Amaliyah NU: Rahasia Menebarkan Kasih Sayang, Menjaga Lisan, dan Memperbaiki Akhlak 1

Amaliyah NU: Rahasia Menebarkan Kasih Sayang, Menjaga Lisan, dan Memperbaiki Akhlak

Sidoarjo – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar Kajian Aswaja Ngaji Rutin Pasaran Ba’da Dhuhur di Masjid K.H.M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo sebagai bagian dari upaya memperkuat tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah di lingkungan kampus. Kegiatan yang diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta masyarakat umum tersebut menjadi ruang pembelajaran sekaligus refleksi spiritual untuk mengamalkan ajaran Islam yang moderat, santun, dan berorientasi pada pembentukan akhlak mulia.

Kajian yang diasuh oleh Machfudzil Asror, M.Pd.I. ini mengkaji Kitab Arbain karya Hadratussyaikh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari, sebuah kitab yang berisi kumpulan hadis-hadis pilihan sebagai pedoman pembentukan karakter seorang muslim. Kitab tersebut menjadi salah satu warisan intelektual ulama Nusantara yang hingga kini masih relevan dijadikan rujukan dalam membangun kehidupan beragama yang seimbang antara aspek ibadah, akhlak, dan hubungan sosial kemasyarakatan.

Pada pertemuan kali ini, kajian membahas beberapa hadis yang mengajarkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya pentingnya kasih sayang kepada sesama, menjaga lisan dan perbuatan, makna hijrah yang sesungguhnya, serta adab menjaga rencana dan nikmat yang Allah SWT berikan. Seluruh materi disampaikan dengan pendekatan yang aplikatif sehingga mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, kampus, maupun masyarakat.

Dalam penjelasannya, Machfudzil Asror menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan agar setiap muslim memiliki sifat penyayang terhadap seluruh makhluk Allah SWT. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:

“Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya Dzat yang di langit akan menyayangi kalian.”
(HR. Abu Dawud No. 4941 dan At-Tirmidzi No. 1924).

Menurut beliau, kasih sayang merupakan fondasi utama dalam membangun hubungan antarmanusia. Sikap tersebut tidak hanya diwujudkan kepada keluarga atau orang-orang yang dikenal, tetapi juga kepada siapa pun tanpa memandang latar belakang suku, budaya, maupun status sosial. Bahkan, Islam juga mengajarkan kasih sayang kepada hewan, tumbuhan, serta lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Baca juga:  UNUSIDA Hadir dalam LKBBT Gayatra 2025 Wadah Pembinaan Disiplin dan Kehormatan Pelajar Jawa Timur

Ia menjelaskan bahwa dalam dunia pendidikan, nilai kasih sayang memiliki peran yang sangat penting. Seorang pendidik tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membimbing, melayani, dan memberikan keteladanan kepada peserta didik. Dengan pendekatan yang penuh kasih sayang, proses pendidikan akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai tersebut selaras dengan visi pendidikan Islam yang menempatkan akhlak sebagai tujuan utama pembelajaran.

Kajian juga menegaskan pentingnya menjaga lisan dan perbuatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari No. 10 dan Muslim No. 40).

Machfudzil Asror menjelaskan bahwa hadis tersebut mengandung pesan yang sangat relevan di tengah perkembangan teknologi informasi dan media sosial saat ini. Seorang muslim dituntut untuk lebih berhati-hati dalam berbicara, menulis, maupun menyebarkan informasi. Perkataan yang mengandung fitnah, ghibah, ujaran kebencian, maupun informasi yang belum jelas kebenarannya dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain dan merusak ukhuwah Islamiyah.

Beliau mengingatkan bahwa keislaman seseorang tidak hanya diukur dari kesungguhan menjalankan ibadah ritual seperti salat, puasa, dan membaca Al-Qur’an, tetapi juga tercermin dari perilaku sehari-hari yang membawa rasa aman, nyaman, dan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, menjaga lisan merupakan salah satu bentuk ibadah yang harus senantiasa dilatih agar setiap ucapan bernilai kebaikan dan tidak menyakiti hati orang lain.

Selain itu, pemateri menjelaskan bahwa hijrah yang dimaksud Rasulullah ﷺ bukan hanya berpindah tempat, melainkan berpindah dari kebiasaan buruk menuju ketaatan kepada Allah SWT. Hijrah merupakan proses perubahan diri yang dilakukan secara terus-menerus melalui perbaikan akhlak, peningkatan kualitas ibadah, dan pengendalian hawa nafsu.

Baca juga:  Komunitas Dorong Keinginan Berkuliah

Dalam perspektif tasawuf, proses tersebut dimulai dengan takhalli, yaitu membersihkan hati dari berbagai sifat tercela seperti iri, dengki, sombong, riya’, dan hasad. Setelah itu dilanjutkan dengan tahalli, yakni menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji seperti ikhlas, sabar, jujur, amanah, rendah hati, kasih sayang, dan tawadhu’. Menurut Machfudzil Asror, kedua tahapan tersebut menjadi bekal penting dalam membentuk pribadi muslim yang berakhlakul karimah serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pada kesempatan yang sama juga disampaikan nasihat agar setiap muslim menjaga rencana yang masih dalam proses. Mengacu pada riwayat Imam ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir, umat Islam dianjurkan untuk tidak tergesa-gesa mengumbar rencana yang belum terwujud. Sebaliknya, seseorang hendaknya memperbanyak doa, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT sembari menjaga kerahasiaan rencana hingga benar-benar siap diwujudkan.

Sikap tersebut merupakan bentuk kehati-hatian agar terhindar dari rasa dengki, prasangka buruk, maupun berbagai hambatan yang dapat mengganggu proses ikhtiar. Selain itu, menjaga rencana juga melatih seseorang untuk lebih fokus bekerja daripada sekadar mencari pengakuan. Setelah cita-cita atau program berhasil diwujudkan, barulah hasilnya dapat disampaikan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Di akhir kajian, Machfudzil Asror mengajak seluruh peserta untuk menjadikan hadis-hadis Rasulullah ﷺ sebagai pedoman hidup yang diamalkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, ilmu yang dipelajari tidak akan memberikan keberkahan apabila berhenti pada aspek pengetahuan semata, melainkan harus diwujudkan dalam perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.

Melalui Kajian Aswaja Ngaji Rutin Pasaran, UNUSIDA terus berkomitmen memperkuat pemahaman keislaman warga kampus berdasarkan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah. Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar kampus dalam membangun budaya akademik yang berpadu dengan nilai-nilai spiritual sehingga lahir insan akademik yang unggul, berintegritas, dan berakhlakul karimah. Nilai-nilai yang diajarkan Hadratussyaikh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi amaliyah yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui akhlak mulia, kepedulian sosial, semangat menebarkan rahmat bagi seluruh alam, serta pengabdian nyata kepada agama, bangsa, dan masyarakat.

Baca juga:  Bangun Kewaspadaan Dini Masyarakat, Dosen UNUSIDA Soroti Kerawanan Penyalahgunaan Gadget pada Anak

Reporter: Humas UNUSIDA