Pos

Momen foto bersama seluruh peserta Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA, Tekankan Pentingnya Menjaga Nama Baik Almamater

SIDOARJO — Fakultas Teknik (FT) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-10 di Hall Gedung A, Kampus UNUSIDA Lingkar Timur Sidoarjo, Rabu (19/8/2026) malam. sebagai momentum pengukuhan sekaligus pelepasan mahasiswa yang telah menyelesaikan rangkaian pendidikan akademiknya.

Dekan Fakultas Teknik UNUSIDA, Listin Fitrianah, S.P., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan komitmen Fakultas Teknik untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan, pengajaran, serta fasilitas penunjang pembelajaran. Salah satu pengembangan yang menjadi perhatian adalah penambahan fasilitas laboratorium.

Menurutnya, keberadaan laboratorium yang lengkap menjadi bagian penting dalam mendukung proses pembelajaran mahasiswa Fakultas Teknik. Sejumlah mahasiswa juga telah memanfaatkan fasilitas tersebut dalam kegiatan perkuliahan.

“Fakultas Teknik kalau laboratoriumnya tidak lengkap juga sulit. Karena itu, kami berharap pengembangan laboratorium dapat terus didukung secara bertahap sehingga bisa menunjang kebutuhan pembelajaran mahasiswa,” ujarnya.

Listin juga menyampaikan permohonan maaf mewakili jajaran struktural Fakultas Teknik apabila selama proses pendidikan terdapat kesalahan dalam pelayanan maupun penyampaian. Ia menegaskan bahwa Fakultas Teknik terus berupaya memberikan pelayanan, pengajaran, dan fasilitas terbaik bagi mahasiswa.

Memasuki fase setelah kelulusan, ia berpesan kepada para yudisiawan agar tetap menjaga nama baik almamater. Yudisium kali ini menjadi ruang refleksi atas perjuangan mahasiswa selama menempuh pendidikan sekaligus bekal untuk memasuki kehidupan profesional dan bermasyarakat. Menurutnya, status sebagai alumni UNUSIDA merupakan bagian dari perjalanan yang perlu dibanggakan sekaligus dijaga melalui sikap dan kontribusi positif di tengah masyarakat.

“Ketika kita lulus, tolong dijaga almamater kita. Kita harus bangga sebagai alumni UNUSIDA. Jika ada informasi maupun perkembangan dari luar, mari kita saling berbagi dan menyampaikannya kepada adik-adik tingkat,” pesannya.

Ia juga mengajak para alumni untuk turut berkontribusi dalam mengenalkan Fakultas Teknik UNUSIDA kepada keluarga, tetangga, maupun calon mahasiswa yang memiliki minat melanjutkan pendidikan di bidang teknik. Listin berharap dengan bekal akademik, pengalaman organisasi, serta nilai-nilai yang diperoleh selama berada di kampus, para alumni mampu hadir sebagai tenaga profesional sekaligus bagian dari masyarakat yang memberikan kontribusi nyata.

“Kalau ada keluarga atau tetangga yang berminat menjadi mahasiswa baru, mari kita ajak dan kita sampaikan bahwa Fakultas Teknik UNUSIDA memiliki dosen-dosen yang siap mendampingi mahasiswa dalam proses perkuliahan,” lanjutnya.

Sementara itu, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menekankan bahwa kelulusan bukan sekadar capaian akademik, melainkan hasil dari perjuangan panjang mahasiswa selama menempuh pendidikan.

Ia mengapresiasi perjuangan mahasiswa Fakultas Teknik yang menjalani proses perkuliahan dengan berbagai tantangan, termasuk bagi mahasiswa yang harus membagi waktu antara perkuliahan, pekerjaan, dan kehidupan keluarga.

“Perjuangan kuliah di Fakultas Teknik tidak mudah. Karena itu, saya menghargai proses yang telah dilalui hingga hari ini. Empat tahun atau bahkan lebih bukan waktu yang pendek. Ada perjuangan, kelelahan, dan proses panjang yang akhirnya mengantarkan saudara menyandang gelar Sarjana Teknik,” ungkapnya.

Menurutnya, setelah meninggalkan ruang kelas, para lulusan akan memasuki dunia nyata yang memiliki tantangan berbeda. Karena itu, ilmu yang diperoleh selama perkuliahan harus diwujudkan dalam sikap profesional, kemampuan memecahkan persoalan, serta perilaku yang mencerminkan nilai-nilai yang telah dipelajari selama menjadi mahasiswa.

“Dari ruang kelas menuju dunia nyata, ilmu yang diperoleh selama empat tahun harus digunakan untuk menghadapi berbagai persoalan. Bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga bagaimana cara kita berperilaku dan menjadi profesional,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan para lulusan agar tetap menjaga hubungan dengan almamater sebagai bagian dari keluarga besar UNUSIDA. Kelulusan, menurutnya, bukan akhir dari hubungan mahasiswa dengan kampus, melainkan awal dari perjalanan baru untuk membawa nilai-nilai UNUSIDA ke tengah masyarakat.

Lebih lanjut, Hadi menyampaikan apresiasi kepada para lulusan atas perjuangan yang telah mereka lalui serta berharap ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, nusa, dan bangsa.

“Selamat atas kelulusan saudara. Semoga ilmu yang diperoleh selama di UNUSIDA menjadi ilmu yang bermanfaat untuk nusa dan bangsa. Tetap jaga almamater, semangat, terus berdoa, serta jangan lupa menyampaikan salam dan terima kasih kepada orang tua dan keluarga masing-masing,” pungkasnya.

Suasana upacara pengibaran bendera merah putih di UNUSIDA dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia (Foto: Humas UNUSIDA)

Upacara HUT ke-81 RI, Plt Rektor UNUSIDA: Jadilah Pejuang Masa Kini

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026). Upacara berlangsung khidmat dan semarak dengan diikuti ratusan peserta dari seluruh sivitas akademika UNUSIDA, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.

Nuansa nasionalisme semakin terasa karena para peserta mengenakan beragam pakaian adat Nusantara dari Sabang hingga Merauke. Sejumlah peserta juga tampil mengenakan atribut yang menggambarkan para pejuang kemerdekaan, sebagai simbol penghormatan terhadap jasa para pendahulu bangsa.

Bertindak sebagai pembina upacara, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menegaskan bahwa peringatan kemerdekaan tidak boleh dimaknai sebatas kegiatan seremonial.

“Peringatan kemerdekaan bukan sekadar kegiatan seremonial. Setiap tanggal 17 Agustus, kita sesungguhnya sedang diajak untuk mengingat kembali sejarah, menghargai pengorbanan para pendahulu, dan meneguhkan kembali tanggung jawab kita terhadap masa depan bangsa,” ujarnya.

Menurutnya, kemerdekaan Indonesia lahir melalui perjuangan panjang berbagai elemen bangsa, mulai dari para pejuang, pemuda, tokoh nasional, rakyat, hingga para ulama. Salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam membangun kesadaran keagamaan, pendidikan, kebangsaan, dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Ia kemudian mengutip artikel Al-Manzhumah karya Muhammad Asad Syihab (1972) yang menyebut KH Hasyim Asy’ari sebagai “Wāḍi‘u Labinati Istiqlāli Andūnīsiyā: al-‘Allāmah al-Mujāhid Muḥammad Hāsyim Asy‘arī. Yang bermakna ‘Peletak batu fondasi kemerdekaan Indonesia: Al-‘Allāmah Al-Mujāhid Muhammad Hasyim Asy’ari’.

Hadi menjelaskan, ungkapan tersebut memberikan pesan bahwa KH Hasyim Asy’ari dapat dipandang sebagai salah satu peletak fondasi perjuangan kemerdekaan, terutama melalui pendidikan, pesantren, kepemimpinan umat, perjuangan moral, serta penguatan semangat kebangsaan.

Belajar dari Sejarah Perjuangan

Dalam amanatnya, Hadi juga mengajak sivitas akademika melihat perjuangan kemerdekaan tidak hanya dari perspektif kekuatan fisik dan persenjataan. Ia menyinggung pemikiran Carl von Clausewitz dalam On War yang menempatkan kekuatan moral, kepemimpinan, kehendak rakyat, persatuan, dan tujuan sebagai bagian penting dalam sebuah perjuangan.

“Ketika kita berbicara tentang kemerdekaan, kita tidak cukup hanya bertanya siapa yang mengangkat senjata. Tetapi kita juga perlu bertanya, siapa yang mendidik rakyat, siapa yang membangun kesadaran, siapa yang menanamkan nilai perjuangan, dan siapa yang hari ini akan melanjutkan perjuangan itu? Jawabannya adalah kita semua,” tegasnya.

Menurut Hadi, perjuangan pada masa kini memiliki bentuk yang berbeda. Jika para pendahulu berjuang dengan senjata untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, generasi saat ini berjuang melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, pelayanan, profesionalisme, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat.

Ia menempatkan dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga pimpinan universitas sebagai bagian dari perjuangan tersebut.

“Dosen berjuang melalui ilmu, penelitian, pembelajaran, dan pembentukan karakter generasi bangsa. Tenaga kependidikan berjuang melalui pelayanan, administrasi, dan tata kelola. Mahasiswa berjuang melalui belajar, kreativitas, inovasi, organisasi, penelitian, dan keberanian menghadapi tantangan zaman,” jelasnya.

Karena itu, ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun sivitas akademika yang berada di luar perjuangan membangun Indonesia. Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab untuk kemajuan pendidikan dan kemaslahatan masyarakat merupakan bagian dari upaya mengisi kemerdekaan.

Pendidikan Harus Hadir di Tengah Masyarakat

Lebih lanjut, Hadi menekankan pentingnya pendidikan yang membumi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ia mengingatkan agar pendidikan tidak sekadar menghasilkan lulusan dengan gelar dan ijazah, tetapi juga mampu melahirkan manusia yang memiliki kepedulian sosial dan memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.

“Ilmu harus hadir di tengah masyarakat. Ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya berapa banyak orang yang memperoleh gelar, tetapi seberapa besar ilmu yang kita miliki mampu memberikan manfaat bagi kehidupan,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan sivitas akademika agar tetap memiliki jati diri di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan globalisasi. Menurutnya, UNUSIDA harus mampu membuka diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dari berbagai penjuru dunia, namun tetap berpijak pada nilai-nilai ke-Indonesiaan dan ke-NU-an.

Dalam amanatnya, Hadi mengajak seluruh sivitas akademika melakukan refleksi: apakah ilmu, tenaga, pelayanan, penelitian, dan aktivitas pendidikan yang dilakukan selama ini telah memberikan kontribusi bagi Indonesia.

“Bagi kita semua sebagai sivitas akademika UNUSIDA, sudahkah keberadaan kita memberikan kontribusi nyata bagi bangsa? Mari kita jawab pertanyaan tersebut bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan karya dan pengabdian,” ajaknya.

Menutup amanatnya, Hadi mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan UNUSIDA sebagai bagian dari perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus menjadi ruang tumbuh bagi ilmu pengetahuan, akhlak, inovasi, pengabdian, dan kemanusiaan.

“Jika dahulu para ulama dan pejuang mempertaruhkan jiwa untuk kemerdekaan, maka hari ini kita harus mempertaruhkan ilmu, waktu, tenaga, integritas, dan profesionalisme untuk mengisi kemerdekaan,” katanya.

Ia pun menegaskan bahwa generasi saat ini tidak hanya menjadi pewaris kemerdekaan, tetapi memiliki tanggung jawab untuk menentukan masa depan bangsa.

“Kita bukan hanya pewaris kemerdekaan. Kita adalah penanggung jawab masa depan kemerdekaan,” pungkasnya.

Plt Rektor UNUSIDA saat menjadi narasumber dalam Dialog Kebangsaan di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Dialog Kebangsaan, Plt. Rektor UNUSIDA Dorong Penguatan Literasi Digital untuk Merawat Persatuan

SIDOARJO — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sidoarjo menggelar Dialog Kebangsaan di Pendopo Delta Wibawa, Sidoarjo, Kamis (13/8/2026) sebagai ruang refleksi dan penguatan nilai kebangsaan di tengah perkembangan teknologi digital.

Dalam kegiatan tersebut, Plt. Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto hadir sebagai salah satu narasumber. Ia menyoroti pentingnya literasi digital sebagai bekal masyarakat dalam menghadapi derasnya arus informasi di ruang digital.

Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah pola komunikasi masyarakat. Penggunaan telepon pintar dan media sosial yang semakin masif membuka akses terhadap berbagai informasi, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan berupa informasi yang tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, masyarakat perlu membangun kesadaran dan kemampuan untuk memilah informasi sebelum menerima maupun menyebarkannya. Literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga kemampuan memahami, menilai, dan merespons informasi secara bijak.

Ia menekankan bahwa masyarakat perlu memiliki kesadaran kritis terhadap berbagai konten yang beredar di media digital. Setiap informasi perlu dipahami konteksnya agar tidak mudah menimbulkan kesalahpahaman maupun konflik di tengah masyarakat.

“Yang harus dibangun adalah kesadaran dan minat untuk memahami informasi. Jangan sampai teknologi yang seharusnya memberikan pengetahuan justru membawa dampak negatif karena informasi diterima tanpa dipahami terlebih dahulu,” ujarnya.

Dalam konteks komunikasi antarumat beragama, ia juga menilai perubahan pola komunikasi akibat perkembangan teknologi membutuhkan cara baru dalam membangun dialog. Jika sebelumnya komunikasi lebih banyak dilakukan melalui pertemuan langsung, kini interaksi juga berlangsung melalui ruang digital.

Perubahan tersebut menuntut masyarakat untuk tetap mengedepankan etika komunikasi. Perbedaan pandangan, agama, maupun latar belakang tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menyerang di ruang digital.

Menurutnya, komunikasi yang baik harus dibangun dengan memahami siapa komunikator, pesan yang disampaikan, serta konteks komunikasi. Nilai-nilai agama dan kemanusiaan tetap menjadi landasan penting dalam menggunakan teknologi.

“Melalui literasi digital yang baik, masyarakat akan mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana memperkuat persatuan, memperluas pengetahuan, serta membangun komunikasi yang sehat di tengah keberagaman Indonesia,” pungkasnya.

Momen Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Memaknai Kemerdekaan Melalui Pilar Tri Dharma yang Dijiwai Khidmah bil Hikmah

Kemerdekaan kerap dipahami sebatas terbebas dari penjajahan dan memiliki keleluasaan untuk menentukan pilihan. Namun, dalam konteks perguruan tinggi, kemerdekaan memiliki makna yang jauh lebih mendalam: kemerdekaan adalah kedaulatan berpikir. Ia bukan sekadar kebebasan untuk menyampaikan gagasan, melainkan kemampuan menggunakan ilmu pengetahuan secara bertanggung jawab untuk menghadirkan kemaslahatan publik.

Di sinilah Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menemukan relevansi makna kemerdekaan. Sebagai perguruan tinggi yang berakar pada tradisi Nahdlatul Ulama, UNUSIDA dapat memaknai kemerdekaan melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dijiwai semangat Khidmah bil Hikmah: mengabdi dengan ilmu, kebijaksanaan, dan orientasi kemanfaatan.

Gagasan ini penting karena kebebasan akademik tanpa orientasi etis berpotensi berubah menjadi egoisme intelektual. Sebaliknya, ilmu yang dilepaskan dari kebebasan berpikir akan kehilangan daya kritisnya. Karena itu, kemerdekaan akademik membutuhkan dua hal sekaligus: keberanian berpikir dan kebijaksanaan dalam menggunakan hasil pemikiran.

Kemerdekaan Dimulai dari Pendidikan

Pendidikan adalah pintu pertama menuju kemerdekaan manusia. Paulo Freire dalam gagasan Pendidikan Pembebasan memandang pendidikan sebagai proses yang membebaskan manusia dari kesadaran naif dan ketidakberdayaan. Pendidikan tidak seharusnya menjadikan peserta didik sekadar objek yang menerima pengetahuan, tetapi subjek yang mampu membaca realitas dan mengambil peran dalam mengubahnya.

Dalam konteks UNUSIDA, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui integrasi antara sains modern dan nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Mahasiswa tidak cukup dibekali kemampuan akademik dan profesional, tetapi juga perlu memiliki kesadaran etis tentang untuk apa ilmu tersebut digunakan.

Semangat Khidmah bil Hikmah memberikan arah bahwa proses pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan. Ada tanggung jawab moral yang menyertainya. Sarjana yang merdeka bukanlah mereka yang bebas melakukan apa saja, melainkan mereka yang mampu menggunakan kebebasan intelektualnya untuk menghadirkan manfaat.

Dengan demikian, kampus menjadi ruang pembentukan manusia yang mampu berpikir kritis sekaligus memiliki kepekaan sosial.

Merdeka Meneliti, Merdeka Menjawab Persoalan

Kemerdekaan akademik juga menemukan bentuknya dalam penelitian. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab epistemologis untuk menghasilkan pengetahuan yang mampu menjelaskan dan menjawab persoalan masyarakat.

Pemikiran B.J. Habibie tentang pentingnya penguasaan sains dan teknologi memberikan pelajaran bahwa kemajuan bangsa tidak mungkin dicapai tanpa penguasaan ilmu pengetahuan. Namun, teknologi tidak boleh berhenti pada kecanggihan. Ia harus memiliki relevansi terhadap kebutuhan manusia.

Karena itu, kemerdekaan riset di UNUSIDA semestinya tidak dimaknai sebagai kebebasan menghasilkan penelitian sebanyak-banyaknya, tetapi sebagai keberanian mengeksplorasi ilmu untuk menemukan solusi atas persoalan nyata.

Semangat Khidmah bil Hikmah menjadi pengingat agar penelitian tidak terjebak menjadi “menara gading”. Penelitian harus memiliki kedalaman metodologis sekaligus kepekaan sosial. Pertanyaan mendasarnya bukan hanya “apa yang bisa diteliti?”, tetapi juga “persoalan siapa yang hendak diselesaikan melalui penelitian ini?”

Pengabdian: Ketika Ilmu Pulang kepada Masyarakat

Jika pendidikan membebaskan manusia melalui pengetahuan dan penelitian menghasilkan solusi, maka pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang untuk mengembalikan pengetahuan tersebut kepada publik.

Perguruan tinggi tidak dapat berdiri sebagai institusi yang hanya berbicara tentang masyarakat dari balik ruang kelas. Ia harus hadir di tengah masyarakat, mendengarkan persoalan mereka, memahami kebutuhan mereka, kemudian menghadirkan pengetahuan sebagai instrumen pemberdayaan.

Dalam konteks inilah gagasan Social Contract of Science yang dikembangkan Michael Gibbons menjadi relevan. Ilmu pengetahuan memiliki hubungan sosial dengan masyarakat yang menjadi sumber sekaligus penerima manfaatnya.

UNUSIDA dapat menerjemahkan gagasan tersebut melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, pendampingan UMKM, penguatan pendidikan, digitalisasi desa, kesehatan, lingkungan, hingga pengembangan ekonomi masyarakat.

Ilmu menjadi benar-benar merdeka ketika ia tidak hanya tinggal di ruang seminar, jurnal, dan perpustakaan, tetapi mampu mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Khidmah bil Hikmah: Menjaga Kebebasan Agar Tetap Beradab

Kebebasan akademik membutuhkan kompas moral. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, semangat pengabdian tidak dapat dilepaskan dari nilai tawassuth, keseimbangan, moderasi, dan hikmah.

Di sinilah konsep Khidmah bil Hikmah menjadi penting. Khidmah mengandung semangat pengabdian, sedangkan hikmah menunjukkan kedalaman ilmu dan kebijaksanaan dalam bertindak. Keduanya harus berjalan bersama.

Gagasan tersebut memiliki kedekatan dengan konsep ‘ilm nafi’ ilmu yang bermanfaat yang banyak dibicarakan dalam tradisi keilmuan Islam, termasuk pemikiran Imam Al-Ghazali. Ilmu tidak cukup membuat seseorang mengetahui sesuatu; ilmu harus membentuk cara berpikir, sikap, dan tindakan yang membawa manfaat.

Karena itu, mahasiswa UNUSIDA idealnya tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”, tetapi juga “Apa manfaat yang dapat saya berikan?”

Pertanyaan kedua inilah yang mengubah kebebasan menjadi pengabdian.

Merdeka Berpendapat, Tetap Menjaga Persaudaraan

Kemerdekaan berpikir juga tidak berarti bebas dari tanggung jawab. Di tengah era media sosial, kebebasan berpendapat dapat dengan mudah berubah menjadi penyebaran kebencian, disinformasi, atau konflik identitas.

Nilai-nilai Aswaja seperti tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal memberikan fondasi penting dalam membangun budaya akademik yang sehat. Kebebasan berpikir harus berjalan bersama penghormatan terhadap perbedaan.

Gus Dur mengajarkan bahwa nilai keislaman tidak boleh berhenti sebagai identitas, tetapi harus menjadi energi untuk memperjuangkan kemanusiaan dan keadilan sosial.

Maka, kebebasan akademik di UNUSIDA idealnya melahirkan mahasiswa yang berani mengkritik tanpa merendahkan, berbeda pendapat tanpa bermusuhan, dan mempertahankan argumentasi tanpa kehilangan adab.

Kebebasan berpendapat adalah hak; kesantunan dalam menggunakannya adalah tanggung jawab.

Dari Resolusi Jihad ke Resolusi Keilmuan

Ada tautan historis yang kuat antara perjuangan Nahdlatul Ulama dan gagasan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jika para ulama dan santri dahulu mengangkat senjata dan mengobarkan semangat Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan fisik bangsa, maka generasi hari ini menghadapi medan perjuangan yang berbeda.

Medannya adalah ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan.

Dalam konteks tersebut, UNUSIDA memiliki peran strategis untuk meneruskan spirit perjuangan Nahdlatul Ulama melalui jalan keilmuan. Kampus dapat menjadi ruang untuk memperkuat pendidikan pesantren, mengembangkan teknologi tepat guna, meningkatkan kapasitas ekonomi warga Nahdliyin, serta memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat.

Kemerdekaan hari ini bukan lagi soal siapa yang menguasai wilayah kita, tetapi siapa yang menguasai pengetahuan, teknologi, informasi, dan sumber daya ekonomi. Karena itu, kedaulatan ilmu adalah bagian dari kedaulatan bangsa.

Sidoarjo dan Tantangan Kemerdekaan Sosial

Memaknai kemerdekaan juga berarti berani melihat persoalan yang ada di sekitar. Di Sidoarjo, berbagai persoalan sosial seperti penyalahgunaan narkoba, peredaran minuman keras, prostitusi tersembunyi, ketimpangan ekonomi, hingga persoalan generasi muda membutuhkan perhatian bersama.

Persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan represif. Diperlukan riset, pendidikan, pemberdayaan keluarga, penguatan komunitas, dan kebijakan publik berbasis data.

Dalam perspektif Fiqh Sosial KH. Sahal Mahfudh, keberagamaan harus memiliki keberpihakan terhadap kemaslahatan masyarakat. Karena itu, akademisi tidak cukup hanya menjadi pengamat persoalan sosial. Ia harus ikut terlibat dalam mencari jalan keluar.

UNUSIDA dapat mengambil peran tersebut melalui penelitian multidisipliner yang mempertemukan ilmu hukum, psikologi, pendidikan, teknologi informasi, ekonomi, kesehatan, dan keislaman.

Penelitian tentang persoalan sosial Sidoarjo, misalnya, tidak berhenti pada pemetaan masalah. Hasilnya harus diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan, program pencegahan berbasis komunitas, pendidikan bagi generasi muda, serta model pemberdayaan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Di titik inilah Khidmah bil Hikmah menemukan bentuk konkretnya: ilmu yang bekerja untuk menyelamatkan manusia yang menjadi cara pandang tentang bagaimana sebuah perguruan tinggi mengisi kemerdekaan.

UNUSIDA tidak cukup hanya mencetak lulusan yang kompeten. Ia harus melahirkan manusia yang merdeka dalam berpikir, matang dalam bersikap, kuat dalam keilmuan, dan tulus dalam pengabdian.

Kemerdekaan sejati bukan ketika manusia dapat melakukan apa saja yang diinginkannya. Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia memiliki kemampuan menentukan yang terbaik berdasarkan ilmu, etika, dan tanggung jawab sosial.

Pendidikan membebaskan manusia dari kebodohan. Penelitian membebaskan masyarakat dari ketidakberdayaan pengetahuan. Pengabdian membebaskan masyarakat dari ketertinggalan.

Dan Khidmah bil Hikmah memastikan seluruh proses itu tetap memiliki arah: ilmu untuk kemaslahatan, kebebasan untuk tanggung jawab, dan kemerdekaan untuk kemanusiaan.

Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan dengan keberanian para pejuang di medan perang, maka hari ini kemerdekaan harus dirawat dengan keberanian berpikir, keberanian meneliti, keberanian mengabdi, dan keberanian menghadirkan solusi.

Itulah kemerdekaan yang relevan bagi UNUSIDA: merdeka berpikir, merdeka berkarya, dan merdeka mengabdi untuk kemaslahatan publik.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., saat menyampaikan sambutan dalam Yudisium ke-2 FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt Rektor UNUSIDA: Lulusan FAI Harus Sadar, Kompeten, dan Berani Menciptakan Peluang

SIDOARJO — Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., berpesan kepada para lulusan Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA agar menjadikan kelulusan sebagai momentum memasuki babak baru kehidupan. Menurutnya, perubahan hanya dapat dimulai dari kesadaran diri untuk terus berkembang dan menghadapi tantangan.

Pesan tersebut disampaikan Hadi saat memberikan sambutan dalam Yudisium ke-2 Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA, yang diikuti para mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Jum’at (7/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya sangat mengapresiasi perjuangan para mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan, termasuk mereka yang sudah lama mengabdi sebagai guru namun tetap meluangkan waktu untuk menempuh pendidikan tinggi.

Menurutnya, proses pendidikan tidak selalu mudah. Ada mahasiswa yang menghadapi persoalan administrasi, keterbatasan waktu, hingga faktor usia. Namun, semangat untuk menyelesaikan pendidikan menjadi modal penting dalam membangun perubahan.

Mengutip gagasan tentang awareness before change, Hadi menekankan bahwa kesadaran merupakan pintu menuju perubahan. Ia mengajak para lulusan untuk menyadari bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk memasuki kehidupan yang lebih luas dengan tanggung jawab yang lebih besar.

“Kalau saudara-saudara semua ingin berubah, nomor satu adalah sadar. Selesai. Akhirnya empat tahun memasuki babak baru. Kalau tidak sadar, maka akan menjadi problem,” tegasnya.

Hadi menilai kesadaran tersebut penting karena lulusan PGMI dan PIAUD akan menghadapi persaingan yang cukup besar. Ribuan lulusan bidang pendidikan terus bertambah setiap tahun, sehingga para lulusan UNUSIDA harus memiliki keunggulan dan keberanian untuk mengambil peluang.

“Sekarang banyak sekali yang melakukan pendidikan di sini. Lalu ke mana ribuan yang sudah lulus itu? Tempatnya banyak atau tambah sedikit? Oleh karena itu, sadar itu penting sekali,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan para lulusan, khususnya yang akan menekuni profesi guru, untuk menguasai kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Ia menyebut tiga kompetensi utama guru, yakni kompetensi profesional, pedagogik, dan sosial.

“Kompetensi utama guru ada tiga, profesional, pedagogik, dan sosial. Kita harus sadar tantangan di depan kita itu besar,” ujarnya.

Menurutnya, kompetensi yang telah diperoleh selama kuliah harus benar-benar diterapkan dalam kehidupan nyata. Para lulusan tidak boleh hanya menunggu mendapatkan pekerjaan dari sekolah atau yayasan, tetapi harus berani menciptakan peluang sesuai dengan keahlian yang dimiliki.

Ia mencontohkan peluang menjadi guru les sebagai salah satu bentuk edupreneurship yang dapat dikembangkan lulusan pendidikan.

“Jangan takut membuat les. Banyak sekali anak-anak yang membutuhkan les, bukan hanya kelas enam, tetapi anak PAUD, TK, kelas satu dan dua. Itu peluang,” tuturnya.

Ia menyebut sikap tersebut sebagai bagian dari semangat edupreneur, yakni keberanian mengembangkan kompetensi pendidikan menjadi peluang yang memberikan manfaat sekaligus nilai ekonomi.

“Ini namanya edupreneur. Jangan takut. Tapi jangan berhenti untuk menaikkan kompetensi. Itu yang penting,” pesannya.

Tak hanya itu, ia berharap para lulusan tidak hanya mendapatkan gelar sarjana, tetapi mampu menghadirkan perubahan di lingkungan masing-masing. Bagi lulusan yang sudah bekerja, keberhasilan bukan sekadar mendapatkan ijazah, melainkan mampu menunjukkan perubahan positif di tempat kerja.

“Kalau yang sudah bekerja, perubahan apa di tempat kerja yang orang luar biasa itu hadir membawa perubahan,” katanya.

Ia mencontohkan keberadaan lembaga pendidikan di tingkat masyarakat yang berkembang sebagai bukti bahwa kehadiran seorang pendidik dapat meninggalkan jejak perubahan. Menurutnya, lulusan UNUSIDA harus mampu “menulis sejarah” melalui karya dan pengabdian yang dilakukan setelah menyelesaikan pendidikan.

“Setelah dikuasai, peluang itu akan datang. Jangan takut,” tegasnya.

Dalam sambutannya, Hadi juga menekankan pentingnya pendidikan tinggi sebagai investasi jangka panjang bagi keluarga dan generasi berikutnya.

Menurutnya, ketika orang tua memiliki pendidikan yang baik, maka wawasan dan cara pandang keluarga terhadap masa depan juga akan berkembang. Pendidikan kemudian tidak berhenti pada individu, tetapi dapat diwariskan menjadi semangat bagi generasi berikutnya.

Ia menggambarkan bahwa orang tua yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana akan memiliki dorongan agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

“Maka saya ucapkan selamat karena saudara beruntung lulus di FAI UNUSIDA. Lulus bukan garis akhir. Lulus adalah awal untuk membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh di UNUSIDA benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Foto bersama seluruh yudisiawan Yudisium ke-12 FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-2 FAI UNUSIDA: Teguhkan Dedikasi Cetak Guru Unggul dan Berakhlakul Karimah

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar Yudisium ke-2 dengan mengusung semangat ‘Meneguhkan Dedikasi, Menginspirasi Negeri, Mencetak Guru Unggul, Adaptif, dan Berakhlakul Karimah’, Jumat (7/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi mahasiswa setelah menyelesaikan rangkaian pendidikan di jenjang sarjana sekaligus menjadi awal untuk mengabdikan ilmu di tengah masyarakat.

Tanpak hadir Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., BPP UNUSIDA Hj. Yuli Qayyumillah, MA., Dekan FAI UNUSIDA Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Moh. Anang Abidin, S.H.I., M.Pd., serta Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Rifatul Anita, S.Pd., M.Pd.

Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja keras mahasiswa, dosen pembimbing, serta seluruh pemangku kepentingan di lingkungan UNUSIDA. Capaian kelulusan tersebut juga mengalami peningkatan sekitar 5,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Sudah tidak perlu mikir nilai saya jelek atau nilai saya baik. Sekarang sudah selesai. Itu masa-masa di bangku kuliah, sekarang sudah tidak lagi di bangku. Maka senyumnya jangan sampai kecut seperti saat menghadapi ujian skripsi,” ujar Feri dalam sambutannya.

Ia menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan pintu masuk menuju fase kehidupan dan pengabdian yang baru. Karena itu, para lulusan didorong untuk menentukan langkah setelah menyelesaikan pendidikan.

Menurutnya, setidaknya terdapat tiga pilihan yang dapat ditempuh para lulusan. Pertama, melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2). Kedua, membangun karier dan keluarga dengan menjadi pribadi yang berprestasi. Ketiga, mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama kuliah di lembaga maupun lingkungan tempat mereka mengabdi.

Khusus bagi lulusan yang telah maupun akan berkecimpung di dunia pendidikan, Feri mengingatkan bahwa gelar sarjana kependidikan membawa tanggung jawab besar. Para lulusan tidak cukup hanya memiliki ijazah, tetapi harus mampu menerapkan kompetensi yang telah diperoleh selama perkuliahan.

Ia mencontohkan berbagai kompetensi yang telah dipelajari mahasiswa, mulai dari apersepsi, pre-test, elaborasi, post-test, asesmen, hingga penyusunan perangkat pembelajaran.

“Tidak boleh ada cerita dari mitra bahwa lulusan UNUSIDA tidak bisa mengerjakan RPS. Tantangan kita sering kali adalah hal yang kita bisa itu tidak kita lakukan,” tegasnya.

Feri juga mengingatkan pentingnya integritas akademik dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Menurutnya, perangkat pembelajaran seperti RPS dan RPP harus benar-benar disusun dan dilaksanakan sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan sekadar dibuat untuk memenuhi kebutuhan administrasi atau akreditasi.

“Kunci sukses di dunia pendidikan itu tulis apa yang sudah dikerjakan, evaluasi, dan kerjakan apa yang sudah ditulis,” pesannya.

Ia berharap para lulusan FAI UNUSIDA mampu menjadi pendidik yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki akhlakul karimah.

Dalam kesempatan tersebut, Feri juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan dengan berbagai dinamika. Sebagian mahasiswa menyelesaikan studi dalam waktu empat tahun, sementara lainnya membutuhkan waktu lebih panjang maupun lebih singkat sesuai dengan kondisi masing-masing.

Ia menegaskan bahwa proses akademik yang telah dilalui merupakan bagian penting dalam membentuk kesiapan mahasiswa menghadapi dunia profesional.

Feri turut menjelaskan kepada para peserta yudisium mengenai proses administrasi kelulusan, termasuk penerbitan ijazah dan Penomoran Ijazah Nasional (PIN). Ia mengingatkan mahasiswa untuk mengikuti seluruh tahapan administrasi sesuai ketentuan agar proses penerbitan dokumen kelulusan berjalan lancar.

“Selamat kepada seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan, semoga mampu membawa nama baik almamater, mengabdikan keilmuan di tengah masyarakat, serta mengambil peran dalam mencetak generasi yang unggul, adaptif, berkarakter, dan berakhlakul karimah,” tuturnya.

Suasana forum Program Guru Besar Infokom Mengabdi (GBIM) di UGM (Foto: Humas UNUSIDA)

Perkuat Kurikulum dan Akreditasi, FILKOM UNUSIDA Ikuti Program Guru Besar Infokom Mengabdi APTIKOM di UGM

YOGYAKARTA — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi melalui keikutsertaan dalam Program Guru Besar Infokom Mengabdi (GBIM) yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Turing, Lantai 4, Gedung D Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (7/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, FILKOM UNUSIDA memperoleh pendampingan langsung dari dua akademisi terkemuka di Indonesia, yakni Prof. Sri Hartati, M.Sc., Ph.D., selaku Ketua Dewan LAM INFOKOM, dan Prof. Agus Harjoko, M.Sc., Ph.D. Kehadiran kedua guru besar tersebut memberikan perspektif yang komprehensif mengenai pengembangan kurikulum, tata kelola akademik, hingga strategi peningkatan mutu program studi sesuai dengan standar nasional akreditasi.

Pendampingan difokuskan pada bedah kurikulum dan pengkajian dokumen akreditasi yang meliputi Instrumen Akreditasi Program Studi (APS) serta Laporan Evaluasi Diri (LED). Kegiatan ini melibatkan seluruh program studi di lingkungan FILKOM UNUSIDA, yaitu Program Studi Sistem Informasi, Informatika, dan Desain Komunikasi Visual (DKV). Seluruh dosen dan tim penyusun dokumen akreditasi berpartisipasi aktif dalam proses diskusi, evaluasi, dan penyempurnaan berbagai dokumen akademik yang menjadi indikator penilaian mutu program studi.

Selama proses pendampingan, kedua guru besar memberikan berbagai masukan strategis mengenai penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi digital yang terus berubah. Selain itu, pembahasan juga menitikberatkan pada implementasi Outcome-Based Education (OBE), penguatan capaian pembelajaran lulusan, pemetaan mata kuliah terhadap profil lulusan, serta penyempurnaan dokumen akreditasi agar sesuai dengan standar dan instrumen terbaru dari LAM INFOKOM.

Tidak hanya berfokus pada aspek administratif, pendampingan juga memberikan wawasan mengenai pentingnya membangun budaya mutu secara berkelanjutan di lingkungan fakultas. Kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, didukung tata kelola akademik yang baik, dinilai menjadi fondasi utama dalam menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja sekaligus mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T., menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam Program Guru Besar Infokom Mengabdi merupakan langkah strategis dalam memperkuat kualitas akademik di lingkungan fakultas. Menurutnya, pendampingan dari para guru besar memberikan banyak perspektif baru yang sangat bermanfaat bagi pengembangan program studi.

“Program ini menjadi langkah strategis bagi FILKOM UNUSIDA untuk memperkuat kualitas kurikulum, tata kelola akademik, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi antarperguruan tinggi di bidang informatika. Berbagai rekomendasi yang diberikan menjadi bekal penting dalam meningkatkan kualitas akademik dan memperkuat daya saing program studi di tengah tantangan transformasi digital,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat menuntut perguruan tinggi untuk selalu melakukan pembaruan kurikulum secara berkala. Oleh karena itu, masukan dari para guru besar menjadi referensi penting dalam memastikan kurikulum yang diterapkan tetap relevan dengan kebutuhan industri, perkembangan ilmu pengetahuan, serta kebijakan pendidikan tinggi yang terus berkembang.

Selain mendukung peningkatan kualitas akreditasi, pihaknya juga ingin membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara FILKOM UNUSIDA dengan berbagai perguruan tinggi anggota APTIKOM. Ia berharap, melalui kolaborasi ini dapat diwujudkan dalam bentuk penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran dosen, pengembangan kurikulum, hingga penyelenggaraan berbagai kegiatan akademik yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan di bidang informatika.

“Kami optimistis mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis di bidang teknologi informasi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, serta mampu menjawab tantangan transformasi digital di berbagai sektor,” ungkapnya.

Ia menyebutkan bahwa kolaborasi ini menjadi bukti komitmen fakultas untuk terus melakukan perbaikan berkelanjutan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. Upaya tersebut sejalan dengan visi UNUSIDA dalam menghasilkan lulusan yang unggul, inovatif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta memiliki karakter yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.

“Hasil kolaborasi ini menjadi fondasi penting bagi penyempurnaan kurikulum, penguatan akreditasi program studi, peningkatan tata kelola akademik, serta lahirnya berbagai kolaborasi inovatif yang memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu komputer dan teknologi informasi di Indonesia. Sebagai ikhtiar dalam menghadirkan pendidikan berkualitas yang relevan dengan kebutuhan zaman sekaligus mendukung terwujudnya sumber daya manusia unggul di era digital.,” jelasnya.

Selain agenda pendampingan, kegiatan ini juga dihadiri oleh Aina Musdholifah, Ph.D., Head Department of Computer Science and Electronics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UGM. Dalam kesempatan tersebut, dilakukan diskusi mengenai peluang kerja sama antarperguruan tinggi di bidang computer science.

Pembahasan mencakup pengembangan kurikulum, kolaborasi penelitian, pertukaran dosen dan mahasiswa, penyelenggaraan program akademik bersama, hingga penguatan jejaring internasional. Diskusi tersebut menjadi langkah awal dalam membangun sinergi yang lebih luas untuk mendukung kemajuan pendidikan tinggi di bidang informatika.

Seluruh peserta Yudisium ke-12 FILKOM UNUSIDA berfoto bersama dengan seluruh Dosen, Dekan, Plt. Rektor UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-12 FILKOM UNUSIDA, Teguhkan Komitmen Cetak Lulusan Tepat Waktu, Bermutu, dan Berintegritas

SIDOARJO — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-12 Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Hall Lantai 5 Kampus 2 UNUSIDA, Selasa (4/8/2026). Prosesi yudisium tersebut dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo Nomor 123/U9.3/3/GAR/SK-GAR/2026 tentang penetapan mahasiswa FILKOM yang lulus pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026.

Pada yudisium kali ini, sebanyak 42 lulusan Program Studi Informatika, 22 lulusan Sistem Informasi, dan 37 lulusan Desain Komunikasi Visual resmi dikukuhkan.

Dalam sambutannya, Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto menyampaikan apresiasi kepada seluruh lulusan dari tiga program studi di lingkungan FILKOM. Ia juga memberikan semangat kepada mahasiswa yang belum berhasil menyelesaikan studinya agar tetap optimistis.

“Kita doakan teman-teman yang hari ini belum beruntung, semoga segera menyusul teman-teman kita semua,” ujarnya.

Dalam pesannya kepada para lulusan, Hadi menekankan tiga nilai utama yang harus menjadi pegangan setelah memasuki dunia kerja, yaitu menjaga salat, berbakti kepada orang tua (birrul walidain), serta menjauhi sifat sombong.

Menurutnya, kesombongan tidak hanya diwujudkan melalui sikap merendahkan orang lain, tetapi juga menolak kebenaran, termasuk dalam cara seseorang berkomunikasi di media sosial.

“Mari kita lihat apa yang kita kirim di media sosial. Jangan sampai kesombongan itu muncul dalam bentuk merendahkan orang lain atau menolak kebenaran,” pesannya.

Hadi kemudian membagikan kisah inspiratif tentang mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh yang semasa muda rutin mengikuti pengajian Mbah Hamid Pasuruan. Dari kisah tersebut, ia menegaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak lepas dari bakti kepada orang tua.

“Apapun kesuksesan yang kalian raih, jangan pernah melupakan birrul walidain. Berbakti kepada orang tua menjadi salah satu kunci keberkahan hidup,” tuturnya.

Sebagai lulusan bidang teknologi informasi, Hadi juga mengingatkan bahwa kemampuan digital yang dimiliki para sarjana komputer harus diimbangi dengan integritas. Menurutnya, perkembangan teknologi membuka peluang besar, tetapi juga menghadirkan godaan untuk menempuh jalan pintas yang tidak benar.

Ia berharap budaya akademik di UNUSIDA yang selalu diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan doa sebelum perkuliahan mampu menjadi benteng moral bagi para lulusan dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia profesional.

“Semakin tinggi kemampuan teknologi seseorang, semakin besar pula tantangan untuk menjaga integritas. Kembalilah kepada Allah SWT agar ilmu yang dimiliki membawa keberkahan,” katanya.

Sementara itu, lulusan terbaik FILKOM UNUSIDA 2026, Zahrotun Nafisah, S.Kom., menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh dosen, orang tua, dan teman-teman seperjuangan yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya.

Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan bukan hanya tentang memperoleh nilai terbaik, melainkan hasil dari perjuangan panjang yang dilalui setiap mahasiswa.

“Hari ini bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan penghargaan. Hari ini adalah tentang perjuangan kita semua untuk sampai di titik ini. Kita berhasil karena tidak menyerah,” ungkapnya.

Ia mengenang berbagai proses selama kuliah, mulai dari menyelesaikan tugas hingga larut malam, menghadapi revisi yang seolah tak berujung, hingga melewati berbagai tantangan yang sempat membuat ingin menyerah.

Mahasiswi Program Studi Sistem Informasi tersebut menyampaikan terima kasih kepada seluruh dosen FILKOM, khususnya dosen wali sekaligus pembimbingnya, Rizki Aditya Nugroho, S.T., M.Kom., atas bimbingan dan kesabaran selama masa studi.

Selain itu, ia mengapresiasi dukungan orang tua, keluarga, dan rekan-rekan mahasiswa yang selalu memberikan semangat selama menempuh pendidikan.

Lebih lanjut, Zahrotun berharap Fakultas Ilmu Komputer UNUSIDA terus berkembang dan melahirkan lulusan yang unggul, adaptif, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Kelulusan ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari langkah yang lebih besar. Semoga Fakultas Ilmu Komputer UNUSIDA terus maju dan mencetak generasi terbaik yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Rombongan mahasiswa Fakultas Ekonomi berfoto di PT Marifood Semarang (Foto: Humas UNUSIDA)

Company Visit Fakultas Ekonomi UNUSIDA 2026, Perkuat Wawasan Industri dan Kompetensi Mahasiswa

SEMARANG — Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menyelenggarakan Company Visit FE 2026 sebagai bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman bagi mahasiswa angkatan 2024 Program Studi Akuntansi dan Program Studi Manajemen selama dua hari, Senin-Selasa (27-28/7/2026). Kegiatan ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengenal dunia industri secara langsung sekaligus memahami penerapan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.

Dekan Fakultas Ekonomi UNUSIDA, Muhafidhah Novie, menegaskan bahwa kegiatan ini memberikan kesempatan luas bagi mahasiswa untuk menggali wawasan industri. Mahasiswa tidak hanya menjadi peserta pasif, tetapi juga aktif berdiskusi dengan pihak perusahaan terkait proses bisnis, tantangan industri, strategi pengembangan perusahaan, hingga peluang karier setelah lulus.

Melalui perpaduan pembelajaran industri dan kegiatan kebersamaan, Fakultas Ekonomi UNUSIDA terus berupaya menciptakan pengalaman pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Diharapkan, mahasiswa mampu berkembang menjadi lulusan yang kompeten, adaptif, profesional, serta siap memberikan kontribusi nyata bagi dunia usaha dan masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami secara nyata bagaimana teori yang dipelajari di bangku kuliah diterapkan dalam dunia kerja,” ujarnya.

Kegiatan ini merupakan bentuk implementasi experiential learning yang mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan pengalaman langsung di lapangan. Interaksi dengan dunia industri juga memberikan pemahaman tentang budaya kerja profesional, kompetensi yang dibutuhkan, serta dinamika persaingan di dunia usaha.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan keberangkatan mahasiswa menuju Semarang. Setibanya di lokasi, rombongan melaksanakan kunjungan industri ke PT Victoria Care Indonesia Tbk – Departemen Oemah Herborist Semarang. Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai profil perusahaan, proses produksi produk berbahan alami, inovasi produk, hingga strategi pemasaran.

Mahasiswa juga mendapatkan wawasan penting mengenai standar operasional perusahaan, pengendalian kualitas, serta pentingnya inovasi berkelanjutan dalam menjaga kepercayaan konsumen. Bagi mahasiswa Program Studi Akuntansi, kunjungan ini memberikan perspektif tentang pengelolaan keuangan perusahaan, sementara mahasiswa Manajemen dapat melihat langsung praktik manajemen operasional dan strategi bisnis.

Setelah agenda industri, mahasiswa melanjutkan kegiatan ke kawasan Simpang Lima Semarang untuk menikmati suasana kota sekaligus mempererat kebersamaan. Pada malam harinya, seluruh peserta beristirahat di Hotel Olympic Semarang.

Memasuki hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke PT Marifood Semarang. Mahasiswa kembali memperoleh pengalaman belajar langsung mengenai proses produksi, pengendalian mutu, manajemen operasional, serta strategi menjaga daya saing produk di pasar.

Kunjungan ini memberikan pemahaman komprehensif bagi mahasiswa terkait efisiensi produksi, pengelolaan sumber daya manusia, serta inovasi sebagai kunci keberhasilan perusahaan. Hal ini sekaligus memperkuat keterkaitan antara teori akademik dengan praktik di dunia industri.

Sebagai penutup, rombongan mengunjungi destinasi wisata New Celosia Bandungan Semarang. Selain menjadi sarana rekreasi, kegiatan ini juga memperkuat kebersamaan antar mahasiswa lintas program studi.

Suasana Opening Ceremony UNUSIDA CUP VII 2026, Turnamen Futsal Mahasiswa Antar Fakultas (Foto: NU Delta)

Perkuat Sportivitas dan Solidaritas Antarmahasiswa, UKM Futsal Sukses Gelar Turnamen Antar Fakultas UNUSIDA CUP VII 2026

SIDOARJO — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Futsal Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menggelar UNUSIDA CUP VII Turnamen Futsal Antar Fakultas di Fatkhi Futsal Centre, Randegan, Tanggulangin, Sidoarjo, Sabtu (25/7/2026).

UNUSIDA CUP VII kali ini diikuti oleh mahasiswa aktif UNUSIDA angkatan 2022 hingga 2025. Setiap fakultas diwajibkan mengirimkan dua tim untuk mengikuti kompetisi tersebut. Sebanyak 8 tim turut ambil bagian dalam turnamen yang diselenggarakan dengan biaya pendaftaran sebesar Rp170 ribu per tim.

Ketua UKM Futsal UNUSIDA, Dikqi Apriliyanto, mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi sekaligus mempererat kebersamaan antarmahasiswa. Dengan mengusung semangat ‘Bersatu dalam Kompetisi, Berprestasi untuk UNUSIDA’, ia menyebut bahwa turnamen tersebut menjadi ajang kompetisi sekaligus silaturahmi bagi mahasiswa UNUSIDA dari berbagai fakultas..

“Turnamen ini menjadi ajang kompetisi sekaligus silaturahmi bagi mahasiswa UNUSIDA dari berbagai fakultas. Kami berharap melalui kegiatan ini mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan, menjunjung tinggi sportivitas, dan bersama-sama meraih prestasi untuk UNUSIDA,” ujar mahasiswa Teknik Industri tersebut.

Sementara itu, Kepala Biro Kemahasiswaan, Karier, dan Alumni UNUSIDA, Fajar Nur Yasin, menyampaikan bahwa turnamen futsal merupakan bagian dari bentuk pengembangan potensi mahasiswa di luar kegiatan akademik.

Menurutnya, kegiatan kemahasiswaan seperti turnamen olahraga menjadi wadah penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan, membangun kerja sama, serta melatih kepemimpinan dan sportivitas.

“Turnamen futsal ini merupakan bagian dari bentuk ekstensi mahasiswa ketika berada di luar kegiatan akademik. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimiliki,” ungkap Fajar.

Ia juga mengapresiasi UKM Futsal UNUSIDA yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut. Menurutnya, keberadaan organisasi kemahasiswaan menjadi bagian penting dalam mendukung pengembangan minat, bakat, dan prestasi mahasiswa.

“Kami yakin keberadaan UKM Futsal UNUSIDA dapat menjadi wadah pengembangan bakat dan minat mahasiswa di bidang olahraga. Turnamen UNUSIDA CUP ini juga menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas antarmahasiswa serta mendorong lahirnya atlet-atlet berprestasi yang mampu membawa nama baik UNUSIDA,” pungkasnya.