Pos

Jaring Aspirasi dan Evaluasi Ormawa Fakultas Teknik UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Bangun Komunikasi dan Sinergi, BEM FT UNUSIDA Gelar Jaring Aspirasi dan Evaluasi Ormawa

SIDOARJO — Upaya penguatan tata kelola organisasi kemahasiswaan terus dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM FT) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui kegiatan bertajuk ‘Jaring Aspirasi dan Evaluasi Ormawa’. Agenda ini digelar di Ruang Auditorium Lantai 5, Kampus 2 UNUSIDA, Ahad (22/6/2025) lalu.

Dengan mengusung tema ‘Aspirasi Mahasiswa Meningkatkan Kinerja Organisasi’, kegiatan ini menjadi momentum reflektif bagi pengurus dan anggota organisasi mahasiswa di lingkup Fakultas Teknik, yang meliputi BEM FT, Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI), Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL), dan Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK).

Ketua Pelaksana, Ikhbal Sifa’ Unnas yang juga Koordinator Departemen Pengembangan SDM BEM FT UNUSIDA membuka forum dengan paparan evaluatif. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang cair namun terarah di antara pimpinan ormawa.

“Kinerja kolektif lahir dari pola pikir kolaboratif. Setiap ormawa butuh ekosistem komunikasi yang sehat,” ungkap Ketua HIMA Teknik Industri 2024 tersebut.

Sementara itu, Ketua BEM FT UNUSIDA Erlangga Abiartha Nugraha, menyoroti pentingnya promosi dan eksistensi ormawa. Ia menyampaikan rencana integrasi media sosial dan website Fakultas Teknik sebagai kanal publikasi resmi, yang akan difasilitasi oleh Biro Humas UNUSIDA nantinya.

Ketua HMTI UNUSIDA, Yongki Syaputra mengungkapkan aspirasi tentang perlunya membangkitkan kembali minat mahasiswa berorganisasi. Ia  mengingatkan bahwa organisasi mahasiswa adalah ruang belajar yang partisipatif, bukan instansi profesional dengan tuntutan absolut.

“Organisasi harus menarik dan inklusif. Kita perlu pendekatan baru agar mahasiswa merasa butuh dan nyaman untuk terlibat,” ujarnya.

Senada, Ketua HMTL UNUSIDA, Ihsan Abu Ridho, menggarisbawahi perlunya perbaikan komunikasi dalam perekrutan kepanitiaan. Sementara Wakil Ketua HMTK UNUSIDA, Ulil Najwa, mengusulkan pelatihan soft skill digital untuk mendukung promosi ormawa di media sosial.

“Terlebih di Fakultas Teknik, dengan SDM yang terbatas, fleksibilitas dan kesadaran kolektif sangat penting sekali,” tegasnya.

Dengan semangat keterbukaan dan evaluasi bersama, forum ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan kapasitas ormawa Fakultas Teknik UNUSIDA yang lebih komunikatif, solutif, dan adaptif terhadap dinamika mahasiswa masa kini. (MY)

6 Mahasiswa UNUSIDA Resmi Lolos Magang Mandiri Wijaba 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

6 Mahasiswa UNUSIDA Resmi Lolos Magang Mandiri Wijaba 2025, Siap Menapaki Dunia Kerja Profesional

SIDOARJO – Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Sebanyak enam mahasiswa dari Fakultas Ekonomi (FE) dan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) resmi dinyatakan lolos seleksi Magang Mandiri Wijaba 2025. Sebuah program bergengsi yang mempersiapkan generasi muda untuk terjun ke dunia kerja melalui pelatihan dan pengalaman langsung di lapangan.

Magang Mandiri Wijaba dikenal memiliki proses seleksi ketat, khususnya untuk divisi Edukasi Lingkungan (EL) yang dilalui para peserta UNUSIDA. Tahapan seleksi terdiri dari administrasi, tes teknologi dan basic knowledge + FGD, wawancara, dan micro teaching.

Keenam mahasiswa UNUSIDA yang lolos Magang Mandiri Wijaba 2025, diantaranya 3 mahasiswi dari Program Studi (Prodi) Akuntansi 2023, yaitu Ulul Azmi Badriyah, Lilis Rachmawati, dan Nifhfu Lailaturohma. Sedangankan, 3 mahasiswa lainnya dari Prodi Informatika 2023, yaitu Ahmad Zubaidi, Muhammad Fahrul Alfanani, dan Muhammad Tegar Kurniawan.

Salah satu peserta yang lolos, Lilis Rachmawati menceritakan pengalamannya mengikuti seleksi. Ia mengaku pertama kali mengetahui program ini dari sosialisasi fakultas. Setelah lolos tahap administrasi, ia mulai mempelajari lebih lanjut tentang Wijaba dan mempersiapkan diri menghadapi tahapan berikutnya.

“Untuk FGD, saya mencari beberapa referensi topik yang mungkin keluar. Saat wawancara, saya jawab dengan jujur dan apa adanya. Saya juga mempersiapkan mental agar bisa tampil percaya diri,” ungkap mahasiswi Akuntansi angkatan 2023 tersebut, Jum’at (8/8/2025).

Lilis mengungkapkan bahwa tahap micro teaching menjadi tantangan tersendiri baginya. Sebab, ia berasal dari jurusan Akuntansi yang tidak memiliki mata kuliah pedagogik. Oleh karena itu, Lilis meminta bantuan temannya dari jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) untuk belajar teknik mengajar.

“Persiapannya singkat sekali, apalagi saat diumumkan saya langsung diminta membuat video micro teaching. Untungnya, saya bisa belajar cepat dari teman saya sehingga tetap bisa memberikan yang terbaik,” ujarnya.

Menurutnya, faktor yang membuatnya lolos adalah sikap terbuka terhadap hal-hal baru dan kemauan untuk belajar. “Saya suka mencoba pengalaman baru dan membangun koneksi. Saya juga pernah punya pengalaman mengajar, mungkin itu menjadi nilai plus,” katanya.

Lilis berharap, melalui program magang ini, ia dapat mengembangkan kemampuan public speaking dan soft skill lainnya. Ia bertekad untuk menunjukkan bahwa mahasiswa UNUSIDA tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga siap berkompetisi di tingkat nasional dan mengasah keterampilan profesional.

“Karena di divisi Edukasi Lingkungan, kita akan mengajar sekaligus mendapatkan pelatihan sebulan sekali. Saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk bekal di dunia kerja,” jelasnya.

Mahasiswa UNUSIDA tersebut menyebutkan bahwa persiapan menjadi kunci keberhasilan. Pada tahap awal, ia fokus menyusun CV yang rapi, tertata, dan menarik. Saat sesi basic knowledge, FGD, dan wawancara, ia berusaha tenang, pasrah, dan meyakinkan diri untuk menjawab pertanyaan semaksimal mungkin.

“Untuk micro teaching, saya belajar public speaking di malam hari sebelum tes, menyesuaikan penjelasan dengan tema yang sudah ditentukan,” ungkapnya.

Senada, mahasiswi Akuntansi lainnya, Ulul Azmi Badriyah mengungkapkan, persaingan sangat ketat karena semua peserta memiliki kualitas yang baik. Namun, salah satu faktor penentu kelolosannya adalah keaktifan menjawab pertanyaan pada sesi FGD dan wawancara, sementara sebagian peserta lain terlihat ragu atau bingung.

Menariknya, meskipun berasal dari bidang akuntansi dan teknologi, ia melihat relevansi besar magang ini terhadap pengembangan diri. Ulul berkomitmen untuk mengembangkan kemampuan soft skill seperti public speaking, keberanian, dan mental yang kuat selama mengikuti magang nantinya. Hal tersebut dapat membuka peluang di berbagai bidang di luar jurusan asal.

“Di dunia akuntansi atau bidang apa pun, kita tidak hanya butuh kemampuan teknis, tetapi juga public speaking dan mental yang kuat untuk menjelaskan hasil pekerjaan kepada orang lain,” terangnya.

Ia menambahkan, keterampilan berbicara di depan umum sangat penting, terutama saat harus mempresentasikan data atau materi. “Banyak orang pintar menghitung, tapi kesulitan menjelaskan isinya. Magang ini melatih saya untuk menjelaskan sesuatu dengan jelas, menambah pengalaman, dan memperkuat mental,” tambahnya.

Terkait jadwal, ia mengaku siap menyesuaikan antara magang dan kuliah. Ia berharap akan ada konversi mata kuliah, yang membuatkan prosesnya selama magang akan lebih ringan. Namun jika tidak, ia siap kuliah malam setelah magang.

“Jam 8 sampai 12 atau 1 siang magang, lalu jam 5 atau 6 sore kuliah. Semua demi pengalaman terbaik,” pungkasnya. (MY)

Dosen Unusida Mengikuti Workshop Penyusunan Roadmap Riset dan PKM yang diselenggarakan oleh LPPM UNUSIDA, Prof. Eko Setijadi, S.T., M.T., Ph.D. (Foto: Humas UNUSIDA)

LPPM UNUSIDA Gelar Workshop Penyusunan Roadmap Riset dan PKM untuk Seluruh Dosen

SIDOARJO – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan Workshop Penyusunan Roadmap Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bagi seluruh dosen dari berbagai Program Studi dan Fakultas di lingkungan UNUSIDA. Kegiatan ini dilaksanakan di Hall Lantai 4 Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Rabu (6/7/2025).

Workshop ini menghadirkan narasumber, Prof. Eko Setijadi, S.T., M.T., Ph.D., yang membagikan wawasan mendalam tentang pentingnya perencanaan strategis dalam riset dan PKM. Ia menekankan pentingnya menyusun visi yang kuat sebagai kunci sukses dalam penelitian dan PKM.

“Langkah pertama dan paling krusial adalah menyusun visi yang kuat. Visi tersebut harus mencerminkan identitas, tujuan, dan aspirasi tertinggi kita sebagai akademisi. Ia akan menjadi kompas yang memandu segala tindakan, mulai dari penetapan misi hingga pelaksanaan roadmap riset dan PKM,” jelas Prof. Eko.

Prof. Eko menerangkan visi yang efektif bukan hanya slogan kosong, melainkan harus memiliki karakteristik yang SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound), agar dapat diimplementasikan secara nyata.

Selain membahas visi, Prof. Eko juga mengarahkan para peserta untuk menyusun misi yang jelas dan operasional dengan pendekatan WWHW (Who, What, How, Why). Pendekatan ini bertujuan agar setiap misi tidak hanya terdengar baik, tetapi juga dapat dijalankan secara terukur dan efektif.

Ia menyebutkan contoh misi yang dapat dikembangkan dalam workshop ini antara lain melakukan penelitian yang inovatif dan relevan, menerbitkan hasil penelitian di jurnal bereputasi, dan melaksanakan PKM yang berdampak langsung pada masyarakat.

Lebih lanjut, Prof. Eko menegaskan bahwa penyusunan roadmap yang kuat merupakan kunci utama dalam mencapai keberhasilan penelitian dan pengabdian yang berdampak. Melalui roadmap, seorang peneliti dapat memiliki arah dan strategi yang lebih terstruktur dalam kontribusinya terhadap keilmuan dan masyarakat luas.

Melalui roadmap yang disusun dengan matang, diharapkan setiap program dan kegiatan yang dijalankan mampu memberikan kontribusi yang signifikan, baik bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun bagi masyarakat luas.

“Roadmap bukan sekadar dokumen administratif, tetapi peta jalan strategis yang akan menentukan kualitas dan dampak riset serta PKM Unusida ke depan,” terangnya.

Prof. Eko yang juga pengurus Badan Penyelanggara Pendidikan (BPP) UNUSIDA tersebut menjelaskan bahwa dalam menentukan topik yang tepat, perlu melalui beberapa proses. Seperti melakukan studi literatur yang mendalam untuk mengidentifikasi research gap, mengamati permasalahan aktual di masyarakat yang sesuai dengan kompetensi dan peran dosen sebagai agen perubahan serta memantau tren dan isu terkini di bidang keilmuan masing-masing sebagai bagian dari pengembangan ilmu yang adaptif.

Selain menentukan fokus penelitian dan PKM, Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mengidentifikasi sumber daya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan program, seperti dana, peralatan, dan keahlian tambahan.

Prof. Eko juga menyoroti pentingnya kolaborasi strategis, baik dari internal kampus seperti dengan mahasiswa, rekan dosen lintas prodi, fasilitas laboratorium, dan pusat riset universitas yang tersedia. Selain itu, juga dapat melakukan kolaborasi eksternal seperti dunia industri, pemerintah daerah, komunitas sosial, dan universitas mitra.

“PKM yang dirancang dengan strategi dan kepekaan sosial yang baik akan memberikan nilai tambah tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi pengembangan keilmuan dan reputasi institusi,” pungkasnya. (MY)

Workshop Penyusunan Karya Ilmiah, Kerja Sama UNUSIDA, BRIN, dan DPR RI (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Jalin Kerja Sama dengan BRIN dan DPR RI: Dorong Peningkatan Kapasitas Riset dan Inovasi Berbasis Karya Ilmiah

Sidoarjo – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong budaya riset dan inovasi di lingkungan akademik. Hal tersebut dibuktikan dengan menjalin kerja sama strategis bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Proses penandatanganan kerja sama ini dirangkai dengan kegiatan Workshop Penyusunan Karya Ilmiah Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi untuk Masyarakat, di Hall Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Senin (4/8/2025). Workshop ini diikuti oleh puluhan  mahasiswa lintas program studi yang antusias mendalami strategi dan teknik penyusunan karya ilmiah yang kuat, aplikatif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UNUSIDA, H Fatkul Anam memberikan dukungan penuh terhadap kolaborasi ini. Ia sangat mengapresiasi semangat riset yang terus ditunjukkan oleh seluruh sivitas akademika UNUSIDA. Menurutnya, kerja sama ini dapat difokuskan pada peningkatan kapasitas pengguna riset dan inovasi dalam menyusun karya ilmiah, baik di kalangan dosen maupun mahasiswa.

“Saya sangat mendukung kegiatan riset mahasiswa dan dosen UNUSIDA yang telah banyak menghasilkan solusi konkret di tengah masyarakat. Riset bukan hanya tanggung jawab akademisi, tetapi juga kontribusi nyata untuk menjawab kebutuhan bangsa,” ungkapnya.

“UNUSIDA menargetkan lebih banyak karya ilmiah yang tidak hanya terpublikasi di jurnal, tetapi juga aplikatif dan berdampak langsung pada pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan di tingkat lokal maupun nasional,” imbuhnya.

Sementara itu, narasumber dari BRIN, Brian Muhammad menjelaskan bahwa penulisan karya ilmiah membutuhkan ide yang kreatif dan inovatif. Oleh karena itu, ia memfokuskan pada tahapan penting dalam proses penelitian, mulai dari membangun critical thinking, menemukan kebaruan (novelty), menyusun proposal riset, menentukan metode yang tepat, hingga merumuskan karya ilmiah berbasis data terukur dengan pendekatan populasi dan sampel yang valid.

Seperti melalui pendekatan yang menggabungkan kemampuan manusia dengan teknologi kecerdasan buatan atau yang biasa dikenal dengan Artificial Intelligence (AI), proses penelitian menjadi lebih efisien dan menghasilkan temuan yang berkualitas serta berdampak nyata bagi masyarakat.

“Dengan berpikir kritis, mencari kebaruan, menyusun proposal, menentukan metode penelitian yang tepat, hingga menghasilkan karya tulis berbasis data yang terukur dengan sampel populasi yang valid, mahasiswa dan dosen dapat menghasilkan riset hebat dengan dukungan AI,” jelasnya.

Para peserta juga diajak memanfaatkan teknologi terkini, khususnya kecerdasan buatan atau AI, dalam proses riset. AI dinilai mampu mempercepat proses pencarian referensi, pengolahan data, serta perumusan gagasan penelitian. Namun, kekuatan utama tetap terletak pada peneliti itu sendiri, yaitu kemampuan dalam membangun nalar ilmiah dan sensitivitas terhadap persoalan masyarakat.

“Riset yang baik lahir dari perpaduan antara kepekaan terhadap persoalan masyarakat dan kemampuan akademik untuk menyusun solusi ilmiah yang terukur dan aplikatif. AI bisa mempercepat proses itu, tetapi tetap dibutuhkan pemikiran kritis dan arah tujuan yang jelas dari penelitinya,” ujar

Ia berharap, kolaborasi ini  tidak hanya meningkatkan kualitas riset di lingkungan kampus, tetapi juga memperluas ekosistem inovasi yang berpihak pada kebutuhan masyarakat.

“Mari wujudkan langkah nyata dalam membangun ekosistem riset yang berorientasi pada solusi dan inovasi untuk masyarakat,” pungkasnya. (MY)

Festival Banjari Antar Pelajar Se-Jawa Timur oleh UKM Religi Nahdlatus Syubban (Foto: Humas UNUSIDA)

UKM Religi Nahdlatus Syubban Gelar Festival Al-Banjari Pelajar se-Jawa Timur: Meriahkan Harlah ke-11 UNUSIDA

Sidoarjo – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-11 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Religi Nahdlatus Syubban sukses menyelenggarakan Festival Al-Banjari Tingkat Pelajar se-Jawa Timur. Kegiatan ini disambut antusias oleh puluhan grup hadrah dari berbagai daerah yang berlomba menunjukkan kemampuan terbaik dalam melantunkan sholawat Nabi dengan iringan musik tradisional Islami.

Festival yang digelar di halaman kampus UNUSIDA ini menjadi bagian dari rangkaian acara Harlah ke-11 sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan syiar budaya Islam di kalangan generasi muda. Sebanyak 15 grup Al-Banjari dari lembaga pendidikan se-Jawa Timur ambil bagian dalam festival ini, terdiri dari peserta tingkat SD/MI, SMP/MTs, MA/SMA/SMK, hingga TPQ.

Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si. menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif para mahasiswa yang tergabung dalam UKM Religi Nahdlatus Syubban. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya ajang kompetisi seni Islami, tetapi juga bentuk kecintaan terhadap Rasulullah SAW dan sarana untuk mempererat ukhuwah antarpelajar se-Jawa Timur.

“Saya sangat mengapresiasi semangat mahasiswa dalam memeriahkan Harlah ke-11 UNUSIDA. Semoga semangat bersholawat ini terus menjadi ruh dalam setiap langkah pembangunan kampus kita,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Rektor UNUSIDA juga mengajak seluruh civitas akademika dan masyarakat untuk meramaikan acara puncak Harlah UNUSIDA, yaitu UNUSIDA Bersholawat yang akan menghadirkan tokoh-tokoh besar seperti Habib Abu Bakar bin Idrus Al-Habsy, Habib M. Soleh bin Abdullah, dan Ust. Firman Achsani, serta akan diiringi oleh Tim Hadroh Ahbabul Musthofa Sidoarjo.

“Semoga lantunan sholawat ini dapat mengiringi pembangunan dan perkembangan UNUSIDA dengan penuh keberkahan,” tambahnya.

Sementara itu, ketua UKM Religi Nahdlatus Syubban UNUSIDA, menjelaskan bahwa acara ini tidak hanya bertujuan mencari pemenang, melainkan juga untuk menumbuhkan semangat cinta Rasulullah SAW sejak usia dini serta melestarikan tradisi kesenian Islam yang telah mengakar di tengah masyarakat.

“Melalui festival ini, kami ingin menghadirkan sholawat sebagai nafas kehidupan yang memberi semangat perubahan ke arah yang lebih baik. Sholawat bukan hanya lantunan, tapi juga inspirasi peradaban,” ujarnya.

Menurutnya, Festival Al-Banjari ini menjadi bukti bahwa semangat religiusitas dan kecintaan terhadap budaya Islam di kalangan pelajar dan mahasiswa masih sangat kuat. Lebih dari sekadar kompetisi, acara ini menjadi medium edukasi, spiritualitas, dan pelestarian tradisi yang telah lama hidup dalam masyarakat Nahdliyyin.

“Saya berharap, kegiatan ini menjadi momentum spiritual yang membawa keberkahan dan semangat baru bagi UNUSIDA dalam membangun peradaban kampus yang unggul dan berkarakter,” harapnya. (MY)

HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA Aktif dalam Webinar Nasional Ecoedu.id 'Perlindungan dan Restorasi Ekosistem' (Foto: Istimewa)

HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA Aktif dalam Webinar Nasional Perlindungan dan Restorasi Ekosistem

Sidoarjo – Dalam semangat kolaborasi dan kepedulian terhadap isu lingkungan global, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menunjukkan komitmennya melalui partisipasi aktif dalam Webinar Nasional EcoEdu.id yang mengusung tema ‘Perlindungan dan Restorasi Ekosistem’. Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa, akademisi, hingga praktisi lingkungan dari seluruh penjuru Indonesia ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (10/7/2025).

Webinar ini menjadi bagian dari program unggulan ENVIRO INSIGHT, yang digagas oleh Departemen Akademik, Inovasi, dan Riset (AIR) dan berkolaborasi dengan Departemen Urusan Sosial, Diplomasi, dan Relasi Kemitraan (UDARA) HMTL UNUSIDA. Partisipasi ini merupakan cerminan keseriusan mahasiswa Teknik Lingkungan dalam membangun jejaring, meningkatkan kapasitas keilmuan, serta memperkuat kesadaran kolektif terhadap tantangan lingkungan hidup yang semakin kompleks.

Sebagai narasumber utama, webinar menghadirkan Fitrian Ardiansyah, ESG and Impact Director di ACLF, ADM Capital Climate, Hongkong. Dengan segudang pengalaman di tingkat internasional, Fitrian membedah urgensi perlindungan dan restorasi ekosistem sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan dan strategi mitigasi krisis iklim. Ia menegaskan bahwa ekosistem yang sehat bukan hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga sosial dan ekonomi, seperti penyimpanan karbon, pengendalian banjir, dan pelestarian keanekaragaman hayati.

Fitrian juga menggarisbawahi pentingnya pendekatan lintas sektor dan integrasi prinsip Environmental, Social, Governance (ESG) dalam setiap kebijakan publik dan kebijakan korporasi. “Restorasi ekosistem tidak cukup hanya dengan teknologi dan regulasi. Diperlukan komitmen moral, kesadaran sosial, dan aksi nyata dari seluruh elemen masyarakat,” tegasnya.

Webinar ini memiliki relevansi tinggi dengan pembelajaran akademik di Prodi Teknik Lingkungan UNUSIDA, khususnya bagi mahasiswa yang sedang mempelajari mata kuliah Remediasi Badan Air dan Pesisir di bawah bimbingan Elsa Rosyidah, S.TP., M.IL.. Materi yang disampaikan memperkaya perspektif teoritis dan praktis mahasiswa melalui pengalaman dan insight dari praktisi profesional.

Kepala Departemen AIR, Chalimatus Sa’diyah, menyatakan bahwa keterlibatan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari strategi HIMA TL untuk mengembangkan wawasan dan memperluas relasi antar kampus.

“Mahasiswa tidak cukup hanya belajar dari buku teks. Mereka harus terkoneksi dengan isu global dan gagasan para ahli. Forum seperti ini sangat penting untuk membuka cakrawala dan menumbuhkan sensitivitas lingkungan yang lebih dalam,” ujarnya.

Selain itu, kegiatan ini turut menjadi ajang penguatan jaringan antarmahasiswa teknik lingkungan dari berbagai perguruan tinggi, membuka peluang kerja sama dalam bentuk riset, pengabdian masyarakat, hingga pertukaran ide dan pengalaman organisasi.

HIMA TL UNUSIDA juga mendelegasikan beberapa pengurus dan anggota untuk terlibat aktif dalam diskusi, mencatat poin-poin strategis, dan membagikannya kembali dalam forum internal kampus sebagai bagian dari pengayaan akademik dan organisasi.

Melalui Enviro Insight, HIMA TL UNUSIDA bertekad menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, adaptif, dan partisipatif, sebagai wujud kontribusi nyata dalam mencetak insinyur lingkungan yang kritis, kompeten, dan kolaboratif.

Di tengah eskalasi krisis iklim dan degradasi ekologis, kehadiran webinar nasional ini menjadi pengingat bahwa perlindungan dan restorasi ekosistem adalah tanggung jawab bersama, bukan semata beban pemerintah atau lembaga internasional. Partisipasi aktif mahasiswa adalah langkah kecil yang bermakna untuk masa depan bumi yang lebih lestari.

Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)

Malinda Dwi Harjani Setyo, Mahasiswi Manajemen UNUSIDA peraih Juara 3 Nasional Kejuaraan Pencak Silat “Malang Championship 5” Tahun 2025 (Foto: Istimewa)

Cerita Inspiratif Malinda, Mahasiswi UNUSIDA Peraih Juara 3 Nasional Pencak Silat 2025

Sidoarjo – Malinda Dwi Hanjani Setyo, mahasiswi Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) angkatan 2024, berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara 3 Nasional dalam ajang Kejuaraan Pencak Silat Malang Championship 5 Tahun 2025, memperebutkan Piala KEMENDIKBUD RI dan Piala Wali Kota Malang.

Dalam wawancara, Malinda mengungkapkan perasaan haru dan bangganya atas capaian tersebut. “Perasaan saya sungguh sangat senang dan bangga pada diri sendiri karena sudah mau berjuang sampai di titik ini,” ujarnya, Selasa (29/7/2025).

Motivasi Tak Pernah Padam

Sejak duduk di bangku kelas 8 SMP pada tahun 2018, Malinda telah menaruh minat besar terhadap dunia pencak silat. Berawal dari kejuaraan tingkat pondok pesantren se-Jawa dan Bali, ia terus mengasah kemampuan dan mengikuti berbagai kompetisi, dari tingkat provinsi hingga nasional. Meski kerap menemui kegagalan, ia tak pernah menyerah.

“Motivasi yang selalu saya tanamkan adalah, jika orang lain bisa, maka saya juga harus bisa,” tegasnya.

Pernah mengalami kegagalan karena kelebihan berat badan, bahkan kecelakaan parah yang membuatnya gagal ikut seleksi Porprov, tak membuat semangat Malinda padam. Sebaliknya, semua itu ia jadikan batu loncatan untuk terus membuktikan diri, termasuk kepada keluarganya yang sempat meragukan pilihannya menekuni dunia persilatan.

Perjalanan Panjang Penuh Cerita

Sebelum sukses di Malang Championship 5, Malinda sempat mengikuti berbagai kejuaraan, mulai dari O2SN, Kejurkab, Kejurda, hingga PORSENI NU tingkat nasional di Solo. Ia juga aktif dalam berbagai kategori, mulai dari tanding individu, jurus tunggal, hingga beregu bersama rekan satu kampusnya, Tri Maharani.

Tantangan pun tak hanya datang di arena pertandingan. Ketika hendak mengikuti kejuaraan di Malang, ia dan Tri Maharani bahkan hampir membatalkan keberangkatan karena kendala biaya. Berkat dukungan dari dari teman seperjuangan, serta restu orang tua dan pelatih, mereka akhirnya bisa berangkat dan pulang membawa prestasi.

“Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Dengan effort besar, mulai dari waktu, pikiran, hingga materi, semua akhirnya terbayar lunas dengan kemenangan ini,” ucap Malinda penuh haru.

Persiapan Kilat dan Mental Tangguh

Dengan waktu persiapan yang hanya empat hari, Malinda berlatih keras untuk menghadapi kejuaraan nasional ini. Meskipun latihan berlangsung singkat, fokus dan determinasi membuatnya tetap percaya diri. Ia mengakui bahwa tantangan terberat justru saat menjelang pertandingan, ketika rasa gugup mulai muncul.

“Grogi itu manusiawi. Tapi saya punya cara sendiri untuk mengatasi, salah satunya dengan bercanda bersama teman dan tidak mencari tahu siapa lawan saya. Fokus saja pada yang saya bawa ke atas matras,” jelasnya.

Momen Tak Terlupakan dan Pandangan tentang Pencak Silat

Bagi Malinda, momen paling berkesan dalam kejuaraan ini bukan hanya saat menerima medali, tapi kebersamaan bersama tim: tidur bersama di satu tempat, latihan bareng, panik bersama, dan tentu saja saling menyemangati.

“Pencak silat bukan hanya olahraga, tapi juga budaya dan karakter. Mahasiswa punya peran besar dalam melestarikannya dan menyebarkan nilai-nilai seperti disiplin, kerja sama, dan cinta tanah air,” ungkapnya.

Pesan dan Harapan

Malinda menegaskan pentingnya semangat pantang menyerah dalam meraih mimpi. “Jangan pernah takut mencoba meski hasilnya tak sesuai harapan. Habiskan masa sulitmu di masa muda, dan nikmati suksesmu di masa tua. Jangan malas berusaha dan libatkan Tuhan, orang tua, pelatih, dan orang terdekatmu dalam setiap langkahmu,” tuturnya.

Target ke depan, Malinda ingin terus berprestasi dan menorehkan pencapaian yang lebih tinggi lagi di dunia persilatan. Prestasi ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tapi juga ia persembahkan membanggakan almamater UNUSIDA, yang senantiasa mendorong mahasiswa untuk aktif, berprestasi, dan melestarikan budaya bangsa melalui berbagai jalur, termasuk pencak silat.

“Saya ingin terus melangkah lebih jauh. Semua ini bukan hanya tentang kejuaraan, tapi juga tentang membuktikan kepada diri sendiri dan keluarga bahwa saya bisa. Ini baru awal dari perjalanan panjang saya,” pungkasnya. (MY)

Prof. Dr. Ir. Hamdani, S.T., M.Cs., IPM, saat menjadi narasumber dalam Kuliah Tamu Teknik Informatika UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Teknik Informatika UNUSIDA Gelar Kuliah Tamu, Angkat Peran Kecerdasan Buatan dalam Solusi Lingkungan

Sidoarjo – Program Studi Teknik Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar kuliah tamu dengan mengangkat tema ‘Sustainable AI: Solusi Lingkungan dan Teknologi Pintar’. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari seorang Guru Besar Besar Fakultas Teknik Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur Prof. Dr. Ir. Hamdani, S.T., M.Cs., IPM. yang juga merupakan pakar teknologi kecerdasan buatan.

Kegiatan ini mendapatkan apresiasi khusus dari Wakil Rektor 1 UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd.I saat membuka acara secara langsung di Hall Lantai 4 Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Jum’at (25/7/2025). Menurutnya, kuliah tamu ini dapat memperluas wawasan mahasiswa tentang pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga berdampak positif terhadap lingkungan.

Dalam pemaparannya, Prof. Hamdani mengajak mahasiswa untuk melihat AI sebagai solusi nyata dalam menghadapi tantangan global, terutama dalam sektor pertanian dan lingkungan. Ia membagikan pengalamannya sebagai peneliti yang banyak mengangkat tema kelapa sawit dalam riset-risetnya. Salah satu penelitian unggulannya adalah sistem pendeteksi tingkat kematangan buah kelapa sawit berdasarkan bentuk dan warna, yang telah dipublikasikan di jurnal internasional dan menjadi salah satu kontribusi penting yang mengantarkannya meraih gelar guru besar.

“Hal yang terlihat sepele seperti mendeteksi kematangan buah, ternyata bisa sangat berguna jika dikembangkan dengan pendekatan teknologi yang tepat. Penelitian itu tidak harus jauh-jauh, cukup dari lingkungan sekitar kita,” ungkapnya saat menyampaikan materi.

Ia menjelaskan bahwa transformasi pertanian dengan AI adalah bagian dari revolusi industri 5.0 yang kini berjalan berdampingan dengan kecerdasan buatan. Melalui pendekatan ini, pekerjaan manusia menjadi lebih mudah dan efisien, termasuk dalam sektor-sektor yang selama ini dianggap tradisional seperti pertanian dan perkebunan.

Selain berbagi pengalaman teknis, Prof. Hamdani juga memberikan motivasi kepada para peserta kuliah tamu. Ia menekankan pentingnya melakukan riset secara konsisten bagi siapa pun yang bercita-cita menjadi akademisi maupun praktisi teknologi yang berpengaruh.

“Kalau mau jadi guru besar, harus rajin meneliti. Yang penting, penelitian itu bermanfaat, dibaca, dan bisa dijadikan referensi oleh banyak orang. Dari situ, kontribusi kita terhadap dunia akan terlihat,” jelasnya.

Ia juga membahas metodologi penelitian yang tepat, pentingnya memilih topik yang relevan, serta bagaimana hasil riset dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Acara berlangsung dengan antusias dan interaktif, diikuti oleh mahasiswa dan dosen dari Fakultas Ilmu Komputer UNUSIDA. Para peserta mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana AI dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dan solutif, tidak hanya di dunia industri, tetapi juga dalam konteks sosial dan lingkungan. (MY)

Benchmarking ITSNU Pekalongan di UNU Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Benchmarking ITSNU Pekalongan ke UNU Sidoarjo: Sinergi Penguatan Tata Kelola Kelembagaan

Sidoarjo – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menerima kunjungan benchmarking dari Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pekalongan, Senin (21/7/2025). Kunjungan ini menjadi sarana silaturahmi dan saling belajar antar perguruan tinggi Nahdlatul Ulama dalam rangka penguatan tata kelola kelembagaan dan peningkatan mutu pendidikan tinggi berbasis nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo, KH Zainal Abidin, dalam sambutannya menyampaikan pesan penting bahwa UNUSIDA harus selalu menjadi lebih maju dan terdepan dibandingkan perguruan tinggi lain di Sidoarjo. Hal ini, menurutnya, bukan hanya menjadi cita-cita, tetapi sebuah amanah yang harus diwujudkan dengan kerja nyata dan semangat khidmat.

“Menurut penelitian yang dilakukan PCNU Sidoarjo, sebanyak 67% warga Sidoarjo adalah bagian dari Nahdlatul Ulama. Maka NU harus menjadi pelopor dalam bidang kesehatan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. UNUSIDA sebagai lembaga pendidikan tinggi NU harus mengambil peran strategis dalam misi besar ini,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya menata dan menyepakati arah gerak organisasi melalui statuta yang jelas. Berbagai organ di UNUSIDA, baik akademik maupun non-akademik harus memainkan peran secara proporsional. Dalam hal ini, Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNUSIDA yang terdiri dari banyak praktisi profesional turut mengambil peran penting dalam membangun tata kelola perguruan tinggi yang kuat dan berdaya saing.

“Melalui komunikasi dan sinergi baik dari praktisi berpengalaman, dapat mampu menjadi motor penggerak pembangunan perguruan tinggi yang unggul,” katanya.

Dalam forum tersebut, turut dibahas pentingnya memperkuat komunikasi dan koordinasi antara BPP, Rektorat UNUSIDA, dan seluruh stakeholder lainnya, seperti PCNU Sidoarjo, PC Muslimat NU Sidoarjo, bahkan sampai dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Prinsip musyawarah menjadi landasan utama dalam pengambilan keputusan strategis, dengan menjunjung tinggi kolaborasi dan pelibatan semua pihak.

“Dengan semangat khidmat dan niat untuk menyebarkan kebaikan, UNUSIDA terus melangkah untuk mewujudkan pendidikan tinggi NU yang unggul, inklusif, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan umat dan bangsa,” imbuhnya.

Rektor UNUSIDA, H Fatkul Anam menyampaikan apresiasi atas kehadiran ITSNU Pekalongan. Ia menyebutkan bahwa pihaknya sangat terbuka untuk berbagi pengalaman, termasuk sistem tata kelola kampus yang telah diterapkan dan dikembangkan selama ini.

“Kegiatan benchmarking ini sangat penting untuk saling bertukar gagasan dan praktik baik. Kami terbuka terhadap berbagai masukan demi kemajuan UNUSIDA dan siap berkontribusi lebih besar untuk NU dan masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Sementara itu, Rektor ITSNU Pekalongan H Ali Imron juga menyampaikan kekaguman terhadap tata kelola UNUSIDA yang dinilai sudah cukup matang dan memiliki arah strategis yang jelas. Mereka berharap kunjungan ini menjadi awal dari sinergi yang lebih erat antar kampus NU di seluruh Indonesia.

“Terima kasih atas sambutan hangat dan kesempatan belajar yang diberikan. Kami menilai UNUSIDA telah menunjukkan kematangan dalam sistem pengelolaan yang patut dijadikan inspirasi,” ungkapnya. (MY)

Flyer Ucapan Prestasi Juara 1 Funtaxtic 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Bangga! 2 Mahasiswi Prodi Akuntansi UNUSIDA Raih Juara 1 Lomba Poster Funtaxtic 2025

Sidoarjo – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Kali ini dua mahasiswi Program Studi (Prodi) Akuntansi, Chusnul Khotimah dan Reni Sagita, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Poster tingkat perguruan tinggi pada ajang Funtaxtic 2025, yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Timur II.

Kompetisi tahunan yang mengusung tema ‘Pajak Kuat, Indonesia Maju’ ini bertujuan untuk meningkatkan literasi pajak di kalangan generasi muda. Melalui berbagai kategori lomba, termasuk desain poster, DJP Jatim II mengajak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk menyampaikan pesan-pesan penting tentang pajak secara kreatif dan komunikatif.

Poster karya Chusnul dan Reni berjudul ‘Pahlawan di Era Modern dengan Bayar Pajak untuk Indonesia Emas’, sukses mencuri perhatian dewan juri. Lewat visual yang bersih, modern, dan penuh makna, mereka menyampaikan pesan bahwa membayar pajak adalah bentuk kontribusi nyata dan heroik dari warga negara dalam pembangunan bangsa.

“Kami ingin mengubah persepsi bahwa pajak itu membosankan dan hanya soal kewajiban,” ujarnya.

Chusnul menjelaskan, partisipasinya kali ini menjadi sarana mengedukasi masyarakat tentang pajak. Ia menilai lomba ini sebagai wadah untuk menyuarakan pentingnya pajak secara kreatif. Sebab, penggunaan media poster dinilai sangat strategis dalam menyampaikan pesan pajak kepada generasi digital.

“Lewat poster ini, kami ingin menunjukkan bahwa pajak adalah bentuk partisipasi aktif kita membangun masa depan bersama. Setiap kontribusi kecil bisa menjadi bagian dari perubahan besar,” katanya.

Dalam posternya, mereka menggunakan analogi menarik:

  • Pahlawan modern = Warga negara yang taat membayar pajak

  • Perjuangan pahlawan = Membayar pajak demi kemajuan negara

  • Keuntungan pajak = Ekonomi stabil, masyarakat sejahtera, dan fasilitas publik membaik

Sementara itu, Reni Sagita menambahkan bahwa kesuksesan poster mereka adalah hasil dari proses riset mendalam dan kolaborasi yang solid.

“Kami benar-benar ingin poster ini bisa dipahami semua kalangan, bahkan yang tidak punya latar belakang akuntansi. Pesannya harus relatable, desainnya menarik, tapi tetap akurat secara data,” jelasnya.

Kreativitas dan pesan yang kuat dalam poster tersebut dinilai unggul oleh tim juri, yang terdiri dari perwakilan DJP dan praktisi desain kreatif. Kriteria penilaian mencakup orisinalitas ide, relevansi pesan, estetika visual, dan kekuatan komunikasi.

Kemenangan ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Akuntansi UNUSIDA tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kemampuan komunikasi visual yang kuat. Program Studi Akuntansi terus mendorong mahasiswanya untuk aktif berpartisipasi dalam berbagai kompetisi bertema isu-isu nasional seperti literasi finansial dan pajak.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa edukasi pajak bisa disampaikan dengan cara yang kreatif, menyenangkan, dan tetap berdampak,” imbuhnya.

DJP Jatim II juga menyampaikan apresiasi atas antusiasme mahasiswa dan kualitas karya yang ditampilkan dalam Funtaxtic 2025. Menurut mereka, karya-karya seperti ini sangat efektif dalam menjangkau generasi Z dan milenial, kelompok yang menjadi kunci dalam transformasi budaya taat pajak di Indonesia.

Ke depan, ia berharap semakin banyak kolaborasi antara akademisi dan praktisi pajak untuk menumbuhkan kesadaran pajak yang lebih luas dan berkelanjutan.

“Semoga prestasi ini menjadi contoh nyata bagaimana generasi muda bisa menjadi agen perubahan melalui karya yang edukatif, inspiratif, dan penuh makna,” pungkasnya. (MY)