Rapat Kerja UNUSIDA 2025–2026: Ketua BPP Tekankan Kesungguhan dan Kolaborasi sebagai Kunci Keberhasilan
SITUBONDO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Rapat Kerja (Raker) Tahun Akademik 2025–2026 di Utama Raya Cottage, Situbondo, pada Kamis–Jumat (15–16/1/2026). Kegiatan ini diikuti oleh jajaran Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi (BPP), pimpinan universitas, fakultas, lembaga, dan unit kerja sebagai forum strategis dalam merumuskan arah kebijakan dan program kerja UNUSIDA selama satu tahun ke depan.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Badan Pelaksana dan Pengelola (BPP) UNUSIDA, Drs. H. Arli Fauzi, M.H., menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya kesungguhan, ketelatenan, dan kolaborasi dalam mengelola perguruan tinggi. Ia menegaskan bahwa tidak ada hasil maksimal yang lahir dari sikap setengah-setengah.
“Dalam hidup ini, kalau kita setengah-setengah, hasilnya juga setengah. Tidak pernah ada hasil maksimal dari ketidaksungguhan. Kalau ingin hasil yang baik, maka harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh,” tegasnya.
Kesungguhan sebagai Filosofi Kerja
Kiai Arli mengibaratkan kesungguhan dalam bekerja seperti menggali sumur. Jika penggalian dihentikan di kedalaman dangkal karena air belum keluar, maka yang muncul justru genangan air kotor yang merugikan dan menimbulkan masalah. Sebaliknya, jika penggalian diteruskan hingga dalam, maka air yang dihasilkan akan semakin jernih dan melimpah.
“Kalau satu meter, dua meter belum keluar air, ya teruskan. Semakin dalam kita menggali, semakin besar dan bersih air yang keluar. Begitu pula dalam mengelola perguruan tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, kesungguhan memiliki beberapa indikator utama, yakni serius dalam bekerja, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, dibekali ilmu pengetahuan dan teori yang tepat, serta tidak berhenti sebelum tujuan tercapai. Hal ini menjadi sangat penting karena pengelolaan perguruan tinggi berkaitan langsung dengan amanah besar, yakni masa depan mahasiswa dan kepercayaan masyarakat.
Melayani Mahasiswa dengan Tuntas
Dalam konteks pelayanan, Ketua BPP juga menekankan agar seluruh sivitas akademika menghindari pola kerja yang “tengah-tengah”, termasuk dalam urusan penerimaan mahasiswa dan layanan administrasi.
“Kalau melayani orang tua atau calon mahasiswa, layani sampai tuntas. Jangan berhenti di tengah jalan. Kesungguhan itu ditunjukkan sampai mahasiswa benar-benar terdaftar dan jelas statusnya,” pesannya.
Ia meyakini bahwa setiap kesungguhan dan kebaikan yang dilakukan dengan niat melayani akan bernilai ibadah dan tidak akan sia-sia. “Tidak ada kebaikan yang tidak dicatat oleh Allah,” tambahnya.
Kolaborasi sebagai Keniscayaan
Selain kesungguhan, kolaborasi menjadi pesan penting yang disampaikan Ketua BPP. Ia mengaitkan nilai kolaborasi dengan kisah Nabi Adam dan Hawa, bahwa manusia secara kodrati diciptakan untuk saling melengkapi dan bekerja sama.
“Tidak ada yang bisa berjalan sendiri. Kolaborasi adalah fitrah. Kalau merasa paling benar dan paling sempurna sendiri, justru akan jatuh,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan besar justru lahir dari kerja sama, saling melengkapi, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan bersama. Perguruan tinggi yang ingin maju tidak cukup hanya mengandalkan individu, melainkan membutuhkan sinergi seluruh elemen.
Lebih lanjut, Kiai Arli mengajak agar menjadikan Rapat Kerja UNUSIDA Tahun Akademik 2025–2026 menjadi momentum penting untuk menyatukan visi, menyamakan langkah, serta memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan UNUSIDA yang unggul dan berdampak.
“Saya harap seluruh sivitas akademica UNUSIDA mampu menerjemahkan nilai kesungguhan dan kolaborasi tersebut ke dalam program kerja yang nyata, terukur, dan berkelanjutan. Mari terus bergerak maju dengan kerja kolektif, penuh keseriusan, serta semangat saling menguatkan demi memberikan manfaat yang lebih luas bagi mahasiswa, masyarakat, dan Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.











