

Menurutnya, keberadaan organisasi pecinta alam juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda. Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks, mahasiswa dituntut untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga mampu mengambil peran sebagai bagian dari solusi.

“Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab bersama. Melalui berbagai kegiatan konservasi, edukasi lingkungan, dan pengabdian kepada masyarakat, anggota MAPANUSIDA diajak untuk menjadi pribadi yang peduli terhadap keberlangsungan lingkungan hidup,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Reza menuturkan bahwa pengalaman berorganisasi di MAPANUSIDA turut membentuk mental tangguh yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Kegiatan lapangan yang menuntut ketahanan fisik dan mental menjadi sarana bagi anggota untuk mengenali potensi diri sekaligus belajar mengelola berbagai situasi yang tidak terduga.

Baginya, setiap perjalanan di alam merupakan proses pembelajaran yang sarat makna. Alam mengajarkan manusia tentang kesederhanaan, kesabaran, rasa syukur, dan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya.

“Alam bukan sekadar tujuan perjalanan. Alam adalah ruang belajar yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Ketika berada di alam, kita belajar menghargai proses, memahami keterbatasan diri, dan menyadari bahwa manusia merupakan bagian dari ekosistem yang harus hidup berdampingan dengan lingkungan,” pungkasnya.

Penulis: Rifki Hidayat (MY)

Beberapa Tangkapan Layar Zoom Meeting saat Webinar Internasional BEM FKIP UNUSIDA (Foto: Istimewa)

BEM FKIP UNUSIDA Gelar International Webinar 2026, Hadirkan Ruang Akademik yang Bedaya Saing Global

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan International Webinar 2026 dengan mengusung tema ‘The Heart of Education: Everyone Can Inspire, Everyone Can Educate’ pada Rabu (17/6/2026). Kegiatan yang dilaksanakan secara luring di Auditorium Lantai 5 Kampus II UNUSIDA dan daring melalui Zoom Meeting ini diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan.

Webinar internasional tersebut menghadirkan narasumber inspiratif, yakni Dr. Nico Irawan, M.Pd dan Dr. Hj. Farida Ulvi Naimah, M.H.I. Sementara itu, Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., hadir sebagai keynote speaker yang memberikan pandangan mengenai pentingnya pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan dan inspirasi.

Dalam sambutannya, Muawwinatul Laili menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, peserta, mahasiswa, serta panitia yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut. Menurutnya, tema webinar menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, melainkan hadir dalam setiap aspek kehidupan.

“Pendidikan adalah panggilan hati. Setiap individu memiliki potensi untuk mengajar melalui tindakan, nilai-nilai, dan pengalaman yang dimilikinya. Karena itu, setiap orang dapat menjadi inspirasi dan setiap orang dapat menjadi pendidik,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa webinar ini menjadi ruang penting untuk bertukar gagasan, pengalaman, serta inovasi pendidikan yang dapat memperkuat kolaborasi antarpendidik dan akademisi lintas negara. Melalui diskusi yang berlangsung, peserta diharapkan mampu memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan masing-masing.

Sementara itu, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya webinar internasional yang diinisiasi oleh BEM FKIP UNUSIDA. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi bukti semangat mahasiswa dalam menghadirkan ruang akademik yang berkualitas dan berdaya saing global.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Dekan FKIP beserta jajarannya, serta Ketua BEM FKIP dan seluruh panitia yang telah menyelenggarakan kegiatan luar biasa ini. Kehadiran lebih dari 280 peserta menunjukkan tingginya antusiasme terhadap pengembangan pendidikan dan kolaborasi internasional,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hadi Ismanto juga mengajak mahasiswa untuk memaknai pendidikan secara lebih luas. Menurutnya, pendidikan bukan hanya soal proses belajar mengajar di ruang kelas, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu memberikan inspirasi, teladan, serta menciptakan peluang bagi masyarakat.

“Jantung pendidikan bukan hanya kurikulum, gedung sekolah, atau teknologi pembelajaran, melainkan manusia yang saling menginspirasi dan membimbing satu sama lain. Pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia,” tegasnya.

Ia juga mendorong mahasiswa FKIP untuk berani berinovasi dan mengembangkan jiwa kewirausahaan di bidang pendidikan. Menurutnya, perkembangan teknologi digital membuka peluang yang luas bagi para pendidik untuk menciptakan media pembelajaran, platform edukasi, maupun berbagai inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki peran dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak harus menjadi guru di sekolah, setiap orang dapat berkontribusi sebagai pendidik melalui keteladanan, kreativitas, dan aksi nyata yang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

“Semoga kegiatan menjadi wadah untuk memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus menginspirasi mahasiswa FKIP UNUSIDA agar terus berkembang menjadi pendidik yang inovatif, adaptif, dan mampu menjawab tantangan pendidikan di era global,” pungkasnya.

HIMA Teknik Kimia UNUSIDA Gelar Pelatihan Software ANSYS untuk Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa di Bidang Simulasi Teknik 1

HIMA Teknik Kimia UNUSIDA Gelar Pelatihan Software ANSYS untuk Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa di Bidang Simulasi Teknik

SIDOARJO – Himpunan Mahasiswa (HIMA) Teknik Kimia Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas dan kompetensi mahasiswa melalui penyelenggaraan kegiatan Pelatihan Software ANSYS. Kegiatan yang menjadi salah satu program kerja HIMA Teknik Kimia ini dilaksanakan di Auditorium Lantai 4 Kampus 2 Lingkar Timur UNUSIDA, Sabtu (28/6/2026).

Pelatihan tersebut diikuti oleh 17 mahasiswa Teknik Kimia yang antusias untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan mereka dalam menggunakan perangkat lunak ANSYS. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Muhammad Nazarullah, mahasiswa Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), yang memiliki pengalaman dan kompetensi dalam pemanfaatan software simulasi teknik.

Ketua panitia kegiatan menyampaikan bahwa pelatihan ini diselenggarakan sebagai upaya untuk memberikan wawasan tambahan kepada mahasiswa di luar materi yang diperoleh di bangku perkuliahan. Di era industri modern yang semakin mengandalkan teknologi digital dan perangkat lunak rekayasa, kemampuan mengoperasikan software simulasi menjadi salah satu kompetensi yang sangat dibutuhkan oleh calon lulusan Teknik Kimia.

“Pelatihan ANSYS ini merupakan salah satu bentuk pengembangan kapasitas mahasiswa agar memiliki bekal keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia industri. Kami berharap peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikan software tersebut dalam berbagai kebutuhan analisis dan simulasi teknik,” ujarnya.

ANSYS sendiri merupakan salah satu perangkat lunak berbasis simulasi yang banyak digunakan dalam berbagai bidang teknik, termasuk teknik kimia, teknik mesin, teknik sipil, dan teknik industri. Software ini memungkinkan pengguna untuk melakukan analisis, pemodelan, serta simulasi berbagai fenomena teknik secara virtual sehingga dapat membantu proses perancangan dan pengambilan keputusan secara lebih efektif dan efisien.

Kegiatan diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh panitia pelaksana. Setelah itu, peserta mendapatkan pengenalan mengenai software ANSYS, mulai dari fungsi, fitur utama, hingga penerapannya dalam dunia akademik maupun industri. Materi yang disampaikan dirancang agar mudah dipahami oleh mahasiswa yang baru pertama kali mengenal software tersebut maupun peserta yang telah memiliki dasar pengetahuan sebelumnya.

Dalam pemaparannya, Muhammad Nazarullah menjelaskan pentingnya penguasaan perangkat lunak simulasi sebagai salah satu keterampilan pendukung bagi mahasiswa teknik. Menurutnya, perkembangan teknologi industri saat ini menuntut lulusan perguruan tinggi untuk tidak hanya menguasai konsep teoritis, tetapi juga memiliki kemampuan teknis yang dapat menunjang proses kerja secara profesional.

“Penggunaan software simulasi seperti ANSYS dapat membantu mahasiswa memahami berbagai fenomena teknik secara lebih visual dan terukur. Selain itu, kemampuan ini juga menjadi nilai tambah ketika nantinya memasuki dunia kerja karena banyak perusahaan yang memanfaatkan simulasi untuk meningkatkan efisiensi proses dan mengurangi risiko kesalahan dalam perancangan,” jelasnya.

Tidak hanya menerima materi secara teoritis, peserta juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sesi praktik langsung. Pada sesi ini, narasumber membimbing peserta dalam mengoperasikan software ANSYS, mulai dari proses pembuatan model sederhana, pengaturan parameter simulasi, hingga interpretasi hasil analisis yang dihasilkan oleh program.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta aktif mengikuti setiap tahapan praktik serta berdiskusi mengenai berbagai kendala yang sering ditemui saat menggunakan software simulasi. Pendekatan pembelajaran yang menggabungkan teori dan praktik ini dinilai mampu membantu peserta memahami materi dengan lebih baik.

Salah satu peserta mengungkapkan bahwa pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru yang sangat bermanfaat. Menurutnya, kemampuan menggunakan software ANSYS akan menjadi bekal penting dalam menunjang proses pembelajaran maupun pengembangan kompetensi di bidang teknik kimia.

“Saya merasa pelatihan ini sangat membantu karena kami bisa langsung mencoba menggunakan software ANSYS. Selama ini kami hanya mendengar tentang software simulasi, tetapi melalui kegiatan ini kami dapat memahami cara kerjanya secara langsung,” ungkapnya.

Selain sesi praktik, kegiatan juga diisi dengan sesi tanya jawab yang berlangsung aktif. Peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali lebih dalam mengenai fitur-fitur ANSYS, penerapan software dalam penelitian, hingga peluang penggunaannya dalam menyelesaikan berbagai permasalahan teknik di dunia industri.

Melalui kegiatan ini, HIMA Teknik Kimia UNUSIDA berharap dapat mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang teknologi dan rekayasa. Pelatihan semacam ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan serta meningkatkan kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif.

Secara keseluruhan, kegiatan Pelatihan Software ANSYS berjalan dengan tertib, lancar, dan sesuai dengan susunan acara yang telah direncanakan. Antusiasme peserta yang tinggi menjadi indikator bahwa pelatihan berbasis keterampilan teknis seperti ini sangat dibutuhkan oleh mahasiswa sebagai pelengkap pembelajaran akademik.

Melalui program kerja yang berorientasi pada peningkatan kompetensi mahasiswa, HIMA Teknik Kimia UNUSIDA terus berupaya menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bermanfaat secara akademik, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah bagi pengembangan karier mahasiswa di masa depan. Diharapkan, pelatihan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan materi yang lebih luas sehingga semakin banyak mahasiswa yang memperoleh kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan daya saingnya di era industri berbasis teknologi. (Dharma Putra)

BEM UNUSIDA Hadirkan Diskusi Kritis Lewat Pemutaran Film Dokumenter Pesta Babi (Foto: Humas UNUSIDA)

BEM UNUSIDA Gelar Nobar Film Dokumenter Pesta Babi, Bangun Kepekaan Sosial Mahasiswa

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (BEM UNUSIDA) bekerja sama dengan berbagai organisasi kemahasiswaan dan komunitas intelektual kampus menyelenggarakan kegiatan Nonton Bareng (Nobar) film dokumenter Pesta Babi di area parkir belakang Gedung A UNUSIDA, Rabu (10/06/2026) malam. Mengusung tema ‘Membaca Realitas Sosial Melalui Film Dokumenter: Ruang Belajar, Refleksi, dan Diskusi Mahasiswa’, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran alternatif yang mengajak mahasiswa memahami berbagai persoalan sosial, budaya, dan lingkungan yang terjadi di Indonesia, khususnya di Papua.

Suasana hangat dan penuh antusiasme mahasiswa dari berbagai program studi mewarnai jalannya pemutaran film yang berlangsung secara khidmat. Film dokumenter Pesta Babi menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat adat Papua yang berhadapan dengan berbagai perubahan sosial akibat ekspansi pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam.

Melalui narasi visual yang kuat, film tersebut tidak hanya menampilkan persoalan hilangnya ruang hidup masyarakat adat, tetapi juga menggambarkan pergulatan identitas budaya, hubungan manusia dengan alam, serta tantangan yang dihadapi masyarakat lokal dalam mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun.

Presiden Mahasiswa UNUSIDA, M. Rafly Afandi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mahasiswa untuk memperluas ruang belajar di luar lingkungan kelas. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi di tengah masyarakat.

“Film dokumenter memiliki kekuatan untuk menghadirkan realitas yang sering kali tidak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak mahasiswa melihat Indonesia secara lebih utuh, memahami keberagaman persoalan yang dihadapi masyarakat, serta menumbuhkan empati sebagai fondasi penting dalam kehidupan berbangsa,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut mendapat apresiasi dari Kepala Biro Kemahasiswaan, Karir, dan Alumni UNUSIDA, Fajar Nur Yasin, S.Pd., M.Pd. Ia menilai bahwa inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan ruang diskusi yang kritis dan edukatif merupakan bentuk nyata pengembangan budaya akademik di lingkungan kampus.

Menurutnya, media budaya dan seni seperti film dokumenter dapat menjadi instrumen pembelajaran yang relevan untuk membantu mahasiswa memahami kompleksitas realitas sosial yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Pihaknya terus berupaya menghadirkan ruang dialog yang sehat, reflektif, dan bermakna bagi mahasiswa.

“Kampus harus menjadi ruang yang terbuka bagi pertukaran gagasan dan refleksi kritis. Film dokumenter bukan sekadar tontonan, melainkan sumber pengetahuan yang mampu memperkaya perspektif mahasiswa terhadap realitas sosial yang kompleks. Inilah bentuk pembelajaran kontekstual yang perlu terus dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi,” ungkapnya.

Setelah pemutaran film selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan dan pengalaman. Forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus pendalaman isu yang diangkat dalam film.

Founder The Indonesian Foresight Research Institute (IFRI), Ali Mursyid Azisi, menyoroti pentingnya kemampuan generasi muda dalam membaca arah pembangunan secara kritis dan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa berbagai persoalan yang ditampilkan dalam film tidak dapat dipandang sebagai isu lokal semata, melainkan bagian dari tantangan pembangunan yang dihadapi bangsa secara lebih luas.

“Persoalan yang ditampilkan dalam film ini bukan sekadar isu lokal, melainkan gambaran tentang bagaimana pembangunan harus selalu mempertimbangkan aspek sosial, budaya, dan lingkungan. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan melihat persoalan hari ini dalam konteks masa depan agar mampu melahirkan solusi yang lebih berkeadilan,” jelasnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Bung Wawan Leak, Senator ProDEM sekaligus Eksponen 80-an. Ia mengajak mahasiswa untuk terus menjaga keberpihakan terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini kurang mendapatkan ruang dalam narasi pembangunan nasional.

“Bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya membangun gedung-gedung tinggi, tetapi bangsa yang mampu mendengar suara masyarakat di pinggiran. Film ini mengingatkan kita bahwa kemajuan harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap martabat manusia dan hak-hak masyarakat adat,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Studi Sosial Budaya dan Islam Nusantara UNUSIDA, M. Idham Kholiq, S.Sos., M.AP., memberikan perspektif mengenai pentingnya menjaga identitas budaya masyarakat adat sebagai bagian dari kekayaan bangsa Indonesia. Menurutnya, kehilangan ruang hidup bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga berkaitan dengan hilangnya memori kolektif dan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Ketika suatu komunitas kehilangan ruang hidupnya, yang hilang bukan hanya tanah secara fisik, tetapi juga memori kolektif, pengetahuan lokal, dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, menjaga keberlanjutan budaya sama pentingnya dengan menjaga keberlanjutan lingkungan,” tuturnya.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta yang menyoroti isu lingkungan, hak masyarakat adat, pembangunan berkelanjutan, hingga peran generasi muda dalam menghadapi tantangan sosial kontemporer. Melalui forum tersebut, mahasiswa diajak untuk tidak hanya menjadi penonton atas berbagai persoalan bangsa, tetapi juga menjadi bagian dari solusi melalui penguatan literasi, riset, advokasi, dan aksi sosial yang konstruktif.

 

Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)

BEM FILKOM dan UKM Mahasiswa Unggul UNUSIDA Gelar Seminar Personal (Foto: Humas UNUSIDA)

Kolaboratif! BEM FILKOM dan UKM Mahasiswa Unggul UNUSIDA Gelar Seminar Personal Branding for Career

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan seminar bertajuk ‘Personal Branding for Career’ di Auditorium Kampus 2 UNUSIDA, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan yang berlangsung pada pagi hari tersebut merupakan hasil kolaborasi antara BEM FILKOM dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Unggul (MU) sebagai upaya meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif.

Dengan mengusung tema ‘Optimalkan LinkedIn dan CV agar Diminati Recruiter‘, seminar ini memberikan wawasan praktis kepada mahasiswa mengenai pentingnya membangun citra profesional sejak masa perkuliahan. Kegiatan yang diselenggarakan secara gratis tersebut mendapat sambutan positif dari mahasiswa berbagai program studi yang antusias mengikuti seluruh rangkaian acara.

Seminar menghadirkan Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T. sebagai narasumber utama. Sebagai akademisi sekaligus praktisi yang memiliki pengalaman dalam pengembangan karier mahasiswa, kehadiran beliau menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta yang ingin memahami strategi membangun personal branding yang efektif.

Dalam pemaparannya, Dr. Arda menjelaskan bahwa personal branding merupakan salah satu aspek penting yang dapat menentukan keberhasilan seseorang dalam memasuki dunia profesional.

“Personal branding bukan hanya tentang bagaimana seseorang terlihat di media sosial, tetapi juga bagaimana membangun reputasi, kompetensi, dan nilai diri yang dapat dipercaya oleh perusahaan maupun recruiter,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan platform LinkedIn sebagai sarana profesional yang dapat membantu mahasiswa memperluas jaringan, membangun kredibilitas, dan menemukan peluang karier yang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.

“LinkedIn merupakan media profesional yang dapat digunakan untuk memperluas jaringan, mencari peluang kerja, serta menampilkan pengalaman dan keterampilan yang dimiliki secara lebih profesional,” tuturnya.

Selain membahas optimalisasi profil LinkedIn, Dr. Arda juga memberikan panduan mengenai penyusunan Curriculum Vitae (CV) yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. Peserta diajak memahami bagaimana menyusun CV yang informatif, menarik, dan mampu menonjolkan kompetensi yang relevan dengan posisi yang dilamar.

Suasana seminar berlangsung interaktif ketika peserta diminta untuk meninjau kembali profil LinkedIn dan CV yang mereka miliki. Narasumber memberikan berbagai contoh nyata mengenai kesalahan yang sering dilakukan oleh pencari kerja, mulai dari penyusunan informasi yang kurang tepat hingga tampilan profil yang belum optimal. Melalui sesi tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk memahami langkah-langkah perbaikan yang dapat meningkatkan daya tarik profil profesional mereka di mata recruiter.

Ketua Pelaksana kegiatan, Nur Hidayat, menjelaskan bahwa seminar ini dirancang untuk memberikan bekal yang relevan bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis.

“Melalui seminar ini, peserta memperoleh banyak manfaat, mulai dari wawasan mengenai personal branding, pemahaman tentang optimalisasi LinkedIn, teknik penyusunan CV profesional, hingga pengalaman praktik langsung bersama narasumber,” jelasnya.

Menurutnya, penguasaan keterampilan dalam membangun citra profesional menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa dan lulusan baru. Tidak hanya memiliki kemampuan akademik yang baik, mahasiswa juga perlu mampu mempresentasikan kompetensi dan pengalaman yang dimiliki secara efektif kepada perusahaan maupun institusi yang membutuhkan tenaga kerja.

Ia berharap para peserta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh untuk membangun citra profesional yang lebih baik, meningkatkan kualitas profil LinkedIn dan CV, serta mempersiapkan diri menghadapi persaingan dunia kerja dengan lebih percaya diri, kompetitif, dan siap bersaing di era digital.

“Kegiatan ini sekaligus menjadi kami di Organisasi Mahasiswa (Ormawa) dalam mendukung pengembangan soft skills mahasiswa. Dengan materi aplikatif dan sesuai kebutuhan industri, dapat meningkatkan kesiapan mahasiswa untuk memasuki dunia profesional,” pungkasnya.

 

Penulis: Feni Dwi Agustin (MY)

Mahasiswa Teknik Lingkungan UNUSIDA usai mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Alun-alun Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Manifesto Teo-Ekologis Mahasiswa Teknik Lingkungan Melawan Kolonialisme Sampah

Bagaimana mungkin kita dapat khusyuk memperingati Hari Lahir Pancasila, sementara pada saat yang sama bumi tempat kita berpijak perlahan kehilangan daya dukungnya akibat limbah yang kita hasilkan sendiri?

Setiap tanggal 1 Juni, masyarakat Indonesia kembali mengenang lahirnya dasar negara yang menjadi pemersatu bangsa. Tahun ini, tema yang diusung adalah Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia. Tema tersebut mengandung pesan luhur tentang pentingnya persatuan dan perdamaian. Namun, sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan yang tumbuh dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), kami memandang bahwa perdamaian tidak hanya berbicara tentang hubungan antarmanusia, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan lingkungan.

Perdamaian dunia tidak akan pernah terwujud jika kita masih gagal berdamai dengan alam yang menjadi sumber kehidupan. Keadilan sosial yang menjadi cita-cita Pancasila pun tidak mungkin tercapai apabila lingkungan hidup terus mengalami kerusakan akibat perilaku manusia yang eksploitatif.

Krisis Sampah yang Mengkhawatirkan
Realitas pengelolaan sampah di Indonesia menunjukkan kondisi yang patut menjadi perhatian bersama. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah nasional mencapai puluhan juta ton setiap tahun, dengan sampah plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar.

Persoalan tidak berhenti pada jumlah sampah yang dihasilkan, melainkan juga pada rendahnya tingkat pengelolaan yang optimal. Sebagian besar sampah masih berakhir di tempat pemrosesan akhir yang kapasitasnya semakin terbatas, mencemari sungai, laut, dan lingkungan sekitar.

Bagi masyarakat Jawa Timur, termasuk Kabupaten Sidoarjo yang berada di kawasan penyangga metropolitan Surabaya, persoalan sampah bukanlah isu yang asing. Tumpukan sampah, pencemaran badan air, hingga berkurangnya kualitas lingkungan menjadi tantangan yang nyata di hadapan kita.

Krisis ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga mencerminkan krisis kesadaran kolektif. Ketika sampah terus meningkat dan lingkungan semakin tercemar, sesungguhnya kita sedang menghadapi kegagalan dalam menjaga amanah sebagai penghuni bumi.

Pancasila dan Aswaja dalam Perspektif Ekologis
Pancasila sejatinya mengandung nilai-nilai yang sangat relevan dalam menjawab persoalan lingkungan. Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan bahwa setiap tindakan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap sesama, termasuk generasi yang akan datang. Sementara Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menegaskan pentingnya distribusi manfaat dan risiko lingkungan secara adil.

Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini pada dasarnya merupakan bentuk ketidakadilan ekologis. Generasi mendatang harus menanggung konsekuensi dari perilaku konsumtif dan pengelolaan sampah yang tidak bertanggung jawab yang dilakukan hari ini.

Dalam tradisi Aswaja An-Nahdliyah, nilai-nilai tersebut diperkuat melalui prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman kehidupan. Nilai tawassuth (moderat) dan iqtishad (hemat serta proporsional) mengajarkan pentingnya menghindari perilaku berlebihan, termasuk dalam pola konsumsi yang menghasilkan banyak sampah. Sementara nilai tawazun (keseimbangan) menuntut harmonisasi hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta.

Ketika seseorang membuang sampah sembarangan atau mengabaikan upaya pengurangan sampah, sesungguhnya ia sedang merusak keseimbangan yang diajarkan dalam nilai tawazun. Menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, melainkan juga bentuk pengabdian spiritual sebagai khalifah fil ardh yang diberi amanah untuk merawat bumi.

Melawan Kolonialisme Sampah
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah apa yang dapat disebut sebagai kolonialisme sampah. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika kehidupan manusia dikendalikan oleh budaya konsumtif yang menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Kita menjadi bergantung pada produk sekali pakai, kemasan plastik berlebih, dan pola hidup instan yang secara perlahan menjajah kesadaran ekologis masyarakat.

Kolonialisme sampah tidak hadir dalam bentuk penjajahan fisik, melainkan melalui kebiasaan yang membuat manusia kehilangan kendali atas lingkungannya sendiri. Akibatnya, ruang hidup yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan berubah menjadi tempat akumulasi limbah.

Sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan, kami percaya bahwa perlawanan terhadap kolonialisme sampah harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah sekaligus moral. Pengembangan teknologi pengelolaan limbah, penerapan ekonomi sirkular, peningkatan budaya daur ulang, serta edukasi lingkungan harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai Pancasila dan Aswaja.

Persatuan untuk Keadilan Ekologis
Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum untuk memperluas makna persatuan bangsa. Persatuan tidak hanya diwujudkan melalui slogan dan seremoni, tetapi juga melalui gotong royong menjaga lingkungan hidup.

Di hadapan ancaman krisis iklim, pencemaran mikroplastik, dan menurunnya kualitas lingkungan, seluruh elemen masyarakat memiliki nasib yang sama. Perbedaan suku, agama, golongan, maupun latar belakang sosial menjadi tidak relevan ketika kualitas udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan tanah yang kita pijak mengalami kerusakan.

Karena itu, menjaga lingkungan adalah bentuk nyata pengamalan Pancasila di abad ke-21. Bumi bukan warisan yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan titipan yang harus dijaga untuk generasi berikutnya.

Selamat Hari Lahir Pancasila. Mari bersatu melawan kolonialisme sampah, merawat bumi sebagai rumah bersama, dan menegakkan keadilan ekologis demi Indonesia yang berkelanjutan. Sebab, mencintai lingkungan bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab kebangsaan dan kemanusiaan.

Penulis: Muchammad Waziruddin

Narasumber Workshop Public Speaking & Personal Branding Amanda Nadzario, S.Sos., saat menyampaikan materi kepada mahasiswa (Foto: Humas UNUSIDA)

BEM UNUSIDA Gelar Workshop Public Speaking & Personal Branding, Dorong Mahasiswa Berani Tampil dan Berkembang

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berkolaborasi bersama Yuesby.id Community, Komite Musik Dekesda Sidoarjo, dan Darma Charis sukses menyelenggarakan Workshop Public Speaking & Personal Branding bertema ‘Speak, Shine, and Stand Out!’, Senin (25/5/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengembangan diri bagi mahasiswa dan generasi muda agar lebih percaya diri dalam berkomunikasi serta mampu membangun citra diri yang positif di era digital.

Workshop menghadirkan Amanda Nadzario, S.Sos., seorang MC, TV Presenter, dan Content Creator, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Amanda membagikan pengalaman seputar dunia public speaking, cara membangun personal branding, hingga pentingnya keberanian untuk tampil dan menunjukkan potensi diri di ruang publik maupun media sosial.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi, praktik public speaking, serta berbagi pengalaman dari narasumber. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif mahasiswa selama workshop berlangsung.

Presiden Mahasiswa (Presma) UNUSIDA, M. Rafly Afandi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen mahasiswa dalam menghadirkan ruang pengembangan diri yang relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini. Ia juga mengapresiasi kolaborasi berbagai komunitas yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Kami berharap teman-teman mahasiswa bisa lebih berani berbicara, lebih percaya diri menunjukkan potensinya, dan mampu menjadi pribadi yang tidak hanya terlihat, tetapi juga memiliki nilai bagi dirinya sendiri maupun orang lain,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa workshop ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi diharapkan mampu menjadi titik awal bagi mahasiswa untuk terus berkembang dan aktif membangun kapasitas diri.

Sementara itu, Plt. Rektor UNUSIDA, Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., turut memberikan apresiasi terhadap kolaborasi antara komunitas profesional dan mahasiswa dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, mempertemukan praktisi dengan pemula merupakan langkah penting untuk membuka ruang belajar yang lebih luas dan aplikatif.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi wadah bagi komunitas-komunitas kreatif di Sidoarjo untuk saling mengenalkan bidang dan potensi masing-masing, mulai dari musik, konten kreator, fotografi, hingga berbagai bidang kreatif lainnya.

“Acara hari ini adalah acara belajar. Tidak hanya peserta, tetapi seluruh panitia dan pihak yang terlibat juga sedang belajar bersama,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh peserta untuk aktif selama workshop berlangsung agar ilmu yang diberikan dapat benar-benar dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Mahasiswa harus mampu meningkatkan kepercayaan diri, memperkuat kemampuan komunikasi, dan membangun personal branding yang positif sebagai bekal menghadapi dunia akademik maupun profesional,” tuturnya.

Lintas Medan dan Pelantikan Dewan Racana 2026 UKM Pramuka Kahtulistiwa UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

UKM Pramuka Kahtulistiwa UNUSIDA Gelar Lintas Medan dan Pelantikan Dewan Racana 2026

SIDOARJO — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka Kahtulistiwa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan kegiatan Lintas Medan dan Pelantikan Dewan Racana 2026 yang dilaksanakan di Puthuk Kentongan, Indreng, Genitri, Sabtu–Ahad (23–24/5/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh anggota aktif, peserta pelantikan, panitia pelaksana, serta pembina UKM Pramuka Kahtulistiwa UNUSIDA dengan penuh semangat, rasa kekeluargaan, dan tanggung jawab.

Ketua UKM Pramuka Kahtulistiwa UNUSIDA, M. Syafi’i, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan organisasi yang bertujuan menanamkan nilai-nilai kepramukaan, memperkuat jiwa kepemimpinan, serta meningkatkan loyalitas anggota terhadap organisasi. Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk pendidikan nonformal yang memberikan pengalaman nyata dalam membangun karakter mahasiswa yang tangguh, mandiri, berintegritas, serta memiliki solidaritas tinggi antaranggota.

“Kegiatan ini bukan hanya sekadar pelantikan kepengurusan, tetapi juga menjadi proses pembentukan mental, kedisiplinan, solidaritas, dan semangat pengabdian bagi seluruh anggota Pramuka Kahtulistiwa,” ujarnya.

Syafi’i menuturkan bahwa pelantikan Dewan Racana 2026 ini merupakan upaya untuk menyiapkan generasi penerus yang aktif, kreatif, inovatif, bertanggung jawab, serta mampu menjadi teladan di lingkungan organisasi, kampus, maupun masyarakat. Selain itu, pelantikan Dewan Racana 2026 menjadi simbol estafet kepemimpinan baru dalam tubuh UKM Pramuka Kahtulistiwa UNUSIDA. Para anggota yang dilantik diharapkan mampu menjalankan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab serta terus menghadirkan program-program positif bagi pengembangan mahasiswa.

“Melalui pelantikan ini, kami berharap muncul kader-kader Pramuka yang tidak hanya memiliki jiwa kepemimpinan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi positif bagi organisasi dan lingkungan sekitar,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan lintas medan dan pelantikan tersebut merupakan wujud nyata komitmen UKM Pramuka Kahtulistiwa UNUSIDA dalam menjaga keberlangsungan organisasi melalui proses kaderisasi yang terarah dan berkelanjutan.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas diri anggota sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan antaranggota Pramuka. Ia berharap, melalui kegiatan ini semangat kepramukaan di UNUSIDA terus tumbuh di kalangan mahasiswa sebagai bekal dalam membangun jiwa kepemimpinan, pengabdian, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

“Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan seluruh anggota dapat terus meningkatkan kualitas diri, memperkuat solidaritas, serta menjaga semangat persatuan dalam setiap aktivitas kepramukaan,” tambahnya.

Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti berbagai rangkaian agenda lintas medan yang menuntut kekompakan, ketahanan fisik, serta kemampuan bekerja sama dalam tim. Suasana kebersamaan dan semangat pantang menyerah tampak mewarnai perjalanan peserta saat melewati jalur alam di kawasan perbukitan Puthuk Kentongan.

Melalui kegiatan lintas medan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman lapangan, tetapi juga pembelajaran tentang pentingnya komunikasi yang efektif, kepedulian terhadap sesama, serta penguatan jiwa kepemimpinan dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan penuh semangat dan kebersamaan. Para peserta mengikuti berbagai agenda mulai dari perjalanan lintas medan, pembinaan karakter, hingga prosesi pelantikan Dewan Racana 2026,” pungkasnya.

Muhammad Taufikurrahman saat menyampaikan materi dalam Workshop UI/UX Figma Hima SI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

HIMA Sistem Informasi UNUSIDA Gelar Workshop UI/UX Figma, Bekali Mahasiswa Keterampilan Desain Aplikasi

SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa (Hima) Program Studi (Prodi) Sistem Informasi (SI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar kegiatan Workshop UI/UX Figma dengan mengusung tema ‘Mau Jago Desain Aplikasi dari Nol?’ pada Selasa (20/05/2026). Kegiatan ini menghadirkan Muhammad Taufikurrahman sebagai Senior UI/UX Designer sekaligus pemateri utama yang membimbing peserta memahami dasar-dasar desain antarmuka aplikasi menggunakan Figma.

Kepala Program Studi Sistem Informasi UNUSIDA Syahri Mu’min, S.Kom., M.T., dalam sambutannya menyampaikan bahwa mahasiswa Sistem Informasi tidak hanya dituntut mampu membuat program dan aplikasi, tetapi juga harus memahami bagaimana aplikasi dapat terhubung dengan kebutuhan pengguna melalui desain yang baik.

“Memprogram tanpa adanya desain yang sesuai tentu tidak akan maksimal dalam menyampaikan tujuan aplikasi kepada pengguna. Dengan adanya workshop UI/UX ini, mahasiswa diharapkan memiliki tambahan keterampilan yang dapat menjadi bekal di dunia kerja,” ujarnya.

Ia juga mengajak peserta untuk memanfaatkan workshop dengan aktif berdiskusi dan bertanya langsung kepada pemateri agar ilmu yang diperoleh benar-benar dapat diterapkan.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, S.Pd, M.T., menegaskan pentingnya mahasiswa memiliki keterampilan (skill) selain gelar akademik. Menurutnya, dunia kerja saat ini lebih membutuhkan individu yang memiliki kemampuan nyata dibanding sekadar ijazah.

“Sekarang banyak orang memiliki gelar, tetapi belum tentu memiliki keterampilan. Padahal dunia industri membutuhkan SDM yang benar-benar mampu bekerja dan menghasilkan karya,” jelasnya.

Ia mencontohkan masih banyak lulusan bidang teknologi yang belum mampu membuat desain presentasi, mengedit video, maupun menyusun prototype aplikasi secara baik. Karena itu, kegiatan seperti workshop UI/UX menjadi langkah penting untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa agar lebih siap menghadapi tantangan dunia profesional.

“Jangan pulang sebelum memahami dasar-dasar UI/UX. Minimal setelah workshop ini peserta sudah mengetahui bagaimana membuat prototype sederhana menggunakan Figma,” tegasnya.

Workshop yang diikuti mahasiswa dari berbagai program studi, seperti Sistem Informasi, Teknik Komputer, hingga peserta umum ini membahas berbagai materi mulai dari pengenalan dasar Figma, Auto Layout, desain UI mobile, hingga prototyping. Kegiatan tersebut menjadi ruang pengembangan keterampilan digital yang relevan dengan kebutuhan industri kreatif dan teknologi saat ini. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap materi dan berdiskusi terkait tren desain aplikasi modern. Melalui kegiatan ini, FILKOM UNUSIDA berharap mahasiswa semakin berkembang, kreatif, serta memiliki daya saing tinggi di bidang teknologi dan industri digital.

BEM UNUSIDA Lanjutkan Safari Ormawa, Konsolidasi Strategis Bersama Ormawa Fakultas Teknik (Foto: Humas UNUSIDA)

BEM UNUSIDA Gelar Safari Ormawa, Bangun Konsolidasi Strategis Bersama Ormawa di Tingkat Fakultas

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali melanjutkan agenda Safari Organisasi Mahasiswa (Ormawa) melalui konsolidasi strategis di lingkungan Fakultas Teknik. Kegiatan yang berlangsung di Kedai Ahmed 4 pada Ahad (10/5/2026) ini menjadi ruang penyamaan perspektif mengenai arah gerakan organisasi kemahasiswaan yang lebih adaptif, kolaboratif, serta berorientasi pada dampak nyata bagi mahasiswa.

Agenda tersebut mempertemukan delegasi BEM UNUSIDA dengan jajaran organisasi mahasiswa Fakultas Teknik, mulai dari BEM Fakultas Teknik, Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI), Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK), hingga Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL). Konsolidasi ini difokuskan pada penjaringan aspirasi sekaligus penguatan fondasi organisasi menuju tata kelola yang lebih modern, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Wakil Presiden Mahasiswa UNUSIDA, Alvin Dwi Yunianto, yang memimpin langsung jalannya forum, memberikan apresiasi terhadap kultur solidaritas yang telah tumbuh kuat di lingkungan Fakultas Teknik.

“Saya sangat salut dengan kesolidaritasan kawan-kawan Fakultas Teknik yang sangat antusias hadir berjumpa bersama. Harapannya, solidaritas ini terus bertahan dan tetap menjadi ciri khas Fakultas Teknik. Namun, kita juga harus mulai beradaptasi dan bergerak lebih masif dalam pergerakan digital,” tegas Alvin.

Dalam forum tersebut, Mahasiswa Prodi Manajemen tersebut menekankan pentingnya reformasi pola pikir kepengurusan di tingkat fakultas. Organisasi mahasiswa didorong untuk tidak lagi menjalankan program kerja yang bersifat eksklusif dan terbatas pada lingkup internal, melainkan mampu menghadirkan program yang menyentuh kebutuhan mahasiswa secara umum serta memberikan manfaat yang terukur.

Selain itu, transformasi digital menjadi salah satu poin utama pembahasan. Organisasi mahasiswa dinilai perlu memperkuat eksistensi dan pola komunikasi publik melalui optimalisasi media sosial sebagai bagian dari indikator organisasi modern yang responsif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan generasi saat ini.

Menurut Alvin, organisasi mahasiswa saat ini dihadapkan pada tantangan baru yang menuntut kemampuan adaptasi lebih cepat, khususnya dalam membangun komunikasi organisasi yang efektif, terbuka, dan mampu menjangkau audiens lebih luas melalui platform digital.

Sementara itu, Gubernur BEM Fakultas Teknik, Marendra Firdaus Putra, menyampaikan apresiasi atas inisiatif konsolidasi yang dilakukan BEM tingkat universitas. Ia menyambut positif gagasan modernisasi organisasi mahasiswa di UNUSIDA.

Ia menilai, agenda seperti Safari Ormawa menjadi wadah penting untuk membangun komunikasi antarlembaga kemahasiswaan sekaligus memperkuat sinergi program kerja antara organisasi di tingkat universitas dan fakultas.

“Kami menyambut dengan sangat baik Safari Ormawa ini. Harapannya, ruang-ruang pertemuan dan konsolidasi seperti ini dapat lebih sering dilaksanakan ke depannya,” ungkap Marendra.

Senada, Ketua HMTL UNUSIDA, Gilang Ramadhani Kurniawan. Menurutnya, penguatan gerakan digital menjadi kebutuhan penting bagi organisasi mahasiswa, tidak hanya untuk membangun eksistensi organisasi, tetapi juga sebagai sarana publikasi kegiatan akademik dan pengembangan citra program studi.

“Di Teknik Lingkungan, kami juga mulai mengupayakan gerakan digital dengan mendokumentasikan berbagai kegiatan akademik maupun praktikum, seperti aktivitas di Laboratorium Kualitas Lingkungan. Selain menjadi media dokumentasi, hal tersebut juga dapat menjadi sarana promosi program studi dan memperlihatkan eksistensi kegiatan mahasiswa kepada masyarakat luas,” jelas Gilang.

Lebih lanjut, Alvin menegaskan bahwa Safari Ormawa merupakan bagian dari komitmen BEM UNUSIDA dalam membangun ekosistem organisasi mahasiswa yang sehat, progresif, dan mampu menjawab tantangan perkembangan zaman. Melalui berbagai masukan yang muncul dalam forum ini, pihaknya berharap terbentuk pola gerakan organisasi mahasiswa yang lebih terbuka terhadap perubahan, mampu memanfaatkan teknologi digital secara optimal, serta memiliki orientasi program yang jelas dan berkelanjutan.

Selain itu, Safari Ormawa ini juga diharapkan mampu menghasilkan output strategis berupa peningkatan kualitas komunikasi antarlembaga mahasiswa, penguatan budaya kolaborasi, serta lahirnya program kerja yang lebih berdampak bagi mahasiswa maupun masyarakat. Dengan demikian, organisasi mahasiswa tidak hanya menjadi ruang administrasi kepengurusan, tetapi juga wadah pengembangan kapasitas, inovasi, dan kepemimpinan generasi muda.

“Kami ingin memastikan bahwa seluruh organisasi mahasiswa di lingkungan UNUSIDA memiliki ruang untuk bertumbuh bersama, saling bertukar gagasan, dan bergerak dalam visi yang sama. Organisasi yang kuat lahir dari komunikasi yang terbuka, solidaritas yang terjaga, serta keberanian untuk terus beradaptasi,” pungkasnya.

Sebagai bagian dari visi pembangunan organisasi berkelanjutan, agenda Safari Ormawa BEM UNUSIDA akan terus dilaksanakan secara bertahap di berbagai fakultas. Melalui konsolidasi tersebut, diharapkan sinergi antar lembaga kemahasiswaan semakin terukur, iklim organisasi kampus menjadi lebih adaptif dan modern, serta gerakan mahasiswa UNUSIDA mampu menghadirkan kontribusi yang relevan bagi perkembangan kampus dan masyarakat luas.

Penulis: Muchammad Waziruddin