Plt. Rektor Buka LKMM-TM UNUSIDA 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

LKMM-TM 2026 UNUSIDA Tekankan Peran Ormawa dalam Membangun Kampus Unggul

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM) Angkatan VII Tahun 2026 dengan mengusung tema Ormawa Super, UNUSIDA Super. Kegiatan resmi dibuka di Hall Kampus 2 UNUSIDA pada Selasa (12/5/2026) dan dilanjutkan di Pondok Darul Mutta’allimin, Trawas, Mojokerto pada Kamis–Sabtu (14–16/5/2026).

Dalam arahannya, Plt. Rektor UNUSIDA, Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menekankan tiga hal penting yang harus dimiliki mahasiswa peserta LKMM-TM, yakni komunikasi, kecepatan merespons, dan evaluasi berkelanjutan.

Menurutnya, komunikasi bukan sekadar berbicara, melainkan bagaimana pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh penerima. Selain itu, mahasiswa juga dituntut memiliki kepekaan dan kecepatan dalam merespons berbagai persoalan organisasi maupun sosial.

“Mahasiswa yang terlatih secara manajerial harus mampu bergerak cepat, peka terhadap situasi, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik,” tegasnya.

Beliau juga menambahkan bahwa evaluasi harus dilakukan secara berkelanjutan selama proses kegiatan berlangsung. Keberhasilan sebuah kegiatan, menurutnya, tidak hanya dilihat dari hasil akhir, tetapi juga tampak dari kualitas proses, partisipasi, dan kedisiplinan peserta selama mengikuti pelatihan.

Hadi Ismanto menegaskan bahwa LKMM-TM bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan ruang pembentukan karakter mahasiswa agar siap menjadi penggerak organisasi kemahasiswaan yang unggul dan berdampak.

Melalui LKMM-TM 2026, ia berharap lahir kader-kader organisasi mahasiswa yang komunikatif, responsif, dan reflektif, sejalan dengan visi kampus dalam mencetak generasi mahasiswa unggul dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Kegiatan ini menjadi wadah penguatan kapasitas mahasiswa dalam bidang manajemen organisasi, kepemimpinan, serta pengembangan karakter sebagai penggerak organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus,” jelasnya.

Sementara itu,

Kepala Biro Kemahasiswaan UNUSIDA, Fajar Nur Yasin, M.Pd., menyampaikan bahwa salah satu inovasi dalam pelaksanaan LKMM-TM tahun ini adalah penerapan sistem absensi digital menggunakan barcode pada kartu identitas peserta.

Melalui sistem tersebut, data kehadiran peserta dapat langsung terekam secara otomatis sehingga proses kontrol pelatihan menjadi lebih efektif dan akurat. Selain itu, inovasi ini juga menjadi langkah dalam membangun budaya disiplin mahasiswa selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

“Dengan absensi barcode, kehadiran peserta dapat dipantau secara real time sehingga kedisiplinan peserta semakin meningkat,” ujarnya.

Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut mengungkapkan bahwa pihaknya secara konsisten melakukan evaluasi dan inovasi setiap tahun guna memastikan penguatan Ormawa berjalan semakin efektif. Menurutnya, LKMM-TM bukan sekadar agenda rutin, melainkan instrumen pembentukan karakter kepemimpinan mahasiswa yang berintegritas dan visioner.

“Evaluasi dan inovasi selalu kami lakukan agar penguatan Ormawa dalam pembangunan kampus semakin baik dari tahun ke tahun. LKMM-TM menjadi ruang belajar yang sangat penting bagi mahasiswa untuk memahami tata kelola organisasi secara profesional,” ungkapnya.

Semangat kebersamaan, kedisiplinan, dan keseriusan peserta tampak jelas selama kegiatan berlangsung. Hal tersebut terlihat dari antusiasme mahasiswa saat mengikuti sesi materi, diskusi kelompok, hingga refleksi pembelajaran yang berjalan secara intensif dan terarah.

“Kader-kader Ormawa harus mampu menjadi motor penggerak kemajuan kampus. Dengan pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan, kami optimis Ormawa akan semakin berkontribusi dalam menciptakan ekosistem kemahasiswaan yang aktif, progresif, dan berdampak nyata bagi civitas akademika,” pungkasnya.

KPP Pratama Sidoarjo Utara Edukasi Mahasiswa UNUSIDA Melalui Tax Goes to Campus (Foto: Humas UNUSIDA)

Tax Goes to Campus di UNUSIDA: Hima Akuntansi Gandeng KPP Sidoarjo Utara Kenalkan Implementasi Coretax

SIDOARJO — Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Sidoarjo Utara kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi perpajakan di kalangan generasi muda melalui kegiatan Tax Goes to Campus di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Kamis (07/05/2026). Kegiatan bertema implementasi sistem perpajakan terbaru Coretax ini digelar secara hybrid di Auditorium Lantai 5 Kampus 2 UNUSIDA serta melalui Zoom Meeting, dengan sekitar 160 peserta daring.

Dekan Fakultas Ekonomi UNUSIDA, Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M., menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan rasa percaya diri mahasiswa melalui praktik langsung di lapangan.

“Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmunya di masyarakat. Kehadiran mahasiswa dalam membantu masyarakat menghadapi persoalan pajak menjadi bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat,” tuturnya.

Ia berharap kerja sama antara Fakultas Ekonomi UNUSIDA dan KPP Pratama Sidoarjo Utara dapat terus berlanjut serta melahirkan mahasiswa yang kompeten, profesional, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja di bidang perpajakan.

“Kolaborasi seperti ini sangat penting untuk memberikan wawasan praktis kepada mahasiswa terkait kebijakan dan sistem perpajakan terbaru. Kami berharap sinergi ini terus terjalin demi mencetak lulusan yang unggul dan adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja,” jelasnya.

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi sekaligus edukasi bagi mahasiswa terkait perkembangan sistem administrasi perpajakan modern di Indonesia. Selain itu, agenda ini memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dalam membangun kesadaran pajak sejak dini.

Para peserta menerima materi langsung dari praktisi dan narasumber KPP Pratama Sidoarjo Utara. Materi pertama disampaikan oleh Devi Damasantika, S.M., mengenai aktivasi Coretax dan penerbitan kode otorisasi. Selanjutnya, materi tentang kewajiban perpajakan untuk UMKM Orang Pribadi dipaparkan oleh Antonius Atet Wiyono, S.E., M.M.

Dalam pemaparannya, Antonius Atet Wiyono menjelaskan pentingnya pemahaman kewajiban perpajakan secara umum bagi mahasiswa sebagai bekal menghadapi kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja. Ia memberikan gambaran sederhana mengenai tampilan aplikasi Coretax agar mudah dipahami oleh peserta.

Selain itu, ia juga menjelaskan ketentuan perpajakan bagi Orang Pribadi yang memiliki penghasilan di bawah Rp4,8 miliar per tahun. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022, wajib pajak dengan kategori tersebut hanya dikenakan pajak sebesar 0,5 persen dari omzet per bulan. Penjelasan sederhana ini diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami dasar perhitungan perpajakan secara praktis dan mudah diterapkan.

“Mahasiswa diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang akurat di tengah masyarakat terkait perpajakan dan penggunaan sistem digital perpajakan,” ujarnya.

Selain itu, pengenalan tampilan aplikasi Coretax memberi panduan awal bagi mahasiswa agar lebih familiar dengan sistem administrasi perpajakan digital. Pendekatan ini diharapkan mampu mengarahkan pemanfaatan gawai ke aktivitas yang lebih produktif dan edukatif.

Atet sapaan akrabnya, menambahkan bahwa pengenalan aplikasi Coretax dapat menjadi panduan positif bagi mahasiswa dalam memanfaatkan gadget dan perangkat digital secara lebih produktif. Menurutnya, kolaborasi antara literasi digital, familiarisasi Coretax, dan literasi perpajakan menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi dan administrasi modern.

“Kami akan terus memperkuat kolaborasi literasi digital, familiarisasi Coretax, dan literasi perpajakan. Kami harap mahasiswa saat ini mampu menjadi sumber informasi yang akurat di tengah masyarakat saat mereka terjun ke dunia kerja maupun wirausaha,” ungkapnya.

Riyadhoh Spiritual Fakultas Ekonomi UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Riyadhoh Spiritual Fakultas Ekonomi UNUSIDA, Meneladani Jejak Muassis NU

JOMBANG — Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melaksanakan kegiatan riyadhoh pada Selasa (5/5/2026). Kegiatan ini diikuti seluruh jajaran struktural fakultas, mulai dari dekanat, kepala program studi, dosen, hingga tenaga kependidikan.

Rangkaian kegiatan diisi dengan ziarah ke makam para ulama kharismatik yang memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan Islam dan Nahdlatul Ulama di Indonesia. Adapun lokasi ziarah meliputi makam KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Bisri Syansuri, KH. Abdul Wahab Chasbullah, serta Sayyid Sulaiman. Keempat tokoh tersebut dikenal luas atas kontribusinya dalam pengembangan pendidikan, dakwah, serta perjuangan kebangsaan.

Dekan Fakultas Ekonomi UNUSIDA Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M., menyampaikan bahwa kegiatan spiritual seperti ini penting untuk membangun karakter civitas akademika yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki ketenangan batin dan nilai-nilai keislaman yang kuat.

“Kampus tidak hanya menjadi ruang belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat membangun akhlak, spiritualitas, dan kebersamaan. Semoga kegiatan ini membawa keberkahan bagi seluruh keluarga besar Fakultas Ekonomi UNUSIDA,” ujarnya.

Ia berharap, riyadhoh ini membawa keberkahan serta dampak positif bagi seluruh civitas akademika Fakultas Ekonomi UNUSIDA dalam menjalankan aktivitas akademik maupun pengabdian kepada masyarakat.

“Semoga keberkahan riyadhoh ini dapat menjadi pelecut semangat bagi seluruh civitas akademika Fakultas Ekonomi UNUSIDA dalam menjalankan amanah pendidikan,” ungkapnya.

Setibanya di lokasi pertama, makam KH. M. Hasyim Asy’ari, seluruh peserta melaksanakan pembacaan tahlil dan doa bersama yang dipimpin salah satu dosen. Kekhusyukan terasa saat peserta mengenang jasa pendiri NU tersebut.

Perjalanan dilanjutkan ke makam KH. Bisri Syansuri. Selain doa dan tahlil, peserta mendapatkan tausiyah singkat tentang pentingnya menjaga nilai keilmuan dan keikhlasan dalam berkhidmah, sebagaimana teladan para ulama terdahulu. Momen ini menjadi refleksi bersama untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik secara akademik maupun spiritual.

Di makam KH. Abdul Wahab Chasbullah hingga di makam Sayyid Sulaiman, rombongan kembali melantunkan doa bersama. Disampaikan pula penjelasan singkat mengenai peran beliau dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan kiprahnya membangun NU. Wawasan historis ini meneguhkan kesadaran akan pentingnya peran ulama dalam perjalanan bangsa.

PIAUD UNUSIDA Aktif di RAT ke-6 PPIAUD Indonesia (Foto; Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Turut Berperan Aktif di RAT ke-6 PPIAUD Indonesia, Dorong Penguatan Mutu dan Isu Strategis RA Negeri

BATU — Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berpartisipasi aktif dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-6 Perkumpulan Program Studi PIAUD Indonesia yang digelar di Amartahills Hotel and Resort Batu, Malang, Rabu-Kamis (29–30/4/2026).

Forum nasional ini menjadi ajang strategis dalam memperkuat jejaring antar Program Studi PIAUD se-Indonesia, meningkatkan mutu tata kelola program studi, mendorong kolaborasi tridharma perguruan tinggi, serta merumuskan arah kebijakan pendidikan anak usia dini di tingkat perguruan tinggi.

Kegiatan RAT tahun ini dipandu oleh tiga tuan rumah, yakni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Islam Malang, dan Universitas Al-Qolam Malang. Rangkaian kegiatan meliputi pengabdian kepada masyarakat, visiting lecture, stadium general, international conference, PPIAUD Award, penyusunan RPS berbasis Outcome-Based Education (OBE), hingga pemilihan kepengurusan periode 2026–2029.

Dalam forum tersebut, Kaprodi PIAUD UNUSIDA, Rif’atul Anita, S.Pd., M.Pd., turut mendorong pembahasan isu-isu strategis pendidikan anak usia dini dalam forum nasional PPIAUD. Salah satu perhatian utama yang diangkat adalah pentingnya penegerian Raudhatul Athfal (RA) di Indonesia sebagai langkah penguatan tata kelola, pemerataan mutu, serta peningkatan kesejahteraan lembaga dan pendidik RA di berbagai daerah.

Menurutnya, penegerian RA menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan pendidikan anak usia dini yang lebih berkualitas, terstandar, dan berkelanjutan. Isu ini dinilai krusial karena RA selama ini memiliki kontribusi besar dalam pendidikan karakter dan fondasi keagamaan anak sejak dini, namun masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam dukungan kebijakan dan pembiayaan.

Selain itu, Rif’atul Anita juga menekankan pentingnya respons dunia pendidikan terhadap tantangan zaman melalui integrasi teknologi dan kecerdasan buatan (AI) dalam proses pembelajaran PIAUD. Ia menilai, perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kesiapan dosen dan mahasiswa dalam meningkatkan literasi digital.

“Peningkatan literasi digital dosen dan mahasiswa menjadi fokus penting, sekaligus pengembangan model pembelajaran yang adaptif, kreatif, dan berpusat pada anak,” ujarnya.

Seluruh peserta RAT menyepakati dan menandatangani komitmen bersama untuk mengajukan RA Negeri kepada kementerian terkait. Langkah ini dinilai penting dalam meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan, sekaligus membuka peluang status ASN bagi pendidik RA di masa depan.

Perkumpulan Program Studi PIAUD Indonesia memiliki peran strategis sebagai simpul koordinasi nasional antar Prodi PIAUD. Organisasi ini mendorong peningkatan mutu melalui penyusunan standar kurikulum bersama, fasilitasi kolaborasi tridharma, serta kemitraan strategis dengan pemerintah dalam pengembangan kebijakan PAUD.

Selain itu, forum juga menjadi ruang berbagi praktik baik (best practices) yang dapat diadopsi oleh masing-masing program studi, di antaranya Penguatan tata kelola program studi, Pengembangan kurikulum dan RPS berbasis OBE, Implementasi pembelajaran berbasis teknologi, Perluasan kerja sama antar anggota PPIAUD dan Inovasi riset dan pengabdian berbasis kebutuhan anak usia dini.

Integrasi teknologi dalam pembelajaran PIAUD, lanjutnya, bukan sekadar penggunaan perangkat digital, tetapi bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, interaktif, serta sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak usia dini.

Anita berharap, keikutsertaan PIAUD UNUSIDA dalam forum PPIAUD ini dapat semakin memperkuat posisi program studi dalam jejaring nasional antar PIAUD di Indonesia. Forum tersebut juga membuka peluang kolaborasi riset, baik di tingkat nasional maupun internasional, yang dapat berdampak langsung pada peningkatan mutu akademik.

Lebih jauh, keberadaan PPIAUD dinilai memiliki peran strategis sebagai jembatan efektif antara perguruan tinggi dan para pemangku kebijakan dalam merumuskan standar pendidikan PIAUD masa depan yang unggul, inklusif, dan berkelanjutan. Melalui forum ini, aspirasi akademisi PIAUD dapat terakomodasi dalam kebijakan pendidikan anak usia dini di Indonesia.

Prodi Akuntansi UNUSIDA Gelar MONEV Bersama Mitra Pesantren Madura (Foto: Humas UNUSIDA)

Prodi Akuntansi UNUSIDA Gelar Monitoring dan Evaluasi Kerja Sama dengan Pesantren di Madura

SIDOARJO — Program Studi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan agenda Monitoring dan Evaluasi (MONEV) bersama Mitra Pesantren Madura yang bertempat di Ruang Pertemuan Lantai 5 Kampus II UNUSIDA, Rabu (29/4/2026). Pertemuan strategis ini dihadiri jajaran pimpinan universitas, antara lain Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Dekan Fakultas Ekonomi, Ketua dan Sekretaris Program Studi Akuntansi, serta perwakilan unit Kemahasiswaan dan Keuangan.

Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menegaskan komitmen institusi agar kolaborasi dengan dunia pesantren tidak berhenti pada tataran seremonial, tetapi benar-benar menghadirkan dampak nyata bagi tata kelola keuangan serta pengembangan sumber daya manusia di kedua belah pihak.

Dalam kesempatan tersebut Wakil Rektor III, H. Ali Masykuri, S.Pd., M.Pd., menyoroti pentingnya sinkronisasi antara capaian akademik dan pembentukan karakter mahasiswa melalui keterlibatan langsung di masyarakat. Ia menjelaskan pentingnya kerja sama lintas sektoral sebagai strategi dalam meningkatkan kualitas lulusan. Menurutnya, kolaborasi antara kampus, masyarakat, dan mitra eksternal menjadi kunci dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan berdampak.

“Perlu adanya sinkronisasi antara capaian akademik dengan pembentukan karakter mahasiswa. Salah satunya melalui keterlibatan langsung mahasiswa di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam berbagai program pengabdian dan kegiatan lapangan tidak hanya memperkuat kompetensi akademik, tetapi juga membentuk karakter, kepedulian sosial, serta kemampuan adaptasi terhadap dinamika di masyarakat.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi, Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M., menekankan bahwa sinergi antara akademisi dan pesantren merupakan wujud nyata implementasi visi universitas, khususnya dalam menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

“Sinergi akademisi dan pesantren adalah perwujudan visi universitas dalam pengabdian kepada umat. Kolaborasi ini penting untuk mendorong penguatan kapasitas lembaga pesantren, terutama dalam aspek tata kelola keuangan,” jelasnya.

Ia juga menegaskan peran strategis Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi UNUSIDA dalam mendampingi pesantren agar mampu mengelola keuangan secara lebih profesional, transparan, dan akuntabel.

Menurutnya, pendampingan tersebut tidak hanya berorientasi pada penerapan standar akuntansi modern, tetapi juga tetap mempertahankan nilai-nilai khas pesantren sebagai identitas utama lembaga pendidikan keagamaan.

“Prodi Akuntansi memiliki peran krusial dalam mendampingi pesantren agar pengelolaan keuangannya sesuai standar, namun tetap selaras dengan nilai-nilai pesantren,” tambahnya.

Paparan tersebut diperkuat oleh Ketua Prodi Akuntansi, Dian Fahriani, S.E., M.SA., dan Sekretaris Prodi, Achmad Wicaksono, S.Ak., M.Ak., yang memaparkan capaian program pendampingan, mulai dari penyusunan laporan keuangan pesantren hingga efektivitas program magang mahasiswa di sejumlah pesantren di Madura selama satu periode terakhir.

Masukan tersebut disambut positif oleh perwakilan Mitra Pesantren Madura yang berharap peningkatan durasi dan intensitas pendampingan, terutama dalam digitalisasi pencatatan keuangan unit usaha pesantren. Alhasil, seluruh pihak sepakat menyusun rencana aksi konkret sebagai tindak lanjut hasil evaluasi. Beberapa poin prioritas yang akan segera diimplementasikan meliputi pembaruan modul pelatihan akuntansi pesantren yang lebih aplikatif, pengembangan sistem monitoring berbasis digital, penyelenggaraan LKMM-TD bagi mahasiswa pesantren, serta penataan ulang koordinasi perkuliahan untuk menunjang pembelajaran luring.

Kegiatan juga dirangkai dengan penandatanganan dokumen MONEV yang menandai babak baru penguatan kolaborasi antara UNUSIDA dan jaringan pesantren di Madura dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berdaya saing.

Peringati Hari Otonomi Daerah XXX dan Hardiknas 2026 Mahasiswa UNUSIDA Tunjukkan Peran Aktif dalam Upacara di Alun-Alun Sidoarjo 1

Peringati Hari Otonomi Daerah XXX dan Hardiknas 2026 Mahasiswa UNUSIDA Tunjukkan Peran Aktif dalam Upacara di Alun-Alun Sidoarjo

Sidoarjo — Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo menyelenggarakan Upacara Peringatan Hari Otonomi Daerah XXX dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (02/05/2026). Upacara yang berlangsung khidmat ini dipimpin langsung oleh Bupati Sidoarjo, Subandi, serta mengusung dua tema besar, yakni “Dengan Otonomi Daerah Kita Wujudkan Astacita” dan “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”.

Kegiatan ini menjadi momentum reflektif yang penting dalam memperkuat tata kelola pemerintahan daerah sekaligus meneguhkan komitmen terhadap pemerataan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan. Berbagai unsur masyarakat hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari jajaran pemerintah daerah, tenaga pendidik, pelajar, hingga mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Upacara diawali dengan pembacaan sejarah singkat otonomi daerah sebagai tonggak penting dalam perjalanan desentralisasi pemerintahan di Indonesia. Otonomi daerah secara resmi diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang kemudian diperbarui menjadi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014. Regulasi ini memberikan kewenangan lebih luas kepada pemerintah daerah dalam mengelola urusan pemerintahan dan pelayanan publik.

Semangat otonomi daerah lahir dari kebutuhan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, meningkatkan efektivitas pembangunan, serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan di tingkat lokal. Dalam konteks ini, pemerintah daerah dituntut untuk lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat sekaligus mampu menciptakan inovasi yang berdampak nyata.

Dalam pelaksanaan upacara tersebut, mahasiswa dari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo turut ambil bagian sebagai pasukan upacara yang diwakili oleh satu Satuan Setingkat Peleton (SST) berjumlah 25 mahasiswa lintas program studi dan angkatan. Kehadiran mahasiswa dalam barisan upacara tidak hanya menjadi representasi simbolik, tetapi juga menunjukkan keterlibatan generasi muda dalam ruang-ruang kebangsaan yang sarat nilai historis dan ideologis.

Partisipasi mahasiswa ini mencerminkan semangat kebangsaan serta kepedulian terhadap isu-isu strategis, khususnya dalam bidang pendidikan dan pembangunan daerah. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari generasi penerus yang diharapkan mampu membawa perubahan positif di masa depan.

Salah satu peserta upacara, Muchammad Waziruddin, yang juga merupakan staf Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Badan Eksekutif Mahasiswa UNUSIDA, menyampaikan pandangannya terkait relevansi tema Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Menurutnya, tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” mencerminkan kompleksitas tantangan pendidikan nasional saat ini.

“Pendidikan hari ini tidak hanya berbicara tentang akses, tetapi juga kualitas yang merata. Kita masih menghadapi kesenjangan antarwilayah, adaptasi digital yang belum sepenuhnya inklusif, serta kesiapan tenaga pendidik dalam menghadapi perubahan zaman. Oleh karena itu, partisipasi semesta menjadi kunci untuk memastikan bahwa pendidikan benar-benar menjadi hak semua, bukan privilese sebagian,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pendidikan yang relevan harus mampu menjawab dinamika global yang terus berkembang. Kurikulum yang adaptif, metode pembelajaran yang inovatif, serta pemanfaatan teknologi secara optimal menjadi aspek penting dalam menciptakan sistem pendidikan yang berkualitas.

Lebih lanjut, Wazir menekankan bahwa pendidikan tidak dapat berdiri sendiri sebagai institusi formal, melainkan harus menjadi sebuah ekosistem yang melibatkan berbagai pihak. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan generasi muda harus berkolaborasi untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam konteks ini, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Mereka tidak hanya dituntut untuk memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan dalam kehidupan nyata. Mahasiswa juga diharapkan dapat menjadi penghubung antara realitas sosial dan gagasan perubahan yang berbasis pada nilai-nilai keilmuan.

Upacara tersebut turut dihadiri oleh berbagai unsur penting, termasuk Plt. Rektor UNUSIDA, Hadi Ismanto, yang hadir sebagai tamu undangan. Kehadiran akademisi dalam kegiatan ini memperkuat sinergi antara dunia pendidikan tinggi dan pemerintah daerah dalam membangun sistem pendidikan yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Selain itu, partisipasi berbagai instansi pendidikan menunjukkan bahwa peringatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi ruang konsolidasi nilai dan visi pendidikan nasional. Kolaborasi antar pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan pendidikan di era globalisasi.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memberikan penghargaan kepada sejumlah instansi pendidikan dan insan pendidikan yang telah menorehkan prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Bupati Sidoarjo sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi dalam memajukan dunia pendidikan.

Momen ini tidak hanya menjadi simbol pengakuan, tetapi juga motivasi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam menciptakan pendidikan yang lebih baik. Apresiasi tersebut diharapkan dapat memacu semangat kompetisi yang sehat sekaligus memperkuat budaya prestasi di lingkungan pendidikan.

Melalui pelaksanaan upacara ini, nilai-nilai otonomi daerah dan pendidikan nasional tidak hanya diperingati sebagai agenda tahunan, tetapi juga diinternalisasi sebagai bagian dari kesadaran kolektif masyarakat. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah dan kemajuan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.

Partisipasi mahasiswa UNUSIDA dalam kegiatan ini menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan pembangunan, baik dalam konteks pemerintahan daerah maupun sistem pendidikan nasional. Dengan semangat kolaborasi, refleksi, dan inovasi yang terus dijaga, momentum ini diharapkan mampu mendorong transformasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan di masa depan.(Wazir)

Bekal Disiplin dari UNUSIDA, Tegar Pratama Sukses Bangun Karier HRD Sejak Dini 2

Bekal Disiplin dari UNUSIDA, Tegar Pratama Sukses Bangun Karier HRD Sejak Dini

Menjadi bagian dari alumni Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo bukan sekadar menyandang gelar akademik, tetapi juga membawa nilai, pengalaman, dan bekal keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Hal inilah yang dirasakan oleh Moch Tegar Pratama, S.M., lulusan Program Studi Manajemen tahun 2024 yang kini berkarier sebagai Human Resource Development (HRD) di PT Xin Rui Internasional Konstruksi.

Sejak masa kuliah, Tegar dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dan memiliki semangat belajar tinggi. Ia tidak hanya fokus pada teori di dalam kelas, tetapi juga berusaha memahami bagaimana ilmu manajemen dapat diterapkan dalam situasi nyata. Baginya, dunia perkuliahan adalah tempat untuk membangun fondasi yang kuat, baik dari sisi akademik maupun pengembangan diri.

“Bangga pernah menempuh pendidikan di UNUSIDA. Dari sini saya belajar disiplin, berani menghadapi tantangan, dan cepat beradaptasi—bekal berharga dari kurikulum yang aplikatif hingga mengantarkan saya meraih karier lebih cepat,” ungkap Tegar.

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Selama menjalani studi, Tegar merasakan bahwa kurikulum yang diterapkan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengasah kemampuan praktis. Hal ini menjadi salah satu faktor penting yang memudahkannya beradaptasi saat memasuki dunia kerja.

Perjalanan karier Tegar dimulai tidak lama setelah ia menyelesaikan studinya. Berbekal ilmu manajemen sumber daya manusia yang diperoleh selama kuliah, ia berhasil mendapatkan posisi sebagai HRD di PT Xin Rui Internasional Konstruksi. Peran ini tentu tidak sederhana, mengingat HRD memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola sumber daya manusia dalam sebuah perusahaan.

Sebagai HRD, Tegar bertanggung jawab dalam berbagai aspek, mulai dari proses rekrutmen, pengelolaan karyawan, hingga pengembangan sumber daya manusia. Ia juga dituntut untuk mampu memahami karakter individu, membangun komunikasi yang efektif, serta menciptakan lingkungan kerja yang kondusif.

Menurutnya, tantangan terbesar di dunia kerja bukan hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga bagaimana seseorang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan. Di sinilah nilai-nilai yang ia pelajari selama kuliah menjadi sangat relevan.

“Dunia kerja itu dinamis. Kita dituntut untuk cepat belajar dan menyesuaikan diri. Untungnya, selama kuliah saya sudah terbiasa dengan berbagai tantangan, baik melalui tugas, diskusi, maupun pengalaman organisasi,” tambahnya.

Selain kemampuan adaptasi, disiplin juga menjadi kunci penting dalam perjalanan karier Tegar. Ia menilai bahwa kedisiplinan yang dibangun sejak masa kuliah sangat membantu dalam menjalankan tanggung jawab profesional. Dalam dunia kerja, waktu, target, dan konsistensi menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

Tak hanya itu, keberanian untuk menghadapi tantangan juga menjadi salah satu nilai yang terus ia pegang hingga saat ini. Tegar menyadari bahwa setiap peluang sering kali datang bersama risiko. Oleh karena itu, ia memilih untuk tidak ragu dalam mencoba hal baru selama masih dalam koridor positif.

Pengalaman Tegar menjadi bukti bahwa lulusan perguruan tinggi memiliki peluang besar untuk langsung terjun ke dunia kerja apabila dibekali dengan kompetensi yang tepat. Ia juga menekankan pentingnya kesiapan mental dan kemauan untuk terus belajar sebagai faktor pendukung kesuksesan.

Bagi mahasiswa yang saat ini masih menempuh pendidikan, Tegar berpesan agar tidak hanya fokus pada nilai akademik semata. Menurutnya, pengalaman di luar kelas seperti organisasi, pelatihan, dan praktik kerja lapangan memiliki peran yang tidak kalah penting dalam membentuk karakter dan keterampilan.

“Manfaatkan waktu kuliah sebaik mungkin. Jangan takut mencoba hal baru, karena dari situlah kita belajar. Dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar teori,” pesannya.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk sukses, asalkan memiliki kemauan dan komitmen untuk berkembang. Kesuksesan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses yang panjang dan penuh pembelajaran.

Perjalanan Moch Tegar Pratama, S.M., menjadi inspirasi nyata bagi generasi muda, khususnya mahasiswa dan alumni UNUSIDA. Dengan bekal disiplin, keberanian, dan kemampuan adaptasi, ia mampu membuktikan bahwa lulusan baru pun dapat bersaing dan meraih karier dalam waktu yang relatif cepat.

Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang memperoleh gelar, tetapi juga tentang membentuk karakter, pola pikir, dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan. Dengan semangat belajar yang terus dijaga, bukan tidak mungkin setiap mahasiswa dapat mengikuti jejak Tegar dalam meraih kesuksesan di bidang yang mereka tekuni.

Melalui cerita inspiratif ini, diharapkan semakin banyak mahasiswa yang termotivasi untuk memaksimalkan potensi diri dan mempersiapkan masa depan sejak dini. Karena pada akhirnya, kesuksesan adalah hasil dari usaha, konsistensi, dan keberanian untuk melangkah maju.

Tangkapan Layar Sosialisasi Pedoman Humas dan Kerja Sama UNUSIDA melalui Zoom Meeting (Foto: Humas UNUSIDA)

Sosialisasi Pedoman Humas dan Kerja Sama UNUSIDA, Tingkatkan Produktivitas dan Tata Kelola

SIDOARJO – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Sosialisasi Pedoman Humas dan Kerja Sama secara virtual melalui Zoom Meeting, Selasa (28/4/2026). Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan fakultas, program studi, UPT, serta unit kerja di lingkungan UNUSIDA sebagai upaya meningkatkan kualitas tata kelola kehumasan dan kerja sama institusi.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor III UNUSIDA, H. Ali Masykuri, M.Pd.I, menegaskan pentingnya peningkatan produktivitas kerja sama yang tidak hanya berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi juga implementasi yang nyata dan berkelanjutan. Ia menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi ini menjadi langkah strategis untuk menyamakan persepsi dan memperkuat koordinasi antarunit.

“Harapan kami dengan adanya pertemuan ini adalah adanya peningkatan produktivitas kerja sama, baik dari sisi MoU maupun implementasinya. Selain itu, komunikasi antarunit juga harus semakin kuat dan terstruktur, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya standarisasi dalam penyusunan dokumen kerja sama agar memiliki keseragaman di seluruh unit. Menurutnya, draft kerja sama sebaiknya mengacu pada pedoman yang telah disusun oleh Biro Humas dan Kerja Sama, meskipun tetap memberi ruang fleksibilitas dalam kondisi tertentu.

Selain aspek kerja sama, Ali Masykuri juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas kehumasan dan keprotokoleran, seperti tata cara penyelenggaraan acara, standar pembukaan dan penutupan kegiatan, hingga kesiapan teknis yang seringkali dianggap sepele namun berdampak pada kualitas kegiatan. Ia juga mendorong adanya pendataan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan khusus, seperti MC, qori, maupun petugas protokol, agar dapat dimanfaatkan secara optimal dalam berbagai kegiatan kampus.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pengelolaan media informasi kampus secara tertib dan terarah. Menurutnya, media publikasi seperti banner, poster, hingga promosi kegiatan harus diatur dengan baik agar tidak menimbulkan kesan semrawut dan tetap menjaga citra institusi.

“Media informasi harus dikelola dengan baik, tidak boleh ditempel sembarangan. Jika ada pihak yang ingin melakukan promosi di lingkungan kampus, maka harus diatur agar tetap tertib dan memberikan dampak positif bagi institusi,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Kerja Sama UNUSIDA, Sonhaji Arif, S.Pd., M.Sn., menjelaskan secara teknis terkait pedoman kerja sama yang berlaku di UNUSIDA. Ia menyampaikan bahwa terdapat tiga jenis dokumen utama dalam kerja sama, yaitu Memorandum of Understanding (MoU) sebagai kesepakatan antar institusi, serta dokumen turunan lainnya yang mengatur implementasi kerja sama.

Sonhaji menjelaskan bahwa pengajuan dokumen kerja sama kini dapat dilakukan secara lebih mudah melalui sistem digital, salah satunya melalui Google Form yang telah disediakan. Melalui sistem ini, unit kerja cukup mengisi data mitra, waktu pelaksanaan, serta jenis kerja sama yang akan dilakukan, kemudian akan diproses oleh Biro Humas dan Kerja Sama.

“Kami sudah menyiapkan sistem pengajuan yang lebih terstruktur. Nantinya semua pengajuan akan kami verifikasi dan koordinasikan bersama tim, termasuk dengan pimpinan universitas, agar prosesnya lebih efektif dan terdokumentasi dengan baik,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pendataan kerja sama yang selama ini masih belum optimal. Berdasarkan data yang ditampilkan, masih terdapat sejumlah kegiatan kerja sama yang belum terdokumentasi dengan baik, terutama pada tahun 2026. Padahal, kegiatan seperti KKN, magang, maupun program praktik lapangan lainnya sebenarnya merupakan bagian dari implementasi kerja sama yang perlu didokumentasikan secara resmi.

“Seringkali kita melaksanakan kerja sama, tetapi tidak memiliki dokumen MoU atau MoA, atau bahkan tidak terdokumentasi sama sekali. Ini menjadi kendala saat akreditasi, karena yang dibutuhkan bukan hanya dokumentasi kegiatan, tetapi juga dokumen kerja sama yang sah,” ungkapnya.

Selain itu, Sonhaji juga memperkenalkan sistem pelaporan implementasi kerja sama serta layanan permohonan peliputan kegiatan oleh tim humas. Melalui sistem ini, setiap unit dapat mengajukan dokumentasi kegiatan tanpa harus melalui proses administrasi yang rumit, cukup dengan mengisi data kegiatan secara online. Semua hal tersebut dapat diakses disini

Tak hanya itu, dalam kesempatan tersebut juga disampaikan program Inspirasi Alumni, yang menjadi salah satu konten unggulan media sosial UNUSIDA. Program ini mengajak seluruh unit untuk berkontribusi mengirimkan data alumni berprestasi yang nantinya akan dipublikasikan secara berkala.

“Kami berharap sosialisasi ini dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman seluruh sivitas akademika terkait pentingnya tata kelola kehumasan dan kerja sama yang terintegrasi. Dengan adanya pedoman yang jelas serta sistem yang terstruktur, UNUSIDA optimis dapat meningkatkan kualitas kerja sama, memperkuat citra institusi, serta mendukung pencapaian akreditasi yang lebih baik di masa mendatang,” pungkasnya.

Dosen Informatika UNUSIDA, Ahmad Khoir Alhaq, S.Kom., M.Kom. (Foto: Humas UNUSIDA)

Perjalanan Inspiratif Ahmad Khoir Alhaq, Alumni yang Kini Mengabdi Sebagai Dosen Informatika UNUSIDA

Perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari keberanian mencoba dan terus belajar. Hal ini tercermin dari sosok Ahmad Khoir Alhaq, S.Kom., M.Kom., alumni S1 Informatika tahun 2020 yang kini mengabdi sebagai dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Sejak masa kuliah, Ahmad dikenal sebagai mahasiswa yang aktif berorganisasi. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kampus menjadi titik awal terbentuknya karakter dan kepercayaan dirinya. Ia tidak hanya berperan sebagai anggota, tetapi juga dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai wakil ketua panitia dalam sebuah seminar.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan hidupnya. Dalam peran tersebut, ia mendapatkan kesempatan untuk membawakan sambutan di hadapan banyak peserta. Meski sempat merasa gugup, Ahmad justru melihat hal itu sebagai bagian dari proses belajar yang berharga.

“Saya aktif berorganisasi hingga dipercaya menjadi wakil ketua panitia seminar dan membawakan sambutan. Meski sempat gugup, pengalaman tersebut melatih kemampuan komunikasi publik saya dan memperkuat rasa percaya diri dalam menghadapi audiens yang luas,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (29/4/2026).

Dari pengalaman sederhana itulah, Ahmad mulai menyadari bahwa organisasi bukan sekadar wadah berkegiatan, tetapi juga ruang pembentukan diri. Ia belajar bagaimana mengelola tanggung jawab, bekerja dalam tim, serta menyampaikan ide dengan baik di depan publik.

Menurutnya, kemampuan komunikasi publik menjadi salah satu keterampilan penting yang sering kali tidak disadari manfaatnya sejak dini. Padahal, di dunia akademik maupun profesional, kemampuan ini sangat dibutuhkan baik saat presentasi, mengajar, maupun berinteraksi dengan banyak orang.

Perjalanan Ahmad tidak berhenti setelah menyelesaikan studi sarjana. Semangat belajarnya membawanya melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Ia berhasil mendapatkan kesempatan beasiswa untuk melanjutkan studi S2, sebuah pencapaian yang menjadi bukti bahwa kerja keras dan konsistensi akan selalu menemukan jalannya.

Selama menempuh pendidikan magister, Ahmad semakin mengasah kemampuan akademiknya sekaligus memperkuat visi untuk berkontribusi di dunia pendidikan. Hingga akhirnya, ia kembali ke almamater sebagai dosen Informatika, mengabdikan ilmu yang telah diperolehnya kepada generasi berikutnya.

Sebagai dosen, Ahmad tidak hanya mengajarkan materi perkuliahan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai penting kepada mahasiswa. Ia sering membagikan pengalaman pribadinya tentang pentingnya aktif berorganisasi dan berani keluar dari zona nyaman.

“Aktif berorganisasi bukan hanya soal pengalaman, tapi juga tentang membentuk keberanian dan kepercayaan diri. Dari rasa gugup hingga mampu berbicara di depan banyak orang, semua adalah proses yang berharga,” tuturnya.

Ia juga menekankan bahwa keterlibatan dalam organisasi membuka banyak peluang belajar yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas. Mulai dari melatih kepemimpinan, manajemen waktu, hingga kemampuan beradaptasi dengan berbagai karakter.

Menurut Ahmad, mahasiswa yang aktif cenderung memiliki kesiapan lebih baik dalam menghadapi dunia kerja. Mereka terbiasa menghadapi tantangan, berkomunikasi, serta mengambil keputusan dalam situasi tertentu.

Kisah Ahmad menjadi bukti nyata bahwa pengalaman organisasi memiliki peran besar dalam membentuk masa depan seseorang. Dari rasa gugup saat pertama kali berbicara di depan umum, hingga kini mampu berdiri sebagai dosen yang mengajar di depan banyak mahasiswa, semuanya adalah hasil dari proses panjang yang dijalani dengan konsisten.

Ia berharap mahasiswa saat ini tidak ragu untuk mencoba berbagai pengalaman selama kuliah. Baginya, kegagalan atau rasa tidak percaya diri di awal bukanlah hambatan, melainkan bagian dari perjalanan menuju versi terbaik diri.

“Jangan takut untuk mencoba. Semua orang pernah merasa tidak percaya diri. Tapi dari situlah kita belajar dan berkembang,” pesannya.

Sebagai alumni, Ahmad juga merasa bangga dapat kembali ke UNUSIDA, tidak hanya sebagai lulusan, tetapi juga sebagai pengajar yang turut berkontribusi dalam mencetak generasi unggul di bidang teknologi.

Perjalanannya menjadi inspirasi bagi banyak mahasiswa bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga oleh keberanian mengambil peluang, kemauan belajar, dan konsistensi dalam mengembangkan diri.

Dari organisasi, Ahmad belajar berbicara. Dari pengalaman, ia belajar percaya diri. Dan dari proses itulah, ia tumbuh menjadi sosok pendidik yang menginspirasi.

Kisah Ahmad Khoir Alhaq, S.Kom., M.Kom. mengingatkan bahwa setiap langkah kecil yang diambil hari ini dapat menjadi fondasi besar di masa depan. Aktif berorganisasi bukan hanya menambah pengalaman, tetapi juga membuka jalan menuju peluang yang lebih luas—bahkan hingga kembali mengabdi sebagai dosen di kampus tercinta.

Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

FAI UNUSIDA Gelar Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran, Perkuat Kurikulum Cinta dan Pendekatan Mutakhir

SIDOARJO – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran sebagai upaya meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di lingkungan fakultas. Kegiatan ini dilaksanakan di Hall Kampus 2 Gedung A UNUSIDA, Senin (27/4/2026).

Workshop ini mendatangkan narasumber Dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Angga Fitriyono, S.Pd., M.Pd., yang diharapkan mampu melengkapi bekal para mahasiswa sebelum diterjunkan ke sekolah nantinya.

Ketua Pelaksana, Dr. H. Rangga Sa’adillah, S.A.P., M.Pd.I., dalam sambutannya menegaskan pentingnya menggunakan metode yang tepat dan mutakhir dalam menyusun perangkat pembelajaran. Menurutnya, penyusunan perangkat tidak cukup hanya administratif, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan zaman dan karakter peserta didik.

“Kita harus menggunakan cara yang tepat dan mutakhir. Kurikulum cinta yang tadi disebutkan semoga bisa kita nikmati bersama dalam workshop ini, dan mudah-mudahan semakin menambah ilmu yang bermanfaat bagi kita semua,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I., menekankan bahwa kurikulum merupakan sesuatu yang dinamis dan tidak pernah benar-benar selesai. Ia menyebut adanya dialektika dalam pengembangan kurikulum yang menuntut evaluasi dan penyempurnaan secara berkala.

Ia juga menyoroti Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dirilis pada 24 Juli 2025, namun hingga kini belum tersosialisasikan secara masif kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk mahasiswa angkatan sebelumnya. Oleh karena itu, workshop ini dinilai menjadi momentum strategis untuk mereview, mengingat kembali, serta menyempurnakan mata kuliah dan perangkat pembelajaran yang telah berjalan.

Menurutnya, implementasi kurikulum cinta bukan perkara mudah. Guru dituntut untuk menghadirkan pembelajaran yang adil, penuh kasih sayang, dan konsisten dalam memperlakukan peserta didik.  Dengan perangkat pembelajaran yang terstruktur dan berlandaskan nilai kasih sayang, FAI UNUSIDA optimistis mampu melahirkan pendidik profesional yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.

“Kita bisa membayangkan betapa sulitnya mengajar dengan cinta. Anak-anak sangat peka terhadap perlakuan guru. Ketika ada ketidakadilan, sekecil apa pun, mereka akan mengingatnya. Maka senyum yang tulus, sikap yang adil, dan kesabaran menjadi kunci,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa menjadi pendidik bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga membangun karakter serta menghadirkan keteladanan. Guru diharapkan terus belajar, tidak pernah merasa berhenti menjadi murid, dan senantiasa memperbaiki diri dalam proses pembelajaran.

“Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam penguatan kurikulum berbasis nilai, khususnya implementasi Kurikulum Cinta yang tengah dikembangkan. Mari berkomitmen bersama untuk menjadikan pembelajaran sebagai ladang pengabdian yang penuh makna dan keberkahan,” pungkasnya.