Filosofi Dan Makna Logo Harlah UNUSIDA Ke-12 1

Filosofi Dan Makna Logo Harlah UNUSIDA Ke-12

Bersama Bergerak, Nyata Berdampak

Logo Harlah Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) ke-12 merupakan representasi visual

perjalanan, semangat, dan komitmen UNUSIDA dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas

serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Mengusung tema “Bersama Bergerak, Nyata

Berdampak”, logo ini menggambarkan sinergi seluruh sivitas akademika dalam membangun masa

depan yang lebih baik melalui kolaborasi, inovasi, dan pengabdian.

Filosofi Bentuk

Bentuk utama logo menampilkan angka 12 yang menjadi simbol usia UNUSIDA yang ke-12. Angka

tersebut dibangun dari elemen-elemen geometris yang saling terhubung, menggambarkan

kebersamaan, kekompakan, dan kolaborasi seluruh elemen universitas dalam mencapai tujuan

bersama.

Susunan elemen yang membentuk arah gerak ke atas dan ke depan melambangkan semangat

progresif, optimisme, serta komitmen UNUSIDA untuk terus berkembang dan beradaptasi menghadapi

tantangan zaman. Setiap langkah yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan institusi,

tetapi juga menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.

Filosofi Warna

Hijau melambangkan identitas Nahdlatul Ulama yang menjadi landasan nilai UNUSIDA, sekaligus

mencerminkan pertumbuhan, keberlanjutan, dan semangat membangun peradaban melalui

pendidikan.

Kuning emas merepresentasikan prestasi, optimisme, dan cita-cita luhur untuk terus menghasilkan

karya serta kontribusi terbaik bagi bangsa dan masyarakat.

Perpaduan kedua warna tersebut menggambarkan harmoni antara nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan

profesionalisme yang menjadi karakter khas UNUSIDA.

Makna Tagline

“Bersama Bergerak, Nyata Berdampak” menjadi refleksi semangat Harlah UNUSIDA ke-12 untuk terus

melibatkan seluruh sivitas akademika, alumni, mitra, dan masyarakat dalam satu gerakan kolaboratif

yang menghasilkan manfaat nyata. Tagline ini menegaskan bahwa setiap langkah, inovasi, dan pengabdian yang dilakukan UNUSIDA tidak hanya menjadi aktivitas akademik semata, tetapi juga

memberikan dampak positif yang dirasakan secara luas oleh masyarakat.

Melalui momentum Harlah ke-12, UNUSIDA meneguhkan komitmennya untuk terus tumbuh, bergerak

bersama, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan, masyarakat, serta bangsa

Indonesia.

Link Download Logo Harlah UNUSIDA ke 12

https://s.unusida.ac.id/Logo-Harlah12-UNUSIDA

Beberapa Tangkapan Layar Zoom Meeting saat Webinar Internasional BEM FKIP UNUSIDA (Foto: Istimewa)

BEM FKIP UNUSIDA Gelar International Webinar 2026, Hadirkan Ruang Akademik yang Bedaya Saing Global

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan International Webinar 2026 dengan mengusung tema ‘The Heart of Education: Everyone Can Inspire, Everyone Can Educate’ pada Rabu (17/6/2026). Kegiatan yang dilaksanakan secara luring di Auditorium Lantai 5 Kampus II UNUSIDA dan daring melalui Zoom Meeting ini diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan.

Webinar internasional tersebut menghadirkan narasumber inspiratif, yakni Dr. Nico Irawan, M.Pd dan Dr. Hj. Farida Ulvi Naimah, M.H.I. Sementara itu, Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., hadir sebagai keynote speaker yang memberikan pandangan mengenai pentingnya pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan dan inspirasi.

Dalam sambutannya, Muawwinatul Laili menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, peserta, mahasiswa, serta panitia yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut. Menurutnya, tema webinar menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, melainkan hadir dalam setiap aspek kehidupan.

“Pendidikan adalah panggilan hati. Setiap individu memiliki potensi untuk mengajar melalui tindakan, nilai-nilai, dan pengalaman yang dimilikinya. Karena itu, setiap orang dapat menjadi inspirasi dan setiap orang dapat menjadi pendidik,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa webinar ini menjadi ruang penting untuk bertukar gagasan, pengalaman, serta inovasi pendidikan yang dapat memperkuat kolaborasi antarpendidik dan akademisi lintas negara. Melalui diskusi yang berlangsung, peserta diharapkan mampu memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan masing-masing.

Sementara itu, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya webinar internasional yang diinisiasi oleh BEM FKIP UNUSIDA. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi bukti semangat mahasiswa dalam menghadirkan ruang akademik yang berkualitas dan berdaya saing global.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Dekan FKIP beserta jajarannya, serta Ketua BEM FKIP dan seluruh panitia yang telah menyelenggarakan kegiatan luar biasa ini. Kehadiran lebih dari 280 peserta menunjukkan tingginya antusiasme terhadap pengembangan pendidikan dan kolaborasi internasional,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hadi Ismanto juga mengajak mahasiswa untuk memaknai pendidikan secara lebih luas. Menurutnya, pendidikan bukan hanya soal proses belajar mengajar di ruang kelas, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu memberikan inspirasi, teladan, serta menciptakan peluang bagi masyarakat.

“Jantung pendidikan bukan hanya kurikulum, gedung sekolah, atau teknologi pembelajaran, melainkan manusia yang saling menginspirasi dan membimbing satu sama lain. Pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia,” tegasnya.

Ia juga mendorong mahasiswa FKIP untuk berani berinovasi dan mengembangkan jiwa kewirausahaan di bidang pendidikan. Menurutnya, perkembangan teknologi digital membuka peluang yang luas bagi para pendidik untuk menciptakan media pembelajaran, platform edukasi, maupun berbagai inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki peran dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak harus menjadi guru di sekolah, setiap orang dapat berkontribusi sebagai pendidik melalui keteladanan, kreativitas, dan aksi nyata yang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

“Semoga kegiatan menjadi wadah untuk memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus menginspirasi mahasiswa FKIP UNUSIDA agar terus berkembang menjadi pendidik yang inovatif, adaptif, dan mampu menjawab tantangan pendidikan di era global,” pungkasnya.

Panitia KKN UNUSIDA 2026 Perkuat Sinergi Strategis dengan TAPM Sidoarjo untuk Matangkan Program Kerja Mahasiswa 2

Panitia KKN UNUSIDA 2026 Perkuat Sinergi Strategis dengan TAPM Sidoarjo untuk Matangkan Program Kerja Mahasiswa

SIDOARJO — Dalam upaya memastikan pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang berkualitas dan berdampak bagi masyarakat, Panitia Kuliah Kerja Nyata (KKN)  Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) 2026 melakukan kunjungan koordinatif ke Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian persiapan penelaahan pemaparan program kerja mahasiswa yang akan diterjunkan ke berbagai desa sasaran KKN tahun 2026.

Kunjungan yang berlangsung pada Rabu (17/6) ini dilakukan sebagai langkah strategis untuk memperkuat kualitas perencanaan program kerja mahasiswa sebelum pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. Melalui koordinasi dengan TAPM, Panitia KKN UNUSIDA berupaya memastikan bahwa seluruh rancangan program yang disusun mahasiswa tidak hanya memenuhi aspek akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat dan selaras dengan arah pembangunan desa.

Kuliah Kerja Nyata merupakan salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa dituntut untuk mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat. Oleh karena itu, penyusunan program kerja yang tepat menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan KKN.

Ketua Panitia KKN UNUSIDA 2026 menjelaskan bahwa koordinasi dengan TAPM dilakukan untuk memperoleh masukan, perspektif, serta penilaian yang lebih komprehensif terhadap program-program yang akan dijalankan mahasiswa di desa. Dengan melibatkan pihak yang memiliki pengalaman dan pemahaman mendalam mengenai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa, diharapkan program yang dirancang mahasiswa dapat memberikan manfaat yang lebih optimal.

“Kami ingin memastikan bahwa program kerja mahasiswa benar-benar berangkat dari kebutuhan masyarakat dan potensi yang dimiliki desa. Karena itu, keterlibatan TAPM sebagai mitra strategis sangat penting untuk memberikan masukan terhadap rancangan program yang telah disusun mahasiswa,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Panitia KKN UNUSIDA dan TAPM Kabupaten Sidoarjo membahas berbagai aspek terkait mekanisme penelaahan program kerja mahasiswa. TAPM nantinya akan berperan sebagai reviewer yang memberikan penilaian dan rekomendasi terhadap rancangan program yang dipresentasikan mahasiswa sebelum diterapkan di lapangan.

Peran tersebut dinilai sangat penting karena proses penelaahan tidak hanya berfokus pada kelengkapan administrasi, melainkan juga menyoroti substansi program yang diajukan. Beberapa aspek yang menjadi perhatian dalam proses review meliputi relevansi program terhadap kebutuhan masyarakat, kesesuaian dengan potensi lokal desa, kelayakan pelaksanaan, tingkat partisipasi masyarakat, hingga potensi keberlanjutan program setelah kegiatan KKN selesai dilaksanakan.

Melalui proses tersebut, mahasiswa diharapkan dapat menyusun program yang lebih terarah, realistis, dan mampu memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat. Selain itu, penelaahan juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya perencanaan berbasis data dan kebutuhan lapangan dalam setiap kegiatan pemberdayaan masyarakat.

KKN UNUSIDA 2026 sendiri dirancang sebagai wahana pembelajaran kontekstual yang memungkinkan mahasiswa mengimplementasikan kompetensi akademik dalam kehidupan bermasyarakat. Program ini tidak hanya menjadi sarana pengabdian, tetapi juga media pengembangan kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi masalah, merumuskan solusi, membangun kolaborasi, serta mengelola program yang berorientasi pada pemberdayaan.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan dituntut untuk mampu menyusun program yang sesuai dengan karakteristik desa lokasi KKN. Oleh karena itu, proses pemaparan dan penelaahan program kerja menjadi tahapan penting yang harus dilalui sebelum mahasiswa diterjunkan ke lapangan.

TAPM Kabupaten Sidoarjo menyambut baik inisiatif Panitia KKN UNUSIDA yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam proses persiapan KKN. Menurut mereka, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pihak yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat dapat menjadi langkah positif dalam menciptakan program-program yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

Pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat menjadi salah satu fokus utama dalam proses review yang akan dilakukan. Dengan memahami kondisi sosial, ekonomi, dan potensi yang dimiliki masing-masing desa, program kerja mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi yang relevan serta mendukung agenda pembangunan desa secara berkelanjutan.

Selain itu, keterlibatan TAPM juga diharapkan dapat memperkuat proses validasi terhadap rancangan program mahasiswa. Melalui masukan yang diberikan, mahasiswa dapat melakukan penyempurnaan program sehingga kegiatan yang akan dilaksanakan benar-benar memiliki nilai manfaat dan peluang keberlanjutan yang tinggi.

Kegiatan koordinatif ini sekaligus menjadi wujud komitmen UNUSIDA dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan KKN dari tahun ke tahun. Universitas tidak hanya mendorong mahasiswa untuk hadir di tengah masyarakat, tetapi juga memastikan bahwa kehadiran tersebut membawa kontribusi nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat desa.

Melalui sinergi antara Panitia KKN UNUSIDA 2026, TAPM Kabupaten Sidoarjo, dan berbagai pihak terkait lainnya, diharapkan pelaksanaan KKN tahun ini dapat berjalan lebih efektif, terukur, dan memberikan dampak yang berkelanjutan. Program-program yang dihasilkan mahasiswa diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung upaya pembangunan desa yang partisipatif dan berbasis potensi lokal.

Dengan persiapan yang matang dan kolaborasi yang kuat, KKN UNUSIDA 2026 diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan akademik semata, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menghadirkan inovasi, solusi, dan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat serta pembangunan desa di Kabupaten Sidoarjo.(Tantri)

HIMA Teknik Kimia UNUSIDA Gelar Pelatihan Software ANSYS untuk Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa di Bidang Simulasi Teknik 3

HIMA Teknik Kimia UNUSIDA Gelar Pelatihan Software ANSYS untuk Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa di Bidang Simulasi Teknik

SIDOARJO – Himpunan Mahasiswa (HIMA) Teknik Kimia Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas dan kompetensi mahasiswa melalui penyelenggaraan kegiatan Pelatihan Software ANSYS. Kegiatan yang menjadi salah satu program kerja HIMA Teknik Kimia ini dilaksanakan di Auditorium Lantai 4 Kampus 2 Lingkar Timur UNUSIDA, Sabtu (28/6/2026).

Pelatihan tersebut diikuti oleh 17 mahasiswa Teknik Kimia yang antusias untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan mereka dalam menggunakan perangkat lunak ANSYS. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Muhammad Nazarullah, mahasiswa Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), yang memiliki pengalaman dan kompetensi dalam pemanfaatan software simulasi teknik.

Ketua panitia kegiatan menyampaikan bahwa pelatihan ini diselenggarakan sebagai upaya untuk memberikan wawasan tambahan kepada mahasiswa di luar materi yang diperoleh di bangku perkuliahan. Di era industri modern yang semakin mengandalkan teknologi digital dan perangkat lunak rekayasa, kemampuan mengoperasikan software simulasi menjadi salah satu kompetensi yang sangat dibutuhkan oleh calon lulusan Teknik Kimia.

“Pelatihan ANSYS ini merupakan salah satu bentuk pengembangan kapasitas mahasiswa agar memiliki bekal keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia industri. Kami berharap peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikan software tersebut dalam berbagai kebutuhan analisis dan simulasi teknik,” ujarnya.

ANSYS sendiri merupakan salah satu perangkat lunak berbasis simulasi yang banyak digunakan dalam berbagai bidang teknik, termasuk teknik kimia, teknik mesin, teknik sipil, dan teknik industri. Software ini memungkinkan pengguna untuk melakukan analisis, pemodelan, serta simulasi berbagai fenomena teknik secara virtual sehingga dapat membantu proses perancangan dan pengambilan keputusan secara lebih efektif dan efisien.

Kegiatan diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh panitia pelaksana. Setelah itu, peserta mendapatkan pengenalan mengenai software ANSYS, mulai dari fungsi, fitur utama, hingga penerapannya dalam dunia akademik maupun industri. Materi yang disampaikan dirancang agar mudah dipahami oleh mahasiswa yang baru pertama kali mengenal software tersebut maupun peserta yang telah memiliki dasar pengetahuan sebelumnya.

Dalam pemaparannya, Muhammad Nazarullah menjelaskan pentingnya penguasaan perangkat lunak simulasi sebagai salah satu keterampilan pendukung bagi mahasiswa teknik. Menurutnya, perkembangan teknologi industri saat ini menuntut lulusan perguruan tinggi untuk tidak hanya menguasai konsep teoritis, tetapi juga memiliki kemampuan teknis yang dapat menunjang proses kerja secara profesional.

“Penggunaan software simulasi seperti ANSYS dapat membantu mahasiswa memahami berbagai fenomena teknik secara lebih visual dan terukur. Selain itu, kemampuan ini juga menjadi nilai tambah ketika nantinya memasuki dunia kerja karena banyak perusahaan yang memanfaatkan simulasi untuk meningkatkan efisiensi proses dan mengurangi risiko kesalahan dalam perancangan,” jelasnya.

Tidak hanya menerima materi secara teoritis, peserta juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sesi praktik langsung. Pada sesi ini, narasumber membimbing peserta dalam mengoperasikan software ANSYS, mulai dari proses pembuatan model sederhana, pengaturan parameter simulasi, hingga interpretasi hasil analisis yang dihasilkan oleh program.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta aktif mengikuti setiap tahapan praktik serta berdiskusi mengenai berbagai kendala yang sering ditemui saat menggunakan software simulasi. Pendekatan pembelajaran yang menggabungkan teori dan praktik ini dinilai mampu membantu peserta memahami materi dengan lebih baik.

Salah satu peserta mengungkapkan bahwa pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru yang sangat bermanfaat. Menurutnya, kemampuan menggunakan software ANSYS akan menjadi bekal penting dalam menunjang proses pembelajaran maupun pengembangan kompetensi di bidang teknik kimia.

“Saya merasa pelatihan ini sangat membantu karena kami bisa langsung mencoba menggunakan software ANSYS. Selama ini kami hanya mendengar tentang software simulasi, tetapi melalui kegiatan ini kami dapat memahami cara kerjanya secara langsung,” ungkapnya.

Selain sesi praktik, kegiatan juga diisi dengan sesi tanya jawab yang berlangsung aktif. Peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali lebih dalam mengenai fitur-fitur ANSYS, penerapan software dalam penelitian, hingga peluang penggunaannya dalam menyelesaikan berbagai permasalahan teknik di dunia industri.

Melalui kegiatan ini, HIMA Teknik Kimia UNUSIDA berharap dapat mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang teknologi dan rekayasa. Pelatihan semacam ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan serta meningkatkan kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif.

Secara keseluruhan, kegiatan Pelatihan Software ANSYS berjalan dengan tertib, lancar, dan sesuai dengan susunan acara yang telah direncanakan. Antusiasme peserta yang tinggi menjadi indikator bahwa pelatihan berbasis keterampilan teknis seperti ini sangat dibutuhkan oleh mahasiswa sebagai pelengkap pembelajaran akademik.

Melalui program kerja yang berorientasi pada peningkatan kompetensi mahasiswa, HIMA Teknik Kimia UNUSIDA terus berupaya menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bermanfaat secara akademik, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah bagi pengembangan karier mahasiswa di masa depan. Diharapkan, pelatihan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan materi yang lebih luas sehingga semakin banyak mahasiswa yang memperoleh kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan daya saingnya di era industri berbasis teknologi. (Dharma Putra)

BEM UNUSIDA Hadirkan Diskusi Kritis Lewat Pemutaran Film Dokumenter Pesta Babi (Foto: Humas UNUSIDA)

BEM UNUSIDA Gelar Nobar Film Dokumenter Pesta Babi, Bangun Kepekaan Sosial Mahasiswa

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (BEM UNUSIDA) bekerja sama dengan berbagai organisasi kemahasiswaan dan komunitas intelektual kampus menyelenggarakan kegiatan Nonton Bareng (Nobar) film dokumenter Pesta Babi di area parkir belakang Gedung A UNUSIDA, Rabu (10/06/2026) malam. Mengusung tema ‘Membaca Realitas Sosial Melalui Film Dokumenter: Ruang Belajar, Refleksi, dan Diskusi Mahasiswa’, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran alternatif yang mengajak mahasiswa memahami berbagai persoalan sosial, budaya, dan lingkungan yang terjadi di Indonesia, khususnya di Papua.

Suasana hangat dan penuh antusiasme mahasiswa dari berbagai program studi mewarnai jalannya pemutaran film yang berlangsung secara khidmat. Film dokumenter Pesta Babi menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat adat Papua yang berhadapan dengan berbagai perubahan sosial akibat ekspansi pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam.

Melalui narasi visual yang kuat, film tersebut tidak hanya menampilkan persoalan hilangnya ruang hidup masyarakat adat, tetapi juga menggambarkan pergulatan identitas budaya, hubungan manusia dengan alam, serta tantangan yang dihadapi masyarakat lokal dalam mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun.

Presiden Mahasiswa UNUSIDA, M. Rafly Afandi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mahasiswa untuk memperluas ruang belajar di luar lingkungan kelas. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi di tengah masyarakat.

“Film dokumenter memiliki kekuatan untuk menghadirkan realitas yang sering kali tidak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak mahasiswa melihat Indonesia secara lebih utuh, memahami keberagaman persoalan yang dihadapi masyarakat, serta menumbuhkan empati sebagai fondasi penting dalam kehidupan berbangsa,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut mendapat apresiasi dari Kepala Biro Kemahasiswaan, Karir, dan Alumni UNUSIDA, Fajar Nur Yasin, S.Pd., M.Pd. Ia menilai bahwa inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan ruang diskusi yang kritis dan edukatif merupakan bentuk nyata pengembangan budaya akademik di lingkungan kampus.

Menurutnya, media budaya dan seni seperti film dokumenter dapat menjadi instrumen pembelajaran yang relevan untuk membantu mahasiswa memahami kompleksitas realitas sosial yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Pihaknya terus berupaya menghadirkan ruang dialog yang sehat, reflektif, dan bermakna bagi mahasiswa.

“Kampus harus menjadi ruang yang terbuka bagi pertukaran gagasan dan refleksi kritis. Film dokumenter bukan sekadar tontonan, melainkan sumber pengetahuan yang mampu memperkaya perspektif mahasiswa terhadap realitas sosial yang kompleks. Inilah bentuk pembelajaran kontekstual yang perlu terus dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi,” ungkapnya.

Setelah pemutaran film selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan dan pengalaman. Forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus pendalaman isu yang diangkat dalam film.

Founder The Indonesian Foresight Research Institute (IFRI), Ali Mursyid Azisi, menyoroti pentingnya kemampuan generasi muda dalam membaca arah pembangunan secara kritis dan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa berbagai persoalan yang ditampilkan dalam film tidak dapat dipandang sebagai isu lokal semata, melainkan bagian dari tantangan pembangunan yang dihadapi bangsa secara lebih luas.

“Persoalan yang ditampilkan dalam film ini bukan sekadar isu lokal, melainkan gambaran tentang bagaimana pembangunan harus selalu mempertimbangkan aspek sosial, budaya, dan lingkungan. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan melihat persoalan hari ini dalam konteks masa depan agar mampu melahirkan solusi yang lebih berkeadilan,” jelasnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Bung Wawan Leak, Senator ProDEM sekaligus Eksponen 80-an. Ia mengajak mahasiswa untuk terus menjaga keberpihakan terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini kurang mendapatkan ruang dalam narasi pembangunan nasional.

“Bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya membangun gedung-gedung tinggi, tetapi bangsa yang mampu mendengar suara masyarakat di pinggiran. Film ini mengingatkan kita bahwa kemajuan harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap martabat manusia dan hak-hak masyarakat adat,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Studi Sosial Budaya dan Islam Nusantara UNUSIDA, M. Idham Kholiq, S.Sos., M.AP., memberikan perspektif mengenai pentingnya menjaga identitas budaya masyarakat adat sebagai bagian dari kekayaan bangsa Indonesia. Menurutnya, kehilangan ruang hidup bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga berkaitan dengan hilangnya memori kolektif dan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Ketika suatu komunitas kehilangan ruang hidupnya, yang hilang bukan hanya tanah secara fisik, tetapi juga memori kolektif, pengetahuan lokal, dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, menjaga keberlanjutan budaya sama pentingnya dengan menjaga keberlanjutan lingkungan,” tuturnya.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta yang menyoroti isu lingkungan, hak masyarakat adat, pembangunan berkelanjutan, hingga peran generasi muda dalam menghadapi tantangan sosial kontemporer. Melalui forum tersebut, mahasiswa diajak untuk tidak hanya menjadi penonton atas berbagai persoalan bangsa, tetapi juga menjadi bagian dari solusi melalui penguatan literasi, riset, advokasi, dan aksi sosial yang konstruktif.

 

Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)

Kerja sama antara FILKOM UNUSIDA dan Media Dakwah Pondok Pesantren Langitan Tuban (Foto: Humas UNUSIDA)

Transformasi Digital Pesantren, FILKOM UNUSIDA Dampingi Media Dakwah Langitan Kelola Database dan AI

TUBAN — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menjalin kolaborasi strategis dengan Media Dakwah Pondok Pesantren Langitan dalam penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) Akademi Media Dakwah Langitan bertema ‘Akselerasi Dakwah Santri: Sinkronisasi Manajemen Database dan Optimalisasi AI untuk Efisiensi Media Pesantren’ di Kantor Pusat Langitan Lantai 3, Kamis (11/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Dekan FILKOM UNUSIDA Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T. sebagai fasilitator utama sekaligus narasumber menyebutkan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah nyata dalam mendukung transformasi digital di lingkungan pesantren, khususnya dalam pengelolaan data dan pengembangan media dakwah berbasis teknologi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, lembaga pesantren dituntut untuk mampu mengelola berbagai aset data secara efektif agar dapat mendukung aktivitas dakwah yang lebih terstruktur, efisien, dan berkelanjutan.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah mendorong pertumbuhan data yang sangat cepat di lingkungan pesantren. Berbagai data penting mulai dari data personalia, arsip dakwah digital, inventaris media, hingga rekam jejak konten terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas dakwah dan publikasi digital.

Dalam pemaparannya, Dr. Arda Surya Editya menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital harus diawali dengan tata kelola data yang baik.

“AI akan memberikan manfaat yang optimal apabila didukung oleh sistem database yang terstruktur, terdokumentasi dengan baik, dan mampu terintegrasi antar-unit kerja. Karena itu, pembenahan manajemen data menjadi fondasi utama sebelum melakukan pengembangan teknologi yang lebih lanjut,” jelasnya.

Namun demikian, Direktur Media Dakwah Pondok Pesantren Langitan Ustadz Muhammad Sholeh menerangkan bahwa tantangan yang dihadapi saat ini tidak hanya terletak pada jumlah data yang semakin besar, melainkan juga bagaimana data tersebut dapat dikelola, disimpan, dan disinkronisasikan secara efektif antar-divisi. Ketidakteraturan pengelolaan data berpotensi menimbulkan duplikasi informasi, kesulitan pencarian arsip, hingga risiko kehilangan data penting yang dibutuhkan dalam proses kerja media.

Melihat kondisi tersebut, pihaknya mencoba berkolaborasi bersama FILKOM UNUSIDA menginisiasi forum diskusi terarah untuk merumuskan sistem pengelolaan data yang lebih terstruktur, aman, dan aplikatif dengan memanfaatkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI).

“FGD ini diikuti oleh anggota Media Dakwah Langitan yang terlibat langsung dalam pengelolaan media dan arsip digital pesantren. Kegiatan dibagi menjadi dua sesi utama yang dirancang untuk menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara nyata,” katanya.

Pada sesi pertama, peserta melakukan pemetaan struktur database internal yang selama ini digunakan. Diskusi difokuskan pada identifikasi berbagai kendala sinkronisasi data antar-divisi, sekaligus merancang alur pengelolaan data yang lebih sistematis dan terintegrasi.

Sementara itu, sesi kedua membahas pemanfaatan teknologi AI dalam mendukung pengelolaan database media pesantren. Berbagai peluang penerapan AI diperkenalkan, mulai dari otomatisasi pengarsipan, pencarian data yang lebih cepat dan cerdas, hingga pengolahan informasi yang mampu meningkatkan produktivitas kerja tim media.

Diskusi berlangsung secara partisipatif dengan melibatkan seluruh peserta berdasarkan bidang kerja masing-masing, seperti tim redaksi, tim kreatif, dan tim administrasi arsip. Setiap kelompok melakukan identifikasi terhadap kondisi pengelolaan data yang berjalan saat ini, kemudian merumuskan berbagai rekomendasi perbaikan berdasarkan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi.

Lebih lanjut, kegiatan ini menargetkan terbentuknya draf blueprint standarisasi database internal Media Dakwah Langitan yang lebih terintegrasi dan mudah diimplementasikan. Selain itu, peserta juga menyusun rekomendasi berbagai perangkat berbasis AI yang dapat mendukung otomatisasi pengelolaan data guna meningkatkan efisiensi administrasi media.

“Kami berharap, hasil FGD ini menjadi pijakan awal dalam membangun sistem pengelolaan data yang lebih modern, terukur, dan berkelanjutan di lingkungan pesantren,” ungkapnya.

FGD Penelitian Dosen PIAUD UNUSIDA Ungkap Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Soroti Peran Orang Tua dan Lembaga PAUD dalam Peningkatan Kesehatan dan Gizi Anak

SIDOARJO — Upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi anak usia dini membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, hingga pemerintah. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) penelitian yang diselenggarakan oleh tim peneliti dari Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Rabu (10/6/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari riset yang dipimpin oleh Ketua Peneliti, Shofiyatuz Zahroh, S.Sos., M.Pd. FGD tersebut menjadi forum strategis untuk memotret kondisi riil di lapangan sekaligus menghimpun berbagai masukan guna memperkuat kebijakan dan praktik pendidikan anak usia dini, khususnya terkait kesehatan dan gizi anak.

Dalam pemaparannya, tim peneliti menegaskan bahwa kesehatan dan gizi merupakan dua faktor utama yang sangat menentukan tumbuh kembang anak. Kedua aspek tersebut juga menjadi perhatian serius dalam berbagai program nasional, termasuk upaya percepatan penanganan masalah gizi anak di Indonesia.

“Data yang kami sampaikan masih bersifat sementara dan apa adanya. Namun, dari temuan awal ini akan muncul berbagai hal yang mungkin tidak kita duga sebelumnya dan dapat membuka kesadaran bersama tentang pentingnya peran orang tua,” ungkapnya.

Hasil sementara penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat pemahaman orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak berdasarkan wilayah. Kabupaten Sidoarjo mencatat skor tertinggi dalam pemahaman kesehatan dan gizi anak. Sebaliknya, wilayah Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, masih berada pada tingkat pemahaman yang relatif rendah.

Temuan menarik lainnya menunjukkan bahwa keberadaan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam meningkatkan literasi orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak. Di wilayah Waru, misalnya, tingkat pemahaman orang tua terkait kesehatan dan gizi anak tergolong lebih baik dibandingkan daerah lainnya.

Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat pendidikan maupun pendapatan orang tua tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman gizi anak. Orang tua dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi yang lebih tinggi cenderung memberikan kebebasan lebih besar kepada anak dalam memilih makanan atau jajanan. Namun di sisi lain, mereka umumnya memiliki perhatian lebih tinggi terhadap aspek kesehatan seperti imunisasi, pemeriksaan kesehatan, dan penanganan medis.

Wakil Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA tersebut berharap, melalui FGD ini mampu melahirkan berbagai rekomendasi yang dapat menjadi dasar penguatan program pendidikan keluarga, peningkatan literasi kesehatan, serta pengembangan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan tumbuh kembang anak usia dini.

“Investasi terbaik dalam pembangunan bangsa sesungguhnya dimulai dari perhatian yang serius terhadap kesehatan, gizi, dan pendidikan anak sejak usia dini. Sebab, kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh bagaimana bangsa ini merawat dan mempersiapkan anak-anaknya hari ini,” terangnya.

Sementara itu, Koordinator Litbangjirap BRIDA Jawa Timur, Wiwik Heny Winarsih, M.Si., yang hadir sebagai narasumber memberikan penekanan penting terkait literasi gizi bagi masyarakat. Menurutnya, masih banyak orang tua yang memiliki persepsi keliru mengenai indikator kesehatan anak.

“Pemahaman masyarakat masih perlu diperkuat. Tidak semua anak yang tampak gemuk itu sehat. Justru sekarang banyak ditemukan kasus kelebihan gula pada anak. Ini perlu edukasi serius, termasuk pembatasan konsumsi makanan tertentu sejak dini,” ujarnya.

Wiwik juga mengingatkan pentingnya mengenalkan berbagai jenis makanan kepada anak sejak usia dini. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat membantu anak memiliki pola konsumsi yang lebih sehat dan beragam. Oleh karena itu, pihaknya sepakat bahwa peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, dan pemangku kebijakan menjadi kunci utama agar berbagai program intervensi dapat berjalan efektif dan memberikan dampak nyata.

“Anak yang sejak kecil tidak dikenalkan variasi makanan cenderung memiliki preferensi makanan yang terbatas dan lebih mudah bergantung pada makanan instan. Karena itu, pembiasaan pola makan beragam perlu dilakukan sejak dini,” tambahnya.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak strategis sebagai pemangku kebijakan, di antaranya perwakilan dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sidoarjo. Selain itu, forum ini juga dihadiri oleh organisasi profesi dan mitra lembaga pendidikan anak usia dini, seperti IGRA, IGTKI, HIMPAUDI, serta sejumlah kepala RA, TK, dan KB di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.

KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 Siap Digelar, UNUSIDA Bangun Kolaborasi Kuat dengan Dinas PMD 4

KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 Siap Digelar, UNUSIDA Bangun Kolaborasi Kuat dengan Dinas PMD

Sidoarjo, 10 Juni 2026 — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (LPPM UNUSIDA) melaksanakan koordinasi dan audiensi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Sidoarjo sebagai langkah awal persiapan pelaksanaan KKN UNUSIDA BERDAYA 2026. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (10/6/2026) tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mewujudkan program pengabdian yang lebih terarah, aplikatif, dan berkelanjutan.

Audiensi ini menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi sekaligus membangun kolaborasi dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan akademik mahasiswa, tetapi juga berfokus pada pemberdayaan masyarakat desa melalui pendekatan berbasis keilmuan dan kebutuhan riil masyarakat.

Pada tahun 2026, KKN UNUSIDA mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Keilmuan Fakultas untuk Mewujudkan Desa dan Komunitas yang Cerdas, Mandiri, Produktif, Sehat, serta Berkarakter Ahlussunnah wal Jama’ah.” Tema tersebut mencerminkan komitmen UNUSIDA dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat, dengan menghadirkan mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan desa.

Melalui program KKN ini, mahasiswa akan didorong untuk terlibat secara langsung dalam proses pemberdayaan masyarakat. Mereka tidak hanya menjalankan kegiatan seremonial, tetapi juga berperan dalam memetakan potensi desa, mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, menyusun program kerja yang relevan, melaksanakan kegiatan berbasis kebutuhan masyarakat, hingga memberikan rekomendasi keberlanjutan program setelah masa KKN berakhir.

Dalam audiensi tersebut, LPPM UNUSIDA memaparkan konsep pelaksanaan KKN yang akan berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki oleh masing-masing fakultas. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan program yang lebih spesifik, terukur, dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat desa.

Ruang lingkup program KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 meliputi berbagai bidang strategis yang relevan dengan kebutuhan pembangunan desa saat ini. Pada bidang pendidikan dan pengasuhan anak, mahasiswa akan mendukung peningkatan kualitas pendidikan, literasi, serta pendampingan anak dan keluarga. Pada bidang ekonomi, program akan diarahkan pada penguatan UMKM, pemasaran digital, serta peningkatan kapasitas pelaku usaha lokal dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompetitif.

Selain itu, mahasiswa juga akan berkontribusi dalam bidang lingkungan dan sanitasi melalui berbagai program edukasi serta pendampingan masyarakat terkait pengelolaan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan. Di bidang transformasi digital desa, mahasiswa akan membantu meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung pelayanan publik, administrasi desa, dan promosi potensi lokal. Sementara itu, pada aspek ketahanan sosial dan keislaman, mahasiswa akan mendorong penguatan nilai-nilai sosial, keagamaan, serta karakter Ahlussunnah wal Jama’ah yang menjadi ciri khas UNUSIDA sebagai perguruan tinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Keberhasilan pelaksanaan program tersebut tentu membutuhkan dukungan berbagai pihak. Dalam hal ini, DPMD Kabupaten Sidoarjo memiliki peran strategis sebagai mitra utama dalam memastikan program KKN dapat berjalan secara efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa. DPMD akan memberikan arahan terkait isu-isu prioritas pembangunan desa, membantu proses penelaahan program kerja mahasiswa, serta memfasilitasi penyelarasan antara program KKN dengan agenda pembangunan desa yang sedang berjalan.

Tidak hanya itu, DPMD juga diharapkan dapat memperkuat koordinasi antara UNUSIDA, mahasiswa peserta KKN, dosen pembimbing lapangan, pemerintah desa, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Dengan koordinasi yang baik, program yang disusun mahasiswa dapat lebih realistis untuk dilaksanakan, tepat sasaran, dan memiliki peluang lebih besar untuk dilanjutkan oleh pemerintah desa setelah kegiatan KKN selesai.

KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 direncanakan akan dilaksanakan di 19 desa yang tersebar di beberapa wilayah Kabupaten Sidoarjo. Desa-desa tersebut berada di Kecamatan Candi, Krembung, Porong, Tanggulangin, Tulangan, Tarik, Sidoarjo, dan Buduran. Sebaran lokasi tersebut dipilih dengan mempertimbangkan potensi desa, kebutuhan masyarakat, serta peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan selama pelaksanaan program.

Program ini akan melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas di lingkungan UNUSIDA, yakni Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, serta Fakultas Agama Islam. Keterlibatan lintas disiplin ilmu tersebut diharapkan mampu menghasilkan program-program inovatif yang menjawab berbagai tantangan pembangunan desa secara komprehensif.

LPPM UNUSIDA menegaskan bahwa KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 bukan sekadar kewajiban akademik mahasiswa, melainkan sebuah ruang pembelajaran sekaligus pengabdian yang mendorong lahirnya kolaborasi antara kampus dan masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, serta kemampuan problem solving yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia kerja.

Mengusung semangat “Berkhidmah dan Berkarya di Desa,” UNUSIDA berkomitmen menghadirkan pelaksanaan KKN yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Selain menghasilkan berbagai program pemberdayaan, kegiatan ini juga ditargetkan menghasilkan luaran akademik dan dokumentatif berupa laporan akhir, artikel pengabdian kepada masyarakat, poster publikasi, video dokumentasi kegiatan, serta rekomendasi keberlanjutan program yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah desa.

Melalui sinergi yang kuat antara UNUSIDA, DPMD Kabupaten Sidoarjo, pemerintah desa, masyarakat, dan berbagai mitra lokal, KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 diharapkan menjadi model pengabdian yang mampu memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan desa yang cerdas, mandiri, produktif, sehat, dan berkarakter Ahlussunnah wal Jama’ah.

BEM FILKOM dan UKM Mahasiswa Unggul UNUSIDA Gelar Seminar Personal (Foto: Humas UNUSIDA)

Kolaboratif! BEM FILKOM dan UKM Mahasiswa Unggul UNUSIDA Gelar Seminar Personal Branding for Career

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan seminar bertajuk ‘Personal Branding for Career’ di Auditorium Kampus 2 UNUSIDA, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan yang berlangsung pada pagi hari tersebut merupakan hasil kolaborasi antara BEM FILKOM dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Unggul (MU) sebagai upaya meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif.

Dengan mengusung tema ‘Optimalkan LinkedIn dan CV agar Diminati Recruiter‘, seminar ini memberikan wawasan praktis kepada mahasiswa mengenai pentingnya membangun citra profesional sejak masa perkuliahan. Kegiatan yang diselenggarakan secara gratis tersebut mendapat sambutan positif dari mahasiswa berbagai program studi yang antusias mengikuti seluruh rangkaian acara.

Seminar menghadirkan Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T. sebagai narasumber utama. Sebagai akademisi sekaligus praktisi yang memiliki pengalaman dalam pengembangan karier mahasiswa, kehadiran beliau menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta yang ingin memahami strategi membangun personal branding yang efektif.

Dalam pemaparannya, Dr. Arda menjelaskan bahwa personal branding merupakan salah satu aspek penting yang dapat menentukan keberhasilan seseorang dalam memasuki dunia profesional.

“Personal branding bukan hanya tentang bagaimana seseorang terlihat di media sosial, tetapi juga bagaimana membangun reputasi, kompetensi, dan nilai diri yang dapat dipercaya oleh perusahaan maupun recruiter,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan platform LinkedIn sebagai sarana profesional yang dapat membantu mahasiswa memperluas jaringan, membangun kredibilitas, dan menemukan peluang karier yang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.

“LinkedIn merupakan media profesional yang dapat digunakan untuk memperluas jaringan, mencari peluang kerja, serta menampilkan pengalaman dan keterampilan yang dimiliki secara lebih profesional,” tuturnya.

Selain membahas optimalisasi profil LinkedIn, Dr. Arda juga memberikan panduan mengenai penyusunan Curriculum Vitae (CV) yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. Peserta diajak memahami bagaimana menyusun CV yang informatif, menarik, dan mampu menonjolkan kompetensi yang relevan dengan posisi yang dilamar.

Suasana seminar berlangsung interaktif ketika peserta diminta untuk meninjau kembali profil LinkedIn dan CV yang mereka miliki. Narasumber memberikan berbagai contoh nyata mengenai kesalahan yang sering dilakukan oleh pencari kerja, mulai dari penyusunan informasi yang kurang tepat hingga tampilan profil yang belum optimal. Melalui sesi tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk memahami langkah-langkah perbaikan yang dapat meningkatkan daya tarik profil profesional mereka di mata recruiter.

Ketua Pelaksana kegiatan, Nur Hidayat, menjelaskan bahwa seminar ini dirancang untuk memberikan bekal yang relevan bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis.

“Melalui seminar ini, peserta memperoleh banyak manfaat, mulai dari wawasan mengenai personal branding, pemahaman tentang optimalisasi LinkedIn, teknik penyusunan CV profesional, hingga pengalaman praktik langsung bersama narasumber,” jelasnya.

Menurutnya, penguasaan keterampilan dalam membangun citra profesional menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa dan lulusan baru. Tidak hanya memiliki kemampuan akademik yang baik, mahasiswa juga perlu mampu mempresentasikan kompetensi dan pengalaman yang dimiliki secara efektif kepada perusahaan maupun institusi yang membutuhkan tenaga kerja.

Ia berharap para peserta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh untuk membangun citra profesional yang lebih baik, meningkatkan kualitas profil LinkedIn dan CV, serta mempersiapkan diri menghadapi persaingan dunia kerja dengan lebih percaya diri, kompetitif, dan siap bersaing di era digital.

“Kegiatan ini sekaligus menjadi kami di Organisasi Mahasiswa (Ormawa) dalam mendukung pengembangan soft skills mahasiswa. Dengan materi aplikatif dan sesuai kebutuhan industri, dapat meningkatkan kesiapan mahasiswa untuk memasuki dunia profesional,” pungkasnya.

 

Penulis: Feni Dwi Agustin (MY)

PIAUD UNUSIDA Gelar FGD Penelitian tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini di Sumenep (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Gelar FGD Penelitian tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini

SUMENEP — Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Focus Group Discussion (FGD) penelitian bertema ‘Tingkat Pemahaman Orang Tua Tentang Kesehatan dan Gizi Pada Anak Usia Dini 4–6 Tahun’, Kamis (7/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian berjudul ‘Analisis Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Stunting (Kesehatan dan Gizi) pada Anak Usia Dini (4–6 Tahun) (Studi Kasus di Sidoarjo–Sumenep)’.

Penelitian tersebut diketuai oleh Shofiyatuz Zahro, S.Sos., M.Pd., dosen PIAUD UNUSIDA. FGD diselenggarakan sebagai upaya akademik untuk mengkaji sejauh mana pemahaman orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak usia dini, khususnya dalam pencegahan stunting yang masih menjadi perhatian nasional.

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh tim dosen PIAUD UNUSIDA, Akhmad Supriyanto, S.Pd., M.Pd., perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Desy Febriana, S.St., M.Kes. selaku Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Kabupaten Sumenep, Diah Evi Nurani, S.Tp., M.Si. selaku Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (PPM) Bappeda Kabupaten Sumenep, jajaran Pengurus Yayasan Pendidikan Al Hidayah Guluk-Guluk Sumenep, IGRA Sumenep, IGTKI Sumenep, serta kepala PAUD, TK, dan RA se-Kabupaten Sumenep.

Ketua peneliti, Shofiyatuz Zahro, menyampaikan bahwa penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran nyata mengenai tingkat pengetahuan orang tua terkait kesehatan dan gizi anak usia dini, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pemahaman tersebut.

“Orang tua memiliki peran sentral dalam memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal. Melalui penelitian ini, kami ingin mengetahui sejauh mana pemahaman mereka terkait pemenuhan gizi, pola hidup sehat, serta pencegahan stunting pada anak usia dini,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa hasil dari kegiatan ini akan menjadi bahan kajian ilmiah sekaligus referensi dalam penyusunan program edukasi dan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak usia dini. Selain itu, temuan penelitian juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan dan program yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

“Melalui kegiatan penelitian ini, kami berkomitmen dalam menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta berkontribusi dalam mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ketua Program Studi PIAUD UNUSIDA, Rif’atul Anita, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai tingkat pengetahuan dan pemahaman orang tua dalam memenuhi kebutuhan kesehatan dan gizi anak usia dini. Menurutnya, aspek kesehatan dan gizi merupakan fondasi penting yang akan menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa emas (golden age).

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai pemahaman orang tua terkait kesehatan dan gizi anak usia dini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merancang program edukasi yang lebih tepat sasaran bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Desy Febriana, S.St., M.Kes. menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi juga memerlukan keterlibatan keluarga, lembaga pendidikan, dan pemerintah secara berkelanjutan.

Pihaknya sangat mengapresiasi inisiatif penelitian yang dilakukan UNUSIDA karena dinilai dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan dan program pembangunan sumber daya manusia, khususnya dalam meningkatkan kualitas kesehatan anak sejak usia dini.

“Kami berharap hasil penelitian dosen PIAUD UNUSIDA dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan program edukasi kesehatan dan gizi keluarga, serta mendukung upaya pemerintah dalam percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Sumenep,” harapnya.