Wakil Rektor III UNUSIDA Ajak Mahasiswa Kembangkan Inovasi Solutif dan Berdampak bagi Masyarakat
SIDOARJO — Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. H. Ali Masykuri, mengajak mahasiswa untuk terus mengembangkan potensi, kreativitas, dan inovasi yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat. Menurutnya, pengembangan talenta mahasiswa harus dilakukan secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan dengan memperhatikan keunikan potensi masing-masing individu.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Workshop Bina Talenta DPR RI Komisi X dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama UNUSIDA yang mengusung tema ‘Sinergi Kebijakan Pendidikan Tinggi, Riset, dan Inovasi dalam Mewujudkan Generasi Unggul, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan’, di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur KM 5,5 Rangkah Kidul, Sidoarjo, Sabtu (31/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Ali Masykuri menyampaikan apresiasi atas kepercayaan dan kolaborasi DPR RI Komisi X bersama Kemdiktisaintek yang telah menghadirkan Workshop Bina Talenta di lingkungan UNUSIDA. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan wawasan, masukan, sekaligus dukungan bagi pengembangan kualitas pendidikan tinggi dan pembinaan mahasiswa.
Menurutnya, pengembangan talenta mahasiswa tidak dapat dilakukan secara instan ataupun sekadar mengikuti tren. Perguruan tinggi perlu memiliki peta jalan (roadmap) yang jelas, terencana, dan sistematis dengan menjadikan keunikan potensi mahasiswa sebagai dasar pengembangan.
“Pengembangan talenta harus memiliki roadmap yang terencana dan sistematis. Kita tidak bisa melakukannya secara asal-asalan, tetapi harus melihat potensi yang dimiliki mahasiswa, kemudian memberikan ruang, kesempatan, dan pendampingan agar potensi tersebut dapat berkembang secara optimal,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan pengembangan talenta tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mahasiswa secara individu, tetapi juga membutuhkan ekosistem pendukung yang kuat. Ekosistem tersebut melibatkan dosen, tenaga kependidikan, pimpinan perguruan tinggi, mentor, serta berbagai pemangku kepentingan yang dapat memberikan dukungan sesuai kapasitas masing-masing.
Wakil Sekretaris PCNU Sidoarjo tersebut mengibaratkan pengembangan talenta sebagai pertemuan antara potensi, kesempatan, dan dukungan yang tepat. Mahasiswa yang memiliki kemampuan perlu diberikan ruang untuk berkembang, didampingi mentor yang kompeten, serta difasilitasi melalui jejaring dan sarana pendukung yang tersedia.
“Penghargaan capaian mahasiswa ini penting. Akan tetapi, apresiasi tidak harus selalu berbentuk finansial atau bantuan bisnis, tetapi dapat diwujudkan melalui pengakuan, dukungan, kesempatan pengembangan diri, dan bentuk penghargaan lain sesuai kemampuan institusi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ali Masykuri menjelaskan bahwa UNUSIDA berkomitmen membangun sistem pembinaan talenta mahasiswa secara berkelanjutan. Upaya tersebut dimulai melalui pemetaan minat, bakat, dan kemampuan mahasiswa sejak proses penerimaan mahasiswa baru hingga kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).
Hasil pemetaan kemudian menjadi dasar dalam menyusun program pembinaan dan pendampingan sesuai potensi mahasiswa. UNUSIDA juga melibatkan dosen dan tenaga kependidikan untuk mendukung pengembangan kompetensi, kreativitas, serta prestasi mahasiswa selama menempuh pendidikan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program pengembangan prestasi, kreativitas, dan kewirausahaan mahasiswa. Beberapa program yang menjadi perhatian di antaranya Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), serta Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).
Selain itu, UNUSIDA terus mempersiapkan mahasiswa untuk mengikuti berbagai kompetisi dan program rekognisi yang diselenggarakan oleh kementerian maupun lembaga terkait. Persiapan dilakukan sejak tingkat universitas agar mahasiswa memiliki bekal kompetensi dan kesiapan sebelum berkompetisi pada tingkat yang lebih tinggi.
Dalam mendukung proses tersebut, UNUSIDA mengembangkan sistem dokumentasi prestasi dan rekognisi mahasiswa melalui SIPOMA (Sistem Poin Mahasiswa). Sistem ini memungkinkan berbagai aktivitas dan capaian mahasiswa, mulai dari kompetisi, prestasi, seminar, hingga kegiatan pengembangan kompetensi lainnya, terdokumentasi secara lebih terstruktur.
Data yang dihimpun melalui SIPOMA selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai salah satu dasar penyusunan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Dengan demikian, pengalaman dan capaian mahasiswa selama perkuliahan dapat tercatat secara terukur dan berbasis data.
Lebih jauh, Ali Masykuri menyoroti pentingnya mengarahkan hasil penelitian dan inovasi perguruan tinggi agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata. Menurutnya, perguruan tinggi perlu memastikan bahwa hasil riset dapat diterapkan dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ia menilai bahwa tidak sedikit hasil penelitian yang memiliki kualitas akademik tinggi, tetapi belum sepenuhnya mampu menjawab persoalan nyata di lingkungan masyarakat. Karena itu, diperlukan upaya untuk menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat, termasuk kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi maupun sumber daya.
“Perguruan tinggi harus transformatif dan mampu menghasilkan solusi. Jangan sampai penelitian yang kita lakukan hasilnya luar biasa secara akademik, tetapi belum bisa menjadi solusi atau belum memberikan manfaat bagi masyarakat. Ini yang harus kita benahi bersama agar inovasi benar-benar menjadi budaya,” tegasnya.
Menurutnya, inovasi harus dibangun sebagai budaya di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa tidak cukup hanya didorong menghasilkan gagasan kreatif, tetapi juga perlu dibimbing untuk mengembangkan gagasan tersebut menjadi karya, produk, maupun program yang memiliki kebermanfaatan sosial.
Ia menegaskan bahwa talenta mahasiswa merupakan aset bangsa yang perlu dikembangkan melalui ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi. Dengan perencanaan yang matang, pendampingan berkelanjutan, serta penguatan riset dan inovasi, mahasiswa UNUSIDA harus mampu tumbuh menjadi generasi unggul, berdaya saing, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan pembangunan Indonesia.
“Semoga melalui workshop ini dapat terbangun sinergi yang semakin kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung pembinaan talenta mahasiswa.









