Workshop Bina Talenta di UNUSIDA, Anggota DPR RI Komisi X Dorong Mahasiswa Siap Hadapi Era AI
SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Workshop Bina Talenta hasil kolaborasi DPR RI Komisi X dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Kegiatan ini erlangsung di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur KM 5,5 Rangkah Kidul, Sidoarjo, Sabtu (31/10/2026).
Dengan mengusung tema ‘Sinergi Kebijakan Pendidikan Tinggi, Riset, dan Inovasi dalam Mewujudkan Generasi Unggul, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan’, kegiatan yang diikuti sekitar 120 peserta yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa UNUSIDA ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan talenta mahasiswa dan menghadapi tantangan pendidikan tinggi di era transformasi digital.
Workshop . Hadir sejumlah narasumber terkemuka, di antaranya Prof. Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., Apt. (Narasumber 1), Dr. Ng. Tirto Adi, M.Pd. (Narasumber 2), dan Dr. H. Ali Masykuri, S.Pd., M.Pd.I. (Narasumber 3).
Dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi X DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Timur I (Surabaya–Sidoarjo), dr. Adela Kanasya Adies menyoroti pentingnya kesiapan generasi muda dalam menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Menurutnya, tantangan pendidikan Indonesia saat ini bukan hanya memastikan masyarakat memperoleh akses pendidikan tinggi, melainkan juga menjamin lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah berbagai sektor pekerjaan. Sejumlah profesi baru bermunculan, bahkan jenis pekerjaan yang sebelumnya belum terpikirkan satu dekade lalu kini mulai menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menuntut mahasiswa untuk terus belajar, meningkatkan keterampilan, dan memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
Adela mengingatkan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir kritis dan nilai-nilai kemanusiaan. AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas, mengembangkan kreativitas, hingga mendukung penyelesaian berbagai pekerjaan. Namun, manusia tetap harus memiliki kendali atas proses berpikir dan pengambilan keputusan.
“Tantangan kita bukan untuk melawan teknologi, tetapi menguasai teknologi tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Kita bisa menggunakan dan mempelajari AI, tetapi jangan menyerahkan kemampuan berpikir sebagai manusia kepada teknologi,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa empati, tanggung jawab, integritas, serta keberanian mengambil keputusan merupakan nilai yang tidak boleh ditinggalkan dalam menghadapi perkembangan teknologi. Menurutnya, generasi muda harus mampu memanfaatkan kemajuan digital secara bijak tanpa kehilangan identitas dan tanggung jawab sosial.
Selain kesiapan teknologi, Adela menyoroti pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, peneliti, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan serta inovasi. Ia mendorong agar hasil penelitian di perguruan tinggi tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga mampu dikembangkan menjadi inovasi, teknologi, kebijakan, maupun produk yang memberikan manfaat nyata.
Riset perguruan tinggi diharapkan dapat menjawab berbagai persoalan masyarakat, mulai dari sektor industri, UMKM, pertanian, pendidikan, hingga pembangunan daerah. Dalam konteks wilayah Surabaya dan Sidoarjo, ia melihat adanya potensi besar yang dapat dikembangkan melalui sinergi antarsektor. Surabaya memiliki ekosistem pendidikan yang kuat, sementara Sidoarjo didukung basis industri dan UMKM yang berkembang. Kedua potensi tersebut perlu dihubungkan melalui kolaborasi yang berkelanjutan.
Lebih lanjut, Adela mengajak mahasiswa untuk mengubah pola pikir dari sekadar menjadi pencari kerja menjadi generasi yang mampu menciptakan peluang dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Generasi unggul, menurutnya, tidak cukup diukur melalui capaian akademik, popularitas, maupun jumlah pengikut di media sosial. Hal yang lebih penting adalah kemampuan menghadirkan gagasan, memberikan solusi, dan menghasilkan dampak positif bagi masyarakat.
Ia turut mengingatkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai ruang pembentukan budaya demokrasi, pengembangan pemikiran kritis, serta pembelajaran dalam menghargai perbedaan pendapat yang dilandasi literasi dan tanggung jawab.
“Workshop ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perubahan zaman,” pungkasnya.









