Pos

Dr. H. Rangga Sa’adilah, S.A.P., M.Pd.I. saat menyampaikan tausiah dalam kajian rutin setelah sholat Dhuhur tersebut bertempat di Masjid KH. M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Kajian Aswaja, Dosen FAI UNUSIDA Dorong Pelestarian Sholawat Thobibiyah dan Budaya Sholat Jamaah

SIDOARJO — Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Dr. H. Rangga Sa’adilah, S.A.P., M.Pd.I., menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga keberadaan sholawat atau pujian yang dilantunkan setelah adzan dan sebelum iqamah. Menurutnya, tradisi tersebut tidak sekadar menjadi lantunan yang mengisi waktu antara adzan dan iqamah, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dan pembiasaan bagi umat.

Sholawat Thobibiyah dipandang sebagai salah satu bentuk doa dan pujian kepada Allah SWT serta Nabi Muhammad SAW. Lantunan tersebut menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang telah dilakukan secara turun-temurun di tengah masyarakat Muslim, khususnya dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.

“Pembiasaan melantunkan sholawat dan pujian sebelum pelaksanaan sholat berjamaah sangat penting dalam melestarikan tradisi yang telah diwariskan oleh para ulama dan leluhur dalam kehidupan umat Islam,” jelasnya saat menyampaikan tausiah dalam kajian rutin setelah sholat Dhuhur tersebut bertempat di Masjid KH. M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo, Selasa (15/9/2026).

Dalam kajian tematik tersebut, Dr. Rangga menjelaskan bahwa waktu antara adzan dan iqamah merupakan waktu yang memiliki keutamaan untuk berdoa. Karena itu, lantunan pujian sebelum iqamah dapat menjadi momentum bagi jamaah untuk memanjatkan doa sekaligus mempersiapkan diri melaksanakan sholat berjamaah.

“Setiap doa di antara adzan dan iqamah tidak akan pernah tertolak,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut sebagai pengingat kepada jamaah agar memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah dengan aktivitas yang bernilai ibadah.

Lebih dari sekadar tradisi, lantunan sholawat dan pujian sebelum iqamah juga dinilai memiliki fungsi edukatif. Suara sholawat yang terdengar oleh lingkungan sekitar dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk segera bersiap melaksanakan sholat berjamaah.

Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu strategi untuk mendidik umat Islam, termasuk generasi muda dan anak-anak, agar semakin dekat dengan masjid dan terbiasa dengan suasana sholat berjamaah. Pesan-pesan keagamaan yang disampaikan melalui lantunan sholawat dapat diterima secara sederhana dan berulang dalam kehidupan sehari-hari.

“Lantunan pujian sebelum iqamah adalah strategi untuk mendidik umat Islam, tetangga kita, dan anak-anak kita,” ungkapnya.

Tradisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana dakwah dapat dilakukan melalui pendekatan yang lembut dan merangkul. Sholawat yang dilantunkan sebelum iqamah menjadi sarana untuk mengajak masyarakat menuju masjid tanpa tekanan. Suasana religius yang tercipta diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap sholat berjamaah.

Hal ini sejalan dengan karakter dakwah Ahlussunnah wal Jamaah yang mengedepankan pendekatan yang santun dalam menyampaikan ajaran Islam. Tradisi yang diwariskan para ulama tidak hanya dipandang dari bentuk pelaksanaannya, tetapi juga perlu dipahami nilai dan tujuan yang terkandung di dalamnya.

“Begitu indahnya lantunan sholawat yang diajarkan oleh ulama-ulama kita, dengan merangkul tanpa memukul. Mari kita lestarikan bersama,” pesannya.

Pelestarian tradisi keagamaan tersebut juga dinilai penting di lingkungan pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Kampus bukan hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan profesional, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan karakter, spiritualitas, serta kepedulian sosial mahasiswa.

Dalam konteks UNUSIDA, budaya sholat berjamaah diharapkan dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sivitas akademika. Kebiasaan sederhana seperti memenuhi panggilan adzan, menuju masjid, melaksanakan sholat berjamaah, hingga menjaga suasana religius di lingkungan kampus dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter mahasiswa.

“Mari kita gerakkan budaya sholat jamaah menjadi mempengaruhi di setiap lini di kampus kita,” menjadi ajakan untuk menjadikan sholat berjamaah bukan sekadar aktivitas rutin, tetapi budaya positif yang dapat memberikan pengaruh bagi lingkungan sekitar.

Kajian Aswaja ini menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga kesinambungan tradisi keislaman sekaligus memperkuat pemahaman warga UNUSIDA dan masyarakat terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Melalui kajian dan pembiasaan, tradisi keagamaan diharapkan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup dan relevan dalam kehidupan generasi saat ini.

Dengan semangat merangkul tanpa memukul, pelestarian sholawat, pujian sebelum iqamah, dan budaya sholat berjamaah diharapkan mampu menjadi gerakan bersama. Dari masjid, lingkungan keluarga, masyarakat, hingga kampus, nilai-nilai tersebut dapat terus ditanamkan sebagai bagian dari kehidupan umat Islam.

“Menjaga tradisi bukan hanya tentang mempertahankan kebiasaan, tetapi juga memahami nilai pendidikan, spiritualitas, dan kebersamaan yang ada di dalamnya. Melalui langkah-langkah sederhana dan dilakukan secara konsisten, budaya sholat berjamaah diharapkan semakin kuat dan memberikan dampak positif bagi kehidupan sivitas akademika serta masyarakat luas,” pungkasnya.

Plt. Rektor UNUSIDA saat menandatangani MoU dan PKS bersama Mitra Pegadaian (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Resmi Jalin Kerja Sama dengan Pegadaian, Perkuat Sinergi dan Buka Peluang Layanan Keuangan

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) resmi menjalin kerja sama dengan PT Pegadaian (Persero) Area Surabaya melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) terkait layanan Tabungan Emas dan Arrum Multiguna di Ruang Pertemuan Gedung B, Kampus UNUSIDA Lingkar Timur, Sidoarjo, Kamis (3/9/2026).

Layanan Tabungan Emas menjadi salah satu bentuk akses investasi yang dapat dikenalkan kepada civitas akademika, sementara layanan Arrum Multiguna membuka peluang pemanfaatan layanan pembiayaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menyampaikan bahwa kerja sama yang telah terjalin diharapkan dapat menjadi awal dari berbagai program kolaboratif yang berkelanjutan. Menurutnya, penandatanganan MoU dan PKS bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu pembuka untuk menghadirkan manfaat nyata melalui implementasi program bersama.

“Harapan kami, kerja sama ini tidak berhenti pada penandatanganan dokumen. MoU dan PKS yang telah disepakati harus dapat berkembang menjadi kolaborasi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata, khususnya bagi civitas akademika UNUSIDA,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa sebuah kemitraan akan memiliki arti lebih besar ketika diwujudkan dalam berbagai kegiatan dan program yang dapat dirasakan manfaatnya. Oleh karena itu, UNUSIDA berharap sinergi dengan Pegadaian dapat terus berkembang melalui berbagai bentuk kerja sama yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh civitas akademika.

Lebih lanjut, Dr. Hadi Ismanto berharap kolaborasi tersebut dapat turut mendukung penguatan literasi dan inklusi keuangan di lingkungan kampus. Pemahaman mengenai pengelolaan keuangan yang baik menjadi salah satu hal penting yang perlu dimiliki oleh civitas akademika dalam menghadapi perkembangan ekonomi dan semakin beragamnya layanan keuangan.

“Melalui kerja sama ini, kami berharap civitas akademika UNUSIDA dapat memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai layanan keuangan sekaligus memiliki pemahaman yang baik dalam memanfaatkannya secara bijak dan sesuai dengan kebutuhan,” tambahnya.

Kerja sama antara UNUSIDA dan Pegadaian menjadi langkah strategis dalam mempertemukan potensi dunia pendidikan dengan dunia industri. Perguruan tinggi memiliki peran dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif dan memiliki wawasan luas, sementara dunia industri dapat menjadi mitra dalam memberikan pengalaman, pengetahuan, serta akses terhadap berbagai layanan yang relevan dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.

Dalam konteks layanan keuangan, kolaborasi tersebut diharapkan dapat memberikan ruang pembelajaran bagi civitas akademika untuk mengenal lebih dekat berbagai pilihan dan layanan keuangan. Dengan meningkatnya pemahaman, mahasiswa dan civitas akademika diharapkan mampu mengambil keputusan keuangan secara lebih bijak, terukur, dan sesuai kebutuhan.

Penguatan literasi keuangan juga menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kemandirian. Pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan dapat membantu seseorang dalam merencanakan kebutuhan, menentukan prioritas, serta memanfaatkan layanan keuangan secara bertanggung jawab.

Melalui kemitraan ini, ia mendorong untuk dapat menghadirkan program-program yang memberikan nilai tambah bagi civitas akademika. Tidak hanya berorientasi pada kemudahan akses terhadap layanan, kerja sama tersebut juga diharapkan dapat membuka kesempatan untuk berbagai kegiatan edukatif yang mampu memperluas wawasan dan meningkatkan kapasitas mahasiswa.

Sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri juga memiliki peran penting dalam menjawab tantangan perkembangan zaman. Dunia pendidikan tidak dapat berjalan sendiri dalam mempersiapkan generasi yang siap menghadapi perubahan. Diperlukan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar mahasiswa memiliki kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan wawasan yang lebih luas.

“Bagi kami, perluasan jejaring kemitraan menjadi salah satu upaya untuk terus menghadirkan peluang kolaborasi yang berdampak. Kerja sama dengan berbagai lembaga dan dunia industri diharapkan mampu mendukung pengembangan institusi sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi civitas akademika,” ungkapnya.

Dengan adanya MoU dan PKS bersama Pegadaian, ia memiliki komitmen untuk membangun kerja sama yang saling menguatkan. Kesepakatan tersebut sekaligus membuka ruang bagi lahirnya berbagai peluang kolaborasi baru di masa mendatang yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan potensi kedua institusi. Ia optimistis dapat membangun kolaborasi yang saling memberikan manfaat sekaligus menciptakan peluang baru dalam mendukung pengembangan kapasitas dan kesejahteraan civitas akademika UNUSIDA di masa mendatang.

“Semoga ke depan kemitraan ini dapat terus tumbuh menjadi sinergi yang produktif dan berkelanjutan. Kolaborasi tidak hanya dimaknai sebagai sebuah kesepakatan formal, tetapi diwujudkan melalui langkah-langkah nyata yang memberikan dampak positif bagi civitas akademika,” pungkasnya.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto usai menjadi Keynote Speaker dalam kegiatan 16th International Conference on Economics, Law, Social, Engineering, and Innovation (IC-ELSEI 2026) (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto Bawa Gagasan Inovasi Berkelanjutan di Forum Internasional IC-ELSEI 2026

BALI — Plt. Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., dipercaya sebagai Keynote Speaker dalam kegiatan 16th International Conference on Economics, Law, Social, Engineering, and Innovation (IC-ELSEI 2026) yang diselenggarakan di Hotel Santika Kuta, Badung, Bali, Sabtu (5/9/2026).

Dalam forum internasional tersebut, Dr. Hadi Ismanto hadir dengan membawa perspektif mengenai inovasi berkelanjutan ala Nahdlatul Ulama (NU). Gagasan yang disampaikan menekankan bahwa inovasi dan perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Hadi Ismanto, yang tercantum sebagai Rector of Universitas Nahdlatul Ulama, Sidoarjo, Indonesia, menegaskan bahwa membangun inovasi berkelanjutan membutuhkan proses yang konsisten. Perubahan dapat dimulai dari keluarga dengan membiasakan pola pikir, perilaku, dan budaya akademik yang terstruktur.

Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pertama yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kebiasaan seseorang. Dari lingkungan tersebut, nilai-nilai positif kemudian dapat berkembang ke lingkungan pendidikan, organisasi, hingga masyarakat.

“Inovasi berkelanjutan ala Nahdlatul Ulama dimulai dari keluarga terdekat. Kita membiasakan kebiasaan akademik yang terstruktur, kemudian menularkannya kepada masyarakat sekitar hingga akhirnya menjadi sebuah gerakan bersama,” jelas Dr. Hadi dalam pemaparannya.

Gagasan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam materi yang disampaikan di hadapan peserta IC-ELSEI 2026. Inovasi, menurutnya, tidak cukup hanya menghasilkan gagasan baru, tetapi harus mampu menciptakan kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga memberikan dampak nyata.

Dimulai dari Kebiasaan Kecil

Dr. Hadi menjelaskan bahwa budaya inovasi dapat tumbuh ketika lingkungan terdekat mampu menciptakan kebiasaan yang mendukung proses belajar, berpikir kritis, berdiskusi, dan menyelesaikan persoalan secara sistematis.

Kebiasaan akademik yang terstruktur dapat diwujudkan melalui berbagai aktivitas sederhana. Misalnya, membangun budaya membaca, berdiskusi, mencatat, melakukan evaluasi, menyusun rencana, serta membiasakan diri mencari solusi atas berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika kebiasaan baik sudah terbentuk di keluarga, kebiasaan tersebut akan lebih mudah dibawa ke lingkungan yang lebih luas. Dari keluarga ke kampus, dari kampus ke masyarakat, dan dari masyarakat kemudian menjadi gerakan bersama,” ungkapnya.

Konsep tersebut sejalan dengan semangat pengabdian dan pemberdayaan yang menjadi bagian penting dari nilai-nilai Nahdlatul Ulama. Pengetahuan tidak berhenti pada individu, tetapi diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Dari Individu Menjadi Gerakan Bersama

Lebih lanjut, Dr. Hadi menekankan pentingnya membangun inovasi yang memiliki keberlanjutan. Sebuah inovasi tidak boleh berhenti pada sebuah program atau kegiatan sesaat, melainkan harus mampu melahirkan ekosistem yang membuat masyarakat dapat melanjutkan dan mengembangkannya.

Dalam konteks perguruan tinggi, budaya tersebut dapat dibangun melalui sinergi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa dan sivitas akademika tidak hanya didorong untuk memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Semangat tersebut juga menjadi bagian dari upaya UNUSIDA dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memiliki dampak sosial. Perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi ruang lahirnya gagasan, inovasi, dan gerakan yang memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Kehadiran Dr. Hadi Ismanto sebagai keynote speaker dalam IC-ELSEI 2026 sekaligus menjadi momentum bagi UNUSIDA untuk memperkenalkan perspektif pendidikan dan inovasi berbasis nilai-nilai Nahdlatul Ulama di forum internasional.

Forum IC-ELSEI 2026 ini sendiri mempertemukan berbagai akademisi dan pemangku kepentingan dari sejumlah institusi dalam membahas perkembangan ekonomi, hukum, sosial, teknik, serta inovasi.

Melalui forum tersebut, Dr. Hadi Ismanto membawa pesan bahwa inovasi berkelanjutan bukan sekadar tentang teknologi atau menciptakan sesuatu yang baru, tetapi tentang membangun kebiasaan baik, menumbuhkan budaya akademik, dan memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Dari keluarga sebagai lingkungan terdekat, kebiasaan baik ditanamkan. Dari kebiasaan, lahirlah budaya. Dari budaya, tumbuh inovasi. Dan dari inovasi yang dilakukan secara bersama-sama, tercipta gerakan yang memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.

“UNUSIDA terus berkomitmen menghadirkan pendidikan yang berdaya, inovatif, dan berdampak, sekaligus membawa nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah untuk menjawab tantangan masa depan,” tandasnya.

Kepala UPT PIK, H. Arisy Kuswanto saat membuka Peringatan Maulid Nabi di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Peringati Maulid Nabi, UNUSIDA Tanamkan Rasa Cinta Rasul dan Semangat Membangun Kampus Penuh Berkah

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan menggelar pengajian dan shalawatan di Plaza Lantai 1 Gedung B UNUSIDA, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan yang mengusung semangat ‘Cinta Nabi, Cinta NKRI’ tersebut diikuti sivitas akademika UNUSIDA serta sejumlah masyarakat. Peringatan Maulid Nabi menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus meneguhkan tradisi amaliah Ahlussunnah wal Jamaah di lingkungan kampus.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) UNUSIDA, Arisy Kurwanto, mengatakan kegiatan Maulid Nabi merupakan momentum istimewa bagi keluarga besar UNUSIDA. Menurutnya, kegiatan keagamaan seperti istighotsah dan shalawatan sebenarnya telah menjadi bagian dari rutinitas di lingkungan kampus.

“Di samping kita tiap Jumat Kliwon ada istighotsah, juga ditutup dengan shalawatan. Tetapi ini menjadi momen istimewa karena berada di bulan Maulid,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bulan Rabiul Awal memiliki keistimewaan tersendiri karena menjadi bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ia mengutip pandangan Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki bahwa sebelum kelahiran Rasulullah SAW, Rabiul Awal bukan termasuk bulan yang secara khusus memiliki keutamaan seperti empat bulan haram, bulan haji, maupun bulan-bulan hari raya.

“Berarti semenjak ada kelahiran Rasulullah SAW di bulan Rabiul Awal, maka Rabiul Awal menjadi bulan yang istimewa. Bahkan sampai ke Tanah Jawa dikenal sebagai bulan Maulud, bulan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW,” jelasnya.

Tabarrukan dengan Gedung B

Gus Arisy yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al Kholil, Jetis, Sidoarjo tersebut mengungkapkan alasan dipilihnya Gedung B sebagai lokasi kegiatan. Selain karena kegiatan tersebut berdekatan dengan tempat yang selama ini digunakan untuk berdoa dan kegiatan keagamaan, pembangunan masjid UNUSIDA juga masih dalam proses.

Ia berharap keberadaan dan aktivitas keagamaan yang dilakukan di Gedung B dapat menjadi bentuk tabarrukan sekaligus tafa’ulan bagi perkembangan UNUSIDA.

Gus Arisy mengambil pelajaran dari perubahan Kota Yatsrib setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW. Sebelum Rasulullah hijrah, Yatsrib merupakan sebuah kota yang belum menjadi pusat perhatian. Namun setelah Rasulullah SAW hijrah dan Islam berkembang di sana, kota tersebut menjadi pusat peradaban dan dikenal sebagai Madinah al-Munawwarah.

“Mudah-mudahan dengan sering dibacakan shalawat dan digelar peringatan Maulid seperti ini, kampus kita menjadi kampus yang bercahaya, Al-Munawwarah,” harapnya.

Menurutnya, harapan tersebut juga perlu diwujudkan melalui prestasi nyata seluruh elemen kampus. Slogan dan yel-yel kejayaan UNUSIDA, kata dia, harus diiringi dengan capaian konkret dari dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa.

“Sudah kita buktikan dengan banyak prestasi dari dosen-dosennya, tenaga kependidikannya, dan mahasiswanya. Prestasi secara lahir kita wujudkan, secara batin kita wujudkan dengan amaliah-amaliah istiqamah, mengawal dan melestarikan tradisi kemuliaan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah,” tuturnya.

Ekspresi Cinta kepada Rasulullah

Gus Arisy menambahkan, antusiasme masyarakat terhadap peringatan Maulid Nabi di berbagai daerah menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat diekspresikan dalam beragam bentuk.

Menurutnya, tradisi Maulid di tengah masyarakat memiliki banyak ragam, mulai dari pembacaan shalawat, marhaban, hingga berbagi makanan dan berbagai bentuk sedekah.

“Dalam rangka menumbuhkan cinta Nabi, ekspresinya macam-macam. Ada yang membuat doorprize, ada yang setelah marhaban berebut makanan yang dilempar. Itu merupakan ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Ia menilai peringatan Maulid Nabi di UNUSIDA menjadi salah satu bentuk ekspresi kecintaan tersebut, yang dikemas melalui shalawatan dan tausiyah keagamaan.

Pada kesempatan itu, tausiyah disampaikan oleh KH Abdul Khobir, M.Pd.I, Wakil Katib PCNU Sidoarjo sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Siwalanpanji. Kehadiran ulama muda tersebut diharapkan memberikan penguatan spiritual sekaligus menambah wawasan keislaman bagi sivitas akademika UNUSIDA.

Arisy berharap peringatan Maulid Nabi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Lebih dari itu, kecintaan kepada Rasulullah SAW diharapkan mampu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui akhlak, keistiqamahan beribadah, semangat belajar, berkarya, serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.

“Semoga kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW terus tumbuh di keluarga besar UNUSIDA, sehingga kampus ini tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga kuat dalam tradisi keagamaan dan akhlak,” pungkasnya.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., saat membuka Seleksi Beasiswa 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Seleksi Beasiswa UNUSIDA, Plt Rektor Dorong Lahirnya Profesional Berbasis Agama

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan akses pendidikan tinggi bagi kader dan generasi Nahdliyyin melalui program seleksi beasiswa Tahun Akademik 2026/2027. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, (19/8/2026).

Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Beasiswa Tahfidz Al-Qur’an 30 Juz, selain beasiswa Mahir Baca Kitab Kuning dan jalur beasiswa lainnya. Kegiatan seleksi yang digelar di lingkungan UNUSIDA tersebut menjadi bagian dari upaya untuk menjaring mahasiswa berpotensi, khususnya mereka yang memiliki talenta di bidang keagamaan dan pesantren.

Plt Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, mengatakan program beasiswa tahfidz merupakan bentuk komitmen PCNU dan PC Muslimat NU Sidoarjo dalam memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mempersiapkan diri berkhidmah di Nahdlatul Ulama.

“Beasiswa tahfidz kali ini merupakan komitmen PCNU dan PC Muslimat NU Sidoarjo untuk memberikan kesempatan berkhidmah dan mengabdi di Nahdlatul Ulama melalui berbagai jalur beasiswa seperti tahfidz dan mahir baca kitab kuning,” ujarnya.

Menurutnya, program tersebut menyasar talenta-talenta yang memiliki fokus pada bidang agama dan pesantren sehingga ke depan dapat tumbuh menjadi kader NU yang memiliki kompetensi akademik sekaligus landasan keagamaan yang kuat.

“Talenta yang fokus di bidang agama dan pesantren untuk menjadi kader NU. Ada yang kita fasilitasi untuk dapat melanjutkan kuliah di perguruan tinggi,” imbuhnya.

Dr. Hadi menjelaskan, proses seleksi dilakukan untuk memastikan calon penerima beasiswa memiliki kompetensi sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Hal tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab UNUSIDA bersama para pihak yang terlibat dalam program beasiswa kepada masyarakat Nahdliyyin di Sidoarjo.

“Seleksi ini untuk memastikan dengan yang diharapkan sesuai dengan kompetensi mahasiswa. Hal ini menjadi tanggung jawab kepada warga Nahdliyyin Sidoarjo,” jelasnya.

Ia berharap para penerima beasiswa nantinya tidak hanya menjadi mahasiswa yang unggul secara akademik, tetapi juga mampu berkembang menjadi profesional yang memiliki latar belakang dan pemahaman agama yang baik. Program beasiswa ini menjadi salah satu ikhtiar bersama dalam memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus memperkuat kaderisasi generasi muda Nahdlatul Ulama yang memiliki kemampuan profesional, berkarakter, serta berakar kuat pada nilai-nilai keagamaan.

“Yang diharapkan akan menjadi seorang profesional yang memiliki latar belakang agama,” katanya.

Dalam proses seleksi tersebut, Dr. Hadi juga menyampaikan apresiasi kepada para juri dan kiai dari PC JQH NU Sidoarjo yang turut terlibat dalam proses verifikasi kelayakan calon penerima beasiswa.

Ia menegaskan bahwa proses seleksi bukanlah akhir dari kesempatan calon mahasiswa untuk menempuh pendidikan di UNUSIDA. Peserta yang belum berhasil mendapatkan beasiswa tetap memiliki kesempatan untuk bergabung dan melanjutkan pendidikan di UNUSIDA.

“Seleksi ini bukan berarti menentukan calon mahasiswa yang lolos. Akan tetapi, yang tidak lolos juga bisa menjadi mahasiswa di UNUSIDA. Tetap semangat, niatkan di sini di UNUSIDA mencari ilmu untuk kemandirian kita di masa depan,” pesannya.

Suasana simulasi praktikum ergonomi di Laboratorium Teknik Industri UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

KILAB 2026, UNUSIDA Hadirkan Inovasi Smart Anthropometric Ergonomic Chair untuk Perkuat Praktikum Teknik Industri

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Program Studi Teknik Industri mengembangkan Smart Anthropometric Ergonomic Chair sebagai karya inovasi dalam Program Kompetisi Inovasi Laboratorium (KILAB) 2026. Inovasi tersebut dirancang untuk memperkuat sarana pembelajaran praktikum ergonomi sekaligus mendukung mahasiswa memahami proses perancangan dan pengembangan produk berbasis data.

Dosen pengampu mata kuliah Ergonomi Program Studi Teknik Industri, Alifah Dian Rahmania, S.T., M.T., menyampaikan bahwa Program KILAB 2026 menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi.

“Sebagai dosen pengampu mata kuliah Ergonomi di Program Studi Teknik Industri, kami melihat Program KILAB 2026 sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya pada mata kuliah ergonomi serta perancangan dan pengembangan produk,” tuturnya.

Ia menjelaskan, inovasi Smart Anthropometric Ergonomic Chair dapat menjadi sarana pembelajaran untuk mengembangkan kompetensi mahasiswa secara lebih holistik, mulai dari analisis, desain, hingga evaluasi produk.

“Mahasiswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu melakukan praktik langsung berbasis data. Integrasi sensor jarak pada alat ini turut mempermudah proses pengambilan data antropometri secara lebih akurat dan efisien,” terangnya.

Ketua Tim KILAB 2026, Maschan Yusuf Mustofah, menjelaskan bahwa Smart Anthropometric Ergonomic Chair hadir dari kebutuhan untuk menghadirkan media pembelajaran ergonomi yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dapat digunakan mahasiswa secara langsung dalam kegiatan praktikum.

Menurutnya, inovasi tersebut memadukan konsep antropometri, ergonomi, perancangan produk, dan teknologi sensor dalam satu media pembelajaran. Kursi dirancang dengan mempertimbangkan dimensi tubuh manusia sehingga mahasiswa dapat mempelajari penerapan prinsip ergonomi sekaligus memahami bagaimana data antropometri digunakan dalam proses perancangan produk.

“Smart Anthropometric Ergonomic Chair kami kembangkan agar mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana konsep ergonomi diterapkan dalam sebuah produk. Jadi, pembelajaran tidak berhenti pada teori, tetapi mahasiswa dapat mengikuti proses mulai dari pengukuran, pengolahan data, perancangan, hingga pengujian produk,” kata Alumni Teknik Industri UNUSIDA tersebut, Kamis (3/9/2026).

Ia menambahkan, salah satu aspek yang menjadi nilai tambah inovasi tersebut adalah integrasi sensor jarak dan sistem sensor yang mendukung proses pengambilan data antropometri. Teknologi tersebut diharapkan dapat membuat proses praktikum lebih interaktif dan membantu mahasiswa mengenal penerapan teknologi dalam pengumpulan data ergonomi.

“Integrasi teknologi menjadi bagian penting dari inovasi ini. Mahasiswa tidak hanya belajar menggunakan alat, tetapi juga memahami bagaimana data dapat diperoleh dan dimanfaatkan sebagai dasar dalam merancang produk yang sesuai dengan kebutuhan pengguna,” tambahnya.

Melalui Program KILAB 2026, ia dan tim berharap tidak hanya menjadi fasilitas laboratorium, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem pembelajaran berbasis praktik dan teknologi di Program Studi Teknik Industri UNUSIDA.

“Bagi kami, pengembangan inovasi ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan laboratorium yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pembelajaran Teknik Industri. Ke depan, inovasi tersebut dapat terus dikembangkan melalui optimalisasi sistem sensor dan akuisisi data, pengujian penggunaan dalam praktikum, serta pengembangan pemanfaatannya untuk kegiatan penelitian dan inovasi produk ergonomis,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu mahasiswa Teknik Industri, M. Wafi Musafak, mengaku senang dengan hadirnya inovasi tersebut karena memberikan pengalaman belajar ergonomi secara lebih langsung.

“Alhamdulillah, saya sangat senang sekali dengan adanya inovasi pembelajaran melalui Smart Anthropometric Ergonomic Chair ini, yang membantu mahasiswa memahami ergonomi secara langsung dan aplikatif,” ungkapnya.

Menurut Wafi, keberadaan sensor jarak juga memberikan kemudahan dalam proses pengambilan data antropometri saat praktikum. Ia menilai inovasi tersebut membuat pembelajaran menjadi lebih interaktif, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan dunia industri.

“Alat ini juga mengintegrasikan sensor jarak yang mempermudah proses pengambilan data antropometri saat praktikum secara lebih cepat dan akurat. Dengan begitu, mahasiswa dapat belajar proses perancangan dan pengembangan produk mulai dari desain hingga uji coba,” pungkasnya.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan dalam Kabinet Merah Putih, Zulkifli Hasan saat mengunjungi stan UNUSIDA Tech Factory. (Foto: NU Delta)

Menko Zulhas Apresiasi Inovasi UNUSIDA, Dorong Perkuat Khidmah NU melalui Transformasi Digital

JOMBANG — Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan dalam Kabinet Merah Putih, Zulkifli Hasan (Zulhas), mengapresiasi berbagai inovasi teknologi yang dikembangkan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) saat mengunjungi stan UNUSIDA Tech Factory dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Kamis-Senin (27/8/2026).

Dalam kunjungannya, Zulhas melihat langsung sejumlah inovasi digital yang ditampilkan UNUSIDA, termasuk platform kecerdasan buatan (AI) GUS GPT yang dikembangkan untuk mendukung kebutuhan pengetahuan keislaman dan khazanah pesantren.

Zulhas mengaku terkejut melihat perkembangan teknologi di lingkungan pesantren, khususnya kemampuan generasi santri dalam memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa santri dan pesantren saat ini telah mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian khusus adalah GUS GPT. Zulhas menilai platform tersebut memiliki keunggulan karena tidak hanya memanfaatkan teknologi AI, tetapi juga memiliki karakter khas Aswaja dalam memberikan jawaban.

“GUS GPT sangat bagus, terlebih lagi ada ciri khas Aswaja dalam setiap jawabannya,” ungkapnya saat mengunjungi stan UNUSIDA Tech Factory usai Kegiatan literasi kesehatan, lingkungan hidup, dan ketahanan pangan, Jum’at (28/8/2026).

Selain mengapresiasi inovasi teknologi, Zulhas juga memberikan perhatian terhadap peran perguruan tinggi NU dalam mendorong digitalisasi organisasi dan lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, keberadaan kampus NU seperti UNUSIDA memiliki posisi strategis dalam menghadirkan inovasi sekaligus memperluas akses pelayanan NU kepada masyarakat.

Ia menilai pengembangan teknologi yang dilakukan UNUSIDA sejalan dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam memberikan kontribusi nyata melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Kampus NU juga berperan dalam meningkatkan digitalisasi organisasi dan lembaga NU. Ini menjadi bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam meningkatkan akses pelayanan NU bagi umat,” ujarnya.

Zulhas juga menilai langkah UNUSIDA dalam mengambil posisi sebagai perguruan tinggi yang fokus pada pengembangan dan pemanfaatan teknologi merupakan langkah yang tepat di tengah percepatan transformasi digital.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga perlu mengambil peran dalam menggagas dan mempelopori pemanfaatannya untuk kebutuhan masyarakat dan organisasi.

“UNUSIDA mengambil positioning yang tepat sebagai perguruan tinggi yang menggagas dan mempelopori penggunaan teknologi,” katanya.

Sementara itu, Dosen Informatika Anggay Luri Pramana mengatakan bahwa kehadiran UNUSIDA Tech Factory di Muktamar ke-35 NU menjadi ruang bagi UNUSIDA untuk memperkenalkan berbagai solusi digital yang dikembangkan untuk organisasi, lembaga pendidikan, pesantren, yayasan, hingga masyarakat.

Selain GUS GPT, ia dan tim juga memperkenalkan sejumlah produk seperti Smart Presence ASWAJA, SITASNUDA, dan SIMAYA, serta membuka ruang konsultasi pengembangan website, aplikasi, sistem informasi, dan solusi berbasis AI.

“Kami berkomitmen untuk menjadikan teknologi sebagai bagian dari khidmah kepada umat sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi NU dalam menghadapi tantangan transformasi digital,” tandasnya.

stan UNUSIDA Tech Factory di Stan Bazaar Nomor 20, SMK Kreatif Hasbullah. (Foto: Humas UNUSIDA)

Intip Ragam Inovasi Teknologi, Yuk Mampir ke Stan UNUSIDA Tech Factory saat Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang

JOMBANG — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) turut memeriahkan pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Tambakberas, Jombang, dengan membuka stan yang secara khusus mengusung tema pengembangan teknologi dan transformasi digital.

Melalui UNUSIDA Tech Factory, perguruan tinggi NU tersebut memperkenalkan sejumlah inovasi digital yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan organisasi, lembaga pendidikan, pesantren, maupun masyarakat.

Penanggung Jawab (PJ) stand UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, mengatakan kehadiran UNUSIDA dalam Muktamar NU ke-35 menjadi momentum untuk memperkenalkan sekaligus mendemonstrasikan berbagai solusi teknologi yang telah dikembangkan dan diimplementasikan.

“Stan UNUSIDA menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai inovasi digital yang dikembangkan sebagai solusi bagi organisasi, lembaga pendidikan, pesantren, serta masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, stan UNUSIDA tidak sekadar menjadi ruang pamer produk teknologi, tetapi juga ruang konsultasi dan demonstrasi. Pengunjung dapat berdiskusi secara langsung mengenai kebutuhan pembuatan website, aplikasi, sistem informasi, pemanfaatan kecerdasan buatan, hingga digitalisasi tata kelola lembaga.

Sejumlah produk unggulan yang diperkenalkan antara lain Smart Presence ASWAJA, sistem presensi dan manajemen kepegawaian berbasis digital; SITASNUDA, sistem tata kelola organisasi dan aset NU; SIMAYA, sistem informasi terpadu untuk yayasan dan pondok pesantren; serta GUS GPT, platform kecerdasan buatan yang dikembangkan untuk mendukung pengelolaan dan pemanfaatan pengetahuan keislaman serta khazanah pesantren.

Selain produk yang telah tersedia, UNUSIDA juga menawarkan layanan pengembangan website dan sistem informasi secara custom. Layanan tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi NU, pesantren, sekolah, yayasan, komunitas, maupun pelaku usaha.

Konsep stan dibuat interaktif dengan menyediakan perangkat display dan demonstrasi yang memungkinkan pengunjung melihat langsung cara kerja berbagai sistem. Dengan demikian, pengunjung tidak hanya mendapatkan informasi mengenai produk, tetapi juga dapat mencoba layanan, berkonsultasi mengenai kebutuhan digitalisasi, dan memperoleh gambaran solusi yang dapat diterapkan di lembaganya.

Teknologi untuk Memperkuat Khidmah

Dr. Arda menjelaskan, pengembangan teknologi di UNUSIDA tidak hanya diarahkan pada aspek inovasi, tetapi juga pada kebermanfaatan. Teknologi diharapkan mampu membantu organisasi bekerja lebih efektif, meningkatkan transparansi tata kelola, mempermudah pelayanan, sekaligus membuka peluang pengembangan lembaga secara berkelanjutan.

Semangat tersebut sejalan dengan konsep yang dibawa dalam stan UNUSIDA, yakni menghadirkan teknologi sebagai sarana untuk memperkuat pelayanan kepada umat.

Melalui berbagai solusi digital yang ditampilkan, UNUSIDA membuka peluang kolaborasi dengan pesantren, lembaga pendidikan, organisasi NU, yayasan, maupun berbagai institusi yang membutuhkan pengembangan teknologi sesuai dengan karakter dan kebutuhannya masing-masing.

Menjadi Ruang Kolaborasi Digital

Kehadiran UNUSIDA dalam Muktamar NU ke-35 juga diharapkan menjadi pintu masuk bagi terbentuknya berbagai kerja sama baru. Pengunjung dapat melakukan konsultasi langsung terkait pengembangan website, aplikasi, sistem tata kelola, hingga solusi berbasis kecerdasan buatan.

Khusus melalui pengembangan GUS GPT, pihaknya juga membuka peluang bagi pesantren untuk berkolaborasi sebagai mitra pengetahuan. Kolaborasi tersebut dapat dilakukan melalui penyediaan kitab, karya ulama, modul pembelajaran, materi kajian, maupun berbagai sumber pengetahuan pesantren yang dapat dikembangkan menjadi basis pengetahuan digital secara terkurasi.

Dengan demikian, transformasi digital tidak hanya dimaknai sebagai penggunaan teknologi, tetapi juga sebagai upaya menjaga, mengembangkan, dan memperluas manfaat khazanah keilmuan pesantren di era kecerdasan buatan.

Kunjungi Stan UNUSIDA

Pengunjung Muktamar NU ke-35 dapat mengunjungi stan UNUSIDA Tech Factory di Stan Bazaar Nomor 20, SMK Kreatif Hasbullah, di kompleks yang sama dengan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Karena berada di kompleks yang sama dengan Pondok Pesantren Bahrul Ulum—yang menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU—lingkungan sekolah ini turut berada di area sekitar pusat kegiatan pesantren di Tambakberas, Jombang.

Di lokasi tersebut, pengunjung dapat melihat demonstrasi sistem, mencoba berbagai produk digital, berkonsultasi mengenai kebutuhan teknologi, serta mendiskusikan peluang kerja sama dan pengembangan sistem bersama UNUSIDA.

“Melalui partisipasi dalam Muktamar NU ke-35 ini, kami berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi NU dalam pengembangan teknologi. Inovasi Digital untuk Lembaga, Umat, dan Masa Depan,” pungkasnya.

Penyerahan apresiasi untuk Mahasiswa dan Dosen Berprestasi saat Mujahadah Putaran 4 Tahun 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Momentum Mujahadah, UNUSIDA Beri Apresiasi bagi Dosen dan Mahasiswa Berprestasi

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memberikan apresiasi kepada mahasiswa dan dosen pembimbing yang berhasil meraih prestasi dalam berbagai kompetisi tingkat nasional maupun internasional. Pemberian apresiasi tersebut menjadi bentuk penghargaan kampus atas capaian sekaligus motivasi bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan potensi dan mengukir prestasi.

Apresiasi diberikan kepada mahasiswa dari berbagai program studi yang berhasil meraih juara dalam kompetisi karya ilmiah, inovasi, olahraga, hingga ajang internasional. Momentum tersebut juga menjadi bagian dari upaya UNUSIDA membangun budaya akademik dan kemahasiswaan yang kompetitif, produktif, serta berorientasi pada pengembangan potensi mahasiswa.

Kepala Biro Kemahasiswaan, Karier dan Alumni UNUSIDA, Fajar Nur Yasin, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa penghargaan tersebut tidak hanya ditujukan sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang telah diraih, tetapi juga sebagai inspirasi bagi mahasiswa lainnya.

“Apresiasi ini sebagai inspirasi untuk lebih berprestasi sebagai mahasiswa. Semoga capaian yang diraih oleh teman-teman mahasiswa dapat memotivasi mahasiswa lainnya untuk berani mengikuti kompetisi dan mengembangkan potensi yang dimiliki,” jelasnya usai penyerahan apresiasi dalam Mujahadah UNUSIDA, Jum’at (21/8/2026).

Sejumlah prestasi yang mendapatkan apresiasi di antaranya Juara 1 Karya Tulis Ilmiah Nasional kategori Sains Indonesia Young Scientist Association (IYSA) 2026 yang diraih Moch. Rifky Sabilul K., Khoirul Anam, dan M. Athaalf Attohir dari Program Studi Informatika dengan dosen pembimbing Mochammad Machlul Alamin, M.Kom.

Prestasi serupa juga diraih M. Rafi Nur Setyawan, A. Raffy Nadjib, dan M. Satrio Rohmatullah dari Program Studi Informatika yang berhasil meraih Juara 1 Karya Tulis Ilmiah Nasional kategori Sosial IYSA 2026, juga dengan dosen pembimbing Mochammad Machlul Alamin, M.Kom.

Dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Maulidatul Qomariyah, Mir’a Tia Musfiro, dan Elysia Hilda Maghfiroh berhasil meraih Juara 1 Karya Terapan dan Inovatif (Karya HKI) dalam Lomba Aksi Inklusi Nasional 2025.

Prestasi lainnya diraih Aininna Halizah Rahma dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang meraih Juara 1 Duta Putri PTNU LPTNU Award 2026.

Di bidang olahraga, Revalina Bilqis Saputri dari Program Studi Akuntansi berhasil meraih Juara 2 Kelas C Dewasa Putri UMSURA National Pencaksilat Championship 2026. Sementara M. Badrun Najah dari Program Studi Manajemen meraih Juara 3 Kelas F Dewasa Putra pada ajang yang sama.

Prestasi di tingkat internasional juga berhasil ditorehkan mahasiswa UNUSIDA. Tim yang terdiri atas Nafi’ Mardiansyah, Rijal Maulana, M. Fathir Firmansyah, Pingkia Angelica T., dan Rizky Octavian R. berhasil meraih Bronze Award dalam Rembau International Innovation & Design Exhibition (RIIDEX), dengan dosen pembimbing Devika Cherly P., S.Mn., M.M.

Sementara itu, M. Azizil Ghofur, Abdulrashid Lawal, Silmi Za’iimah, M. Syauqi Ardani F., dan M. Farid Maulana berhasil meraih Silver Medal dalam Malaysia Invention & Innovation Expo 2026 (University Student Innovator). Tim tersebut dibimbing oleh Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T.

Beragam capaian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa UNUSIDA memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan kemampuan di berbagai bidang, baik akademik, inovasi, olahraga, maupun kompetisi internasional.

Fajar menambahkan, prestasi mahasiswa tidak terlepas dari dukungan dosen pembimbing, program studi, fakultas, serta berbagai pihak di lingkungan kampus. Karena itu, apresiasi juga diberikan kepada dosen yang telah mendampingi mahasiswa dalam proses persiapan hingga mengikuti kompetisi.

“Semoga sinergi antara mahasiswa dan dosen pembimbing terus diperkuat. Prestasi bukan hanya tentang mendapatkan juara, tetapi juga tentang proses belajar, keberanian mencoba, kerja keras, dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti kompetisi,” tambahnya.

Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut menjelaskan, pemberian apresiasi ini menjadi bagian dari komitmen UNUSIDA dalam menciptakan lingkungan kampus yang mendorong mahasiswa untuk aktif berprestasi. Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan membawa nama baik UNUSIDA di tingkat nasional maupun internasional.

“Dengan semakin banyaknya mahasiswa yang berprestasi, kami ingin terus mendorong terwujudnya ekosistem pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pengembangan karakter, kreativitas, kompetensi, dan daya saing mahasiswa,” pungkasnya.

Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Eko Setijadi, S.T., M.T., Ph.D saat menyampaikan pesan dalam Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA, Prof. Eko Setijadi Tekankan Alumni Jadi Bagian Penting Kemajuan Kampus

SIDOARJO — Salah satu Pengurus Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Prof. Eko Setijadi, S.T., M.T., Ph.D., berpesan agar para alumni tidak berhenti pada pencapaian gelar sarjana, tetapi terus membawa nama baik dan berkontribusi bagi almamater.

Dalam pesannya, Prof. Eko mengaku bangga melihat perkembangan Fakultas Teknik UNUSIDA yang terus bertumbuh dibandingkan masa-masa awal perjuangan kampus. Menurutnya, kemajuan tersebut tidak terlepas dari kerja keras para pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh pihak yang ikut membangun Fakultas Teknik.

“Sebagai yang mewakili Ketua Umum, saya merasa bangga sekali. Dulu kita memulai dengan segala usaha, sekarang saya bisa melihat apa yang telah diperjuangkan Bapak-Ibu di sini,” ujarnya saat menyampaikan sambutan dalam Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA, Rabu (19/8/2026).

Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut menilai perkembangan fasilitas dan sistem pembelajaran yang semakin baik merupakan hasil dari proses panjang. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman pendidikan yang semakin mendukung proses pengembangan kompetensi.

Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan kampus tidak hanya diukur dari perkembangan fasilitas maupun jumlah lulusan. Keberhasilan sebuah perguruan tinggi juga tercermin dari kiprah para alumninya setelah meninggalkan kampus.

Oleh karena itu, Prof. Eko berharap para lulusan Fakultas Teknik UNUSIDA mampu menunjukkan perubahan kualitas diri setelah menyandang gelar sarjana. Ilmu yang diperoleh selama kuliah harus mampu membentuk sikap, meningkatkan kompetensi, serta memperkuat daya saing ketika memasuki dunia kerja dan masyarakat.

“Apa yang telah Anda terima di sini semoga bisa merubah Anda. Dulu misalnya masih SMA, sekarang sudah menjadi sarjana. Merubah sikap, merubah kualitas, sehingga Anda punya daya saing,” pesannya.

Ia juga memberikan perhatian kepada lulusan yang telah maupun belum memasuki dunia kerja. Bagi yang sudah bekerja, ia berharap ilmu dari Fakultas Teknik dapat menjadi bekal untuk meningkatkan karier dan memberikan kontribusi di tempat kerja. Sementara bagi yang belum bekerja, ia berpesan agar tidak berhenti berusaha dan terus mengembangkan kemampuan.

Menurut Prof. Eko, perjalanan para mahasiswa Fakultas Teknik memiliki tantangan tersendiri. Sebagian mahasiswa harus berjuang dengan kondisi dan keterbatasan yang berbeda, sehingga keberhasilan mencapai gelar sarjana patut diapresiasi.

“Tidak semua orang mempunyai perjalanan yang sama. Anda perlu bangga karena mempunyai sesuatu yang berbeda dan luar biasa. Kampus ini menjadi tempat untuk berjuang memperbaiki nasib dengan usaha dan doa,” tuturnya.

Lebih dari sekadar sukses secara pribadi, Prof. Eko berharap para alumni menjadikan keberhasilan mereka sebagai bagian dari perjalanan untuk membesarkan almamater. Ia menilai kontribusi alumni akan menjadi salah satu kekuatan penting dalam membangun reputasi dan kemajuan UNUSIDA ke depan.

“Kebanggaan bagi kita para dosen adalah mendengar kabar baik dari alumninya. Syukur-syukur kalau ada alumni yang ikut berkontribusi untuk kemajuan kampusnya,” ungkapnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi harapan agar hubungan antara kampus dan alumni tidak berhenti setelah prosesi yudisium. Para lulusan diharapkan tetap menjadi bagian dari keluarga besar UNUSIDA, membawa nilai-nilai yang diperoleh selama kuliah, serta membuka ruang kolaborasi untuk kemajuan almamater.

Lebih lanjut, Prof. Eko mendoakan agar para lulusan Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA mampu meraih prestasi dan memberikan manfaat di tengah masyarakat. Dalam rangka untuk membuktikan bahwa keberhasilan alumni bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi bagian penting dari perjalanan dan kemajuan almamater.

“Semoga apa yang diberikan oleh Bapak-Ibu dosen di sini bisa membawa manfaat bagi Anda di dunia kerja, meningkatkan karier, dan semoga apa yang Anda cita-citakan bisa tercapai. Saya juga berdoa semoga kampus Universitas semakin jaya dan alumni yang dihasilkan punya prestasi, semasa kuliah maupun setelah kuliah,” pungkasnya.