Lintas Medan dan Pelantikan Dewan Racana 2026 UKM Pramuka Kahtulistiwa UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

UKM Pramuka Kahtulistiwa UNUSIDA Gelar Lintas Medan dan Pelantikan Dewan Racana 2026

SIDOARJO — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka Kahtulistiwa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan kegiatan Lintas Medan dan Pelantikan Dewan Racana 2026 yang dilaksanakan di Puthuk Kentongan, Indreng, Genitri, Sabtu–Ahad (23–24/5/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh anggota aktif, peserta pelantikan, panitia pelaksana, serta pembina UKM Pramuka Kahtulistiwa UNUSIDA dengan penuh semangat, rasa kekeluargaan, dan tanggung jawab.

Ketua UKM Pramuka Kahtulistiwa UNUSIDA, M. Syafi’i, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan organisasi yang bertujuan menanamkan nilai-nilai kepramukaan, memperkuat jiwa kepemimpinan, serta meningkatkan loyalitas anggota terhadap organisasi. Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk pendidikan nonformal yang memberikan pengalaman nyata dalam membangun karakter mahasiswa yang tangguh, mandiri, berintegritas, serta memiliki solidaritas tinggi antaranggota.

“Kegiatan ini bukan hanya sekadar pelantikan kepengurusan, tetapi juga menjadi proses pembentukan mental, kedisiplinan, solidaritas, dan semangat pengabdian bagi seluruh anggota Pramuka Kahtulistiwa,” ujarnya.

Syafi’i menuturkan bahwa pelantikan Dewan Racana 2026 ini merupakan upaya untuk menyiapkan generasi penerus yang aktif, kreatif, inovatif, bertanggung jawab, serta mampu menjadi teladan di lingkungan organisasi, kampus, maupun masyarakat. Selain itu, pelantikan Dewan Racana 2026 menjadi simbol estafet kepemimpinan baru dalam tubuh UKM Pramuka Kahtulistiwa UNUSIDA. Para anggota yang dilantik diharapkan mampu menjalankan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab serta terus menghadirkan program-program positif bagi pengembangan mahasiswa.

“Melalui pelantikan ini, kami berharap muncul kader-kader Pramuka yang tidak hanya memiliki jiwa kepemimpinan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi positif bagi organisasi dan lingkungan sekitar,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan lintas medan dan pelantikan tersebut merupakan wujud nyata komitmen UKM Pramuka Kahtulistiwa UNUSIDA dalam menjaga keberlangsungan organisasi melalui proses kaderisasi yang terarah dan berkelanjutan.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas diri anggota sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan antaranggota Pramuka. Ia berharap, melalui kegiatan ini semangat kepramukaan di UNUSIDA terus tumbuh di kalangan mahasiswa sebagai bekal dalam membangun jiwa kepemimpinan, pengabdian, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

“Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan seluruh anggota dapat terus meningkatkan kualitas diri, memperkuat solidaritas, serta menjaga semangat persatuan dalam setiap aktivitas kepramukaan,” tambahnya.

Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti berbagai rangkaian agenda lintas medan yang menuntut kekompakan, ketahanan fisik, serta kemampuan bekerja sama dalam tim. Suasana kebersamaan dan semangat pantang menyerah tampak mewarnai perjalanan peserta saat melewati jalur alam di kawasan perbukitan Puthuk Kentongan.

Melalui kegiatan lintas medan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman lapangan, tetapi juga pembelajaran tentang pentingnya komunikasi yang efektif, kepedulian terhadap sesama, serta penguatan jiwa kepemimpinan dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan penuh semangat dan kebersamaan. Para peserta mengikuti berbagai agenda mulai dari perjalanan lintas medan, pembinaan karakter, hingga prosesi pelantikan Dewan Racana 2026,” pungkasnya.

Harkitnas 2026: Ilusi Generasi Emas dari Air Tercemar dan Sanitasi yang Terabaikan 1

Harkitnas 2026: Ilusi Generasi Emas dari Air Tercemar dan Sanitasi yang Terabaikan

SIDOARJO — Seratus delapan belas tahun lalu, kebangkitan nasional tidak lahir dari seremoni yang meriah ataupun slogan penuh tepuk tangan. Para pelajar STOVIA menyalakan api perubahan melalui keberanian membaca persoalan bangsa yang nyata: kebodohan, ketimpangan sosial, dan penderitaan rakyat akibat sistem yang tidak berpihak pada kemanusiaan. Hari ini, semangat itu semestinya kembali menjadi cermin refleksi dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 bertema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”.

Namun di tengah narasi besar tentang bonus demografi dan Generasi Emas 2045, Indonesia justru menghadapi ancaman yang tumbuh diam-diam dari bawah tanah—sanitasi buruk, pencemaran air, dan kontaminasi biologis yang mengancam masa depan generasi muda.

Bagi kalangan yang berkecimpung dalam bidang lingkungan, ancaman tersebut bukan sekadar teori akademik. Persoalan kualitas air, parameter Biological Oxygen Demand (BOD), bakteri indikator pencemaran, hingga limbah domestik merupakan realitas yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Ancaman terhadap tunas bangsa hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk bencana besar yang mudah terlihat. Ancaman itu mengalir melalui air sumur yang tercemar rembesan tangki septik bocor, melalui saluran drainase yang bercampur limbah rumah tangga, hingga melalui lingkungan permukiman yang gagal dikelola secara aman dan berkelanjutan.

Ironisnya, bangsa ini begitu antusias berbicara tentang kualitas sumber daya manusia, daya saing global, serta visi Generasi Emas 2045, tetapi kerap lupa memastikan bahwa anak-anak Indonesia tumbuh dalam ekosistem lingkungan yang benar-benar sehat.

Persoalan tersebut terlihat jelas dalam isu stunting yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah nasional. Angka prevalensi stunting Indonesia yang masih berada pada kisaran 19,8 persen menjadi alarm bahwa kesehatan generasi bangsa belum sepenuhnya terselamatkan.

Sayangnya, diskursus publik sering kali menyederhanakan stunting hanya sebagai masalah kurang gizi. Padahal akar persoalan jauh lebih kompleks dan berkaitan erat dengan kualitas sanitasi lingkungan.

Ketika akses air minum aman secara nasional masih terbatas, maka anak-anak Indonesia sesungguhnya hidup berdampingan dengan risiko infeksi enterik berulang akibat kontaminasi mikrobiologis. Dalam situasi demikian, asupan nutrisi yang baik pun berpotensi kehilangan efektivitas karena tubuh anak terus-menerus dipaksa melawan paparan bakteri dari lingkungan tempat mereka tinggal.

Kondisi tersebut menjadi tamparan keras terhadap komitmen pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-6 mengenai akses air bersih dan sanitasi layak.

Sulit membayangkan terwujudnya sumber daya manusia unggul tanpa memastikan kualitas lingkungan tempat mereka bertumbuh. Generasi berkualitas tidak lahir hanya dari kurikulum pendidikan yang baik, nilai akademik tinggi, atau kemajuan teknologi digital. Generasi unggul juga membutuhkan fondasi biologis yang sehat: air bersih, sanitasi aman, dan ruang hidup yang mendukung kesehatan masyarakat.

Tanpa itu semua, kebangkitan nasional berisiko menjadi slogan kosong.

Pemikiran tersebut sejalan dengan gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang pentingnya memelihara tunas bangsa sebaik-baiknya agar kelak tumbuh menjadi pohon rindang bagi kedaulatan tanah air. Dalam konteks kekinian, makna “menjaga tunas bangsa” tidak cukup diwujudkan melalui upacara, pidato, atau kampanye simbolik.

Tunas bangsa membutuhkan perlindungan nyata melalui sistem sanitasi yang memadai, pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, serta keberanian negara dalam memastikan hak masyarakat terhadap air bersih dan kesehatan lingkungan.

Sebab, pohon yang rindang tidak akan pernah tumbuh dari tanah yang tercemar dan sumber air yang terinfeksi.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026 semestinya menjadi titik evaluasi bahwa menjaga kedaulatan negara tidak hanya berkaitan dengan pertahanan militer, geopolitik, atau stabilitas ekonomi. Kedaulatan juga menyangkut kemampuan bangsa menjaga biosekuriti lingkungan dan kualitas hidup masyarakatnya.

Karena itu, pemerintah perlu memperkuat pengawasan sanitasi domestik, memperluas akses air minum aman, serta mengembangkan sistem pemantauan kualitas lingkungan berbasis teknologi hingga ke tingkat desa.

Di sisi lain, perguruan tinggi, akademisi, dan generasi muda memiliki peran strategis sebagai motor perubahan sosial berbasis sains lingkungan. Melalui riset, edukasi publik, inovasi teknologi tepat guna, serta gerakan sosial yang berbasis data ilmiah, kaum muda dapat menjadi garda depan dalam membangun kesadaran lingkungan yang lebih kuat.

Hari Kebangkitan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan yang selesai setelah bendera diturunkan. Semangat kebangkitan harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata untuk melindungi masa depan generasi bangsa dari ancaman yang sering kali tidak terlihat, tetapi perlahan menggerogoti kualitas hidup masyarakat.

Sebab pada akhirnya, ukuran kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, kekuatan politik, atau kemajuan infrastrukturnya. Kedaulatan bangsa juga ditentukan oleh kemampuan menjaga rakyatnya tetap sehat—dimulai dari air yang mereka minum, sanitasi yang mereka gunakan, hingga lingkungan tempat mereka tumbuh dan bermimpi.

Jika persoalan mendasar itu masih diabaikan, maka mimpi tentang Generasi Emas 2045 bisa saja berubah menjadi ilusi besar yang lahir dari saluran pembuangan yang dibiarkan terus mengalir tanpa perbaikan.(Waziruddin)

Salah Seorang Tim Relawan UNUSIDA, Joko Romadoni Sabrian untuk Monev Pilkades Serentak Se Kabupaten Sidoarjo di Desa Kendalpecabean (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Kirim 39 Relawan Tim Monev, Sukseskan Pilkades Serentak Sidoarjo 2026

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan daerah melalui partisipasi aktif pada pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak se-Kabupaten Sidoarjo, Ahad (24/5/2026). Sebanyak 39 relawan mahasiswa UNUSIDA diterjunkan untuk membantu pemantauan jalannya pesta demokrasi tingkat desa tersebut.

Keterlibatan relawan UNUSIDA menjadi bentuk kontribusi nyata civitas akademika yang melibatkan unsur dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, hingga tenaga operasional kampus dalam mendukung proses demokrasi yang aman, tertib, dan kondusif di wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Pada pelaksanaan Pilkades Serentak tahun ini, tercatat sebanyak 80 desa di 17 kecamatan se-Kabupaten Sidoarjo menyelenggarakan pemilihan kepala desa secara bersamaan. Para relawan UNUSIDA disebar ke sejumlah titik pelaksanaan untuk melakukan observasi, dokumentasi, serta membantu memastikan proses pemilihan berjalan sesuai prosedur dan prinsip demokrasi.

Ketua Tim Relawan UNUSIDA, Moch Fabet Ali Thoufan, menyampaikan bahwa keikutsertaan mahasiswa dalam agenda tersebut tidak hanya menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga sarana pembelajaran langsung mengenai dinamika sosial dan praktik demokrasi di lapangan.

“Melalui kegiatan ini, seluruh tim relawan tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi juga belajar memahami proses demokrasi secara nyata. Ini menjadi pengalaman berharga untuk melatih sikap kritis, tanggung jawab sosial, dan kemampuan berkolaborasi dengan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa dalam tim Monev diharapkan mampu membentuk karakter generasi muda yang aktif, responsif, dan berintegritas dalam mendukung pembangunan daerah.

Bagi para relawan, turun langsung ke tengah masyarakat menjadi pengalaman yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas. Mereka berhadapan langsung dengan dinamika pemilihan, interaksi warga, serta proses penyelenggaraan demokrasi di tingkat akar rumput. Situasi tersebut memberikan pemahaman baru bahwa demokrasi bukan hanya teori dalam buku, melainkan praktik sosial yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

“Jadi tugas relawan kali ini adalah melakukan observasi lapangan, dokumentasi kegiatan, serta membantu memastikan proses Pilkades berlangsung sesuai prosedur, regulasi, dan prinsip-prinsip demokrasi yang berlaku,” terangnya.

Dengan semangat kolaborasi dan pengabdian, Kepala Bagian Peningkatan Kinerja Tenaga Kependidikan UNUSIDA tersebut terus mendorong mahasiswanya untuk mengambil peran dalam berbagai agenda strategis masyarakat. Keterlibatan dalam Monev Pilkades menjadi salah satu wujud nyata kampus dalam memperkuat nilai-nilai demokrasi lokal sekaligus membangun kepedulian sosial mahasiswa terhadap lingkungan sekitarnya.

“Kolaborasi ini menjadi wujud nyata bagaimana kalangan akademisi dapat mengambil peran penting dalam mendukung terciptanya demokrasi yang inklusif, transparan, dan berintegritas di Kabupaten Sidoarjo,” tambahnya.

Sementara itu, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMP) Kabupaten Sidoarjo, Yustina Tri Prastiwi, menyampaikan apresiasinya atas partisipasi civitas akademika UNUSIDA dalam menyukseskan pelaksanaan Pilkades Serentak tahun ini.

“Keberadaan tim monitoring dan evaluasi ini bertujuan untuk meninjau secara langsung pelaksanaan demokrasi di tingkat desa agar berjalan tertib, aman, dan lancar. Kami sangat mengapresiasi keterlibatan UNUSIDA yang telah mendukung proses ini,” tuturnya.

Yustina menjelaskan, hasil monitoring yang dilakukan tim nantinya tidak hanya menjadi catatan lapangan semata, tetapi juga akan digunakan sebagai bahan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Pilkades di Kabupaten Sidoarjo.

“Kami berharap, sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Pilkades serentak kali ini mampu menghadirkan proses demokrasi yang semakin berkualitas, transparan, dan partisipatif. Kehadiran relawan UNUSIDA pun menjadi bukti bahwa dunia akademik memiliki peran penting dalam mengawal demokrasi, bahkan hingga ke tingkat desa,” pungkasnya.

Sosialisasi Program Magang IT Batch 2026 PT SIAP bagi Mahasiswa FILKOM UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

FILKOM UNUSIDA Gelar Kuliah Tamu Bareng PT SIAP, Dorong Mahasiswa Jadi Inovator Digital dalam Program Magang IT Batch 2026

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) menggelar Sosialisasi Program Magang IT Batch 2026 bersama PT Surya Inti Aneka Pangan (SIAP) di Hall Kampus 2 UNUSIDA, Selasa (20/5/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembekalan bagi mahasiswa untuk memahami kebutuhan dunia industri digital sekaligus memperkuat kesiapan kompetensi mahasiswa menghadapi tantangan revolusi industri berbasis teknologi.

Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FILKOM UNUSIDA dengan antusias tinggi. Sosialisasi menghadirkan pemateri dari PT SIAP yang membagikan pengalaman serta peluang pengembangan karier di bidang teknologi informasi dan industri digital.

Dalam sambutannya, Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T., menegaskan bahwa perkembangan industri digital bergerak sangat cepat, bahkan telah memasuki era revolusi industri generasi kelima yang ditandai dengan integrasi kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) dalam berbagai sektor pekerjaan.

“Banyak pekerjaan saat ini dibantu oleh AI, bukan diambil alih. Karena itu mahasiswa harus memiliki skill yang nyata agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” ujarnya.

Ia menyoroti fenomena banyaknya lulusan perguruan tinggi yang memiliki gelar akademik namun belum diimbangi dengan kemampuan praktis di bidangnya. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan tinggi, khususnya di bidang teknologi informasi.

“Indonesia tidak kekurangan lulusan sarjana, tetapi masih kekurangan sumber daya manusia yang benar-benar memiliki keterampilan. Jangan sampai lulusan informatika tidak bisa membuat aplikasi, lulusan sistem informasi tidak mampu menyusun proposal transformasi digital, atau lulusan desain komunikasi visual tidak bisa membuat poster dan mengedit video,” tegasnya.

Ia berharap melalui program magang tersebut mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga kemampuan praktis yang dapat menjadi bekal menghadapi dunia kerja dan industri digital yang kompetitif.

Selain itu, ia juga memperkenalkan keberadaan mahasiswa internasional di lingkungan FILKOM UNUSIDA sebagai bentuk berkembangnya jejaring akademik kampus di tingkat global. Menurutnya, kolaborasi lintas negara menjadi peluang penting untuk pertukaran pengetahuan dan pengalaman di bidang teknologi.

Sementara itu, Wakil Rektor III UNUSIDA dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun pola pikir mahasiswa agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi baru yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Selama ini kita cenderung menjadi konsumen teknologi. Padahal yang lebih mahal adalah bagaimana kita mampu menciptakan sesuatu, memproduksi inovasi, dan memberikan solusi melalui teknologi,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa mahasiswa ilmu komputer harus siap menghadapi tantangan dunia industri digital yang terus berkembang. Menurutnya, pengalaman praktis melalui program magang menjadi sarana penting untuk mempertemukan teori di bangku kuliah dengan kebutuhan nyata di lapangan.

“Jangan hanya menjadi pengguna aplikasi, tetapi belajarlah menjadi pencipta aplikasi, pengelola sistem, bahkan membangun perusahaan digital sendiri,” pesannya kepada mahasiswa.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif berdiskusi dan menggali ilmu sebanyak mungkin dari praktisi industri yang hadir. Kegiatan sosialisasi tidak hanya menjadi forum pengenalan program magang, tetapi juga wadah penguatan wawasan mahasiswa mengenai dunia industri digital, manajemen perusahaan teknologi, hingga peluang pengembangan startup berbasis teknologi informasi.

“Mahasiswa harus mampu meningkatkan kompetensi teknis melalui Program Magang IT Batch 2026 ini, memperluas pengalaman profesional, serta memiliki kesiapan yang lebih matang dalam menghadapi transformasi industri digital di masa depan,” pungkasnya.

Muhammad Taufikurrahman saat menyampaikan materi dalam Workshop UI/UX Figma Hima SI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

HIMA Sistem Informasi UNUSIDA Gelar Workshop UI/UX Figma, Bekali Mahasiswa Keterampilan Desain Aplikasi

SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa (Hima) Program Studi (Prodi) Sistem Informasi (SI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar kegiatan Workshop UI/UX Figma dengan mengusung tema ‘Mau Jago Desain Aplikasi dari Nol?’ pada Selasa (20/05/2026). Kegiatan ini menghadirkan Muhammad Taufikurrahman sebagai Senior UI/UX Designer sekaligus pemateri utama yang membimbing peserta memahami dasar-dasar desain antarmuka aplikasi menggunakan Figma.

Kepala Program Studi Sistem Informasi UNUSIDA Syahri Mu’min, S.Kom., M.T., dalam sambutannya menyampaikan bahwa mahasiswa Sistem Informasi tidak hanya dituntut mampu membuat program dan aplikasi, tetapi juga harus memahami bagaimana aplikasi dapat terhubung dengan kebutuhan pengguna melalui desain yang baik.

“Memprogram tanpa adanya desain yang sesuai tentu tidak akan maksimal dalam menyampaikan tujuan aplikasi kepada pengguna. Dengan adanya workshop UI/UX ini, mahasiswa diharapkan memiliki tambahan keterampilan yang dapat menjadi bekal di dunia kerja,” ujarnya.

Ia juga mengajak peserta untuk memanfaatkan workshop dengan aktif berdiskusi dan bertanya langsung kepada pemateri agar ilmu yang diperoleh benar-benar dapat diterapkan.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, S.Pd, M.T., menegaskan pentingnya mahasiswa memiliki keterampilan (skill) selain gelar akademik. Menurutnya, dunia kerja saat ini lebih membutuhkan individu yang memiliki kemampuan nyata dibanding sekadar ijazah.

“Sekarang banyak orang memiliki gelar, tetapi belum tentu memiliki keterampilan. Padahal dunia industri membutuhkan SDM yang benar-benar mampu bekerja dan menghasilkan karya,” jelasnya.

Ia mencontohkan masih banyak lulusan bidang teknologi yang belum mampu membuat desain presentasi, mengedit video, maupun menyusun prototype aplikasi secara baik. Karena itu, kegiatan seperti workshop UI/UX menjadi langkah penting untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa agar lebih siap menghadapi tantangan dunia profesional.

“Jangan pulang sebelum memahami dasar-dasar UI/UX. Minimal setelah workshop ini peserta sudah mengetahui bagaimana membuat prototype sederhana menggunakan Figma,” tegasnya.

Workshop yang diikuti mahasiswa dari berbagai program studi, seperti Sistem Informasi, Teknik Komputer, hingga peserta umum ini membahas berbagai materi mulai dari pengenalan dasar Figma, Auto Layout, desain UI mobile, hingga prototyping. Kegiatan tersebut menjadi ruang pengembangan keterampilan digital yang relevan dengan kebutuhan industri kreatif dan teknologi saat ini. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap materi dan berdiskusi terkait tren desain aplikasi modern. Melalui kegiatan ini, FILKOM UNUSIDA berharap mahasiswa semakin berkembang, kreatif, serta memiliki daya saing tinggi di bidang teknologi dan industri digital.

HIMA PGSD UNUSIDA Gelar Seminar AI, Kupas Strategi Etis Pemanfaatan AI sebagai Asisten Riset Tanpa Plagiarisme 2

HIMA PGSD UNUSIDA Gelar Seminar AI, Kupas Strategi Etis Pemanfaatan AI sebagai Asisten Riset Tanpa Plagiarisme

Iyung Fachrur Rozi, Alumni Informatika UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dari Ruang Kelas ke Dunia Industri: Iyung Fachrur Rozi, Alumni Informatika UNUSIDA yang Kini Berkarier sebagai Programmer

Dunia teknologi yang terus berkembang membutuhkan sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, serta memiliki kemampuan problem solving yang kuat. Hal tersebut tercermin dalam perjalanan karier Iyung Fachrur Rozi, S.Kom., alumni Program Studi Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2025 yang kini berkarier sebagai Programmer di PT. Madina Mentari Teknologi.

Bagi Iyung, menjadi mahasiswa Informatika UNUSIDA bukan sekadar perjalanan akademik untuk memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, masa perkuliahannya menjadi ruang pembelajaran yang membentuk kemampuan berpikir logis, keterampilan pemrograman, hingga kesiapan menghadapi kebutuhan industri teknologi yang dinamis.

“Menjadi mahasiswa Informatika UNUSIDA adalah pengalaman berkesan karena saya tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung praktik membangun sistem nyata yang relevan dengan dunia kerja,” ungkap Iyung kepada Humas UNUSIDA, Ahad (17/5/2026).

Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan profesionalnya saat ini. Di tengah perkembangan industri digital yang menuntut inovasi cepat dan kemampuan adaptasi tinggi, pengalaman praktik yang diperoleh selama masa kuliah memberikan nilai tambah tersendiri.

Selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, Iyung merasakan bahwa proses pembelajaran yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga menekankan aspek implementasi. Mahasiswa didorong untuk terlibat dalam berbagai proyek, pengembangan sistem, serta penyelesaian studi kasus yang relevan dengan kebutuhan dunia industri.

Pendekatan pembelajaran tersebut membantu mahasiswa memahami bagaimana konsep pemrograman, pengembangan perangkat lunak, serta manajemen sistem diterapkan secara nyata dalam lingkungan profesional. Melalui berbagai pengalaman proyek, mahasiswa tidak hanya belajar menulis kode, tetapi juga memahami proses analisis kebutuhan pengguna, desain sistem, hingga penyelesaian masalah berbasis teknologi.

Menurut Iyung, lingkungan akademik yang suportif menjadi salah satu faktor penting yang mendukung perkembangan kompetensinya. Dukungan dosen yang kompeten dan terbuka terhadap diskusi membuat proses belajar terasa lebih dinamis dan aplikatif.

“Lingkungan akademik yang suportif dan dosen yang kompeten membantu saya mengembangkan kemampuan problem solving serta logika pemrograman secara mendalam,” jelasnya.

Kemampuan problem solving sendiri menjadi salah satu aspek yang sangat penting dalam profesi programmer. Dalam dunia kerja, seorang programmer tidak hanya dituntut mampu membuat program berjalan dengan baik, tetapi juga harus mampu menemukan solusi atas berbagai tantangan teknis yang muncul selama proses pengembangan teknologi.

Kini, sebagai seorang programmer di PT. Madina Mentari Teknologi, Iyung merasakan secara langsung bagaimana fondasi yang dibangun selama kuliah berperan besar dalam mendukung pekerjaannya. Ia menghadapi berbagai tantangan industri yang membutuhkan ketelitian, kemampuan analitis, serta kecepatan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.

Menurutnya, dunia teknologi adalah bidang yang bergerak sangat cepat. Bahasa pemrograman, framework, hingga kebutuhan industri dapat berubah dalam waktu singkat. Oleh sebab itu, seseorang yang berkarier di bidang teknologi harus memiliki pola pikir pembelajar dan kesiapan untuk terus mengembangkan kompetensi.

“Kini, sebagai seorang programmer, saya merasakan bahwa fondasi yang dibangun selama kuliah sangat berperan dalam menghadapi tantangan industri teknologi,” ujarnya.

Selain pembelajaran di kelas, pengalaman proyek selama kuliah juga menjadi bekal berharga dalam memahami kebutuhan industri secara nyata. Keterlibatan dalam proyek pengembangan sistem membuat Iyung terbiasa bekerja secara sistematis, memahami alur kerja pengembangan teknologi, serta berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas berbasis tim.

Ia menilai bahwa kampus memiliki peran besar dalam membentuk dasar keilmuan sekaligus pola pikir profesional seorang mahasiswa. Melalui pembelajaran yang terstruktur dan aplikatif, mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan teknis, tetapi juga diajarkan bagaimana menghadapi tantangan pekerjaan secara profesional.

“Kampus berperan penting dalam membentuk dasar keilmuan dan pola pikir saya sebagai seorang programmer melalui pembelajaran yang terstruktur dan aplikatif. Dukungan dosen serta pengalaman proyek selama kuliah membantu saya memahami kebutuhan industri secara nyata,” tuturnya.

Bekal tersebut membuatnya lebih siap dan percaya diri dalam memulai serta mengembangkan karier di bidang teknologi. Baginya, kesiapan memasuki dunia kerja tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses belajar yang konsisten, lingkungan yang mendukung, dan kemauan untuk terus berkembang.

Kisah Iyung Fachrur Rozi menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana pendidikan tinggi dapat berperan penting dalam membentuk generasi profesional yang siap bersaing di dunia kerja. Perjalanan kariernya menunjukkan bahwa kombinasi antara pembelajaran teoritis, praktik nyata, dan dukungan akademik mampu menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Sebagai alumni Informatika UNUSIDA, Iyung juga memberikan pesan bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan agar memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin untuk memperkuat kompetensi dan memperluas pengalaman.

Menurutnya, mahasiswa tidak perlu takut mencoba hal baru, mengikuti proyek, maupun mengasah keterampilan di luar ruang kelas. Sebab, pengalaman tersebut akan menjadi bekal penting ketika memasuki dunia profesional.

“Alumni UNUSIDA harus membuktikan bahwa lulusan muda hari ini mampu bersaing dan berkontribusi dalam industri teknologi. Kisah inspiratif ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa UNUSIDA untuk terus membangun kompetensi, mengembangkan inovasi, dan berani mengambil peran dalam menghadapi tantangan era digital,” pungkasnya.

BEM UNUSIDA Lanjutkan Safari Ormawa, Konsolidasi Strategis Bersama Ormawa Fakultas Teknik (Foto: Humas UNUSIDA)

BEM UNUSIDA Gelar Safari Ormawa, Bangun Konsolidasi Strategis Bersama Ormawa di Tingkat Fakultas

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali melanjutkan agenda Safari Organisasi Mahasiswa (Ormawa) melalui konsolidasi strategis di lingkungan Fakultas Teknik. Kegiatan yang berlangsung di Kedai Ahmed 4 pada Ahad (10/5/2026) ini menjadi ruang penyamaan perspektif mengenai arah gerakan organisasi kemahasiswaan yang lebih adaptif, kolaboratif, serta berorientasi pada dampak nyata bagi mahasiswa.

Agenda tersebut mempertemukan delegasi BEM UNUSIDA dengan jajaran organisasi mahasiswa Fakultas Teknik, mulai dari BEM Fakultas Teknik, Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI), Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK), hingga Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL). Konsolidasi ini difokuskan pada penjaringan aspirasi sekaligus penguatan fondasi organisasi menuju tata kelola yang lebih modern, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Wakil Presiden Mahasiswa UNUSIDA, Alvin Dwi Yunianto, yang memimpin langsung jalannya forum, memberikan apresiasi terhadap kultur solidaritas yang telah tumbuh kuat di lingkungan Fakultas Teknik.

“Saya sangat salut dengan kesolidaritasan kawan-kawan Fakultas Teknik yang sangat antusias hadir berjumpa bersama. Harapannya, solidaritas ini terus bertahan dan tetap menjadi ciri khas Fakultas Teknik. Namun, kita juga harus mulai beradaptasi dan bergerak lebih masif dalam pergerakan digital,” tegas Alvin.

Dalam forum tersebut, Mahasiswa Prodi Manajemen tersebut menekankan pentingnya reformasi pola pikir kepengurusan di tingkat fakultas. Organisasi mahasiswa didorong untuk tidak lagi menjalankan program kerja yang bersifat eksklusif dan terbatas pada lingkup internal, melainkan mampu menghadirkan program yang menyentuh kebutuhan mahasiswa secara umum serta memberikan manfaat yang terukur.

Selain itu, transformasi digital menjadi salah satu poin utama pembahasan. Organisasi mahasiswa dinilai perlu memperkuat eksistensi dan pola komunikasi publik melalui optimalisasi media sosial sebagai bagian dari indikator organisasi modern yang responsif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan generasi saat ini.

Menurut Alvin, organisasi mahasiswa saat ini dihadapkan pada tantangan baru yang menuntut kemampuan adaptasi lebih cepat, khususnya dalam membangun komunikasi organisasi yang efektif, terbuka, dan mampu menjangkau audiens lebih luas melalui platform digital.

Sementara itu, Gubernur BEM Fakultas Teknik, Marendra Firdaus Putra, menyampaikan apresiasi atas inisiatif konsolidasi yang dilakukan BEM tingkat universitas. Ia menyambut positif gagasan modernisasi organisasi mahasiswa di UNUSIDA.

Ia menilai, agenda seperti Safari Ormawa menjadi wadah penting untuk membangun komunikasi antarlembaga kemahasiswaan sekaligus memperkuat sinergi program kerja antara organisasi di tingkat universitas dan fakultas.

“Kami menyambut dengan sangat baik Safari Ormawa ini. Harapannya, ruang-ruang pertemuan dan konsolidasi seperti ini dapat lebih sering dilaksanakan ke depannya,” ungkap Marendra.

Senada, Ketua HMTL UNUSIDA, Gilang Ramadhani Kurniawan. Menurutnya, penguatan gerakan digital menjadi kebutuhan penting bagi organisasi mahasiswa, tidak hanya untuk membangun eksistensi organisasi, tetapi juga sebagai sarana publikasi kegiatan akademik dan pengembangan citra program studi.

“Di Teknik Lingkungan, kami juga mulai mengupayakan gerakan digital dengan mendokumentasikan berbagai kegiatan akademik maupun praktikum, seperti aktivitas di Laboratorium Kualitas Lingkungan. Selain menjadi media dokumentasi, hal tersebut juga dapat menjadi sarana promosi program studi dan memperlihatkan eksistensi kegiatan mahasiswa kepada masyarakat luas,” jelas Gilang.

Lebih lanjut, Alvin menegaskan bahwa Safari Ormawa merupakan bagian dari komitmen BEM UNUSIDA dalam membangun ekosistem organisasi mahasiswa yang sehat, progresif, dan mampu menjawab tantangan perkembangan zaman. Melalui berbagai masukan yang muncul dalam forum ini, pihaknya berharap terbentuk pola gerakan organisasi mahasiswa yang lebih terbuka terhadap perubahan, mampu memanfaatkan teknologi digital secara optimal, serta memiliki orientasi program yang jelas dan berkelanjutan.

Selain itu, Safari Ormawa ini juga diharapkan mampu menghasilkan output strategis berupa peningkatan kualitas komunikasi antarlembaga mahasiswa, penguatan budaya kolaborasi, serta lahirnya program kerja yang lebih berdampak bagi mahasiswa maupun masyarakat. Dengan demikian, organisasi mahasiswa tidak hanya menjadi ruang administrasi kepengurusan, tetapi juga wadah pengembangan kapasitas, inovasi, dan kepemimpinan generasi muda.

“Kami ingin memastikan bahwa seluruh organisasi mahasiswa di lingkungan UNUSIDA memiliki ruang untuk bertumbuh bersama, saling bertukar gagasan, dan bergerak dalam visi yang sama. Organisasi yang kuat lahir dari komunikasi yang terbuka, solidaritas yang terjaga, serta keberanian untuk terus beradaptasi,” pungkasnya.

Sebagai bagian dari visi pembangunan organisasi berkelanjutan, agenda Safari Ormawa BEM UNUSIDA akan terus dilaksanakan secara bertahap di berbagai fakultas. Melalui konsolidasi tersebut, diharapkan sinergi antar lembaga kemahasiswaan semakin terukur, iklim organisasi kampus menjadi lebih adaptif dan modern, serta gerakan mahasiswa UNUSIDA mampu menghadirkan kontribusi yang relevan bagi perkembangan kampus dan masyarakat luas.

Penulis: Muchammad Waziruddin

BEM UNUSIDA dan Yayasan Omni Indonesia Gelar OLC Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

BEM UNUSIDA dan Yayasan Omni Indonesia Gelar Olimpiade Omni Local Competition Tingkat Pelajar di Sidoarjo

SIDOARJO — Semangat memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 diwujudkan melalui penyelenggaraan Olimpiade Omni Local Competition (OLC) Sidoarjo yang berlangsung di Lantai 5 Gedung A Kampus II UNUSIDA, Ahad (10/05/2026) . Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Pendidikan Omni Indonesia dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

OLC Sidoarjo menjadi bagian dari rangkaian program yang diinisiasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi BEM UNUSIDA dalam memperingati Hardiknas 2026 sekaligus menghadirkan ruang kompetisi akademik yang inklusif bagi pelajar lintas jenjang pendidikan. Melalui ajang ini, penyelenggara berupaya mendorong budaya belajar, daya saing, serta pengembangan potensi akademik peserta sejak usia dini.

Staf Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi BEM UNUSIDA, Muhammad Ali Akbar Rafsanjani menegaskan bahwa OLC bukan sekadar ajang perlombaan akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, keberanian, dan budaya belajar generasi muda.

“Momentum Hardiknas harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni tahunan. Melalui OLC ini, kami ingin menghadirkan ruang yang mampu menumbuhkan keberanian, rasa percaya diri, dan budaya kompetitif yang sehat bagi pelajar sejak dini. Pendidikan hari ini membutuhkan ekosistem yang mendukung potensi peserta didik agar mampu berkembang secara adaptif dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Ia yang juga menjadi koordinator kegiatan, menambahkan bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan dan organisasi mahasiswa menjadi bagian penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap kegiatan akademik yang berkualitas.

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan juga memberikan pengalaman nyata tentang pentingnya kontribusi generasi muda dalam pembangunan sumber daya manusia. Dalam momentum Hardiknas 2026, kegiatan seperti OLC diharapkan mampu memperkuat budaya belajar yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai, tetapi juga pembentukan karakter, kreativitas, dan semangat inovasi.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar secara langsung bagaimana membangun ruang pendidikan yang kolaboratif dan berdampak. Ini bukan hanya tentang perlombaan, tetapi bagaimana menciptakan semangat belajar yang positif bagi generasi muda,” jelasnya.

Pelaksanaan lomba kali ini dibagi ke dalam berbagai kategori berdasarkan jenjang pendidikan. Untuk tingkat TK/RA, peserta berkompetisi pada bidang Berhitung dan English. Sementara untuk tingkat SD/MI kelas 1–2, lomba meliputi Matematika dan English. Pada tingkat SD/MI kelas 3–4 serta kelas 5–6, kategori yang diperlombakan mencakup Matematika, IPA, dan English. Adapun untuk jenjang SMP/MTs, peserta diuji melalui kompetisi Matematika, IPA, dan English.

Ragam kategori tersebut menunjukkan komitmen penyelenggara dalam menyediakan ruang pengembangan kemampuan akademik yang berkelanjutan dan adaptif terhadap kebutuhan peserta didik di setiap fase pendidikan.

Kegiatan OLC Sidoarjo juga menjadi perhatian tersendiri karena telah terkurasi di Pusat Prestasi Nasional (PUSPERNAS). Status tersebut memberikan legitimasi akademik sekaligus menjadi motivasi tambahan bagi peserta untuk terus mengembangkan kompetensi mereka di bidang pendidikan.

Momentum Hardiknas 2026 dipilih sebagai pengingat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, tidak hanya dimaknai sebagai peringatan seremonial. Sinergi antara lembaga pendidikan, tenaga pendidik, peserta didik, serta orang tua menjadi kunci dalam mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Melalui OLC, peserta didorong untuk tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai semata, melainkan juga pada pembentukan karakter, kreativitas, serta semangat inovasi. Hal ini sejalan dengan semangat Hardiknas yang menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi utama dalam membangun generasi unggul.

“Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana untuk memperkuat budaya belajar yang lebih holistik,” kata salah satu pengurus Yayasan Pendidikan Omni Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut Yayasan Pendidikan Omni Indonesia secara langsung menyerahkan penghargaan kepada para peserta berprestasi. Dengan mengusung nilai pendidikan yang inklusif dan kolaboratif, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi lahirnya lebih banyak ruang pembelajaran yang progresif, adaptif, dan berdaya saing di masa depan.

Agung Yundi, Analis SDM Aparatur LLDikti Wilayah VII Jawa Timur saat menyampaikan materi dalam LKMM-TM UNUSIDA 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Ketua Tim Kerja Kemahasiswaan LLDikti Wilayah VII Jawa Timur, Agung Yundi Tekankan Mahasiswa Harus Aktif dan Berdampak

SIDOARJO — Ketua Tim Kerja Kemahasiswaan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII Jawa Timur, Agung Yundi menjelaskan arah kebijakan pemerintah di bidang pendidikan tinggi sekaligus pentingnya peran aktif mahasiswa dalam pengembangan kapasitas diri. Hal tersebut disampaikan dalam Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) 2026, di Hall Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur KM 5,5 Sidoarjo, (12/5/2026).

Dalam pemaparannya, Agung Yundi menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton dalam sistem pendidikan tinggi. Menurutnya, mahasiswa harus mampu menjadi aktor perubahan yang hadir membawa dampak nyata bagi lingkungan sekitar maupun masa depan dirinya sendiri.

Pria yang merupakan Alumni S1 Ilmu Hukum Universitas Jember dan Alumni S2 Ilmu Hukum Universitas Airlangga tersebut menyampaikan pesan reflektif yang menjadi penutup materinya dan mendapat perhatian besar dari peserta.

“Kalau tidak ingin menganggur saat lulus nanti, maka jangan belajar menjadi penganggur saat masih menjadi mahasiswa. Aktiflah, bergeraklah, mari berdampak,” ujarnya

Lebih lanjut, Agung juga menekankan pentingnya masa kuliah bukan sekadar fase akademik, melainkan momentum membangun kompetensi, pengalaman, serta karakter kepemimpinan. Ia menilai keterlibatan mahasiswa dalam organisasi, forum pelatihan, maupun kegiatan kampus seperti LKMM-TM merupakan investasi penting untuk menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan sosial di masa mendatang.

Selain itu, Agung juga menjelaskan arah kebijakan pemerintah di bidang pendidikan tinggi yang saat ini menuntut mahasiswa lebih adaptif, kolaboratif, serta memiliki kemampuan manajerial dan kepemimpinan yang baik. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga individu yang mampu bekerja sama, berpikir kritis, dan menyelesaikan persoalan secara sistematis.

Ia menambahkan bahwa LKMM-TM menjadi ruang strategis dalam membentuk karakter tersebut karena mahasiswa dilatih memahami pola kerja organisasi, pengambilan keputusan, manajemen program, hingga kemampuan komunikasi dan koordinasi tim.

“Mahasiswa hari ini harus memiliki nilai tambah. Tidak cukup hanya mengandalkan IPK, tetapi juga pengalaman organisasi, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan,” jelasnya.

Ia menyebut, LKMM-TM menjadi upaya pengembangan kepemimpinan mahasiswa dalam bentuk pelatihan untuk membentuk mahasiswa yang mampu berpikir strategis, memiliki kemampuan manajerial, serta siap menjadi pemimpin di berbagai bidang. Program ini menjadi salah satu wadah penting dalam menanamkan nilai kepemimpinan, tanggung jawab, dan kolaborasi di lingkungan mahasiswa UNUSIDA.

“Melalui LKMM-TM ini, kami berupaya mendorong mental untuk memanfaatkan masa studi sebagai proses pembentukan kapasitas diri dan kesiapan menghadapi masa depan. Serta diharapkan mampu melahirkan generasi mahasiswa yang siap memimpin, siap berkontribusi, dan siap memberikan dampak positif bagi masyarakat,” pungkasnya.