Pos

BEM UNUSIDA dan Yayasan Omni Indonesia Gelar OLC Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

BEM UNUSIDA dan Yayasan Omni Indonesia Gelar Olimpiade Omni Local Competition Tingkat Pelajar di Sidoarjo

SIDOARJO — Semangat memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 diwujudkan melalui penyelenggaraan Olimpiade Omni Local Competition (OLC) Sidoarjo yang berlangsung di Lantai 5 Gedung A Kampus II UNUSIDA, Ahad (10/05/2026) . Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Pendidikan Omni Indonesia dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

OLC Sidoarjo menjadi bagian dari rangkaian program yang diinisiasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi BEM UNUSIDA dalam memperingati Hardiknas 2026 sekaligus menghadirkan ruang kompetisi akademik yang inklusif bagi pelajar lintas jenjang pendidikan. Melalui ajang ini, penyelenggara berupaya mendorong budaya belajar, daya saing, serta pengembangan potensi akademik peserta sejak usia dini.

Staf Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi BEM UNUSIDA, Muhammad Ali Akbar Rafsanjani menegaskan bahwa OLC bukan sekadar ajang perlombaan akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, keberanian, dan budaya belajar generasi muda.

“Momentum Hardiknas harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni tahunan. Melalui OLC ini, kami ingin menghadirkan ruang yang mampu menumbuhkan keberanian, rasa percaya diri, dan budaya kompetitif yang sehat bagi pelajar sejak dini. Pendidikan hari ini membutuhkan ekosistem yang mendukung potensi peserta didik agar mampu berkembang secara adaptif dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Ia yang juga menjadi koordinator kegiatan, menambahkan bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan dan organisasi mahasiswa menjadi bagian penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap kegiatan akademik yang berkualitas.

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan juga memberikan pengalaman nyata tentang pentingnya kontribusi generasi muda dalam pembangunan sumber daya manusia. Dalam momentum Hardiknas 2026, kegiatan seperti OLC diharapkan mampu memperkuat budaya belajar yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai, tetapi juga pembentukan karakter, kreativitas, dan semangat inovasi.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar secara langsung bagaimana membangun ruang pendidikan yang kolaboratif dan berdampak. Ini bukan hanya tentang perlombaan, tetapi bagaimana menciptakan semangat belajar yang positif bagi generasi muda,” jelasnya.

Pelaksanaan lomba kali ini dibagi ke dalam berbagai kategori berdasarkan jenjang pendidikan. Untuk tingkat TK/RA, peserta berkompetisi pada bidang Berhitung dan English. Sementara untuk tingkat SD/MI kelas 1–2, lomba meliputi Matematika dan English. Pada tingkat SD/MI kelas 3–4 serta kelas 5–6, kategori yang diperlombakan mencakup Matematika, IPA, dan English. Adapun untuk jenjang SMP/MTs, peserta diuji melalui kompetisi Matematika, IPA, dan English.

Ragam kategori tersebut menunjukkan komitmen penyelenggara dalam menyediakan ruang pengembangan kemampuan akademik yang berkelanjutan dan adaptif terhadap kebutuhan peserta didik di setiap fase pendidikan.

Kegiatan OLC Sidoarjo juga menjadi perhatian tersendiri karena telah terkurasi di Pusat Prestasi Nasional (PUSPERNAS). Status tersebut memberikan legitimasi akademik sekaligus menjadi motivasi tambahan bagi peserta untuk terus mengembangkan kompetensi mereka di bidang pendidikan.

Momentum Hardiknas 2026 dipilih sebagai pengingat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, tidak hanya dimaknai sebagai peringatan seremonial. Sinergi antara lembaga pendidikan, tenaga pendidik, peserta didik, serta orang tua menjadi kunci dalam mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Melalui OLC, peserta didorong untuk tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai semata, melainkan juga pada pembentukan karakter, kreativitas, serta semangat inovasi. Hal ini sejalan dengan semangat Hardiknas yang menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi utama dalam membangun generasi unggul.

“Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana untuk memperkuat budaya belajar yang lebih holistik,” kata salah satu pengurus Yayasan Pendidikan Omni Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut Yayasan Pendidikan Omni Indonesia secara langsung menyerahkan penghargaan kepada para peserta berprestasi. Dengan mengusung nilai pendidikan yang inklusif dan kolaboratif, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi lahirnya lebih banyak ruang pembelajaran yang progresif, adaptif, dan berdaya saing di masa depan.

Agung Yundi, Analis SDM Aparatur LLDikti Wilayah VII Jawa Timur saat menyampaikan materi dalam LKMM-TM UNUSIDA 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Ketua Tim Kerja Kemahasiswaan LLDikti Wilayah VII Jawa Timur, Agung Yundi Tekankan Mahasiswa Harus Aktif dan Berdampak

SIDOARJO — Ketua Tim Kerja Kemahasiswaan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII Jawa Timur, Agung Yundi menjelaskan arah kebijakan pemerintah di bidang pendidikan tinggi sekaligus pentingnya peran aktif mahasiswa dalam pengembangan kapasitas diri. Hal tersebut disampaikan dalam Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) 2026, di Hall Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur KM 5,5 Sidoarjo, (12/5/2026).

Dalam pemaparannya, Agung Yundi menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton dalam sistem pendidikan tinggi. Menurutnya, mahasiswa harus mampu menjadi aktor perubahan yang hadir membawa dampak nyata bagi lingkungan sekitar maupun masa depan dirinya sendiri.

Pria yang merupakan Alumni S1 Ilmu Hukum Universitas Jember dan Alumni S2 Ilmu Hukum Universitas Airlangga tersebut menyampaikan pesan reflektif yang menjadi penutup materinya dan mendapat perhatian besar dari peserta.

“Kalau tidak ingin menganggur saat lulus nanti, maka jangan belajar menjadi penganggur saat masih menjadi mahasiswa. Aktiflah, bergeraklah, mari berdampak,” ujarnya

Lebih lanjut, Agung juga menekankan pentingnya masa kuliah bukan sekadar fase akademik, melainkan momentum membangun kompetensi, pengalaman, serta karakter kepemimpinan. Ia menilai keterlibatan mahasiswa dalam organisasi, forum pelatihan, maupun kegiatan kampus seperti LKMM-TM merupakan investasi penting untuk menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan sosial di masa mendatang.

Selain itu, Agung juga menjelaskan arah kebijakan pemerintah di bidang pendidikan tinggi yang saat ini menuntut mahasiswa lebih adaptif, kolaboratif, serta memiliki kemampuan manajerial dan kepemimpinan yang baik. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga individu yang mampu bekerja sama, berpikir kritis, dan menyelesaikan persoalan secara sistematis.

Ia menambahkan bahwa LKMM-TM menjadi ruang strategis dalam membentuk karakter tersebut karena mahasiswa dilatih memahami pola kerja organisasi, pengambilan keputusan, manajemen program, hingga kemampuan komunikasi dan koordinasi tim.

“Mahasiswa hari ini harus memiliki nilai tambah. Tidak cukup hanya mengandalkan IPK, tetapi juga pengalaman organisasi, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan,” jelasnya.

Ia menyebut, LKMM-TM menjadi upaya pengembangan kepemimpinan mahasiswa dalam bentuk pelatihan untuk membentuk mahasiswa yang mampu berpikir strategis, memiliki kemampuan manajerial, serta siap menjadi pemimpin di berbagai bidang. Program ini menjadi salah satu wadah penting dalam menanamkan nilai kepemimpinan, tanggung jawab, dan kolaborasi di lingkungan mahasiswa UNUSIDA.

“Melalui LKMM-TM ini, kami berupaya mendorong mental untuk memanfaatkan masa studi sebagai proses pembentukan kapasitas diri dan kesiapan menghadapi masa depan. Serta diharapkan mampu melahirkan generasi mahasiswa yang siap memimpin, siap berkontribusi, dan siap memberikan dampak positif bagi masyarakat,” pungkasnya.

Plt. Rektor Buka LKMM-TM UNUSIDA 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

LKMM-TM 2026 UNUSIDA Tekankan Peran Ormawa dalam Membangun Kampus Unggul

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM) Angkatan VII Tahun 2026 dengan mengusung tema Ormawa Super, UNUSIDA Super. Kegiatan resmi dibuka di Hall Kampus 2 UNUSIDA pada Selasa (12/5/2026) dan dilanjutkan di Pondok Darul Mutta’allimin, Trawas, Mojokerto pada Kamis–Sabtu (14–16/5/2026).

Dalam arahannya, Plt. Rektor UNUSIDA, Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menekankan tiga hal penting yang harus dimiliki mahasiswa peserta LKMM-TM, yakni komunikasi, kecepatan merespons, dan evaluasi berkelanjutan.

Menurutnya, komunikasi bukan sekadar berbicara, melainkan bagaimana pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh penerima. Selain itu, mahasiswa juga dituntut memiliki kepekaan dan kecepatan dalam merespons berbagai persoalan organisasi maupun sosial.

“Mahasiswa yang terlatih secara manajerial harus mampu bergerak cepat, peka terhadap situasi, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik,” tegasnya.

Beliau juga menambahkan bahwa evaluasi harus dilakukan secara berkelanjutan selama proses kegiatan berlangsung. Keberhasilan sebuah kegiatan, menurutnya, tidak hanya dilihat dari hasil akhir, tetapi juga tampak dari kualitas proses, partisipasi, dan kedisiplinan peserta selama mengikuti pelatihan.

Hadi Ismanto menegaskan bahwa LKMM-TM bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan ruang pembentukan karakter mahasiswa agar siap menjadi penggerak organisasi kemahasiswaan yang unggul dan berdampak.

Melalui LKMM-TM 2026, ia berharap lahir kader-kader organisasi mahasiswa yang komunikatif, responsif, dan reflektif, sejalan dengan visi kampus dalam mencetak generasi mahasiswa unggul dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Kegiatan ini menjadi wadah penguatan kapasitas mahasiswa dalam bidang manajemen organisasi, kepemimpinan, serta pengembangan karakter sebagai penggerak organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus,” jelasnya.

Sementara itu,

Kepala Biro Kemahasiswaan UNUSIDA, Fajar Nur Yasin, M.Pd., menyampaikan bahwa salah satu inovasi dalam pelaksanaan LKMM-TM tahun ini adalah penerapan sistem absensi digital menggunakan barcode pada kartu identitas peserta.

Melalui sistem tersebut, data kehadiran peserta dapat langsung terekam secara otomatis sehingga proses kontrol pelatihan menjadi lebih efektif dan akurat. Selain itu, inovasi ini juga menjadi langkah dalam membangun budaya disiplin mahasiswa selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

“Dengan absensi barcode, kehadiran peserta dapat dipantau secara real time sehingga kedisiplinan peserta semakin meningkat,” ujarnya.

Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut mengungkapkan bahwa pihaknya secara konsisten melakukan evaluasi dan inovasi setiap tahun guna memastikan penguatan Ormawa berjalan semakin efektif. Menurutnya, LKMM-TM bukan sekadar agenda rutin, melainkan instrumen pembentukan karakter kepemimpinan mahasiswa yang berintegritas dan visioner.

“Evaluasi dan inovasi selalu kami lakukan agar penguatan Ormawa dalam pembangunan kampus semakin baik dari tahun ke tahun. LKMM-TM menjadi ruang belajar yang sangat penting bagi mahasiswa untuk memahami tata kelola organisasi secara profesional,” ungkapnya.

Semangat kebersamaan, kedisiplinan, dan keseriusan peserta tampak jelas selama kegiatan berlangsung. Hal tersebut terlihat dari antusiasme mahasiswa saat mengikuti sesi materi, diskusi kelompok, hingga refleksi pembelajaran yang berjalan secara intensif dan terarah.

“Kader-kader Ormawa harus mampu menjadi motor penggerak kemajuan kampus. Dengan pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan, kami optimis Ormawa akan semakin berkontribusi dalam menciptakan ekosistem kemahasiswaan yang aktif, progresif, dan berdampak nyata bagi civitas akademika,” pungkasnya.

KPP Pratama Sidoarjo Utara Edukasi Mahasiswa UNUSIDA Melalui Tax Goes to Campus (Foto: Humas UNUSIDA)

Tax Goes to Campus di UNUSIDA: Hima Akuntansi Gandeng KPP Sidoarjo Utara Kenalkan Implementasi Coretax

SIDOARJO — Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Sidoarjo Utara kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi perpajakan di kalangan generasi muda melalui kegiatan Tax Goes to Campus di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Kamis (07/05/2026). Kegiatan bertema implementasi sistem perpajakan terbaru Coretax ini digelar secara hybrid di Auditorium Lantai 5 Kampus 2 UNUSIDA serta melalui Zoom Meeting, dengan sekitar 160 peserta daring.

Dekan Fakultas Ekonomi UNUSIDA, Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M., menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan rasa percaya diri mahasiswa melalui praktik langsung di lapangan.

“Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmunya di masyarakat. Kehadiran mahasiswa dalam membantu masyarakat menghadapi persoalan pajak menjadi bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat,” tuturnya.

Ia berharap kerja sama antara Fakultas Ekonomi UNUSIDA dan KPP Pratama Sidoarjo Utara dapat terus berlanjut serta melahirkan mahasiswa yang kompeten, profesional, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja di bidang perpajakan.

“Kolaborasi seperti ini sangat penting untuk memberikan wawasan praktis kepada mahasiswa terkait kebijakan dan sistem perpajakan terbaru. Kami berharap sinergi ini terus terjalin demi mencetak lulusan yang unggul dan adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja,” jelasnya.

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi sekaligus edukasi bagi mahasiswa terkait perkembangan sistem administrasi perpajakan modern di Indonesia. Selain itu, agenda ini memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dalam membangun kesadaran pajak sejak dini.

Para peserta menerima materi langsung dari praktisi dan narasumber KPP Pratama Sidoarjo Utara. Materi pertama disampaikan oleh Devi Damasantika, S.M., mengenai aktivasi Coretax dan penerbitan kode otorisasi. Selanjutnya, materi tentang kewajiban perpajakan untuk UMKM Orang Pribadi dipaparkan oleh Antonius Atet Wiyono, S.E., M.M.

Dalam pemaparannya, Antonius Atet Wiyono menjelaskan pentingnya pemahaman kewajiban perpajakan secara umum bagi mahasiswa sebagai bekal menghadapi kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja. Ia memberikan gambaran sederhana mengenai tampilan aplikasi Coretax agar mudah dipahami oleh peserta.

Selain itu, ia juga menjelaskan ketentuan perpajakan bagi Orang Pribadi yang memiliki penghasilan di bawah Rp4,8 miliar per tahun. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022, wajib pajak dengan kategori tersebut hanya dikenakan pajak sebesar 0,5 persen dari omzet per bulan. Penjelasan sederhana ini diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami dasar perhitungan perpajakan secara praktis dan mudah diterapkan.

“Mahasiswa diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang akurat di tengah masyarakat terkait perpajakan dan penggunaan sistem digital perpajakan,” ujarnya.

Selain itu, pengenalan tampilan aplikasi Coretax memberi panduan awal bagi mahasiswa agar lebih familiar dengan sistem administrasi perpajakan digital. Pendekatan ini diharapkan mampu mengarahkan pemanfaatan gawai ke aktivitas yang lebih produktif dan edukatif.

Atet sapaan akrabnya, menambahkan bahwa pengenalan aplikasi Coretax dapat menjadi panduan positif bagi mahasiswa dalam memanfaatkan gadget dan perangkat digital secara lebih produktif. Menurutnya, kolaborasi antara literasi digital, familiarisasi Coretax, dan literasi perpajakan menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi dan administrasi modern.

“Kami akan terus memperkuat kolaborasi literasi digital, familiarisasi Coretax, dan literasi perpajakan. Kami harap mahasiswa saat ini mampu menjadi sumber informasi yang akurat di tengah masyarakat saat mereka terjun ke dunia kerja maupun wirausaha,” ungkapnya.

Kolaborasi UKM Pramuka Khatulistiwa dan HIMA PGMI UNUSIDA Gelar Workshop Keprotokoleran (Foto: Humas UNUSIDA)

UKM Pramuka Khatulistiwa dan HIMA PGMI UNUSIDA Gelar Workshop Keprotokoleran, Tingkatkan Soft Skills Mahasiswa

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menghadirkan kegiatan pengembangan kapasitas mahasiswa. Kali ini melalui kolaborasi Organisasi Mahasiswa (Ormawa) antara Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka Khatulistiwa dan Himpunan Mahasiswa Program Studi (Hima Prodi) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) yang Workshop Keprotokoleran di Aula Kampus UNUSIDA, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan ini diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai program studi yang antusias mengasah keterampilan organisasi dan manajemen acara.

Ketua UKM Pramuka Khatulistiwa UNUSIDA, M Syafi’i, menjelaskan bahwa kegiatan ini diselenggarakan untuk menambah pemahaman mahasiswa terkait pentingnya keprotokoleran dalam dunia organisasi dan akademik.

Menurutnya, keprotokoleran merupakan aspek penting yang sangat menentukan kelancaran, ketertiban, serta profesionalitas sebuah kegiatan. Karena itu, mahasiswa perlu dibekali keterampilan yang memadai agar mampu terlibat aktif dalam penyelenggaraan berbagai agenda resmi di masa depan.

“Workshop ini kami hadirkan sebagai upaya meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang tata kelola acara resmi maupun nonresmi. Dalam organisasi dan akademik, keprotokoleran menjadi unsur penting yang menentukan kelancaran dan profesionalitas kegiatan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kemampuan keprotokoleran merupakan bekal penting bagi mahasiswa, terutama dalam menghadapi berbagai kegiatan resmi di lingkungan kampus, organisasi, maupun dunia kerja nantinya.

“Kami berharap, melalui kegiatan mahasiswa semakin percaya diri, sigap, dan profesional dalam mengelola kegiatan, sekaligus memperkuat soft skill kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama tim,” ungkapnya.

Sejak awal hingga akhir, suasana kegiatan berlangsung khidmat, tertib, dan penuh semangat kebersamaan.  Pada sesi inti, peserta memperoleh materi mengenai dasar-dasar keprotokoleran, peran dan fungsi protokol dalam sebuah acara, teknik penyusunan susunan acara, hingga etika pelaksanaan kegiatan resmi. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif sehingga peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif berdiskusi dan bertanya.

Menariknya, peserta juga diberi kesempatan melakukan simulasi keprotokoleran. Melalui praktik ini, mahasiswa dapat memahami secara langsung bagaimana menjalankan peran sebagai protokol yang baik, mulai dari mengatur jalannya acara, pengelolaan waktu, hingga koordinasi dengan berbagai pihak yang terlibat.

Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka selama kegiatan berlangsung. Banyak peserta yang berbagi pengalaman terkait pelaksanaan acara di organisasi masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa materi yang disampaikan sangat relevan dengan kebutuhan mahasiswa.

Sementara itu, Ketua HIMA PGMI UNUSIDA, Nurul Eka, menyampaikan bahwa pihaknya sangat menyambut baik kolaborasi kali ini. Kolaborasi tersebut dinilai penting dalam membangun budaya organisasi yang solid dan produktif.

Ia menekankan pentingnya untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa di bidang keprotokoleran sekaligus mendorong penerapannya dalam berbagai kegiatan organisasi maupun akademik. Ia menegaskan pentingnya pengembangan soft skills mahasiswa melalui pelaksanaan Workshop Keprotokoleran yang melibatkan berbagai organisasi mahasiswa di lingkungan kampus.

“Mahasiswa saat ini harus mampu meningkatkan keterampilan di bidang keprotokoleran dan mengaplikasikannya dalam kegiatan organisasi maupun akademik,” pungkasnya.

Penulis: Rifa Maslahatulrifa (MY)

Kolaborasi Ormawa FKIP UNUSIDA Sukses Gelar Gebyar Lomba Islami Pelajar (Foto: Humas UNUSIDA)

Kolaborasi Ormawa FKIP UNUSIDA Sukses Gelar Gebyar Lomba Islami Pelajar: Semangat Meraih Berkah Syawal

SIDOARJO — Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menggelar Gebyar Lomba Islami Pelajar. Kegiatan bertajuk ‘Semangat Meraih Berkah Syawal’ dilaksanakan di Hall Kampus 2 UNUSIDA, Sabtu (11/4/2026).

Tiga cabang lomba dipertandingkan dalam kegiatan ini, yaitu Da’i Cilik, MHQ (Musabaqah Hifdzil Qur’an), dan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an). Masing-masing cabang menampilkan kemampuan terbaik para pelajar dalam berdakwah, menghafal, dan melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan tartil dan penuh penghayatan.

Ketua Pelaksana, Muhammad Nur Ilyas, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai momentum Syawal untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an sekaligus melatih keberanian tampil di ruang publik. Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang syiar sekaligus ajang pengembangan bakat pelajar dalam bidang keislaman, yang dilaksanakan di lingkungan kampus UNUSIDA dengan antusiasme peserta dari berbagai sekolah.

“Gebyar ini bukan hanya perlombaan, tetapi juga media pembinaan karakter Islami pelajar. Kami ingin menghadirkan suasana Syawal yang penuh nilai ibadah, ilmu, dan prestasi,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP UNUSIDA, Zakiyatul Fakhiroh, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya agenda kolaboratif Ormawa FKIP yang dinilai mampu menghadirkan atmosfer akademik religius dan inspiratif di lingkungan fakultas.

Apresiasi tersebut disampaikan menyusul suksesnya sinergi antarorganisasi mahasiswa, khususnya kolaborasi antara Himpunan Mahasiswa Program Studi (Hima Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dalam menyelenggarakan kegiatan yang memadukan nilai akademik, kreativitas, dan nuansa keislaman.

Menurutnya, kolaborasi lintas prodi menjadi contoh nyata bagaimana Ormawa tidak hanya bergerak pada ranah kegiatan seremonial, tetapi juga mampu menciptakan ruang-ruang pembinaan yang berdampak bagi mahasiswa maupun pelajar.

“Kegiatan ini menunjukkan bahwa Ormawa FKIP mampu berkontribusi aktif dalam membangun kultur akademik yang religius, kolaboratif, dan inspiratif. Sinergi antar Hima Prodi seperti PGSD dan PBI patut diapresiasi dan dijadikan model untuk agenda-agenda berikutnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, semangat kolaborasi tersebut selaras dengan visi FKIP UNUSIDA dalam mencetak calon pendidik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter dan memiliki sensitivitas sosial-keagamaan.

“Kami harap melalui Gebyar Lomba Islami Pelajar ini, dapat terus menghadirkan kegiatan positif yang mendorong pelajar untuk mencintai Al-Qur’an, mengasah potensi diri, serta memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari,” harapnya.

HIMA PGMI UNUSIDA Gelar Webinar Kurikulum Berbasis Cinta (Foto: Tangkapan Layar HIMA PGMI UNUSIDA)

HIMA PGMI UNUSIDA Gelar Webinar Kurikulum Berbasis Cinta, Dorong Pendidikan Humanis dan Berkarakter

SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa Program Studi (Hima Prodi) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan Webinar Nasional dengan mengusung tema ‘Mendesain Masa Depan Pendidikan melalui Kurikulum Berbasis Cinta’ yang dilaksanakan secara daring, Sabtu (4/42026). Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa, pendidik, serta peserta umum dari berbagai daerah.

Ketua HIMA PGMI UNUSIDA, Nurul Eka Maulidia, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi ikhtiar untuk membuka ruang refleksi sekaligus inspirasi dalam merancang kurikulum pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga berlandaskan nilai cinta, empati, dan kemanusiaan.

“Saya sangat mengapresiasi kepada seluruh jajaran panitia maupun peserta yang telah antusias mengikuti kegiatan ini. Harapannya, tema yang diangkat mampu menjadi gagasan transformatif di dunia pendidikan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, ia berharap peserta tidak hanya memperoleh wawasan baru, tetapi juga termotivasi untuk mengimplementasikan nilai-nilai cinta dan empati dalam praktik pendidikan sehari-hari. “Semoga webinar ini menjadi kontribusi nyata dalam upaya membangun masa depan pendidikan yang lebih berkarakter, humanis, dan bermakna,” ungkapnya.

Memasuki sesi inti, webinar menghadirkan narasumber kompeten di bidang pendidikan, yakni Risalul Ummah, S.Pd., M.Pd. dan Moh Anang Abidin, M.Pd. Keduanya memaparkan konsep, strategi, serta contoh implementasi kurikulum berbasis cinta dalam praktik pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan.

Dalam pemaparannya, Ketua Program Studi PGMI UNUSIDA, Moh. Anang Abidin menjelaskan bahwa kurikulum berbasis cinta menekankan pada pendekatan humanis yang mengedepankan empati, kasih sayang, serta penghargaan terhadap potensi setiap individu. Menurutnya, suasana belajar yang dilandasi rasa cinta akan menciptakan lingkungan yang nyaman, inklusif, dan mendorong siswa untuk berkembang secara optimal.

“Pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga proses membangun hubungan yang penuh makna antara guru dan peserta didik. Dari situlah nilai-nilai kebaikan dapat tumbuh secara alami,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menguraikan sejumlah strategi implementasi, seperti pendekatan pembelajaran yang dialogis, penguatan pendidikan karakter, serta integrasi nilai-nilai spiritual dan sosial dalam setiap kegiatan belajar. Selain itu, guru juga didorong untuk menjadi teladan dalam menumbuhkan sikap peduli, toleransi, dan tanggung jawab.

Tidak hanya sebatas konsep, Moh. Anang Abidin juga memberikan contoh konkret penerapan kurikulum berbasis cinta di kelas, mulai dari pembiasaan sikap saling menghargai, penggunaan metode pembelajaran kolaboratif, hingga refleksi harian yang membantu siswa memahami nilai-nilai kehidupan.

“Melalui gagasan ini, saya yakin para pendidik mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih bermakna dan berdampak positif bagi perkembangan akademik maupun karakter peserta didik di semua jenjang pendidikan,” jelasnya.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif saat sesi diskusi dan tanya jawab dibuka. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan menyampaikan pertanyaan, pandangan, serta berbagi pengalaman dalam mengelola pembelajaran di berbagai konteks pendidikan.

Secara keseluruhan, webinar berjalan lancar, tertib, dan sesuai dengan rencana. Tingginya partisipasi peserta menjadi indikator bahwa tema kurikulum berbasis cinta dinilai relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini yang menekankan keseimbangan antara aspek akademik dan nilai kemanusiaan.

Kolaborasi WWF Indonesia dan UKM MAPANUSIDA UNUSIDA Tanam Mangrove di Kepetingan (Foto: Humas UNUSIDA)

Kolaborasi WWF Indonesia dan Mahasiswa UNUSIDA Tanam Mangrove di Kepetingan, Perkuat Rehabilitasi Pesisir Sidoarjo

SIDOARJO – Di tengah kerentanan ekosistem pesisir terhadap tekanan lingkungan, WWF Indonesia bersama Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam (MAPANUSIDA) menggelar kegiatan penanaman mangrove di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Sidoarjo, Sabtu (28/03/2026). Kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam rehabilitasi ekosistem pesisir sekaligus membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan secara ilmiah, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Sejak pagi hari, mahasiswa pecinta alam yang tergabung dalam UKM MAPANUSIDA telah berkumpul di titik keberangkatan sebelum menempuh perjalanan menggunakan perahu menuju lokasi penanaman. Perjalanan tersebut memberikan gambaran nyata kondisi pesisir Sidoarjo, mulai dari kawasan tambak hingga wilayah muara yang dipengaruhi dinamika pasang surut.

Setibanya di Dusun Kepetingan, peserta disambut hamparan estuari dengan karakter tanah berlumpur dan vegetasi pesisir yang menjadi indikator penting keberhasilan rehabilitasi mangrove. Kondisi ini sekaligus menjadi laboratorium alam bagi mahasiswa untuk memahami ekosistem pesisir secara langsung.

Kegiatan penanaman dilakukan secara terarah dengan memperhatikan kesesuaian jenis mangrove terhadap kondisi lingkungan setempat. Beberapa jenis seperti Avicennia, Sonneratia, dan Rhizophora ditanam mengikuti zonasi alami pesisir agar dapat tumbuh optimal dan memperkuat struktur ekosistem. Para peserta terlibat aktif mulai dari pengenalan teknik penanaman hingga praktik di lapangan dengan penuh antusiasme.

Ketua UKM MAPANUSIDA, Muhammad Reza Sujali, yang memimpin delegasi mahasiswa, menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam aksi lingkungan merupakan bentuk tanggung jawab intelektual dan sosial. “Kegiatan ini bukan hanya tentang menanam mangrove, tetapi membangun kesadaran ekologis berkelanjutan. Mahasiswa harus menjadi bagian dari solusi. Apa yang kita lakukan hari ini adalah investasi jangka panjang bagi lingkungan dan generasi mendatang,” ujarnya.

Sementara itu, Mukhammad Dimas Alamsyah, selaku ketua pertama UKM MAPANUSIDA periode 2025, menilai kegiatan ini sebagai refleksi nilai dasar gerakan pecinta alam. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam menjaga lingkungan. “Menjaga alam bukan kegiatan sesaat, tetapi komitmen yang harus terus dirawat. Mangrove yang kita tanam hari ini adalah simbol harapan bahwa mahasiswa mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir,” ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Kolaborasi antara lembaga konservasi, institusi pendidikan, dan partisipasi aktif mahasiswa menjadi kunci keberhasilan upaya rehabilitasi pesisir yang berkelanjutan.

“Setiap bibit mangrove yang ditanam menjadi simbol komitmen terhadap masa depan lingkungan yang lebih baik, sekaligus menanamkan nilai kepedulian, tanggung jawab, dan keberlanjutan dalam diri setiap peserta,” pungkasnya.

HIMA Manajemen UNUSIDA Gelar Acara Forum Tinjau Proposal P2MW 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

HIMA Manajemen UNUSIDA Gelar Forum Tinjau Proposal P2MW 2026, Dorong Inovasi Mahasiswa di Bidang Wirausaha

SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa Progra, Studi (Himaprodi) Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan Forum Tinjau Proposal sebagai persiapan mengikuti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026. Kegiatan ini berlangsung secara offline di Auditorium Lantai 5 Kampus II Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo, Jum’at (13/03/2026).

Dengan mengusung tema ‘Student Innovation for Social and Economics Transformation’, kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa UNUSIDA yang telah terbagi dalam beberapa kelompok usaha. Forum ini bertujuan untuk memberikan pendampingan serta evaluasi terhadap proposal bisnis yang akan diajukan dalam Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026.

Ketua HIMA Manajemen UNUSIDA menyampaikan bahwa forum ini tidak hanya bertujuan membantu mahasiswa dalam penyusunan proposal, tetapi juga membangun kesiapan mental dan konseptual mereka sebelum mengikuti kompetisi kewirausahaan tingkat nasional.

Melalui kegiatan Forum Tinjau Proposal ini, pihaknya berharap mahasiswa dapat mempersiapkan proposal secara lebih matang sekaligus meningkatkan kesiapan mereka dalam mengikuti program P2MW.

“Program PM2W ini tidak hanya memberikan dukungan pendanaan bagi usaha mahasiswa, tetapi juga menjadi sarana untuk mengasah kreativitas, memperkuat kerja sama tim, serta meningkatkan pengalaman mahasiswa dalam dunia kewirausahaan,” jelasnya.

Dalam sesi pemaparan materi, Jeziano Rizkita Boyas menjelaskan bahwa P2MW merupakan program yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan ide bisnis serta merintis usaha sejak di bangku kuliah.

Menurutnya, melalui program ini mahasiswa didorong untuk menjadi lebih kreatif, inovatif, dan berani memulai usaha. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan sebagai pencari kerja setelah lulus, tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan pekerjaan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Lulusan perguruan tinggi tidak hanya dipersiapkan sebagai pencari kerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan pekerjaan yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, pemateri kedua, Latifah Irsyadiah, menjelaskan bahwa keberhasilan dalam mengikuti program P2MW dimulai dari pembentukan tim yang solid. Setiap tim harus memiliki pembagian peran yang jelas, mulai dari ketua tim, bagian keuangan, produksi, hingga pemasaran, serta didukung dengan komitmen dan kerja sama yang baik antaranggota.

Ia juga menekankan pentingnya menentukan ide usaha yang inovatif, menarik, memiliki nilai jual tinggi, serta memiliki keunikan yang dapat membedakan produk dari kompetitor dan berpotensi berkembang dalam jangka panjang. Dalam proses penyusunan proposal, mahasiswa juga perlu memperhatikan kesesuaian dengan panduan yang berlaku, berbasis data pasar, serta melibatkan dosen pendamping agar proposal lebih terarah.

“Sebuah produk harus memiliki keunikan yang mampu membedakannya dari kompetitor, sekaligus memiliki peluang untuk berkembang secara berkelanjutan dalam jangka panjang,” terangnya.

Setelah proposal disusun, tim akan melalui berbagai tahapan mulai dari pengumpulan proposal, proses seleksi, pengunggahan ke sistem, hingga menunggu hasil pendanaan. Apabila dinyatakan lolos, tim akan memperoleh dana untuk menjalankan usaha, melakukan pencatatan penggunaan dana secara tertib, serta menyusun laporan perkembangan dan laporan akhir.

Pada tahap selanjutnya, tim juga berkesempatan mempresentasikan perkembangan produknya serta mengikuti kegiatan nasional seperti KMI Expo.

Mahasiswa Teknik UNUSIDA Didorong Siap Sambut Peluang Program Nasional PPK Ormawa (Foto: BEM FT UNUSIDA)

BEM-FT UNUSIDA Gelar Workshop PPK Ormawa, Siap Hadirkan Program Pengabdian Berdampak

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik (FT) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan Workshop Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dengan mengusung tema ‘Lead the Change, Impact in Action’ di Auditorium Lantai 5 Kampus 2 UNUSIDA, Ahad (08/03/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran strategis bagi organisasi mahasiswa di lingkungan Fakultas Teknik dalam mempersiapkan proposal program pengabdian masyarakat melalui skema PPK Ormawa.

Program PPK Ormawa merupakan inisiatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Belmawa yang mendorong organisasi mahasiswa berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi, riset terapan, serta solusi nyata bagi desa atau kelurahan mitra.

Dekan Fakultas Teknik UNUSIDA, Listin Fitrianah turut memberikan apresiasi terhadap konsistensi organisasi mahasiswa di lingkungan Fakultas Teknik. Ia menilai selama ini mahasiswa telah menunjukkan semangat yang tinggi dalam mengikuti berbagai program pengembangan organisasi, termasuk PPK Ormawa.

Menurutnya, partisipasi aktif mahasiswa dalam program nasional tersebut menjadi bukti bahwa organisasi mahasiswa Fakultas Teknik mampu bersaing dan berprestasi di tingkat nasional. Bahkan, beberapa organisasi mahasiswa di lingkungan fakultas tersebut berhasil memperoleh pendanaan dari program PPK Ormawa.

“Kami sangat mengapresiasi konsistensi organisasi mahasiswa Fakultas Teknik yang terus aktif mengikuti program PPK Ormawa hingga berhasil mendapatkan pendanaan nasional. Ini menjadi bukti bahwa mahasiswa kita memiliki potensi besar untuk berkontribusi melalui program-program yang inovatif dan berdampak,” ungkapnya.

Ketua pelaksana, Annisa Lailatul Rahmadini, menyampaikan bahwa workshop ini diikuti oleh seluruh organisasi mahasiswa di Fakultas Teknik, yakni BEM Fakultas Teknik, Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI), Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL), serta Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK).

“Melalui workshop ini kami berharap seluruh ormawa Fakultas Teknik dapat memahami mekanisme penyusunan proposal PPK Ormawa secara komprehensif sehingga mampu menghadirkan program pengabdian yang inovatif dan berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar mahasiswa Program Studi Teknik Industri angkatan 2023 yang juga menjabat sebagai Sekretaris I BEM-FT 2026 tersebut.

Sementara itu, Gubernur BEM Fakultas Teknik periode 2026, Marendra Firdaus Putra menekankan bahwa mahasiswa harus mampu memanfaatkan berbagai program pengembangan organisasi yang disediakan pemerintah, salah satunya melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa). Menurutnya, program tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi ide, tetapi juga ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan gagasan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa kesiapan organisasi mahasiswa sangat penting, baik dari segi manajemen program, kolaborasi tim, maupun kemampuan merancang program pengabdian yang berkelanjutan. Dengan kesiapan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu berpartisipasi aktif sekaligus meraih prestasi di tingkat nasional.

“PPK Ormawa menjadi peluang besar bagi mahasiswa untuk mengembangkan kapasitas organisasi sekaligus memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Oleh karena itu, organisasi mahasiswa harus siap merespons peluang tersebut dengan perencanaan yang matang dan kerja tim yang solid,” jelasnya.

Memasuki sesi inti, materi disampaikan oleh Medya Ayunda Fitri, S.T., M.T., dosen Program Studi Teknik Kimia yang berpengalaman sebagai dosen pendamping tim PPK Ormawa. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai aspek teknis penyusunan proposal, mulai dari pemformatan dokumen hingga keterkaitan program dengan agenda pembangunan global Sustainable Development Goals (SDGs).

Kegiatan dilanjutkan dengan presentasi subproposal oleh BEM Fakultas Teknik dan HIMA Teknik Industri yang memaparkan rancangan program pemberdayaan UMKM dan pengembangan teknologi tepat guna bagi masyarakat desa mitra. Presentasi tersebut mendapatkan berbagai masukan dari narasumber untuk penyempurnaan proposal sebelum diajukan ke seleksi nasional.

Melalui kegiatan ini, Marendra berharap Ormawa Fakultas Teknik UNUSIDA mampu menyusun proposal PPK Ormawa yang berkualitas sekaligus memperkuat kontribusi mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat melalui inovasi dan pengabdian berbasis keilmuan.

“Semoga ke depan semakin banyak organisasi mahasiswa yang terlibat dalam program-program nasional serupa, sehingga dapat memperkuat kapasitas organisasi sekaligus memperluas kontribusi mahasiswa dalam pembangunan masyarakat,” pungkasnya.