Ahmad Rio Afandi, S.T., alumni Program Studi S1 Teknik Kimia UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dari Pekerja Menjadi Profesional di Industri Manufaktur, Rio Afandi Jadi Alumni Teknik Kimia UNUSIDA yang Raih Karir Impian

Perjuangan meraih pendidikan tinggi sering kali dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama bagi mereka yang harus membagi waktu antara bekerja dan kuliah. Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang bagi Ahmad Rio Afandi, S.T., alumni Program Studi S1 Teknik Kimia Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), untuk mewujudkan impiannya.

Lulusan tahun 2023 tersebut kini berkarier di bidang manufaktur dan bekerja di PT Bidik Inovasi Global. Kesuksesan yang diraihnya saat ini tidak terlepas dari perjalanan panjang yang penuh perjuangan selama menempuh pendidikan di bangku kuliah.

Rio mengaku bahwa pada awalnya keinginan untuk melanjutkan pendidikan tinggi terasa seperti sesuatu yang sulit diwujudkan. Sebagai seorang pekerja, ia harus menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari segi waktu maupun kesempatan untuk mengembangkan diri melalui pendidikan formal.

“Kondisi segala keterbatasan saya sebagai pekerja untuk meraih bangku kuliah seperti hal yang tabu. Namun UNUSIDA hadir membantu saya dengan segala kemudahan,” ungkap Rio kepada Humas UNUSIDA, Jum’at (5/6/2026).

Menurutnya, UNUSIDA memberikan ruang bagi siapa saja yang memiliki semangat untuk belajar dan berkembang. Berbagai fasilitas pendukung yang tersedia, ditambah dengan lingkungan akademik yang kondusif, membuatnya mampu menjalani perkuliahan dengan baik meskipun tetap harus bekerja.

Salah satu hal yang paling berkesan baginya adalah dukungan yang diberikan oleh para dosen selama proses perkuliahan. Ia merasakan bahwa para dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjadi motivator yang senantiasa memberikan semangat kepada mahasiswa untuk terus berkembang dan menyelesaikan pendidikan.

“Dosen-dosen sangat suportif kepada saya sehingga saya dapat bekerja dengan nyaman sekaligus menyelesaikan kuliah dengan baik,” ujarnya.

Dukungan tersebut menjadi energi tambahan bagi Rio untuk tetap konsisten menjalani dua peran sekaligus, yaitu sebagai pekerja dan mahasiswa. Dengan manajemen waktu yang baik serta lingkungan kampus yang mendukung, ia berhasil menyelesaikan studi di Program Studi Teknik Kimia hingga meraih gelar sarjana.

Bagi Rio, memilih Teknik Kimia bukan sekadar mengikuti tren atau tuntutan pekerjaan. Ia memiliki ketertarikan yang besar terhadap bidang tersebut dan ingin mengembangkan kompetensi yang sesuai dengan minat serta potensi dirinya.

Selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, ia memperoleh berbagai pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Mulai dari pemahaman mengenai proses kimia, pengolahan bahan, manajemen produksi, hingga kemampuan analisis yang dibutuhkan dalam dunia kerja.

Ia menilai bahwa kurikulum yang diterapkan di Program Studi Teknik Kimia UNUSIDA mampu memberikan fondasi yang kuat bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan industri yang terus berkembang.

“Teknik Kimia UNUSIDA yang mengantarkan saya pada pekerjaan impian saya saat ini,” katanya.

Saat ini, Rio berkiprah di PT Bidik Inovasi Global, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur. Pekerjaan yang dijalaninya sangat berkaitan dengan ilmu yang diperoleh selama masa kuliah, sehingga ia dapat mengaplikasikan berbagai konsep dan teori yang telah dipelajari di bangku perkuliahan.

Menurutnya, keberhasilan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi merupakan salah satu pencapaian yang sangat membanggakan. Hal tersebut membuktikan bahwa pendidikan yang ditempuh memiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan dunia industri.

Tidak hanya bekal akademik, Rio juga merasakan manfaat besar dari pendidikan karakter dan nilai-nilai keagamaan yang diperoleh selama menjadi mahasiswa UNUSIDA. Sebagai perguruan tinggi yang berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, UNUSIDA tidak hanya fokus pada pengembangan kompetensi akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan moral mahasiswa.

Rio mengaku bahwa nilai-nilai tersebut menjadi pegangan penting dalam menjalani kehidupan profesional maupun sosial di tengah masyarakat.

“Bekal ilmu akademik, norma agama, dan kehidupan yang saya peroleh saat kuliah membuat saya mampu survive di dunia luar, khususnya dalam dunia kerja,” tuturnya.

Menurutnya, dunia kerja tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga integritas, etika, kedisiplinan, serta kemampuan beradaptasi dengan berbagai situasi dan tantangan. Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting yang terus ia pegang hingga saat ini.

Rio berharap pengalaman yang ia alami dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa yang sedang berjuang menempuh pendidikan di tengah berbagai keterbatasan. Ia meyakini bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi, melainkan tantangan yang harus dihadapi dengan tekad dan kerja keras.

Ia juga mengajak generasi muda untuk memanfaatkan kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya serta terus mengembangkan potensi diri agar mampu bersaing di dunia profesional.

“Dukungan lingkungan yang tepat, semangat belajar yang kuat, dan kemauan untuk terus berkembang menjadikan setiap orang memiliki kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Dari seorang pekerja yang sempat menganggap bangku kuliah sebagai sesuatu yang sulit dijangkau, kini ia berhasil berdiri sebagai profesional di bidang manufaktur yang bekerja sesuai dengan passion dan keilmuan yang ditekuninya,” pungkasnya.

Webinar Nasional “Sinergi Nilai Aswaja dan Pancasila: UNUSIDA Go Nusantara” melalui Zoom Meeting (Foto: Humas UNUSIDA)

Webinar Nasional Hari Lahir Pancasila, UNUSIDA Perkuat Sinergi Nilai Aswaja dan Kebangsaan

SIDOARJO — Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, Unit Pelaksana Teknis Pengkajian Islam dan Keaswajaan (UPT PIK) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk ‘Sinergi Nilai Aswaja dan Pancasila: UNUSIDA Go Nusantara’ pada Senin (01/06/2026) melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi ruang intelektual untuk merefleksikan kembali relevansi nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan Pancasila sebagai fondasi kebangsaan dalam menjawab berbagai tantangan sosial, pendidikan, ekonomi, teknologi, dan ideologi di era transformasi digital.

Webinar yang terbuka untuk pelajar, mahasiswa, santri pondok pesantren, serta masyarakat umum ini menghadirkan akademisi lintas disiplin ilmu dari lingkungan UNUSIDA.

Kepala UPT PIK UNUSIDA H. Aris Kuswanto, S.T., M.Pd.I., menjelaskan bahwa Webinar akan mengulas berbagai isu strategis dengan menempatkan Pancasila dan Aswaja bukan sekadar konsep normatif, melainkan sebagai pedoman hidup yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Melalui webinar nasional ini, UNUSIDA ingin menunjukkan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang dialog akademik yang mempertemukan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya dimaknai sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi juga sebagai momentum refleksi bersama untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam membangun masyarakat yang religius, moderat, inovatif, dan berdaya saing.

“Semangat ‘Sinergi Nilai Aswaja dan Pancasila: UNUSIDA Go Nusantara’ semoga menjadi energi kolektif dalam memperkuat peran kampus sebagai pusat peradaban yang mampu menjawab tantangan masa depan tanpa kehilangan akar nilai yang menjadi identitas bangsa Indonesia,” katanya.

Dalam keynote speech, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menegaskan bahwa Pancasila dan Aswaja memiliki titik temu yang kuat dalam membangun peradaban yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis untuk menjaga relevansi nilai-nilai tersebut di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial.

“Pancasila dan Aswaja bukan dua entitas yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan dua kekuatan moral yang saling menguatkan dalam membangun karakter bangsa. Dari kampus inilah lahir generasi yang mampu berpikir global tanpa kehilangan identitas keindonesiaannya,” ungkapnya.

Materi pertama disampaikan oleh Dosen Teknik Kimia UNUSIDA Dr. Trisna Kumala Dhaniswara, S.T., M.T., yang mengangkat tema inovasi teknologi dan keberlanjutan sebagai implementasi nilai-nilai Pancasila. Ia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi harus diarahkan untuk menciptakan kemanfaatan yang merata bagi masyarakat dan lingkungan.

“Teknologi yang berlandaskan nilai Pancasila tidak hanya mengejar efisiensi dan keuntungan, tetapi juga menjamin keberlanjutan lingkungan, keadilan sosial, serta kesejahteraan generasi mendatang. Inovasi sejati adalah inovasi yang menghadirkan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat,” jelasnya.

Selanjutnya, Dosen DKV UNUSIDA Sonhaji Arif, S.Pd., M.Sn. membahas transformasi digital dan tanggung jawab moral dalam kehidupan masyarakat modern. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi telah membuka ruang yang sangat luas bagi masyarakat untuk berinteraksi dan berkarya, namun juga menghadirkan tantangan etika yang semakin kompleks.

“Transformasi digital harus dibarengi dengan transformasi karakter. Kemajuan teknologi tanpa tanggung jawab moral hanya akan melahirkan disrupsi sosial. Karena itu, nilai-nilai Pancasila harus menjadi kompas etis dalam setiap aktivitas digital masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Dari perspektif ekonomi, Dosen Manajemen UNUSIDA Ayu Lucy Larassaty, S.E., M.M. menekankan pentingnya membangun ekonomi berkarakter melalui sinergi nilai Aswaja dan Pancasila. Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak dapat diukur semata-mata dari pertumbuhan angka statistik, tetapi juga harus memperhatikan aspek kebermanfaatan sosial dan keadilan distribusi.

“Ekonomi yang berkarakter adalah ekonomi yang menghadirkan keberkahan dan keadilan. Nilai Aswaja mengajarkan keseimbangan, sedangkan Pancasila memberikan arah agar aktivitas ekonomi tidak meninggalkan nilai kemanusiaan dan kesejahteraan bersama,” paparnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNUSIDA Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNUSIDA, menyoroti peran strategis pendidikan dalam memperkuat karakter kebangsaan. Ia menegaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik yang berintegritas.

“Pendidikan harus menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kuat secara moral. Di sinilah nilai Aswaja dan Pancasila memiliki peran penting sebagai fondasi pendidikan karakter yang relevan dengan kebutuhan zaman,” ujarnya.

Tak hanya itu, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I. yang mengulas hubungan antara ideologi kebangsaan dan keaswajaan dalam konteks kehidupan berbangsa. Ia menjelaskan bahwa Aswaja memiliki kesesuaian nilai dengan Pancasila, terutama dalam menjaga moderasi, toleransi, dan persatuan nasional.

“Aswaja mengajarkan sikap tawassuth, tasamuh, dan tawazun yang selaras dengan semangat Pancasila. Ketika nilai-nilai tersebut diinternalisasikan dengan baik, maka masyarakat akan memiliki daya tahan ideologis yang kuat terhadap berbagai bentuk radikalisme, ekstremisme, maupun disintegrasi bangsa,” tegasnya.

UNUSIDA Perkuat Kemitraan Strategis dengan KADIN Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Perkuat Kemitraan Strategis dengan KADIN Sidoarjo untuk Advokasi Hukum dan Pengembangan SDM

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus memperluas jejaring kemitraan strategis dengan berbagai pihak guna mendukung pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kehadiran UNUSIDA dalam agenda koordinasi dan penandatanganan kerja sama yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sidoarjo di Ruang Rapat Hj. Maimunah, Kantor Sekretariat KADIN Sidoarjo, Jumat (5/6/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Wakil Ketua Bidang Hukum dan Etika Bisnis KADIN Sidoarjo, Sigit Hermawan memaparkan sejumlah program strategis, salah satunya pembentukan Klinik Hukum dan Etika Bisnis KADIN Sidoarjo. Program ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman pelaku usaha, pengurus KADIN, UMKM, dan profesional mengenai aspek hukum bisnis, tata kelola perusahaan, etika bisnis, kepatuhan regulasi, serta penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG).

“Terima kasih atas kehadirannya, pertemuan ini membahas berbagai peluang kolaborasi antara KADIN Sidoarjo dan perguruan tinggi di Kabupaten Sidoarjo, khususnya dalam bidang hukum, etika bisnis, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia,” jelasnya.

Selain itu, dipaparkan pula berbagai usulan kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi dan lembaga pendidikan, termasuk dengan Program Studi Hukum UNUSIDA. Kerja sama tersebut meliputi penyelenggaraan kuliah umum, penguatan pendidikan hukum bisnis, hingga kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan seperti Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Jawa Timur.

Salah satu program prioritas yang menjadi perhatian adalah Advokasi dan Bantuan Hukum bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Sidoarjo, pelaku UMKM, serta anggota dan pengurus KADIN Sidoarjo.

“Kegiatan ini bertujuan memberikan pendampingan hukum, edukasi, serta perlindungan bagi para pekerja migran dan pelaku usaha agar memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap aspek hukum dalam aktivitas kerja maupun usaha,” katanya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Kerja Sama UNUSIDA, Sonhaji Arif menyampaikan bahwa kemitraan dengan KADIN merupakan langkah strategis dalam mendukung visi UNUSIDA sebagai perguruan tinggi yang unggul dan berdampak.

“Kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan. Melalui kerja sama ini, kami berharap mahasiswa memperoleh akses yang lebih luas terhadap pengalaman industri, penguatan kompetensi profesional, serta kesempatan untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi daerah,” ujarnya.

Melalui kerja sama tersebut, pihaknya sangat mendukung untuk terus mengembangkan program-program yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, penguatan kompetensi mahasiswa, serta percepatan terwujudnya lulusan yang siap bersaing di dunia kerja dan dunia usaha. Selain itu juga untuk membuka peluang bagi UNUSIDA untuk berkontribusi dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pendampingan hukum dan bisnis yang sejalan dengan kebutuhan dunia industri saat ini.

“Sinergi ini sekaligus menjadi wujud nyata implementasi konsep link and match antara perguruan tinggi dan industri dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul, profesional, dan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa. Semoga kolaborasi ini mampu membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman praktis, memperluas jaringan profesional, serta meningkatkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama juga dilaksanakan penandatanganan kerja sama sebagai langkah konkret memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan dunia usaha. Kerja sama yang direncanakan akan dituangkan dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) yang disertai pelaksanaan berbagai kegiatan akademik maupun praktis.

Program tersebut direncanakan berlangsung pada periode Maret hingga Juli 2026 dengan menggandeng Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sidoarjo sebagai mitra kerja sama.

Guru Besar UiTM Malaysia Prof Shukor Sanim saat menjadi narasumber dalam International Guest Lecture UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Guru Besar UiTM Malaysia Prof Shukor Sanim Bahas Masa Depan Peradaban di Era AI dalam International Guest Lecture di UNUSIDA

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali memperkuat jejaring akademik internasional melalui kegiatan International Guest Lecture yang menghadirkan akademisi dari Malaysia, Assoc. Prof. Ts. Dr. Shukor Sanim Mohd Fauzi dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Kamis (4/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 5 Gedung A UNUSIDA ini mengangkat tema “AI and the Future of Civilization: Pedagogical Reconstruction, Economic Acceleration, and Contemporary Ethical Matrices in the ASEAN Context”.

Kuliah tamu internasional ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan civitas akademika UNUSIDA yang antusias mendiskusikan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta dampaknya terhadap pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat ASEAN. Dalam rangka menghadirkan wawasan global bagi mahasiswa serta memperkuat kesiapan generasi muda menghadapi perubahan peradaban yang dipengaruhi oleh perkembangan kecerdasan buatan.

Dalam pemaparannya, Prof. Shukor Sanim menegaskan bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan atau fiksi ilmiah, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Saat ini, AI telah digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, perbankan, pertanian, hingga penelitian ilmiah.

“Teknologi sebelumnya membantu pekerjaan fisik manusia, sedangkan AI membantu pekerjaan kognitif manusia, termasuk proses berpikir, pengambilan keputusan, dan kreativitas,” jelasnya.

Menurutnya, perkembangan AI merupakan salah satu lompatan besar dalam sejarah peradaban manusia setelah revolusi industri, penemuan listrik, dan internet. Jika revolusi industri mengubah cara manusia bekerja secara fisik, maka AI mengubah cara manusia berpikir dan memproses informasi.

Trasformasi Pendidikan di Era AI
Salah satu fokus utama yang dibahas adalah perubahan paradigma pendidikan di era kecerdasan buatan. Prof. Shukor menjelaskan bahwa perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menjadi tempat penyampaian informasi, karena informasi kini dapat diakses dengan mudah melalui teknologi AI.

“Mahasiswa tidak lagi membutuhkan dosen hanya sebagai sumber informasi. Mereka membutuhkan dosen sebagai pembimbing yang mampu menanamkan kebijaksanaan, pemikiran kritis, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pendidikan masa depan harus berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, kepemimpinan, kecerdasan emosional, dan kemampuan berkolaborasi lintas disiplin ilmu. Perguruan tinggi harus bertransformasi dari sekadar penyedia informasi menjadi pusat pengembangan kapasitas manusia.

Selain itu, AI telah mengubah cara belajar melalui kemampuan melakukan sintesis penelitian, menghasilkan kode program, menerjemahkan bahasa secara instan, hingga membantu pembuatan laporan dan presentasi secara cepat.

Peluang Besar Ekonomi Digital ASEAN
Pada sektor ekonomi, Prof. Shukor memaparkan bahwa AI menjadi motor penggerak utama ekonomi digital yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional di berbagai sektor industri.

Ia mengutip proyeksi ekonomi digital ASEAN yang diperkirakan akan tumbuh dari sekitar 200 miliar dolar AS pada tahun 2022 menjadi 1 triliun dolar AS pada tahun 2030. Oleh karena itu, negara-negara ASEAN perlu menentukan posisi strategisnya di tengah perkembangan teknologi global.

“Pertanyaan penting bagi ASEAN adalah apakah kita hanya akan menjadi konsumen teknologi, atau mampu menjadi produsen dan inovator teknologi AI,” katanya.

Menurutnya, transformasi tenaga kerja juga akan terjadi secara signifikan. Sejumlah pekerjaan administratif rutin diprediksi akan berkurang, sementara profesi baru seperti AI Engineer, Data Scientist, AI Ethicist, dan Digital Strategist akan semakin dibutuhkan.

Tantangan Etika dan Integritas Akademik
Di balik berbagai peluang yang ditawarkan AI, Prof. Shukor juga mengingatkan adanya tantangan etika yang harus dihadapi. Ia menyebut bahwa tantangan terbesar AI bukanlah persoalan teknologi, melainkan persoalan moral dan etika.

Fenomena deepfake, manipulasi suara dan video, penyebaran informasi palsu, serta penyalahgunaan AI untuk menghasilkan sumber referensi fiktif menjadi ancaman nyata yang perlu diantisipasi.

Dalam dunia pendidikan, penggunaan AI juga memunculkan tantangan baru terkait integritas akademik, seperti plagiarisme, ketergantungan berlebihan terhadap teknologi, serta menurunnya kemampuan berpikir mandiri mahasiswa.

“Output AI harus selalu diverifikasi. Teknologi dapat membantu manusia, tetapi tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab akademik,” tegasnya.

Universitas Harus menjadi Pemimpin Tranformasi AI
Lebih lanjut, Prof. Shukor menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat inovasi dan pengembangan talenta digital di kawasan ASEAN. Universitas diharapkan mampu menjadi pelopor dalam menciptakan solusi AI yang sesuai dengan karakteristik masyarakat ASEAN yang multikultural, multibahasa, dan beragam secara ekonomi.

Ia juga mendorong kolaborasi antarnegara ASEAN dalam bidang kesehatan digital, pendidikan berbasis teknologi, serta pengembangan kebijakan AI yang berlandaskan etika dan nilai-nilai kemanusiaan.

Lebih lanjut, Prof. Shukor menyampaikan bahwa masa depan bukanlah tentang menggantikan manusia dengan AI, melainkan memberdayakan manusia melalui teknologi.

“Teknologi tidak akan mampu membangun peradaban yang lebih baik sendirian. Manusia harus memandunya dengan etika, kepemimpinan, dan visi yang bijaksana,” pungkasnya.

Ketua PCNU Sidoarjo, KH Zainal Abidin saat menyampaikan sambutan dalam International Guest Lecture di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Ketua PCNU Sidoarjo Ajak Mahasiswa UNUSIDA Bangun Mimpi Besar untuk Berdaya Saing Global

SIDOARJO — Semangat untuk terus belajar, memiliki cita-cita tinggi, dan menghilangkan rasa malas menjadi pesan utama yang disampaikan Ketua PCNU Sidoarjo, KH. Muhammad Zainal Abidin dalam kegiatan International Guest Lecture yang menghadirkan Associate Professor Ts. Dr. Shukor Sanim Mohd Fauzi dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Kamis (4/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Zainal mengingatkan para mahasiswa bahwa kemajuan individu maupun bangsa tidak akan tercapai jika seseorang merasa bangga dengan kebodohan dan berhenti belajar. Menurutnya, di tengah persaingan global yang semakin ketat, generasi muda harus memiliki komitmen kuat untuk terus menambah wawasan dan pengetahuan.

Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan internasional mengenai perkembangan kecerdasan buatan dan peradaban masa depan, tetapi juga mendapatkan motivasi untuk terus belajar, bermimpi besar, dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang berintegritas serta berdaya saing global.

“Kalau kita tidak ingin tertinggal dengan negara lain, kampus lain, atau kelompok lain, maka jangan pernah bangga dengan kebodohan. Bangun komitmen untuk terus ingin tahu, terus belajar, dan terus mengejar cita-cita,” pesannya di hadapan mahasiswa dan civitas akademika UNUSIDA.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk memiliki impian yang besar dan tidak membatasi diri pada target-target yang terlalu kecil. Menurutnya, cita-cita harus digantungkan setinggi langit agar mampu melahirkan semangat dan kerja keras yang luar biasa.

“Jangan hanya bercita-cita menjadi dokter atau dosen. Gantungkan cita-cita setinggi mungkin. Jika ingin memiliki banyak dokter sebagai bawahan, berarti Anda harus memiliki rumah sakit. Jika ingin memiliki banyak dosen sebagai bawahan, berarti Anda harus memiliki kampus. Cita-cita besar akan melahirkan langkah besar,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mencontohkan perkembangan lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU yang saat ini telah memiliki ratusan satuan pendidikan dan ribuan tenaga pendidik. Menurutnya, keberhasilan tersebut lahir dari keberanian untuk bermimpi besar dan konsisten bekerja mewujudkannya.

Selain itu, Kiai Zainal juga menyoroti tantangan terbesar yang sering dihadapi generasi muda, yaitu rasa malas. Ia menilai Indonesia, khususnya Sidoarjo, memiliki berbagai kemudahan dan kenyamanan yang seharusnya menjadi modal untuk berkembang, bukan justru menjadi alasan untuk bermalas-malasan.

“Allah telah memberikan lingkungan yang nyaman kepada kita. Tetapi sering kali dari kenyamanan itu muncul rasa malas. Jika rasa malas tidak dilawan, kita akan tertinggal dari kelompok lain yang lebih giat belajar dan bekerja,” tuturnya.

Menurutnya, Islam sendiri telah mengajarkan umatnya untuk memerangi kemalasan. Oleh karena itu, mahasiswa harus membangun semangat belajar sepanjang hayat dan tidak cepat merasa puas dengan pencapaian yang dimiliki saat ini.

Lebih lanjut, Kiai Zainal menyampaikan harapannya agar mahasiswa UNUSIDA, khususnya kader-kader Nahdlatul Ulama, menjadi generasi penerus yang mampu membawa organisasi, masyarakat, dan bangsa menuju masa depan yang lebih baik.

“Jika hari ini kalian memiliki semangat belajar yang luar biasa dan mampu menghilangkan rasa malas, maka kalian pantas menjadi pemimpin Nahdlatul Ulama, pemimpin Kabupaten Sidoarjo, pemimpin Jawa Timur, bahkan pemimpin bangsa di masa depan,” tegasnya.

Mahasiswa Teknik Lingkungan UNUSIDA usai mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Alun-alun Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Manifesto Teo-Ekologis Mahasiswa Teknik Lingkungan Melawan Kolonialisme Sampah

Bagaimana mungkin kita dapat khusyuk memperingati Hari Lahir Pancasila, sementara pada saat yang sama bumi tempat kita berpijak perlahan kehilangan daya dukungnya akibat limbah yang kita hasilkan sendiri?

Setiap tanggal 1 Juni, masyarakat Indonesia kembali mengenang lahirnya dasar negara yang menjadi pemersatu bangsa. Tahun ini, tema yang diusung adalah Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia. Tema tersebut mengandung pesan luhur tentang pentingnya persatuan dan perdamaian. Namun, sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan yang tumbuh dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), kami memandang bahwa perdamaian tidak hanya berbicara tentang hubungan antarmanusia, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan lingkungan.

Perdamaian dunia tidak akan pernah terwujud jika kita masih gagal berdamai dengan alam yang menjadi sumber kehidupan. Keadilan sosial yang menjadi cita-cita Pancasila pun tidak mungkin tercapai apabila lingkungan hidup terus mengalami kerusakan akibat perilaku manusia yang eksploitatif.

Krisis Sampah yang Mengkhawatirkan
Realitas pengelolaan sampah di Indonesia menunjukkan kondisi yang patut menjadi perhatian bersama. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah nasional mencapai puluhan juta ton setiap tahun, dengan sampah plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar.

Persoalan tidak berhenti pada jumlah sampah yang dihasilkan, melainkan juga pada rendahnya tingkat pengelolaan yang optimal. Sebagian besar sampah masih berakhir di tempat pemrosesan akhir yang kapasitasnya semakin terbatas, mencemari sungai, laut, dan lingkungan sekitar.

Bagi masyarakat Jawa Timur, termasuk Kabupaten Sidoarjo yang berada di kawasan penyangga metropolitan Surabaya, persoalan sampah bukanlah isu yang asing. Tumpukan sampah, pencemaran badan air, hingga berkurangnya kualitas lingkungan menjadi tantangan yang nyata di hadapan kita.

Krisis ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga mencerminkan krisis kesadaran kolektif. Ketika sampah terus meningkat dan lingkungan semakin tercemar, sesungguhnya kita sedang menghadapi kegagalan dalam menjaga amanah sebagai penghuni bumi.

Pancasila dan Aswaja dalam Perspektif Ekologis
Pancasila sejatinya mengandung nilai-nilai yang sangat relevan dalam menjawab persoalan lingkungan. Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan bahwa setiap tindakan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap sesama, termasuk generasi yang akan datang. Sementara Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menegaskan pentingnya distribusi manfaat dan risiko lingkungan secara adil.

Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini pada dasarnya merupakan bentuk ketidakadilan ekologis. Generasi mendatang harus menanggung konsekuensi dari perilaku konsumtif dan pengelolaan sampah yang tidak bertanggung jawab yang dilakukan hari ini.

Dalam tradisi Aswaja An-Nahdliyah, nilai-nilai tersebut diperkuat melalui prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman kehidupan. Nilai tawassuth (moderat) dan iqtishad (hemat serta proporsional) mengajarkan pentingnya menghindari perilaku berlebihan, termasuk dalam pola konsumsi yang menghasilkan banyak sampah. Sementara nilai tawazun (keseimbangan) menuntut harmonisasi hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta.

Ketika seseorang membuang sampah sembarangan atau mengabaikan upaya pengurangan sampah, sesungguhnya ia sedang merusak keseimbangan yang diajarkan dalam nilai tawazun. Menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, melainkan juga bentuk pengabdian spiritual sebagai khalifah fil ardh yang diberi amanah untuk merawat bumi.

Melawan Kolonialisme Sampah
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah apa yang dapat disebut sebagai kolonialisme sampah. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika kehidupan manusia dikendalikan oleh budaya konsumtif yang menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Kita menjadi bergantung pada produk sekali pakai, kemasan plastik berlebih, dan pola hidup instan yang secara perlahan menjajah kesadaran ekologis masyarakat.

Kolonialisme sampah tidak hadir dalam bentuk penjajahan fisik, melainkan melalui kebiasaan yang membuat manusia kehilangan kendali atas lingkungannya sendiri. Akibatnya, ruang hidup yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan berubah menjadi tempat akumulasi limbah.

Sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan, kami percaya bahwa perlawanan terhadap kolonialisme sampah harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah sekaligus moral. Pengembangan teknologi pengelolaan limbah, penerapan ekonomi sirkular, peningkatan budaya daur ulang, serta edukasi lingkungan harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai Pancasila dan Aswaja.

Persatuan untuk Keadilan Ekologis
Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum untuk memperluas makna persatuan bangsa. Persatuan tidak hanya diwujudkan melalui slogan dan seremoni, tetapi juga melalui gotong royong menjaga lingkungan hidup.

Di hadapan ancaman krisis iklim, pencemaran mikroplastik, dan menurunnya kualitas lingkungan, seluruh elemen masyarakat memiliki nasib yang sama. Perbedaan suku, agama, golongan, maupun latar belakang sosial menjadi tidak relevan ketika kualitas udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan tanah yang kita pijak mengalami kerusakan.

Karena itu, menjaga lingkungan adalah bentuk nyata pengamalan Pancasila di abad ke-21. Bumi bukan warisan yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan titipan yang harus dijaga untuk generasi berikutnya.

Selamat Hari Lahir Pancasila. Mari bersatu melawan kolonialisme sampah, merawat bumi sebagai rumah bersama, dan menegakkan keadilan ekologis demi Indonesia yang berkelanjutan. Sebab, mencintai lingkungan bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab kebangsaan dan kemanusiaan.

Penulis: Muchammad Waziruddin

Mochamad Dafa Perdana, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA angkatan 2023 (Foto: Humas UNUSIDA)

Kisah Alumni PBI UNUSIDA: Dari Kampus, Tumbuh Menjadi Pendidik yang Menginspirasi

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan kebanggaan melalui kiprah para alumninya yang terus berkarya dan memberikan kontribusi nyata di dunia pendidikan. Salah satunya adalah Mochamad Dafa Perdana, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA angkatan 2023 yang kini mengabdikan diri sebagai Guru Bahasa Inggris di SMA Pembangunan Jaya Sidoarjo.

Bagi Dafa, menempuh pendidikan di UNUSIDA bukan sekadar perjalanan akademik untuk memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, kampus menjadi ruang pembelajaran yang membentuk karakter, integritas, dan profesionalisme yang kini menjadi bekal utama dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.

“Menjadi alumni UNUSIDA, khususnya dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, merupakan pengalaman yang sangat bermakna. Saya tidak hanya dibekali dengan pengetahuan tentang bahasa dan pedagogi, tetapi juga nilai-nilai karakter yang kuat yang membentuk saya menjadi pendidik yang lebih siap dan berprinsip,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (26/5/2026).

Selama masa perkuliahan, Dafa mendapatkan berbagai pengalaman yang mendukung pengembangan kompetensinya sebagai calon guru. Mulai dari pembelajaran akademik, praktik mengajar, hingga pendampingan dosen yang memberikan wawasan dan pengalaman berharga dalam dunia pendidikan.

Menurutnya, UNUSIDA memiliki peran penting dalam membangun fondasi kariernya sebagai seorang pendidik. Melalui proses pembelajaran yang terintegrasi antara teori dan praktik, ia memperoleh keterampilan profesional, rasa percaya diri, serta etos kerja yang kuat untuk menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang.

“UNUSIDA has played an important role in building the foundation of my career as an English educator. Through academic learning, teaching practice, and lecturers’ guidance, I gained professional skills, confidence, and a strong work ethic that have greatly supported my career development,”

“UNUSIDA telah memainkan peran penting dalam membangun fondasi karier saya sebagai pendidik bahasa Inggris. Melalui pembelajaran akademis, praktik mengajar, dan bimbingan dosen, saya memperoleh keterampilan profesional, kepercayaan diri, dan etos kerja yang kuat yang sangat mendukung pengembangan karier saya,”,” tuturnya.

Kini, sebagai guru Bahasa Inggris, Dafa berkomitmen untuk terus menghadirkan pembelajaran yang inspiratif dan bermakna bagi para peserta didiknya. Ia percaya bahwa seorang guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan dalam membangun karakter generasi muda.

“Alhamdulillah, bangga sekali pernah menempuh pendidikan di UNUSIDA yang selalu melahirkan lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Semoga bisa terus menginspirasi dan membawa semangat perubahan bagi masa depan pendidikan Indonesia,” pungkasnya.

JPZIS LAZISNU UNUSIDA Salurkan Ratusan Paket Daging Kurban (Foto: Humas UNUSIDA)

JPZIS LAZISNU UNUSIDA Salurkan Ratusan Paket Daging Kurban kepada Masyarakat Sekitar

SIDOARJO — Semangat berbagi dan kepedulian sosial kembali ditunjukkan oleh Jaringan Pengelola Zakat, Infaq dan Shadaqah (JPZIS) Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) pada momentum Hari Raya Iduladha 1447 H. Tahun ini, JPZIS LAZISNU UNUSIDA menyalurkan ratusan paket daging kurban kepada masyarakat sekitar kampus dan jamaah Masjid KH M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo, Rabu (27/5/2026).

Kegiatan distribusi daging kurban tersebut berlangsung dengan tertib dan penuh antusiasme. Tampak masyarakat dan jamaah sangat antusias memadati area pembagian untuk menerima paket daging kurban yang telah dipersiapkan oleh panitia. Program ini menjadi salah satu bentuk nyata komitmen UNUSIDA melalui JPZIS LAZISNU dalam menghadirkan manfaat dan keberkahan bagi masyarakat sekitar.

Ketua JPZIS LAZISNU UNUSIDA, Moch. Fabet Ali Taufan, S.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya memperkuat nilai-nilai solidaritas dan kebersamaan di tengah masyarakat.

“Alhamdulillah, tahun ini kami kembali dapat menyalurkan ratusan paket daging kurban kepada masyarakat. Kami berharap daging kurban yang dibagikan dapat memberikan manfaat serta menghadirkan kebahagiaan bagi para penerima, khususnya masyarakat di sekitar kampus dan jamaah Masjid KH M. Hasyim Asy’ari,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid KH M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo, H. Zainal Hayat, mengapresiasi sinergi yang terjalin antara pengurus masjid dan JPZIS LAZISNU UNUSIDA dalam pelaksanaan penyembelihan hingga pendistribusian hewan kurban.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana berbagi rezeki, tetapi juga mempererat hubungan antara civitas akademika UNUSIDA dengan masyarakat sekitar. Antusiasme jamaah yang hadir menjadi bukti bahwa program kurban memiliki nilai sosial yang sangat besar dalam membangun kepedulian dan kebersamaan.

“Semangat berkurban tidak boleh berhenti pada proses penyembelihan semata, melainkan menjadi inspirasi untuk terus menumbuhkan kepedulian sosial, memperkuat ukhuwah, serta menghadirkan kemanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat. Dengan semangat berbagi, Iduladha menjadi momentum untuk memperkokoh nilai kemanusiaan dan kebersamaan di tengah kehidupan bermasyarakat,” tuturnya.

Narasumber Workshop Public Speaking & Personal Branding Amanda Nadzario, S.Sos., saat menyampaikan materi kepada mahasiswa (Foto: Humas UNUSIDA)

BEM UNUSIDA Gelar Workshop Public Speaking & Personal Branding, Dorong Mahasiswa Berani Tampil dan Berkembang

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berkolaborasi bersama Yuesby.id Community, Komite Musik Dekesda Sidoarjo, dan Darma Charis sukses menyelenggarakan Workshop Public Speaking & Personal Branding bertema ‘Speak, Shine, and Stand Out!’, Senin (25/5/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengembangan diri bagi mahasiswa dan generasi muda agar lebih percaya diri dalam berkomunikasi serta mampu membangun citra diri yang positif di era digital.

Workshop menghadirkan Amanda Nadzario, S.Sos., seorang MC, TV Presenter, dan Content Creator, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Amanda membagikan pengalaman seputar dunia public speaking, cara membangun personal branding, hingga pentingnya keberanian untuk tampil dan menunjukkan potensi diri di ruang publik maupun media sosial.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi, praktik public speaking, serta berbagi pengalaman dari narasumber. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif mahasiswa selama workshop berlangsung.

Presiden Mahasiswa (Presma) UNUSIDA, M. Rafly Afandi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen mahasiswa dalam menghadirkan ruang pengembangan diri yang relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini. Ia juga mengapresiasi kolaborasi berbagai komunitas yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Kami berharap teman-teman mahasiswa bisa lebih berani berbicara, lebih percaya diri menunjukkan potensinya, dan mampu menjadi pribadi yang tidak hanya terlihat, tetapi juga memiliki nilai bagi dirinya sendiri maupun orang lain,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa workshop ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi diharapkan mampu menjadi titik awal bagi mahasiswa untuk terus berkembang dan aktif membangun kapasitas diri.

Sementara itu, Plt. Rektor UNUSIDA, Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., turut memberikan apresiasi terhadap kolaborasi antara komunitas profesional dan mahasiswa dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, mempertemukan praktisi dengan pemula merupakan langkah penting untuk membuka ruang belajar yang lebih luas dan aplikatif.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi wadah bagi komunitas-komunitas kreatif di Sidoarjo untuk saling mengenalkan bidang dan potensi masing-masing, mulai dari musik, konten kreator, fotografi, hingga berbagai bidang kreatif lainnya.

“Acara hari ini adalah acara belajar. Tidak hanya peserta, tetapi seluruh panitia dan pihak yang terlibat juga sedang belajar bersama,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh peserta untuk aktif selama workshop berlangsung agar ilmu yang diberikan dapat benar-benar dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Mahasiswa harus mampu meningkatkan kepercayaan diri, memperkuat kemampuan komunikasi, dan membangun personal branding yang positif sebagai bekal menghadapi dunia akademik maupun profesional,” tuturnya.

Ketua JPZIS LAZISNU UNUSIDA, Moch. Fabet Ali Taufan, S.Si., Saat Menyalurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Desa Grinting Tulangan (Foto: Humas UNUSIDA)

Wujud Nyata Solidaritas, JPZIS UNUSIDA Salurkan Bantuan untuk Mahasiswa Korban Kebakaran

SIDOARJO — Musibah kebakaran yang menimpa salah satu mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) pada Kamis (21/5/2026) pagi lalu, mengundang kepedulian berbagai pihak. Peristiwa tersebut mengakibatkan satu unit rumah keluarga mahasiswa UNUSIDA di Desa Grinting, Kecamatan Tulangan yang terdampak sehingga mengalami kerusakan parah. Namun beruntungnya tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka.

Penggalangan bantuan tersebut menghimpun berbagai bentuk dukungan, mulai dari donasi dana, pakaian layak pakai, kebutuhan pokok, hingga perlengkapan sehari-hari guna membantu meringankan beban korban pascakebakaran.

Kegiatan kemanusiaan ini melibatkan berbagai unsur civitas akademika UNUSIDA, mulai dari dosen, tenaga kependidikan (tendik), hingga mahasiswa. Partisipasi aktif seluruh elemen kampus menjadi bukti kuatnya solidaritas dan semangat gotong royong dalam merespons musibah yang terjadi di tengah masyarakat.

Ketua JPZIS LAZISNU UNUSIDA, Moch. Fabet Ali Taufan, S.Si., menyampaikan bahwa aksi sosial tersebut tidak hanya bertujuan memberikan bantuan materiil, tetapi juga membangun kepedulian sosial yang lebih luas di lingkungan kampus dan masyarakat.

“Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kepedulian dan kebersamaan harus terus dirawat. Kami berharap bantuan yang diberikan dapat sedikit meringankan beban keluarga korban,” ujarnya.

Penyaluran bantuan dilakukan secara langsung kepada keluarga korban. Selain dukungan materiil, JPZIS LAZISNU UNUSIDA juga memberikan dukungan moril yang diharapkan mampu menguatkan keluarga korban dalam menghadapi masa pemulihan pascamusibah.

Pihak keluarga korban menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian serta bantuan yang diberikan oleh JPZIS LAZISNU UNUSIDA bersama seluruh civitas akademika UNUSIDA. Kehadiran berbagai pihak dinilai sangat membantu di tengah situasi sulit yang sedang mereka hadapi.

Lebih lanjut, Moch. Fabet Ali Taufan menegaskan komitmen JPZIS LAZISNU UNUSIDA untuk terus melakukan pendampingan dan membuka peluang bantuan lanjutan sesuai kebutuhan korban, baik berupa kebutuhan pokok maupun dukungan lain guna menunjang proses pemulihan.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga semangat gotong royong dan saling membantu, khususnya ketika ada saudara yang sedang tertimpa musibah. Aksi kemanusiaan ini menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian sosial kampus dalam menumbuhkan nilai empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama,” pungkasnya.