Pos

Mahasiswa Teknik Lingkungan UNUSIDA usai mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Alun-alun Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Manifesto Teo-Ekologis Mahasiswa Teknik Lingkungan Melawan Kolonialisme Sampah

Bagaimana mungkin kita dapat khusyuk memperingati Hari Lahir Pancasila, sementara pada saat yang sama bumi tempat kita berpijak perlahan kehilangan daya dukungnya akibat limbah yang kita hasilkan sendiri?

Setiap tanggal 1 Juni, masyarakat Indonesia kembali mengenang lahirnya dasar negara yang menjadi pemersatu bangsa. Tahun ini, tema yang diusung adalah Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia. Tema tersebut mengandung pesan luhur tentang pentingnya persatuan dan perdamaian. Namun, sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan yang tumbuh dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), kami memandang bahwa perdamaian tidak hanya berbicara tentang hubungan antarmanusia, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan lingkungan.

Perdamaian dunia tidak akan pernah terwujud jika kita masih gagal berdamai dengan alam yang menjadi sumber kehidupan. Keadilan sosial yang menjadi cita-cita Pancasila pun tidak mungkin tercapai apabila lingkungan hidup terus mengalami kerusakan akibat perilaku manusia yang eksploitatif.

Krisis Sampah yang Mengkhawatirkan
Realitas pengelolaan sampah di Indonesia menunjukkan kondisi yang patut menjadi perhatian bersama. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah nasional mencapai puluhan juta ton setiap tahun, dengan sampah plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar.

Persoalan tidak berhenti pada jumlah sampah yang dihasilkan, melainkan juga pada rendahnya tingkat pengelolaan yang optimal. Sebagian besar sampah masih berakhir di tempat pemrosesan akhir yang kapasitasnya semakin terbatas, mencemari sungai, laut, dan lingkungan sekitar.

Bagi masyarakat Jawa Timur, termasuk Kabupaten Sidoarjo yang berada di kawasan penyangga metropolitan Surabaya, persoalan sampah bukanlah isu yang asing. Tumpukan sampah, pencemaran badan air, hingga berkurangnya kualitas lingkungan menjadi tantangan yang nyata di hadapan kita.

Krisis ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga mencerminkan krisis kesadaran kolektif. Ketika sampah terus meningkat dan lingkungan semakin tercemar, sesungguhnya kita sedang menghadapi kegagalan dalam menjaga amanah sebagai penghuni bumi.

Pancasila dan Aswaja dalam Perspektif Ekologis
Pancasila sejatinya mengandung nilai-nilai yang sangat relevan dalam menjawab persoalan lingkungan. Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan bahwa setiap tindakan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap sesama, termasuk generasi yang akan datang. Sementara Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menegaskan pentingnya distribusi manfaat dan risiko lingkungan secara adil.

Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini pada dasarnya merupakan bentuk ketidakadilan ekologis. Generasi mendatang harus menanggung konsekuensi dari perilaku konsumtif dan pengelolaan sampah yang tidak bertanggung jawab yang dilakukan hari ini.

Dalam tradisi Aswaja An-Nahdliyah, nilai-nilai tersebut diperkuat melalui prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman kehidupan. Nilai tawassuth (moderat) dan iqtishad (hemat serta proporsional) mengajarkan pentingnya menghindari perilaku berlebihan, termasuk dalam pola konsumsi yang menghasilkan banyak sampah. Sementara nilai tawazun (keseimbangan) menuntut harmonisasi hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta.

Ketika seseorang membuang sampah sembarangan atau mengabaikan upaya pengurangan sampah, sesungguhnya ia sedang merusak keseimbangan yang diajarkan dalam nilai tawazun. Menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, melainkan juga bentuk pengabdian spiritual sebagai khalifah fil ardh yang diberi amanah untuk merawat bumi.

Melawan Kolonialisme Sampah
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah apa yang dapat disebut sebagai kolonialisme sampah. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika kehidupan manusia dikendalikan oleh budaya konsumtif yang menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Kita menjadi bergantung pada produk sekali pakai, kemasan plastik berlebih, dan pola hidup instan yang secara perlahan menjajah kesadaran ekologis masyarakat.

Kolonialisme sampah tidak hadir dalam bentuk penjajahan fisik, melainkan melalui kebiasaan yang membuat manusia kehilangan kendali atas lingkungannya sendiri. Akibatnya, ruang hidup yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan berubah menjadi tempat akumulasi limbah.

Sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan, kami percaya bahwa perlawanan terhadap kolonialisme sampah harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah sekaligus moral. Pengembangan teknologi pengelolaan limbah, penerapan ekonomi sirkular, peningkatan budaya daur ulang, serta edukasi lingkungan harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai Pancasila dan Aswaja.

Persatuan untuk Keadilan Ekologis
Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum untuk memperluas makna persatuan bangsa. Persatuan tidak hanya diwujudkan melalui slogan dan seremoni, tetapi juga melalui gotong royong menjaga lingkungan hidup.

Di hadapan ancaman krisis iklim, pencemaran mikroplastik, dan menurunnya kualitas lingkungan, seluruh elemen masyarakat memiliki nasib yang sama. Perbedaan suku, agama, golongan, maupun latar belakang sosial menjadi tidak relevan ketika kualitas udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan tanah yang kita pijak mengalami kerusakan.

Karena itu, menjaga lingkungan adalah bentuk nyata pengamalan Pancasila di abad ke-21. Bumi bukan warisan yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan titipan yang harus dijaga untuk generasi berikutnya.

Selamat Hari Lahir Pancasila. Mari bersatu melawan kolonialisme sampah, merawat bumi sebagai rumah bersama, dan menegakkan keadilan ekologis demi Indonesia yang berkelanjutan. Sebab, mencintai lingkungan bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab kebangsaan dan kemanusiaan.

Penulis: Muchammad Waziruddin

Narasumber Workshop Public Speaking & Personal Branding Amanda Nadzario, S.Sos., saat menyampaikan materi kepada mahasiswa (Foto: Humas UNUSIDA)

BEM UNUSIDA Gelar Workshop Public Speaking & Personal Branding, Dorong Mahasiswa Berani Tampil dan Berkembang

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berkolaborasi bersama Yuesby.id Community, Komite Musik Dekesda Sidoarjo, dan Darma Charis sukses menyelenggarakan Workshop Public Speaking & Personal Branding bertema ‘Speak, Shine, and Stand Out!’, Senin (25/5/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengembangan diri bagi mahasiswa dan generasi muda agar lebih percaya diri dalam berkomunikasi serta mampu membangun citra diri yang positif di era digital.

Workshop menghadirkan Amanda Nadzario, S.Sos., seorang MC, TV Presenter, dan Content Creator, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Amanda membagikan pengalaman seputar dunia public speaking, cara membangun personal branding, hingga pentingnya keberanian untuk tampil dan menunjukkan potensi diri di ruang publik maupun media sosial.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi, praktik public speaking, serta berbagi pengalaman dari narasumber. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif mahasiswa selama workshop berlangsung.

Presiden Mahasiswa (Presma) UNUSIDA, M. Rafly Afandi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen mahasiswa dalam menghadirkan ruang pengembangan diri yang relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini. Ia juga mengapresiasi kolaborasi berbagai komunitas yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Kami berharap teman-teman mahasiswa bisa lebih berani berbicara, lebih percaya diri menunjukkan potensinya, dan mampu menjadi pribadi yang tidak hanya terlihat, tetapi juga memiliki nilai bagi dirinya sendiri maupun orang lain,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa workshop ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi diharapkan mampu menjadi titik awal bagi mahasiswa untuk terus berkembang dan aktif membangun kapasitas diri.

Sementara itu, Plt. Rektor UNUSIDA, Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., turut memberikan apresiasi terhadap kolaborasi antara komunitas profesional dan mahasiswa dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, mempertemukan praktisi dengan pemula merupakan langkah penting untuk membuka ruang belajar yang lebih luas dan aplikatif.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi wadah bagi komunitas-komunitas kreatif di Sidoarjo untuk saling mengenalkan bidang dan potensi masing-masing, mulai dari musik, konten kreator, fotografi, hingga berbagai bidang kreatif lainnya.

“Acara hari ini adalah acara belajar. Tidak hanya peserta, tetapi seluruh panitia dan pihak yang terlibat juga sedang belajar bersama,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh peserta untuk aktif selama workshop berlangsung agar ilmu yang diberikan dapat benar-benar dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Mahasiswa harus mampu meningkatkan kepercayaan diri, memperkuat kemampuan komunikasi, dan membangun personal branding yang positif sebagai bekal menghadapi dunia akademik maupun profesional,” tuturnya.

Ketua JPZIS LAZISNU UNUSIDA, Moch. Fabet Ali Taufan, S.Si., Saat Menyalurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Desa Grinting Tulangan (Foto: Humas UNUSIDA)

Wujud Nyata Solidaritas, JPZIS UNUSIDA Salurkan Bantuan untuk Mahasiswa Korban Kebakaran

SIDOARJO — Musibah kebakaran yang menimpa salah satu mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) pada Kamis (21/5/2026) pagi lalu, mengundang kepedulian berbagai pihak. Peristiwa tersebut mengakibatkan satu unit rumah keluarga mahasiswa UNUSIDA di Desa Grinting, Kecamatan Tulangan yang terdampak sehingga mengalami kerusakan parah. Namun beruntungnya tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka.

Penggalangan bantuan tersebut menghimpun berbagai bentuk dukungan, mulai dari donasi dana, pakaian layak pakai, kebutuhan pokok, hingga perlengkapan sehari-hari guna membantu meringankan beban korban pascakebakaran.

Kegiatan kemanusiaan ini melibatkan berbagai unsur civitas akademika UNUSIDA, mulai dari dosen, tenaga kependidikan (tendik), hingga mahasiswa. Partisipasi aktif seluruh elemen kampus menjadi bukti kuatnya solidaritas dan semangat gotong royong dalam merespons musibah yang terjadi di tengah masyarakat.

Ketua JPZIS LAZISNU UNUSIDA, Moch. Fabet Ali Taufan, S.Si., menyampaikan bahwa aksi sosial tersebut tidak hanya bertujuan memberikan bantuan materiil, tetapi juga membangun kepedulian sosial yang lebih luas di lingkungan kampus dan masyarakat.

“Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kepedulian dan kebersamaan harus terus dirawat. Kami berharap bantuan yang diberikan dapat sedikit meringankan beban keluarga korban,” ujarnya.

Penyaluran bantuan dilakukan secara langsung kepada keluarga korban. Selain dukungan materiil, JPZIS LAZISNU UNUSIDA juga memberikan dukungan moril yang diharapkan mampu menguatkan keluarga korban dalam menghadapi masa pemulihan pascamusibah.

Pihak keluarga korban menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian serta bantuan yang diberikan oleh JPZIS LAZISNU UNUSIDA bersama seluruh civitas akademika UNUSIDA. Kehadiran berbagai pihak dinilai sangat membantu di tengah situasi sulit yang sedang mereka hadapi.

Lebih lanjut, Moch. Fabet Ali Taufan menegaskan komitmen JPZIS LAZISNU UNUSIDA untuk terus melakukan pendampingan dan membuka peluang bantuan lanjutan sesuai kebutuhan korban, baik berupa kebutuhan pokok maupun dukungan lain guna menunjang proses pemulihan.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga semangat gotong royong dan saling membantu, khususnya ketika ada saudara yang sedang tertimpa musibah. Aksi kemanusiaan ini menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian sosial kampus dalam menumbuhkan nilai empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama,” pungkasnya.

Salah Seorang Tim Relawan UNUSIDA, Joko Romadoni Sabrian untuk Monev Pilkades Serentak Se Kabupaten Sidoarjo di Desa Kendalpecabean (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Kirim 39 Relawan Tim Monev, Sukseskan Pilkades Serentak Sidoarjo 2026

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan daerah melalui partisipasi aktif pada pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak se-Kabupaten Sidoarjo, Ahad (24/5/2026). Sebanyak 39 relawan mahasiswa UNUSIDA diterjunkan untuk membantu pemantauan jalannya pesta demokrasi tingkat desa tersebut.

Keterlibatan relawan UNUSIDA menjadi bentuk kontribusi nyata civitas akademika yang melibatkan unsur dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, hingga tenaga operasional kampus dalam mendukung proses demokrasi yang aman, tertib, dan kondusif di wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Pada pelaksanaan Pilkades Serentak tahun ini, tercatat sebanyak 80 desa di 17 kecamatan se-Kabupaten Sidoarjo menyelenggarakan pemilihan kepala desa secara bersamaan. Para relawan UNUSIDA disebar ke sejumlah titik pelaksanaan untuk melakukan observasi, dokumentasi, serta membantu memastikan proses pemilihan berjalan sesuai prosedur dan prinsip demokrasi.

Ketua Tim Relawan UNUSIDA, Moch Fabet Ali Thoufan, menyampaikan bahwa keikutsertaan mahasiswa dalam agenda tersebut tidak hanya menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga sarana pembelajaran langsung mengenai dinamika sosial dan praktik demokrasi di lapangan.

“Melalui kegiatan ini, seluruh tim relawan tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi juga belajar memahami proses demokrasi secara nyata. Ini menjadi pengalaman berharga untuk melatih sikap kritis, tanggung jawab sosial, dan kemampuan berkolaborasi dengan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa dalam tim Monev diharapkan mampu membentuk karakter generasi muda yang aktif, responsif, dan berintegritas dalam mendukung pembangunan daerah.

Bagi para relawan, turun langsung ke tengah masyarakat menjadi pengalaman yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas. Mereka berhadapan langsung dengan dinamika pemilihan, interaksi warga, serta proses penyelenggaraan demokrasi di tingkat akar rumput. Situasi tersebut memberikan pemahaman baru bahwa demokrasi bukan hanya teori dalam buku, melainkan praktik sosial yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

“Jadi tugas relawan kali ini adalah melakukan observasi lapangan, dokumentasi kegiatan, serta membantu memastikan proses Pilkades berlangsung sesuai prosedur, regulasi, dan prinsip-prinsip demokrasi yang berlaku,” terangnya.

Dengan semangat kolaborasi dan pengabdian, Kepala Bagian Peningkatan Kinerja Tenaga Kependidikan UNUSIDA tersebut terus mendorong mahasiswanya untuk mengambil peran dalam berbagai agenda strategis masyarakat. Keterlibatan dalam Monev Pilkades menjadi salah satu wujud nyata kampus dalam memperkuat nilai-nilai demokrasi lokal sekaligus membangun kepedulian sosial mahasiswa terhadap lingkungan sekitarnya.

“Kolaborasi ini menjadi wujud nyata bagaimana kalangan akademisi dapat mengambil peran penting dalam mendukung terciptanya demokrasi yang inklusif, transparan, dan berintegritas di Kabupaten Sidoarjo,” tambahnya.

Sementara itu, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMP) Kabupaten Sidoarjo, Yustina Tri Prastiwi, menyampaikan apresiasinya atas partisipasi civitas akademika UNUSIDA dalam menyukseskan pelaksanaan Pilkades Serentak tahun ini.

“Keberadaan tim monitoring dan evaluasi ini bertujuan untuk meninjau secara langsung pelaksanaan demokrasi di tingkat desa agar berjalan tertib, aman, dan lancar. Kami sangat mengapresiasi keterlibatan UNUSIDA yang telah mendukung proses ini,” tuturnya.

Yustina menjelaskan, hasil monitoring yang dilakukan tim nantinya tidak hanya menjadi catatan lapangan semata, tetapi juga akan digunakan sebagai bahan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Pilkades di Kabupaten Sidoarjo.

“Kami berharap, sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Pilkades serentak kali ini mampu menghadirkan proses demokrasi yang semakin berkualitas, transparan, dan partisipatif. Kehadiran relawan UNUSIDA pun menjadi bukti bahwa dunia akademik memiliki peran penting dalam mengawal demokrasi, bahkan hingga ke tingkat desa,” pungkasnya.

Sosialisasi Program Magang IT Batch 2026 PT SIAP bagi Mahasiswa FILKOM UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

FILKOM UNUSIDA Gelar Kuliah Tamu Bareng PT SIAP, Dorong Mahasiswa Jadi Inovator Digital dalam Program Magang IT Batch 2026

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) menggelar Sosialisasi Program Magang IT Batch 2026 bersama PT Surya Inti Aneka Pangan (SIAP) di Hall Kampus 2 UNUSIDA, Selasa (20/5/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembekalan bagi mahasiswa untuk memahami kebutuhan dunia industri digital sekaligus memperkuat kesiapan kompetensi mahasiswa menghadapi tantangan revolusi industri berbasis teknologi.

Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FILKOM UNUSIDA dengan antusias tinggi. Sosialisasi menghadirkan pemateri dari PT SIAP yang membagikan pengalaman serta peluang pengembangan karier di bidang teknologi informasi dan industri digital.

Dalam sambutannya, Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T., menegaskan bahwa perkembangan industri digital bergerak sangat cepat, bahkan telah memasuki era revolusi industri generasi kelima yang ditandai dengan integrasi kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) dalam berbagai sektor pekerjaan.

“Banyak pekerjaan saat ini dibantu oleh AI, bukan diambil alih. Karena itu mahasiswa harus memiliki skill yang nyata agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” ujarnya.

Ia menyoroti fenomena banyaknya lulusan perguruan tinggi yang memiliki gelar akademik namun belum diimbangi dengan kemampuan praktis di bidangnya. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan tinggi, khususnya di bidang teknologi informasi.

“Indonesia tidak kekurangan lulusan sarjana, tetapi masih kekurangan sumber daya manusia yang benar-benar memiliki keterampilan. Jangan sampai lulusan informatika tidak bisa membuat aplikasi, lulusan sistem informasi tidak mampu menyusun proposal transformasi digital, atau lulusan desain komunikasi visual tidak bisa membuat poster dan mengedit video,” tegasnya.

Ia berharap melalui program magang tersebut mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga kemampuan praktis yang dapat menjadi bekal menghadapi dunia kerja dan industri digital yang kompetitif.

Selain itu, ia juga memperkenalkan keberadaan mahasiswa internasional di lingkungan FILKOM UNUSIDA sebagai bentuk berkembangnya jejaring akademik kampus di tingkat global. Menurutnya, kolaborasi lintas negara menjadi peluang penting untuk pertukaran pengetahuan dan pengalaman di bidang teknologi.

Sementara itu, Wakil Rektor III UNUSIDA dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun pola pikir mahasiswa agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi baru yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Selama ini kita cenderung menjadi konsumen teknologi. Padahal yang lebih mahal adalah bagaimana kita mampu menciptakan sesuatu, memproduksi inovasi, dan memberikan solusi melalui teknologi,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa mahasiswa ilmu komputer harus siap menghadapi tantangan dunia industri digital yang terus berkembang. Menurutnya, pengalaman praktis melalui program magang menjadi sarana penting untuk mempertemukan teori di bangku kuliah dengan kebutuhan nyata di lapangan.

“Jangan hanya menjadi pengguna aplikasi, tetapi belajarlah menjadi pencipta aplikasi, pengelola sistem, bahkan membangun perusahaan digital sendiri,” pesannya kepada mahasiswa.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif berdiskusi dan menggali ilmu sebanyak mungkin dari praktisi industri yang hadir. Kegiatan sosialisasi tidak hanya menjadi forum pengenalan program magang, tetapi juga wadah penguatan wawasan mahasiswa mengenai dunia industri digital, manajemen perusahaan teknologi, hingga peluang pengembangan startup berbasis teknologi informasi.

“Mahasiswa harus mampu meningkatkan kompetensi teknis melalui Program Magang IT Batch 2026 ini, memperluas pengalaman profesional, serta memiliki kesiapan yang lebih matang dalam menghadapi transformasi industri digital di masa depan,” pungkasnya.

Iyung Fachrur Rozi, Alumni Informatika UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Dari Ruang Kelas ke Dunia Industri: Iyung Fachrur Rozi, Alumni Informatika UNUSIDA yang Kini Berkarier sebagai Programmer

Dunia teknologi yang terus berkembang membutuhkan sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, serta memiliki kemampuan problem solving yang kuat. Hal tersebut tercermin dalam perjalanan karier Iyung Fachrur Rozi, S.Kom., alumni Program Studi Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2025 yang kini berkarier sebagai Programmer di PT. Madina Mentari Teknologi.

Bagi Iyung, menjadi mahasiswa Informatika UNUSIDA bukan sekadar perjalanan akademik untuk memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, masa perkuliahannya menjadi ruang pembelajaran yang membentuk kemampuan berpikir logis, keterampilan pemrograman, hingga kesiapan menghadapi kebutuhan industri teknologi yang dinamis.

“Menjadi mahasiswa Informatika UNUSIDA adalah pengalaman berkesan karena saya tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung praktik membangun sistem nyata yang relevan dengan dunia kerja,” ungkap Iyung kepada Humas UNUSIDA, Ahad (17/5/2026).

Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan profesionalnya saat ini. Di tengah perkembangan industri digital yang menuntut inovasi cepat dan kemampuan adaptasi tinggi, pengalaman praktik yang diperoleh selama masa kuliah memberikan nilai tambah tersendiri.

Selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, Iyung merasakan bahwa proses pembelajaran yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga menekankan aspek implementasi. Mahasiswa didorong untuk terlibat dalam berbagai proyek, pengembangan sistem, serta penyelesaian studi kasus yang relevan dengan kebutuhan dunia industri.

Pendekatan pembelajaran tersebut membantu mahasiswa memahami bagaimana konsep pemrograman, pengembangan perangkat lunak, serta manajemen sistem diterapkan secara nyata dalam lingkungan profesional. Melalui berbagai pengalaman proyek, mahasiswa tidak hanya belajar menulis kode, tetapi juga memahami proses analisis kebutuhan pengguna, desain sistem, hingga penyelesaian masalah berbasis teknologi.

Menurut Iyung, lingkungan akademik yang suportif menjadi salah satu faktor penting yang mendukung perkembangan kompetensinya. Dukungan dosen yang kompeten dan terbuka terhadap diskusi membuat proses belajar terasa lebih dinamis dan aplikatif.

“Lingkungan akademik yang suportif dan dosen yang kompeten membantu saya mengembangkan kemampuan problem solving serta logika pemrograman secara mendalam,” jelasnya.

Kemampuan problem solving sendiri menjadi salah satu aspek yang sangat penting dalam profesi programmer. Dalam dunia kerja, seorang programmer tidak hanya dituntut mampu membuat program berjalan dengan baik, tetapi juga harus mampu menemukan solusi atas berbagai tantangan teknis yang muncul selama proses pengembangan teknologi.

Kini, sebagai seorang programmer di PT. Madina Mentari Teknologi, Iyung merasakan secara langsung bagaimana fondasi yang dibangun selama kuliah berperan besar dalam mendukung pekerjaannya. Ia menghadapi berbagai tantangan industri yang membutuhkan ketelitian, kemampuan analitis, serta kecepatan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.

Menurutnya, dunia teknologi adalah bidang yang bergerak sangat cepat. Bahasa pemrograman, framework, hingga kebutuhan industri dapat berubah dalam waktu singkat. Oleh sebab itu, seseorang yang berkarier di bidang teknologi harus memiliki pola pikir pembelajar dan kesiapan untuk terus mengembangkan kompetensi.

“Kini, sebagai seorang programmer, saya merasakan bahwa fondasi yang dibangun selama kuliah sangat berperan dalam menghadapi tantangan industri teknologi,” ujarnya.

Selain pembelajaran di kelas, pengalaman proyek selama kuliah juga menjadi bekal berharga dalam memahami kebutuhan industri secara nyata. Keterlibatan dalam proyek pengembangan sistem membuat Iyung terbiasa bekerja secara sistematis, memahami alur kerja pengembangan teknologi, serta berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas berbasis tim.

Ia menilai bahwa kampus memiliki peran besar dalam membentuk dasar keilmuan sekaligus pola pikir profesional seorang mahasiswa. Melalui pembelajaran yang terstruktur dan aplikatif, mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan teknis, tetapi juga diajarkan bagaimana menghadapi tantangan pekerjaan secara profesional.

“Kampus berperan penting dalam membentuk dasar keilmuan dan pola pikir saya sebagai seorang programmer melalui pembelajaran yang terstruktur dan aplikatif. Dukungan dosen serta pengalaman proyek selama kuliah membantu saya memahami kebutuhan industri secara nyata,” tuturnya.

Bekal tersebut membuatnya lebih siap dan percaya diri dalam memulai serta mengembangkan karier di bidang teknologi. Baginya, kesiapan memasuki dunia kerja tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses belajar yang konsisten, lingkungan yang mendukung, dan kemauan untuk terus berkembang.

Kisah Iyung Fachrur Rozi menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana pendidikan tinggi dapat berperan penting dalam membentuk generasi profesional yang siap bersaing di dunia kerja. Perjalanan kariernya menunjukkan bahwa kombinasi antara pembelajaran teoritis, praktik nyata, dan dukungan akademik mampu menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Sebagai alumni Informatika UNUSIDA, Iyung juga memberikan pesan bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan agar memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin untuk memperkuat kompetensi dan memperluas pengalaman.

Menurutnya, mahasiswa tidak perlu takut mencoba hal baru, mengikuti proyek, maupun mengasah keterampilan di luar ruang kelas. Sebab, pengalaman tersebut akan menjadi bekal penting ketika memasuki dunia profesional.

“Alumni UNUSIDA harus membuktikan bahwa lulusan muda hari ini mampu bersaing dan berkontribusi dalam industri teknologi. Kisah inspiratif ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa UNUSIDA untuk terus membangun kompetensi, mengembangkan inovasi, dan berani mengambil peran dalam menghadapi tantangan era digital,” pungkasnya.

Agung Yundi, Analis SDM Aparatur LLDikti Wilayah VII Jawa Timur saat menyampaikan materi dalam LKMM-TM UNUSIDA 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Ketua Tim Kerja Kemahasiswaan LLDikti Wilayah VII Jawa Timur, Agung Yundi Tekankan Mahasiswa Harus Aktif dan Berdampak

SIDOARJO — Ketua Tim Kerja Kemahasiswaan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII Jawa Timur, Agung Yundi menjelaskan arah kebijakan pemerintah di bidang pendidikan tinggi sekaligus pentingnya peran aktif mahasiswa dalam pengembangan kapasitas diri. Hal tersebut disampaikan dalam Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) 2026, di Hall Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur KM 5,5 Sidoarjo, (12/5/2026).

Dalam pemaparannya, Agung Yundi menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton dalam sistem pendidikan tinggi. Menurutnya, mahasiswa harus mampu menjadi aktor perubahan yang hadir membawa dampak nyata bagi lingkungan sekitar maupun masa depan dirinya sendiri.

Pria yang merupakan Alumni S1 Ilmu Hukum Universitas Jember dan Alumni S2 Ilmu Hukum Universitas Airlangga tersebut menyampaikan pesan reflektif yang menjadi penutup materinya dan mendapat perhatian besar dari peserta.

“Kalau tidak ingin menganggur saat lulus nanti, maka jangan belajar menjadi penganggur saat masih menjadi mahasiswa. Aktiflah, bergeraklah, mari berdampak,” ujarnya

Lebih lanjut, Agung juga menekankan pentingnya masa kuliah bukan sekadar fase akademik, melainkan momentum membangun kompetensi, pengalaman, serta karakter kepemimpinan. Ia menilai keterlibatan mahasiswa dalam organisasi, forum pelatihan, maupun kegiatan kampus seperti LKMM-TM merupakan investasi penting untuk menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan sosial di masa mendatang.

Selain itu, Agung juga menjelaskan arah kebijakan pemerintah di bidang pendidikan tinggi yang saat ini menuntut mahasiswa lebih adaptif, kolaboratif, serta memiliki kemampuan manajerial dan kepemimpinan yang baik. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga individu yang mampu bekerja sama, berpikir kritis, dan menyelesaikan persoalan secara sistematis.

Ia menambahkan bahwa LKMM-TM menjadi ruang strategis dalam membentuk karakter tersebut karena mahasiswa dilatih memahami pola kerja organisasi, pengambilan keputusan, manajemen program, hingga kemampuan komunikasi dan koordinasi tim.

“Mahasiswa hari ini harus memiliki nilai tambah. Tidak cukup hanya mengandalkan IPK, tetapi juga pengalaman organisasi, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan,” jelasnya.

Ia menyebut, LKMM-TM menjadi upaya pengembangan kepemimpinan mahasiswa dalam bentuk pelatihan untuk membentuk mahasiswa yang mampu berpikir strategis, memiliki kemampuan manajerial, serta siap menjadi pemimpin di berbagai bidang. Program ini menjadi salah satu wadah penting dalam menanamkan nilai kepemimpinan, tanggung jawab, dan kolaborasi di lingkungan mahasiswa UNUSIDA.

“Melalui LKMM-TM ini, kami berupaya mendorong mental untuk memanfaatkan masa studi sebagai proses pembentukan kapasitas diri dan kesiapan menghadapi masa depan. Serta diharapkan mampu melahirkan generasi mahasiswa yang siap memimpin, siap berkontribusi, dan siap memberikan dampak positif bagi masyarakat,” pungkasnya.

Plt. Rektor Buka LKMM-TM UNUSIDA 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

LKMM-TM 2026 UNUSIDA Tekankan Peran Ormawa dalam Membangun Kampus Unggul

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM) Angkatan VII Tahun 2026 dengan mengusung tema Ormawa Super, UNUSIDA Super. Kegiatan resmi dibuka di Hall Kampus 2 UNUSIDA pada Selasa (12/5/2026) dan dilanjutkan di Pondok Darul Mutta’allimin, Trawas, Mojokerto pada Kamis–Sabtu (14–16/5/2026).

Dalam arahannya, Plt. Rektor UNUSIDA, Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menekankan tiga hal penting yang harus dimiliki mahasiswa peserta LKMM-TM, yakni komunikasi, kecepatan merespons, dan evaluasi berkelanjutan.

Menurutnya, komunikasi bukan sekadar berbicara, melainkan bagaimana pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh penerima. Selain itu, mahasiswa juga dituntut memiliki kepekaan dan kecepatan dalam merespons berbagai persoalan organisasi maupun sosial.

“Mahasiswa yang terlatih secara manajerial harus mampu bergerak cepat, peka terhadap situasi, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik,” tegasnya.

Beliau juga menambahkan bahwa evaluasi harus dilakukan secara berkelanjutan selama proses kegiatan berlangsung. Keberhasilan sebuah kegiatan, menurutnya, tidak hanya dilihat dari hasil akhir, tetapi juga tampak dari kualitas proses, partisipasi, dan kedisiplinan peserta selama mengikuti pelatihan.

Hadi Ismanto menegaskan bahwa LKMM-TM bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan ruang pembentukan karakter mahasiswa agar siap menjadi penggerak organisasi kemahasiswaan yang unggul dan berdampak.

Melalui LKMM-TM 2026, ia berharap lahir kader-kader organisasi mahasiswa yang komunikatif, responsif, dan reflektif, sejalan dengan visi kampus dalam mencetak generasi mahasiswa unggul dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Kegiatan ini menjadi wadah penguatan kapasitas mahasiswa dalam bidang manajemen organisasi, kepemimpinan, serta pengembangan karakter sebagai penggerak organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus,” jelasnya.

Sementara itu,

Kepala Biro Kemahasiswaan UNUSIDA, Fajar Nur Yasin, M.Pd., menyampaikan bahwa salah satu inovasi dalam pelaksanaan LKMM-TM tahun ini adalah penerapan sistem absensi digital menggunakan barcode pada kartu identitas peserta.

Melalui sistem tersebut, data kehadiran peserta dapat langsung terekam secara otomatis sehingga proses kontrol pelatihan menjadi lebih efektif dan akurat. Selain itu, inovasi ini juga menjadi langkah dalam membangun budaya disiplin mahasiswa selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

“Dengan absensi barcode, kehadiran peserta dapat dipantau secara real time sehingga kedisiplinan peserta semakin meningkat,” ujarnya.

Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut mengungkapkan bahwa pihaknya secara konsisten melakukan evaluasi dan inovasi setiap tahun guna memastikan penguatan Ormawa berjalan semakin efektif. Menurutnya, LKMM-TM bukan sekadar agenda rutin, melainkan instrumen pembentukan karakter kepemimpinan mahasiswa yang berintegritas dan visioner.

“Evaluasi dan inovasi selalu kami lakukan agar penguatan Ormawa dalam pembangunan kampus semakin baik dari tahun ke tahun. LKMM-TM menjadi ruang belajar yang sangat penting bagi mahasiswa untuk memahami tata kelola organisasi secara profesional,” ungkapnya.

Semangat kebersamaan, kedisiplinan, dan keseriusan peserta tampak jelas selama kegiatan berlangsung. Hal tersebut terlihat dari antusiasme mahasiswa saat mengikuti sesi materi, diskusi kelompok, hingga refleksi pembelajaran yang berjalan secara intensif dan terarah.

“Kader-kader Ormawa harus mampu menjadi motor penggerak kemajuan kampus. Dengan pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan, kami optimis Ormawa akan semakin berkontribusi dalam menciptakan ekosistem kemahasiswaan yang aktif, progresif, dan berdampak nyata bagi civitas akademika,” pungkasnya.

KPP Pratama Sidoarjo Utara Edukasi Mahasiswa UNUSIDA Melalui Tax Goes to Campus (Foto: Humas UNUSIDA)

Tax Goes to Campus di UNUSIDA: Hima Akuntansi Gandeng KPP Sidoarjo Utara Kenalkan Implementasi Coretax

SIDOARJO — Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Sidoarjo Utara kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi perpajakan di kalangan generasi muda melalui kegiatan Tax Goes to Campus di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Kamis (07/05/2026). Kegiatan bertema implementasi sistem perpajakan terbaru Coretax ini digelar secara hybrid di Auditorium Lantai 5 Kampus 2 UNUSIDA serta melalui Zoom Meeting, dengan sekitar 160 peserta daring.

Dekan Fakultas Ekonomi UNUSIDA, Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M., menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan rasa percaya diri mahasiswa melalui praktik langsung di lapangan.

“Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmunya di masyarakat. Kehadiran mahasiswa dalam membantu masyarakat menghadapi persoalan pajak menjadi bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat,” tuturnya.

Ia berharap kerja sama antara Fakultas Ekonomi UNUSIDA dan KPP Pratama Sidoarjo Utara dapat terus berlanjut serta melahirkan mahasiswa yang kompeten, profesional, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja di bidang perpajakan.

“Kolaborasi seperti ini sangat penting untuk memberikan wawasan praktis kepada mahasiswa terkait kebijakan dan sistem perpajakan terbaru. Kami berharap sinergi ini terus terjalin demi mencetak lulusan yang unggul dan adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja,” jelasnya.

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi sekaligus edukasi bagi mahasiswa terkait perkembangan sistem administrasi perpajakan modern di Indonesia. Selain itu, agenda ini memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dalam membangun kesadaran pajak sejak dini.

Para peserta menerima materi langsung dari praktisi dan narasumber KPP Pratama Sidoarjo Utara. Materi pertama disampaikan oleh Devi Damasantika, S.M., mengenai aktivasi Coretax dan penerbitan kode otorisasi. Selanjutnya, materi tentang kewajiban perpajakan untuk UMKM Orang Pribadi dipaparkan oleh Antonius Atet Wiyono, S.E., M.M.

Dalam pemaparannya, Antonius Atet Wiyono menjelaskan pentingnya pemahaman kewajiban perpajakan secara umum bagi mahasiswa sebagai bekal menghadapi kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja. Ia memberikan gambaran sederhana mengenai tampilan aplikasi Coretax agar mudah dipahami oleh peserta.

Selain itu, ia juga menjelaskan ketentuan perpajakan bagi Orang Pribadi yang memiliki penghasilan di bawah Rp4,8 miliar per tahun. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022, wajib pajak dengan kategori tersebut hanya dikenakan pajak sebesar 0,5 persen dari omzet per bulan. Penjelasan sederhana ini diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami dasar perhitungan perpajakan secara praktis dan mudah diterapkan.

“Mahasiswa diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang akurat di tengah masyarakat terkait perpajakan dan penggunaan sistem digital perpajakan,” ujarnya.

Selain itu, pengenalan tampilan aplikasi Coretax memberi panduan awal bagi mahasiswa agar lebih familiar dengan sistem administrasi perpajakan digital. Pendekatan ini diharapkan mampu mengarahkan pemanfaatan gawai ke aktivitas yang lebih produktif dan edukatif.

Atet sapaan akrabnya, menambahkan bahwa pengenalan aplikasi Coretax dapat menjadi panduan positif bagi mahasiswa dalam memanfaatkan gadget dan perangkat digital secara lebih produktif. Menurutnya, kolaborasi antara literasi digital, familiarisasi Coretax, dan literasi perpajakan menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi dan administrasi modern.

“Kami akan terus memperkuat kolaborasi literasi digital, familiarisasi Coretax, dan literasi perpajakan. Kami harap mahasiswa saat ini mampu menjadi sumber informasi yang akurat di tengah masyarakat saat mereka terjun ke dunia kerja maupun wirausaha,” ungkapnya.

Riyadhoh Spiritual Fakultas Ekonomi UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Riyadhoh Spiritual Fakultas Ekonomi UNUSIDA, Meneladani Jejak Muassis NU

JOMBANG — Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melaksanakan kegiatan riyadhoh pada Selasa (5/5/2026). Kegiatan ini diikuti seluruh jajaran struktural fakultas, mulai dari dekanat, kepala program studi, dosen, hingga tenaga kependidikan.

Rangkaian kegiatan diisi dengan ziarah ke makam para ulama kharismatik yang memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan Islam dan Nahdlatul Ulama di Indonesia. Adapun lokasi ziarah meliputi makam KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Bisri Syansuri, KH. Abdul Wahab Chasbullah, serta Sayyid Sulaiman. Keempat tokoh tersebut dikenal luas atas kontribusinya dalam pengembangan pendidikan, dakwah, serta perjuangan kebangsaan.

Dekan Fakultas Ekonomi UNUSIDA Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M., menyampaikan bahwa kegiatan spiritual seperti ini penting untuk membangun karakter civitas akademika yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki ketenangan batin dan nilai-nilai keislaman yang kuat.

“Kampus tidak hanya menjadi ruang belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat membangun akhlak, spiritualitas, dan kebersamaan. Semoga kegiatan ini membawa keberkahan bagi seluruh keluarga besar Fakultas Ekonomi UNUSIDA,” ujarnya.

Ia berharap, riyadhoh ini membawa keberkahan serta dampak positif bagi seluruh civitas akademika Fakultas Ekonomi UNUSIDA dalam menjalankan aktivitas akademik maupun pengabdian kepada masyarakat.

“Semoga keberkahan riyadhoh ini dapat menjadi pelecut semangat bagi seluruh civitas akademika Fakultas Ekonomi UNUSIDA dalam menjalankan amanah pendidikan,” ungkapnya.

Setibanya di lokasi pertama, makam KH. M. Hasyim Asy’ari, seluruh peserta melaksanakan pembacaan tahlil dan doa bersama yang dipimpin salah satu dosen. Kekhusyukan terasa saat peserta mengenang jasa pendiri NU tersebut.

Perjalanan dilanjutkan ke makam KH. Bisri Syansuri. Selain doa dan tahlil, peserta mendapatkan tausiyah singkat tentang pentingnya menjaga nilai keilmuan dan keikhlasan dalam berkhidmah, sebagaimana teladan para ulama terdahulu. Momen ini menjadi refleksi bersama untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik secara akademik maupun spiritual.

Di makam KH. Abdul Wahab Chasbullah hingga di makam Sayyid Sulaiman, rombongan kembali melantunkan doa bersama. Disampaikan pula penjelasan singkat mengenai peran beliau dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan kiprahnya membangun NU. Wawasan historis ini meneguhkan kesadaran akan pentingnya peran ulama dalam perjalanan bangsa.