Pos

Gerakan Satu Juta Pohon (Foto: Istimewa)

Hari Gerakan Satu Juta Pohon: Komitmen Peran Akademisi dalam Pelestarian Lingkungan dan Keberlanjutan

Peringatan Hari Gerakan Satu Juta Pohon setiap tanggal 10 Januari merupakan momentum strategis untuk memperkuat kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Bagi perguruan tinggi, peringatan ini tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan peran kampus dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam perspektif keilmuan Teknik Lingkungan, pohon memiliki fungsi ekologis yang sangat vital. Pohon berperan sebagai penyerap karbon dioksida, pengendali iklim mikro, pelindung tanah dan sumber daya air, serta peningkat kualitas udara. Di tengah tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan krisis ekologi yang semakin kompleks, keterlibatan institusi pendidikan tinggi menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang.

Sebagai kampus yang terus mengembangkan konsep green campus, peringatan Hari Gerakan Satu Juta Pohon dapat diimplementasikan melalui kegiatan penanaman pohon yang terencana dan berbasis fungsi lingkungan. Penanaman vegetasi peneduh, tanaman penahan erosi, maupun pohon dengan kemampuan menyerap polutan merupakan langkah konkret untuk menciptakan lingkungan kampus yang sehat, asri, dan berkelanjutan.

Selain berdampak secara ekologis, kegiatan tersebut juga memiliki nilai edukatif yang kuat. Penanaman pohon dapat menjadi media pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Melalui keterlibatan langsung dalam aksi lingkungan, mahasiswa tidak hanya memahami konsep keberlanjutan sebagai teori di ruang kelas, tetapi juga sebagai praktik nyata yang terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, momentum Hari Gerakan Satu Juta Pohon dapat menjadi titik awal pengembangan penelitian terapan dan program pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada isu lingkungan. Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat sekitar kampus diharapkan mampu menghasilkan dampak yang lebih luas, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan sosial dan lingkungan.

Melalui peringatan ini, civitas akademika diharapkan dapat menanamkan kesadaran bahwa pelestarian lingkungan bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan komitmen berkelanjutan yang harus diwujudkan dalam setiap aktivitas akademik. Dengan mengintegrasikan nilai lingkungan, green campus, dan keberlanjutan ke dalam Tridharma Perguruan Tinggi, kampus berkontribusi nyata dalam menyiapkan generasi yang peduli, bertanggung jawab, dan berorientasi pada masa depan bumi yang lebih baik.

Oleh: Muchammad Tamyiz, S.Si., M.Si., Ph.D.
Kepala Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA)

Rapat Perdana BEM-FT UNUSIDA 2025–2026 (Foto: Rifki Hidayat/BEM-FT UNUSIDA)

Rapat Perdana BEM-FT UNUSIDA 2025–2026, Bangun Fondasi Organisasi yang Solid, Disiplin, dan Kolaboratif

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (BEM-FT UNUSIDA) secara resmi memulai roda kepengurusan periode 2025–2026 melalui pelaksanaan Rapat Perdana yang digelar di Kedai Ahmed 4, l. Sekawan Anggun raya No.30, Perum Bef, Bulusidokare, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (27/12/2025).

Rapat perdana tersebut tidak hanya diikuti oleh jajaran pengurus inti BEM-FT UNUSIDA, tetapi juga melibatkan seluruh organisasi mahasiswa di lingkungan Fakultas Teknik, yakni Himpunan Mahasiswa Teknik Industri, Teknik Lingkungan, dan Teknik Kimia. Forum ini menjadi ruang konsolidasi awal untuk menyatukan visi, menyelaraskan gerak, serta memperkuat komunikasi lintas ormawa fakultas.

Rapat dipimpin langsung oleh Gubernur BEM-FT UNUSIDA Periode 2025–2026, Marendra Firdaus Putra, didampingi Wakil Gubernur Ulil Najwa. Agenda awal rapat diisi dengan penyampaian Tata Tertib Organisasi sebagai pijakan kerja kolektif Kabinet Mandala Aksi. Pemaparan tata tertib ini dimaksudkan untuk membangun kesamaan persepsi mengenai mekanisme kerja, kedisiplinan, serta tanggung jawab struktural setiap pengurus.

Marendra menegaskan bahwa tata tertib organisasi tidak dimaknai sebatas aturan administratif, melainkan sebagai instrumen etika dan komitmen bersama. Ia menyebut, rapat kali ini menjadi langkah awal strategis dalam membangun fondasi organisasi yang solid, disiplin, dan kolaboratif.

“Tata tertib ini kami hadirkan sebagai upaya menyelaraskan pola kerja, menjaga komitmen, dan memastikan setiap langkah BEM-FT berjalan dalam koridor tanggung jawab organisasi,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Gubernur BEM-FT UNUSIDA Ulil Najwa menekankan pentingnya tata tertib sebagai budaya kerja bersama, bukan sebagai pembatas kreativitas. Menurutnya, keberlangsungan organisasi mahasiswa sangat ditentukan oleh kesadaran kolektif dalam menaati aturan yang telah disepakati.

Melalui rapat perdana ini, ia dan tim menegaskan komitmennya untuk membangun tata kelola organisasi yang disiplin, kolaboratif, dan berorientasi pada penguatan kualitas kader. Forum ini menjadi titik awal konsolidasi gerak mahasiswa teknik dalam menyongsong satu periode kepengurusan dengan semangat sinergi dan tanggung jawab bersama.

“Disiplin organisasi tidak boleh dimaknai sebagai beban, tetapi sebagai fondasi agar setiap program dan gagasan dapat berjalan secara tertib, terukur, dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Agenda rapat kemudian dilanjutkan dengan sinkronisasi program kerja lintas organisasi mahasiswa Fakultas Teknik yang dikoordinasikan oleh Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) BEM-FT UNUSIDA. Forum ini dihadiri oleh bupati, wakil bupati, serta jajaran pengurus dari masing-masing himpunan mahasiswa Teknik Industri, Teknik Lingkungan, dan Teknik Kimia. Sinkronisasi dilakukan guna menyelaraskan kalender kegiatan, menghindari benturan agenda, serta memperkuat sinergi antarormawa.

Dalam sesi berikutnya, Departemen Riset dan Teknologi BEM-FT UNUSIDA memaparkan sejumlah rancangan program kerja. Salah satunya adalah National Essay and Poster Design Competition (NEPC) yang disampaikan oleh Koordinator Departemen Riset dan Teknologi, Rifki Hidayat. Selain itu, turut diajukan gagasan pengembangan konten edukatif berkala yang mengangkat isu-isu aktual melalui analisis kolaboratif lintas keilmuan.

“Kami ingin mendorong tradisi berpikir kritis melalui konten edukasi yang tidak sektoral, tetapi dianalisis secara integratif dari perspektif Teknik Industri, Teknik Lingkungan, dan Teknik Kimia,” jelas Rifki.

Rangkaian rapat perdana dilanjutkan dengan sosialisasi kepanitiaan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) Fakultas Teknik yang juga dikoordinasikan oleh Departemen PSDM. Sosialisasi ini disampaikan langsung oleh Koordinator PSDM, Nur Cahyo Febrianto, yang menekankan pentingnya pembentukan kepanitiaan sejak dini demi memastikan kesiapan kegiatan.

“Kegiatan ini membutuhkan persiapan yang matang, baik dari sisi manajerial maupun sumber daya manusia. Oleh karena itu, sosialisasi awal menjadi kunci kesiapan panitia secara menyeluruh,” tuturnya.

Sebagai penutup, dilaksanakan interview rekrutmen calon panitia LKMM-TD Fakultas Teknik yang dipimpin oleh Koordinator PSDM dan didampingi staf PSDM, Muchammad Waziruddin. Proses wawancara ini tidak hanya berorientasi pada seleksi teknis, tetapi juga menjadi ruang awal pembentukan chemistry dan pemetaan potensi kader.

“Kami mencari individu yang siap belajar, berproses, dan berkontribusi secara kolektif. Kaderisasi bukan sekadar agenda tahunan, tetapi investasi jangka panjang organisasi,” pungkasnya.

Penulis; Rifki Hidayat

Dinda Adinda, S.Pd. - Alumni PBI UNUSIDA (Foto: HEC 1 Pare)

Kisah Sukses Dinda Adinda Membangun Ekosistem Bahasa Inggris, Menembus Batas dengan Literasi

Pendidikan bukan sekadar tentang gelar akademik, melainkan bagaimana ilmu yang diperoleh mampu ditransformasikan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Prinsip inilah yang dibuktikan oleh Dinda Adinda, S.Pd., alumni inspiratif Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Kini, Dinda dikenal sebagai pendidik yang inspiratif, seorang pengajar muda di bidang pendidikan bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri, yang dikenal sebagai terbesar di Indonesia.

Dinda merupakan pengajar aktif Happy English Course (HEC) 1 Pare sekaligus Owner di Samudra Course. Kiprahnya di dunia pendidikan nonformal menjadi bukti bahwa lulusan PBI UNUSIDA memiliki daya saing tinggi, tidak hanya sebagai tenaga pendidik, tetapi juga sebagai edupreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja dan menghadirkan inovasi pembelajaran yang adaptif.

Dari Ruang Kelas Menuju Kemandirian Ekonomi
Perjalanan Dinda bermula dari kecintaannya terhadap dunia pendidikan dan metodologi pengajaran yang ia pelajari selama menempuh studi di UNUSIDA. Ia menyadari bahwa penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, merupakan kunci strategis untuk membuka peluang global.

“Ilmu yang saya dapatkan di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA sangat komprehensif. Tidak hanya tentang grammar dan keterampilan bahasa, tetapi juga bagaimana membangun kepercayaan diri siswa serta mengelola lembaga pendidikan secara profesional,” ungkap Dinda.

Sebagai pemilik Samudra Course, Dinda bertanggung jawab penuh atas manajemen lembaga, pengembangan kurikulum, hingga strategi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman. Di sisi lain, perannya sebagai pengajar di HEC 1 Pare menunjukkan komitmennya untuk tetap hadir langsung di ruang-ruang belajar, menyapa dan membimbing para peserta didik.

Menjaga Integritas dan Semangat Santri
Berkarier di Pare yang dikenal memiliki persaingan lembaga kursus sangat ketat tentu bukan perkara mudah. Namun, Dinda membawa nilai-nilai khas yang ia peroleh selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, kerja keras, integritas, dan spiritualitas.

Ia meyakini bahwa pengajaran bahasa Inggris tidak boleh sekadar berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga harus mengedepankan pendekatan humanis dan pembentukan karakter.

“PBI UNUSIDA membekali kami dengan pandangan filosofis bahwa mengajar adalah bagian dari pengabdian. Di Pare, saya tidak hanya melayani dalam pendidikan, tetapi membangun komunitas belajar. Semangat Reach Your Dream Through the Galaxy yang sering digaungkan prodi benar-benar memacu saya untuk bermimpi setinggi mungkin, namun tetap membumi dalam pelayanan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dinda yang juga gemar menulis novel tersebut, berpesan kepada mahasiswa PBI UNUSIDA agar tidak membatasi mimpi hanya pada profesi guru di sekolah formal. Menurutnya, peluang di dunia edupreneurship sangat terbuka lebar, terutama bagi generasi muda yang berani berinovasi.

“Kemampuan bahasa Inggris yang kuat, jika dipadukan dengan keterampilan manajemen dan kreativitas, akan menjadi kombinasi yang sangat kompetitif di dunia kerja,” pesannya.

Keberhasilannya ini menjadi bukti nyata bahwa UNUSIDA mampu mencetak lulusan yang mandiri, adaptif, dan siap menjadi pemimpin di bidangnya. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dengan ilmu yang bermanfaat, integritas, dan tekad yang kuat, alumni UNUSIDA mampu menembus batas kemungkinan dan menginspirasi generasi selanjutnya untuk terus bergerak maju.

LPMPP UNUSIDA Beri Apresiasi Monev Pembelajaran Terbaik 2025 (Foto: LPMPP UNUSIDA)

LPMPP UNUSIDA Beri Apresiasi Monev Pembelajaran Terbaik 2025, Prodi Manajemen dan Teknik Industri Raih Nilai Tertinggi

SIDOARJO – Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memberikan apresiasi kepada program studi dengan capaian terbaik dalam Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pembelajaran Internal Tahun 2025. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Hall Lantai 5 Kampus II UNUSIDA Gedung A, Selasa (30/12/2025).

Berdasarkan hasil penilaian Monev, Program Studi (Prodi) Manajemen berhasil meraih capaian tertinggi dengan nilai 94,45 jadi Prodi Terbaik di Bidang Sosial Humaniora. Disusul Program Studi Teknik Industri dengan nilai 88,33 menjadi Prodi Terbaik di Bidang Sains dan Teknologi. Capaian ini menjadi bukti komitmen kedua program studi dalam menjaga dan meningkatkan mutu pembelajaran secara berkelanjutan.

Wakil Rektor I UNUSIDA Bidang Akademik, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd.I. menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya atas prestasi yang diraih. Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan keseriusan program studi dalam penguatan tata kelola akademik dan peningkatan kualitas layanan pendidikan.

“Capaian ini menjadi bukti komitmen berkelanjutan dalam menjaga mutu pembelajaran, penguatan tata kelola akademik, serta peningkatan kualitas pendidikan di lingkungan UNUSIDA,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan penilaian ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh program studi di lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo untuk terus berinovasi, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta konsisten dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Ia menegaskan bahwa penguatan kualitas akademik dan tata kelola pendidikan yang berkelanjutan merupakan kunci utama dalam meningkatkan daya saing lulusan agar mampu berkontribusi secara nyata di tingkat lokal, nasional, maupun global.

“Semoga prestasi ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh program studi untuk terus berinovasi, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta meningkatkan daya saing lulusan,” harapnya.

Ketua LPMPP UNUSIDA, Atik Widiyanti, S.Si., M.T., menyebutkan bahwa penilaian kali ini telah dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Penilaian Monev Pembelajaran Internal ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya LPMPP UNUSIDA dalam memastikan kualitas proses pembelajaran berjalan sesuai standar mutu yang telah ditetapkan.

Melalui pelaksanaan Monev Pembelajaran Internal, LPMPP UNUSIDA terus mendorong terciptanya budaya mutu di lingkungan universitas. Upaya ini sejalan dengan komitmen UNUSIDA dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang unggul, adaptif, dan berdaya saing.

“Dengan penilaian ini, Program Studi Manajemen dan Teknik Industri harus mampu menjadi role model dalam pengelolaan pembelajaran yang berkualitas serta berkontribusi aktif dalam peningkatan mutu pendidikan di UNUSIDA,” pungkasnya.

Rektor UNUSIDA, H. Fatkul Anam Setelah Menerima Anugerah Diktisaintek 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Raih Gold Winner Kategori Pengabdian kepada Masyarakat di Anugerah Diktisaintek 2025

JAKARTA — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Pada ajang Anugerah Riset dan Pengembangan Diktisaintek 2025, UNUSIDA berhasil meraih Gold Winner dalam Kategori Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA Award) yang dilaksanakan di Graha Diktisaintek Gedung D Lantai 2, Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, Jum’at (19/12/2025).

Penghargaan ini diberikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI) kepada perguruan tinggi yang menunjukkan kinerja unggul dan konsisten dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. UNUSIDA dinilai sebagai Institusi Perguruan Tinggi Akademik Klaster Pratama/Madya dengan Skor Pengabdian kepada Masyarakat Tertinggi untuk periode 2022–2024.

Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas capaian Gold Winner BIMA Award pada Anugerah Riset dan Pengembangan Diktisaintek 2025.

“Alhamdulillah, penghargaan ini merupakan buah dari kerja kolektif seluruh civitas academica UNUSIDA yang terus berkomitmen menghadirkan pengabdian kepada masyarakat yang nyata, relevan, dan berkelanjutan. Bagi kami, pengabdian bukan sekadar kewajiban tridarma, tetapi bentuk khidmah dan tanggung jawab moral perguruan tinggi kepada umat dan bangsa,” ujarnya saat dikonfirmasi oleh Humas UNUSIDA.

Ia menegaskan bahwa capaian tersebut menjadi motivasi bagi UNUSIDA untuk terus memperkuat kualitas dan dampak program pengabdian, khususnya yang berbasis nilai keislaman, ke-NU-an, dan pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, capaian ini menegaskan posisi UNUSIDA sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik dan riset, tetapi juga kuat dalam menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Berbagai program pengabdian UNUSIDA selama ini dinilai berhasil menjawab kebutuhan riil masyarakat, mulai dari pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal, penguatan pendidikan dan literasi, inovasi teknologi tepat guna, hingga pengabdian berbasis nilai-nilai keislaman dan ke-NU-an.

“Ke depan, UNUSIDA akan terus mendorong kolaborasi dosen dan mahasiswa agar pengabdian yang dilakukan tidak hanya memenuhi indikator kinerja, tetapi benar-benar memberi manfaat luas dan berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang berkeadaban,” tambahnya.

Prestasi ini sekaligus melengkapi deretan capaian UNUSIDA dalam bidang riset, pengabdian, dan penguatan tata kelola tridarma perguruan tinggi. Konsistensi UNUSIDA dalam mengikuti dan meraih pengakuan nasional melalui berbagai program hibah, pendampingan BIMA, serta kolaborasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan menjadi fondasi kuat atas penghargaan tersebut.

Keberhasilan meraih Gold Winner BIMA Award 2025 menjadi bukti bahwa komitmen UNUSIDA sebagai kampus NU yang religius dengan semangat kewirausahaan atau motto utama Religious Campus with Entrepreneurship Spirit tidak hanya menjadi slogan, tetapi terimplementasi nyata melalui karya dan pengabdian yang berdampak luas.

Ke depan, UNUSIDA berkomitmen untuk terus memperkuat kualitas dan keberlanjutan program pengabdian kepada masyarakat, memperluas kolaborasi, serta meningkatkan kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan masyarakat yang inklusif, berdaya, dan berkeadaban.

“UNUSIDA berkomitmen menghadirkan ilmu pengetahuan yang tidak berhenti di ruang kelas dan jurnal akademik, tetapi hadir sebagai solusi nyata atas persoalan sosial di tengah masyarakat. Setiap riset dan pengabdian yang kami dorong harus mampu menjawab kebutuhan riil, memperkuat kemandirian, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” pungkasnya.

Laboran UNUSIDA Gelar Diseminasi Internal KILAB 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Diseminasi Internal KILAB 2025, Laboran UNUSIDA Paparkan Inovasi IPAL Portabel Berbasis Fotokatalis OCN/Hydrochar

SIDOARJO — Laboran Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar kegiatan Diseminasi Internal terkait Hasil Karya Inovasi Laboran (KILAB) 2025 bertempat di Hall Lantai 5 UNUSIDA, Kamis (27/11/2025). Diseminasi kali ini menampilkan hasil riset inovatif dengan tema ‘IPAL Portabel dengan Pengolahan Tersier Fotokatalis OCN/Hydrochar untuk Pengolahan Limbah Cair Laboratorium’.

Kegiatan diseminasi ini merupakan bagian dari luaran Program KILAB 2025, sebuah program pendanaan inovasi nasional yang diselenggarakan oleh Direktorat Sumber Daya – Ditdaya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknolofi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia untuk mendorong kreativitas dan inovasi laboran di lingkungan perguruan tinggi.

Ketua Tim, Khilyatul Afkar, S.T., dalam pemaparannya menjelaskan bahwa limbah cair laboratorium perguruan tinggi umumnya mengandung berbagai senyawa berbahaya seperti organik, anorganik, logam berat, serta asam dan basa kuat. Meskipun volumenya relatif kecil, kurang dari 20 liter per hari. Jumlah ini tidak memenuhi syarat minimal untuk diangkut oleh pihak ketiga.

“Kondisi tersebut membuat limbah cair laboratorium sering menumpuk hingga mendekati batas simpan 365 hari. Selain menghambat operasional laboratorium, hal ini juga menimbulkan potensi pencemaran lingkungan dan risiko keselamatan yang serius,” jelasnya.

Melihat urgensi tersebut, tim KILAB UNUSIDA mengembangkan IPAL portabel berkapasitas ±10 liter per running yang mampu mengolah limbah secara mandiri dan memenuhi standar baku mutu.

Inovasi ini bertujuan untuk merancang dan membangun prototipe IPAL portabel, serta menguji efektivitasnya dalam meningkatkan kualitas limbah sebelum dialirkan ke badan air. Target luaran yang dicanangkan antara lain Prototipe IPAL Portabel, Diseminasi Internal UNUSIDA hingga Diseminasi Nasional melalui forum ilmiah dan publikasi.

Khilya menambahkan bahwa keberhasilan riset ini juga didukung oleh beberapa aspek pendukung seperti:

  • Fasilitas laboratorium di Teknik Industri dan Teknik Lingkungan yang digunakan untuk pembuatan IPAL dan pengujian kualitas air,

  • Pendampingan ketat dari dosen, mulai dari validasi desain hingga evaluasi efektivitas pengolahan,

  • Kontribusi terhadap pengembangan ilmu, di mana IPAL portabel akan menjadi media pembelajaran di mata kuliah Kimia Lingkungan, Ekotoksikologi, Unit Proses, dan Unit Operasi,

  • Dampak jangka panjang, yakni IPAL portabel sebagai model percontohan instalasi pengolahan limbah skala kecil bagi perguruan tinggi lainnya.

Tim laboran UNUSIDA memaparkan tahapan pengembangan IPAL portabel, mulai dari sintesis komposit OCN/Hydrochar, uji karakterisasi material, pembuatan unit IPAL, pengujian kualitas limbah cair laboratorium, serta penyusunan dokumentasi dan penyusunan bunga rampai.

Setelah program selesai, tim merencanakan beberapa langkah strategis jangka panjang dalam mengembangkan IPAL Portabel ini. Diantaranya dengan melakukan uji ketahanan komposit OCN/Hydrochar, nemanfaatkan IPAL sebagai media pembelajaran dan penelitian, mengoperasikan IPAL sebagai unit pengolahan limbah laboratorium UNUSIDA, memperluas pemanfaatan untuk skala lebih besar, menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada KILAB – Ditdaya Diktisaintek atas dukungan pendanaa, hingga mendorong keberlanjutan program KILAB sebagai wadah inspiratif bagi laboran Indonesia untuk terus berinovasi.

Inovasi ini mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak yang hadir, antara lain Kaprodi Teknik Lingkungan Muchammad Tamyiz, Ph.D., Kaprodi Teknik Industri Untung Usada, S.Si., M.T., Wakil Dekan Fakultas Teknik Zahrotul Azizah, S.T., M.T., Kepala Lembaga SDM, Jeziano Riskita Boyas, S.E., M.M., Kabiro Kemahasiswaan dan Alumni Fajar Nur Yasin, S.Pd., M.Pd. serta Staf LPPM UNUSIDA Tantri Risda Zubaida, S.Ak.

Dalam kesempatan tersebut, Fajar Nur Yasin menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi inovasi tersebut. Menurutnya, kegiatan diseminasi ini menegaskan komitmen UNUSIDA dalam mendorong budaya riset dan inovasi, khususnya bagi tenaga laboran sebagai garda terdepan pengelolaan keselamatan dan lingkungan laboratorium. Inovasi IPAL portabel ini diharapkan menjadi kontribusi nyata bagi pengelolaan limbah laboratorium di Indonesia.

“IPAL portabel ini sangat mendukung proses perkuliahan, terutama pada praktik pengolahan limbah laboratorium. Kami berharap alat ini tidak hanya digunakan sebagai riset, tetapi juga diajarkan kepada mahasiswa agar dapat dimanfaatkan dalam penelitian maupun pengembangan akademik. Semoga inovasi ini berkembang menjadi instalasi IPAL skala besar dan bahkan membuka peluang bisnis bagi institusi,” ungkapnya.

PGMI UNUSIDA Gelar FGD Bersama Stakeholder, Penguatan Kompetensi Lulusan dan Sinkronisasi Kebutuhan Dunia Kerja 1

PGMI UNUSIDA Gelar FGD Bersama Stakeholder, Penguatan Kompetensi Lulusan dan Sinkronisasi Kebutuhan Dunia Kerja

SIDOARJO — Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Kurikulum pada Jumat (21/11/2025). Kegiatan yang digelar di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus 2 UNUSIDA ini melibatkan berbagai stakeholder strategis bidang pendidikan dasar Islam.

Mengusung tema ‘Penguatan Kompetensi Lulusan dan Sinkronisasi Kebutuhan Dunia Kerja’, FGD ini menjadi langkah penting bagi Prodi PGMI dalam memastikan kurikulum yang diterapkan mampu menjawab tantangan perkembangan pendidikan, sekaligus memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan sekolah/madrasah sebagai pengguna lulusan.

Dalam kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Agama Islam UNUSIDA, Feri Kuswanto, M. Pd.I., mengatakan, kegiatan FGD ini merupakan bentuk komitmen fakultas dalam memastikan kurikulum dan proses pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan pendidikan dasar serta kebutuhan sekolah dan madrasah.

“Kami di FAI UNUSIDA meyakini bahwa perguruan tinggi tidak boleh berjalan sendiri dalam menyiapkan calon guru. Dunia kerja, terutama madrasah dan satuan pendidikan dasar, terus mengalami perkembangan yang sangat cepat. Guru masa kini tidak cukup hanya menguasai pedagogik, tetapi juga harus adaptif, kreatif, dan mampu menjawab tantangan era digital,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa FGD ini menjadi wadah strategis untuk menyerap masukan langsung dari para pengguna lulusan agar Prodi PGMI dapat terus memperkuat kualitas akademik dan profesionalisme calon guru madrasah ibtidaiyah. “Kami ingin memastikan bahwa lulusan PGMI UNUSIDA benar-benar siap mengajar, siap berkarya, dan siap memimpin perubahan positif di sekolah tempat mereka mengabdi,” tandasnya.

Sementara itu, Kaprodi PGMI UNUSIDA, Moh. Anang Abidin, S.H.I., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen prodi untuk terus berinovasi serta melibatkan mitra eksternal dalam penyusunan kurikulum yang relevan dan adaptif. Pihaknya mengaku selalu menekankan membangun hubungan kolaboratif dan berkelanjutan dengan sekolah/madrasah mitra, lembaga pendidikan, serta para pengguna lulusan. Kolaborasi ini dipandang penting untuk meningkatkan mutu lulusan agar unggul, kompeten, dan berdaya saing.

“PGMI harus mampu menjawab perubahan zaman. Kurikulum tidak boleh statis, tetapi harus berkembang sesuai kebutuhan lapangan,” tegasnya.

Ia menjelaskan secara mendalam visi, misi, serta capaian pembelajaran lulusan (CPL) yang saat ini telah diimplementasikan di PGMI, termasuk rencana pengembangan kompetensi pedagogik, digital, karakter, dan ke-NU-an yang menjadi ciri khas lulusan.

Menurutnya, kegiatan menjadi upaya memperkuat profil lulusan, menyelaraskan kurikulum dengan tuntutan dunia kerja, serta membangun kemitraan berkelanjutan dengan lembaga pendidikan dan instansi terkait. Dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari madrasah, kementerian, organisasi pendidikan, hingga alumni diharapkan dapat memberikan masukan komprehensif terhadap arah pengembangan Prodi PGMI UNUSIDA.

“Melalui kegiatan FGD ini, kami berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya cakap dalam kompetensi pedagogik dan profesional, namun juga memiliki karakter kuat, integritas, kemampuan adaptif, serta kepekaan terhadap tantangan pendidikan abad 21,” ungkapnya.

Pelaksanaan FGD dipandu oleh Dr. Wachyudi Achmad, S.Th.I., M.Pd.I., selaku Ketua Tim, didampingi Ibu Rofiqoh Nirwana, S.Pd.I., M.Pd.I. sebagai Sekretaris. Tim penyusun kurikulum juga diperkuat oleh para anggota, yakni:

  • Risalul Ummah, S.Pd., M.Pd. (Dosen PGMI),

  • Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I. (Dekan Fakultas Agama Islam),

  • H. Aris Kuswanto, S.T., M.Pd.I. (Dosen PGMI),

  • Mohammad Setyo Wardono, S.Pd., M.Pd. (Sekretaris Pengembangan Pembelajaran),

  • Yuni Pratiwi, S.Pd. (Alumni PGMI).

Kegiatan ini turut menghadirkan pemangku kepentingan pendidikan yang memiliki peran strategis dalam penyelarasan kurikulum, antara lain:

  • Dr. Niswatin, S.Pd., M.Pd. (Perwakilan LPTNU Sidoarjo),

  • M. Saifulloh Asyari, S.Si., M.Pd.I. (Ketua LP Ma’arif NU Sidoarjo),

  • Drs. H. Abdul Muis, MM. (Pengawas Madrasah Kemenag Sidoarjo),

  • Hj. Anis Faridah, M.Pd. (Kepala MINU KH. Mukmin Sidoarjo),

  • Nur Cholisah, M.Pd. (Kepala MI Ma’arif Pagerwojo),

  • Habib Zakariyah, S.Sos. (Kepala MI Al Falah).

Dalam sesi diskusi berjalan dinamis dengan berbagai masukan konstruktif dari peserta. Para stakeholder memberikan pandangan, kritik konstruktif, serta masukan penting terkait penguatan kompetensi lulusan, mulai dari kurikulum berbasis kompetensi, soft skills, kesiapan digital, kemampuan pedagogik, hingga karakter profesional guru MI yang ideal.

Berbagai masukan ini menjadi bahan sangat penting bagi Prodi PGMI untuk memperkuat kurikulum dan memperbaiki proses pembelajaran yang lebih kontekstual. Yang nantinya akan menjadi dasar penyempurnaan kurikulum PGMI agar semakin selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan dinamika pendidikan madrasah ibtidaiyah.

Penulis: Nuzula Firdausi (MY)

Alumni Prodi Infromatika Unusida, Edi Arianto atau Mas Owdy saat menerima Penghargaan Santri of The Year 2025 Kategori Santri Milenial Inspiratif (Foto: Mas Owdy)

Alumni Informatika UNUSIDA, Edi Arianto Raih Penghargaan “Santri of The Year 2025” Kategori Santri Milenial Inspiratif

SIDOARJO — Alumni Program Studi (Prodi) Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Edi Arianto, atau yang akrab disapa Mas Owdy, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di penghujung tahun 2025. Ia dianugerahi Penghargaan Santri of The Year 2025 Kategori Santri Milenial Inspiratif. Penghargaan tersebut diberikan oleh Islam Nusantara Center (INC) bekerja sama dengan DPR RI dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional 2025, yang puncaknya digelar di Kompleks DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Ahad (9/11/2025) lalu.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kreativitasnya dalam berdakwah melalui media digital. Melalui karya-karya konten positif dan syiar shalawat, Edi Arianto dinilai mampu menghadirkan semangat keislaman yang damai, kreatif, dan relevan dengan generasi muda masa kini.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan rasa syukur dan haru atas penghargaan yang diterimanya. Ia mendedikasikan capaian tersebut kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam perjalanan hidup dan kariernya.

“Alhamdulillah, di penghujung tahun 2025 ini kami mendapatkan penghargaan Santri of The Year 2025. Penghargaan ini saya persembahkan untuk kedua orang tua, istri tercinta, para guru, sahabat, kerabat, serta keluarga besar Banjari Hero Multimedia dan Delta Video Shooting. Semoga prestasi ini menambah semangat untuk terus bersyiar melalui konten positif di media sosial, serta menjadi inspirasi bagi santri lainnya,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (11/11/2025).

Ajang Santri of The Year merupakan kegiatan tahunan yang digelar untuk menampilkan figur-figur santri yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa, baik melalui gagasan, karya, maupun prestasi. Pada tahun ini, INC memperkenalkan beberapa kategori baru, di antaranya Santri Milenial Inspiratif, Santri Legislator Inspiratif, Santri Perempuan Penggerak Inspiratif, Santri Bhayangkara Inspiratif, dan Mahasantri Bhakti Negeri.

Secara umum, kategori Santri Milenial Inspiratif diberikan kepada individu yang dinilai berhasil memanfaatkan teknologi dan platform digital untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. Dalam hal ini, Edi Arianto menonjol karena konsistensi dan orisinalitasnya dalam menggabungkan tradisi pesantren (shalawat) dengan media modern seperti YouTube dan broadcast digital.

“Konten saya bukan sekadar hiburan, tapi juga dakwah yang ringan, relevan, dan mudah diterima audiens milenial. Ini adalah upaya membawa ruh pesantren ke ruang digital yang sangat luas. Kami berupaya menjembatani gap antara kearifan lokal pesantren dengan tren global digital,” ungkapnya.

Edi menuturkan bahwa motivasinya sederhana, yakni khidmah (pengabdian) kepada para guru, kiai, dan agamanya. Melalui karya konten shalawat dan siar digital, ia ingin menunjukkan bahwa santri tidak hanya bisa mengaji kitab kuning, tetapi juga bisa menjadi pelopor dakwah kreatif di era modern.

“Konten shalawat yang saya buat adalah bentuk rasa cinta dan syukur kepada Rasulullah SAW. Saya ingin menunjukkan bahwa santri juga bisa menjadi garda terdepan dalam menyebarkan kedamaian, akhlakul karimah, dan kecintaan kepada Nabi melalui bahasa dan platform yang dimengerti oleh anak muda,” terangnya.

Bagi Edi, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan nasional, melainkan amanah besar untuk terus konsisten dalam berdakwah melalui media digital. Edi juga menceritakan bahwa sumber inspirasinya datang dari dua kutub penting dalam kehidupannya.

“Pertama, para kiai dan guru di pesantren yang mengajarkan tentang istiqamah dan keikhlasan. Mereka adalah kompas spiritual saya. Kedua, tokoh-tokoh santripreneur yang sukses memadukan nilai spiritual dengan profesionalisme. Mereka menjadi contoh bahwa santri juga bisa modern tanpa kehilangan ruh keislamannya,” jelasnya.

Kombinasi ajaran salaf dan semangat milenial inilah yang menurutnya menjadi energi tak terbatas dalam setiap karya yang ia hasilkan. “Apresiasi ini adalah cambuk semangat untuk terus berbuat baik. Saya ingin setiap karya digital santri menjadi bagian dari dakwah yang menenangkan, bukan memecah. Karena dunia digital pun bisa menjadi ladang amal jika dijalani dengan niat yang tulus,” tandasnya.

Alumni Pondok Pesantren Sabilillah Lamongan tersebut, berharap dapat terus menjadi inspirasi bagi santri-santri muda di seluruh Indonesia untuk berani berkarya, berinovasi, dan berdakwah dengan cara yang kreatif namun tetap berakar pada nilai-nilai pesantren.

“Bagi saya, kata inspiratif bagi santri milenial adalah tentang kemampuan untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas. Inspiratif berarti menjadi jembatan: menjembatani ajaran salaf dengan tantangan khalaf (masa kini); menjembatani ruang Pesantren yang damai dengan hutan belantara dunia maya yang kadang toksik,” imbuhnya.

Menurutnya, santri masa kini harus mampu menjadi Filter dan Fountain di dunia digital. “Sebagai Filter, santri harus mampu menyaring hoaks, radikalisme, dan konten negatif dengan bekal ilmu agama dan akhlaq. Sebagai Fountain (air mancur), santri juga harus aktif menyebarkan konten positif dan mencerahkan. Bukan hanya mengaji teks, tapi juga mengaji konteks. Literasi digital adalah bagian dari dakwah masa kini,” terangnya.

Melalui kanal dan komunitas kreatif yang ia rintis, seperti Banjari Hero Multimedia dan Delta Video Shooting, ia berupaya menghidupkan semangat dakwah yang ringan, estetis, dan mudah diterima generasi muda. Konten yang ia produksi tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana syiar yang menyejukkan dan penuh nilai spiritual.

Ke depan, Edi yang juga mahir bermain berbagai alat musik seperti rebana, kendang dan piano modern tersebut, berkomitmen memperluas ekosistem broadcast dan santripreneurship yang telah dibangunnya. Ia berharap pemerintah dan lembaga terkait dapat memberikan dukungan nyata berupa pelatihan digital, infrastruktur, dan permodalan bagi para santri kreatif di seluruh Indonesia.

“Langkah terdekat adalah memperluas ekosistem broadcast dan entrepreneurship yang sudah ada. Saya ingin menciptakan lebih banyak ruang bagi santri lain untuk berkolaborasi dan berkarya. Harapan saya, kategori Santri Milenial Inspiratif ini terus ada dan makin diakui secara nasional,” harapnya.

“Jadilah santri yang merawat tradisi dan merangkul teknologi. Jangan takut dengan perubahan zaman. Pondasi kita adalah tafaqquh fiddin dan akhlaq mulia. Manfaatkan gadget bukan hanya untuk konsumsi, tapi untuk kontribusi. Jadikan setiap karya sebagai dakwah, dan setiap unggahan sebagai amal jariyah. Karena masa depan bangsa ini ada di tangan santri yang berdaya di segala bidang,” pungkasnya. (MY)

Pelatihan “Berbisnis Modal Nol: From Zero to Hero” di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa UNUSIDA Dibekali Pelatihan “Berbisnis Modal Nol: From Zero to Hero”

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang kreatif dan mandiri melalui kegiatan Pelatihan “Berbisnis Modal Nol: From Zero to Hero”. Kegiatan ini diselenggarakan di Kampus 2 UNUSIDA, lantai 5, selama 4 hari mulai dari Sabtu–Ahad (1-2/11/2025) sampai Sabtu-Ahad (8-9/11/2025).

Pelatihan yang berlangsung selama empat kali pertemuan ini diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas. Tujuan utama kegiatan ini adalah menumbuhkan semangat kewirausahaan dan membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis untuk membangun usaha dari nol tanpa bergantung pada modal besar.

Sebagai narasumber utama, panitia menghadirkan Sugiarso, seorang praktisi bisnis dan motivator kewirausahaan yang berpengalaman dalam membangun berbagai usaha dari titik awal. Dalam penyampaiannya, Sugiarso menekankan pentingnya mindset entrepreneur yang kuat, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan melihat peluang di sekitar.

“Bisnis bukan hanya tentang modal uang, tapi tentang ide, keberanian, dan kemauan untuk terus belajar. Siapa pun bisa menjadi pengusaha asal mau memulai,” ujarnya.

Pada pertemuan pertama, mahasiswa diperkenalkan pada konsep dasar berbisnis dengan modal nol serta pentingnya berpikir kreatif. Sesi berikutnya berfokus pada strategi riset pasar dan inovasi produk, termasuk pemanfaatan platform digital sebagai sarana promosi yang efektif dan hemat biaya.

Pertemuan ketiga membahas pengelolaan keuangan usaha kecil dan strategi branding. Sugiarso menekankan pentingnya pencatatan keuangan yang tertib, perencanaan yang efisien, serta membangun citra usaha yang profesional di mata konsumen.

Pada sesi terakhir, peserta diminta menyusun rencana bisnis sederhana berdasarkan ide yang mereka gagas selama pelatihan. Beberapa kelompok mempresentasikan ide bisnis mereka dan mendapat apresiasi serta masukan langsung dari narasumber.

Selain berbagi teori, Sugiarso juga menceritakan perjalanan pribadinya dalam membangun usaha dari nol hingga berhasil, yang memberikan motivasi kuat bagi peserta. Cerita-cerita inspiratif tersebut menumbuhkan keyakinan bahwa kesuksesan bukanlah hasil instan, melainkan buah dari ketekunan, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba.

Kepala Bagian (Kabag) Kemahasiswaan sekaligus Dosen UNUSIDA, Machfudzil Asror, mengungkapkan harapannya agar kegiatan ini dapat menjadi pemantik semangat wirausaha di kalangan mahasiswa. Melalui pelatihan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan ilmu dan keterampilan baru, tetapi juga membangun jejaring sosial dan pengalaman berharga yang menjadi bekal menuju masa depan yang lebih mandiri dan produktif.

“Kami berharap pelatihan ini melahirkan generasi muda yang berjiwa entrepreneur, kreatif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan dunia usaha. UNUSIDA yang membawa semangat kampus wirausaha muda berkomitmen tidak hanya mencetak sarjana cerdas secara akademik, tetapi juga mandiri secara ekonomi,” harapnya.

Penulis: Feni Dwi Agustin (MY)

Ilustrasi Hari Pahlawan Nasional (Istimewa)

Semangat Kepahlawanan sebagai Puncak Pembelajaran Hidup

Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November bukan sekadar penanda sejarah, melainkan sebuah monumen pembelajaran hidup yang paling berat bagi bangsa Indonesia. Pertempuran Surabaya 1945 menjadi sekolah kehidupan yang menghasilkan “lulusan” berupa kemerdekaan dan kedaulatan, yang semuanya itu ditebus dengan darah dan pengorbanan para pejuang.

Konsep spiritual Guru dalam Kehidupan, yang terdiri dari tiga hal: Kefakiran, Hati yang Patah, dan Keinginan yang Tidak Terwujud, memberikan lensa filosofis untuk memahami kedalaman makna perjuangan para pahlawan. Tiga guru ini mengajarkan bagaimana ketakutan berubah menjadi keberanian, kekalahan menjadi kemenangan batin, dan kepasrahan menjadi tindakan nyata.

Dari sini, semangat kepahlawanan bukan hanya dimaknai sebagai keberanian mengangkat senjata, tetapi sebagai transformasi batin yang mendalam. Transformasi inilah yang membuat rakyat sipil yang minim pengalaman tempur mampu bangkit melawan kekuatan militer modern dengan tekad dan keyakinan yang tak tergoyahkan.

Guru Pertama: Kefakiran

Kefakiran, dalam konteks individu, mengajarkan ketergantungan mutlak kepada Tuhan. Ia menyadarkan manusia bahwa kekayaan sejati tidak terletak pada harta, melainkan pada rasa cukup dan keberkahan. Nilai ini tercermin jelas dalam peristiwa Pertempuran Surabaya.

Pasca-proklamasi, Indonesia adalah bangsa yang fakir secara material. Laskar rakyat berjuang dengan senjata seadanya, bambu runcing melawan tank dan pesawat tempur. Namun, kefakiran material ini justru melahirkan kekuatan spiritual yang luar biasa. Ketika manusia kehilangan segalanya, yang tersisa hanyalah keyakinan dan doa.

Kekurangan yang ekstrem membuat para pejuang mencari sumber kekuatan yang tak kasat mata: keberkahan, persatuan, dan keimanan. Inilah makna sejati kefakiran, bahwa lapang dan sempitnya hidup tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh luasnya hati. Bambu runcing yang disertai tekad dan keikhlasan jauh lebih tajam dari peluru mana pun.

Sebaliknya, pasukan Sekutu yang memiliki senjata dan logistik melimpah justru sering merasa sempit, tertekan oleh perlawanan rakyat yang tak gentar. Senjata mereka gagal menembus semangat yang lahir dari kefakiran.

Dari pelajaran ini, kita belajar bahwa kemerdekaan tidak bisa dibeli dengan uang atau teknologi. Ia ditebus dengan ketulusan berkorban dan keyakinan pada cita-cita. Kesadaran akan kefakiran material justru melahirkan mentalitas “merdeka atau mati”. Seolah menjadi penegasan bahwa kebebasan hanya bisa diraih melalui ketergantungan total kepada Tuhan, bukan kepada fasilitas duniawi.

Guru Kedua: Hati yang Patah

“Hati yang patah” mengajarkan manusia untuk tidak salah menaruh harapan. Ketika seseorang berharap pada selain Tuhan, ujungnya adalah kekecewaan. Pelajaran ini juga dialami oleh bangsa Indonesia dalam perjalanan kemerdekaannya.

Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah bunga harapan yang baru mekar. Namun, kehadiran tentara Sekutu dan kembalinya ambisi Belanda mematahkan harapan itu. Ultimatum Sekutu agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata menjadi luka kolektif yang mendalam.

Rakyat dan pemimpin Surabaya, termasuk Bung Tomo, mengalami patah hati besar. Mereka sadar, harapan terhadap janji baik pihak asing hanya berujung pengkhianatan. Ucapan Sayyidina Ali “jangan terlalu berharap pada manusia, karena yang pasti engkau dapat hanyalah kecewa” menemukan relevansinya di sini.

Kekecewaan itu bukan melemahkan, melainkan membakar tekad perlawanan. Rakyat Surabaya memilih menghadapi kematian daripada kembali diperdaya oleh janji palsu. Dari patah hati itu lahir keberanian yang sejati, keputusan untuk berjuang tanpa berharap pada belas kasihan siapa pun, kecuali pada pertolongan Tuhan.

Pelajaran besar dari Hati yang Patah adalah bahwa kedaulatan sejati hanya dapat dijaga oleh tangan sendiri. Para pahlawan menitipkan harapan kedaulatan kepada Tuhan dan rakyatnya sendiri, bukan pada pengakuan atau bantuan dari bangsa lain.

Guru Ketiga: Keinginan yang Tidak Terwujud

Guru terakhir, Keinginan yang Tidak Terwujud, mengajarkan kita untuk berserah diri dengan penuh kesadaran bahwa tidak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik menurut kehendak Tuhan.

Pasca-proklamasi, keinginan terbesar rakyat Indonesia adalah hidup damai. Namun, kenyataan berkata lain: Pertempuran Surabaya pecah, dan ribuan nyawa menjadi taruhan. Keinginan akan kedamaian tidak terwujud, tetapi dari situlah lahir pelajaran besar tentang keteguhan dan tawakal.

Para pahlawan belajar menerima kenyataan pahit bahwa kemerdekaan sejati memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Mereka berdoa sepenuh hati, berjuang sepenuh tenaga, dan berpasrah sepenuh jiwa. Tiga sikap inilah yang menjadikan perjuangan mereka suci dan tulus.

Kegagalan mencapai perdamaian justru menjadi batu loncatan bagi legitimasi internasional dan penguatan semangat nasionalisme. Dari keinginan yang tidak terwujud lahir keberkahan yang jauh lebih besar, yaitu pengakuan, persatuan, dan semangat juang yang tidak padam.

Pelajaran utama dari Keinginan yang Tidak Terwujud adalah bahwa perjuangan sejati tidak diukur dari keberhasilan meraih hasil, tetapi dari ketulusan dalam menjalankan peran. Pahlawan sejati adalah mereka yang berjuang sampai akhir, sambil menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

Hari Pahlawan adalah perayaan keberhasilan bangsa Indonesia dalam menempuh tiga kurikulum kehidupan: Kefakiran yang melahirkan keikhlasan, Hati yang Patah yang menumbuhkan keberanian, dan Keinginan Tak Terwujud yang mengajarkan kepasrahan. Ketiganya membentuk karakter bangsa yang kuat, berdaulat, dan beriman.

Nilai-nilai ini harus terus diwariskan kepada generasi penerus. Semangat 10 November mengingatkan bahwa kemerdekaan batin dan kemajuan bangsa tidak akan lahir dari kemudahan dan kenyamanan, tetapi dari kesanggupan menghadapi kekurangan, kekecewaan, dan kegagalan dengan hati yang teguh.

Mengenang Hari Pahlawan seharusnya bukan sekadar upacara atau ritual tahunan, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana tiga guru kehidupan. Kefakiran, Hati yang Patah, dan Keinginan Tak Terwujud, telah mendidik bangsa ini menjadi bangsa yang merdeka lahir dan batin.

Penulis: Achmad Wahyudi (MY)